Wanita Kedua

Wanita Kedua
Viana vs Riani


__ADS_3


.......



Kugerakkan badan dengan mata masih menutup. Mengumpulkan sisa-sisa semangat yang kumiliki.



Seketika kubuka mata saat kusadari kalau Ana sudah tidak berada di sampingku. Kemana dia? Pukul berapa ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiranku.



Kulirik cahaya yang menerobos masuk melalui celah gorden di jendela. Terasa hangat. Menandakan kalau pagi pasti sudah menjelang siang. Matahari mungkin sudah menuju puncaknya.



Aku segera duduk dan mengusap wajah secara perlahan. Kepalaku terasa sakit. Kejadian semalam bagaikan mimpi. Riani pergi.



Ya, dia benar-benar pergi. Bahkan tanpa membawa barang-barangnya.



Dan kini aku malah menerima Ana. Menelanjangi wanita itu di kamarku sendiri.



Kugelengkan kepala. Kebodohan apalagi yang telah kulakukan? Bisa-bisanya aku bertindak gegabah seperti ini.



Emosi. Amarah.



Semuanya membuatku salah dalam mengambil langkah. Seharusnya aku menyusul Riani tadi malam. Dan kemungkinan besar aku tidak akan bertemu dengan Ana.



Pikiranku kembali kepada Ana. Dimana dia? Apa dia sudah pulang?



Kutepis semua sangka dalam pikiranku. Aku bergerak perlahan menuju kamar mandi.



Di bawah pancuran air yang berasal dari shower, aku mendinginkan kepala. Mencoba mencari jalan keluar dari semua kejadian ini.



Mungkin sebaiknya aku menyusul Riani. Dia pasti kembali ke rumah mertuaku. Baiklah, aku akan segera menyusulnya. Aku harus memperbaiki situasi ini.



Ana? Itu bukan urusanku.



Merasa mantap dengan keputusanku, segera kuselesaikan aktivitas di kamar mandi dan segera berpakaian.



Saat keluar dari kamar, aku mendengar suara bising di dapur. Kebetulan sekali. Pembantu rumah kamu pasti sedang memasak. Aku ingin mengisi perutku dulu sebelum pergi menemui Riani.



Melangkah menuju dapur dengan tenang sambil bersiul. Keputusan yang kupilih sedikit membuat ketenangan menguasai tubuhku. Sangat jauh berbeda dari pada saat aku terbangun dari tidur tadi.



Sejak tadi aku sudah menyusun kata-kata yang akan kuucapkan bila bertemu dengan Riani. Tentu saja dengan harapan dia akan mendengarkanku sekali ini.



Namun, demi melihat sosok yang sedang memasak bersama para pembantuku, aku tertegun.



Di sana, di depan kompor, Ana terlihat lincah dengan spatula yang ada di genggamannya. Dea, si pembantu yang paling muda tampak akrab dengannya.


__ADS_1


Sesaat kemudian mataku beralih pada tubuh Ana. Wanita itu memakai kemeja yang kuakui kalau itu adalah kemejaku. Dan celana yang memeluk pahanya yang mungil adalah celana pendek yang sering kujadikan dalaman.



Astaga! Kugelengkan kepala. Apa dia tidak malu? Dia bisa tenang berdiri di sana dengan pakaianku yang melekat di tubuhnya.



Sedetik kemudian dia menoleh dan menangkap basah diriku yang menatap lekat tubuhnya. Senyumnya mengembang dengan sempurna meski tampak sedikit malu saat menyadari kemana arah mataku.



"Maaf," ucapnya dengan suara malu-malu. "Aku meminjam pakaianmu."



Aku mengangguk singkat. Bingung mau menjawab apalagi.



Tangan Ana mengangkat mangkuk kecil dan tersenyum cerah.



"Masakannya sudah masak. Mau langsung makan?"



Aku kembali mengangguk seperti orang bodoh. Mataku bergerak cepat mengikuti gerakan lincah tangan Ana yang menyiapkan meja makan. Hal tang belum pernah dilakukan Riani terhadapku.



Seperti saat ini, setelah aku duduk, Ana menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi. Menghidangkannya di hadapanku. Belum pernah aku dilayani seperti ini. Membuatku mendamba. Terasa ada kehangatan saat menerima sikap Ana yang bertindak seperti isteriku. Namun sayangnya, dia bukanlah isteriku.



Kami makan dalam diam. Sesekali mataku memperhatikan piring Ana. Lalu beralih pada hidangan di meja makan. Menu yang kusantap hari ini adalah sup ayam yang sangat gurih.



Aku teringat pada makanan yang sering dipesan Ana saat kami makan bersama waktu itu. Sepertinya wanita satu ini sangat menyukai sup. Itu terbukti pada hari ini. Bahkan di rumahku sendiri dia tetap memakan sup.



Kulirik kembali piringnya dan tersenyum. Sepertinya dia menyadari senyumanku karena aku langsung mendengarnya bersuara.




Aku semakin terkikik dan berkata, "perhatikan saja makananmu. Aku takut ikan di piringmu akan kembali hidup."



Dahinya semakin mengernyit dan menperhatikan piringnya. Sedetik kemudian dia tertawa dan tertunduk malu.



Tentu saja begitu. Bisa kulihat nasi dan ikannya tenggelam karena kuah sup yang sangat banyak.



Kami tertawa bersama dan tanpa dikomando juga terdiam bersama. Keheningan kembali melanda.



Ah, sudah lama suasana meja makan seperti ini tak pernah kurasakan lagi. Sejak Riani dioperasi.



Tunggu aku, Sayang. Setelah ini aku akan menemuimu. Menjemputmu dan memperbaiki semua.



"Kau terlihat rapi. Mau kemana?"



Aku mendongak. "Aku mau menjemput Riani."



Kulirik dia. Terdiam dan menunduk.


__ADS_1


"Kau ... akan kembali dengannya?"



Kutatap dia dengan dahi berkerut. "Memangnya kenapa? Dan kupikir kalau itu bukanlah urusanmu."



Bisa kulihat kilat bening di matany yang menantang tapi kini tampak sayu.



"Tak bisakah aku menggantikannya?"



Aku tercekat. Wanita satu ini benar-benar terbuka. Kubuang pandangan dan menerawang.



Cobaan apalagi ini? Sebegitu inginnya dia denganku? Apa tujuannya? Dan kenapa dia harus menghancurkan hidupku?



Kutinggalkan meja makan dan segera berlalu tanpa menghiraukan Ana.



Kusuruh Edi mengeluarkan mobil dan segera kulajukan menuju rumah orangtua Riani.



Aku tak ingin berlama-lama bersama Ana. Bisa-bisa pertahanan dan niatku hancur karena pengaruhnya.



Bila melihatnya, aku seperti penikmat opium dan Ana adalah pipanya. Kenikmatan yang penuh bila kedua benda tersebut dipertemukan. Membuatku hadi seperti memiliki ketergantungan padanya.



Dan Riani, dia lebih cenderung membuatku yang menyerangnya.


Tak pernah sekalipun dia mendatangiki seperti yang dilakukan Ana.



Kuhentikan mobil di pinggir jalan. Pikiranku sangat lelah. Kedua wanita itu membuatku ingin melajukan mobil sekencang mungkin dan menghempaskannya ke jurang.



Riani benar. Aku sangat menjijikkan. Bisa-bisanya aku membandingkan isteriku dengan wanita seperti Ana.



Parahnya, aku tidak bisa berbohong kalau tubuhku bereaksi untuk memiliki Ana. Meski hatiku menolak, tubuhku tertuju pada Ana.



Bisa saja aku memutuskan untuk menceraikan Riani dan menerima Ana dalam hidupku. Namun apakah itu bisa membuat semuanya berjalan dengan normal?



Bagaimanapun juga Ana adalah pemicu hancurnya rumah tanggaku.



Apa yang harus kulakukan? Kenapa pikiranku sekarang mendua. Padahal tadi aku sudah mantap untuk menjemput Riani.



Membayangkan Riani, kembali kuhidupkan mobil dan meluncur ke tempat di mana Riani berada, menurutku.



Dan aku berusaha meninggalkan Bayang-bayang Ana di belakang. Berharap kalau wanita itu akan pergi dari rumahku dan menjauh dari hidupku. Bukankah sudah kutunjukkan sikap kalau aku tidak menginginkannya dalam hidupku?



Aku rasa itu sudah cukup.



..........


__ADS_1



__ADS_2