Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 29 Enam bulan kemudian


__ADS_3

Muthia tersenyum menatap pantulan wajahnya di depan cermin yang ada di hadapannya. Perutnya nampak sedikit membuncit, usia kehamilannya memang terbilang masih muda, tapi sudah sedikit terlihat, Muthia sedang mengandung anak keduanya bersama Aswin, usia kandungan masih nuju tiga bulan, usia yang masih rentan. Aswin selalu mengingatkan Muthia tidak terlalu lelah dalam beraktifitas. Dan sudah hampir dua Minggu Aswin sedang ada di luar kota karena urusan bisnisnya.


"Kamu baik baik ya nak, di dalam perutnya Bunda. Bunda sudah gak sabar menantikan kehadiranmu di sisi bunda. Nanti kita main bersama dengan kakak Yusuf. Pasti seru dan ramai kalian. Bunda akan menjaga dan mendidik kalian dengan segenap hati dan jiwa bunda, sayang!"


Muthia bergumam sendirian dengan senyuman yang terus terukir di wajah ayunya, kehamilan keduanya, sedikit membuat moodnya lebih sensitif. Terkadang Muthia suka sekali merajuk, padahal sikap itu sebelumnya tidak pernah ada di diri Muthia. Tapi Alhamdulillah nya, Aswin begitu memahami dan mau menyadari istri keduanya. Sehingga Aswin selalu memperlakukan Muthia begitu lembutnya, Walau tak jarang, Aswin harus bolak balik luar kota dengan waktu yang dekat demi menuruti keinginan Muthia.


"Hari ini aku akan pergi ke yayasan bersama Yusuf, kebetulan hari Sabtu, Yusuf libur sekolahnya." Muthia kembali berbicara sendiri dan mulai bersiap untuk pergi ke yayasan, tapi sebelumnya dia meminta ijin terlebih dahulu dengan suaminya melalui telepon.


"Assalamualaikum, kang! Thia mau minta ijin, mau ke kantor dan ajak Yusuf serta mbok Narti, karena setelah dari yayasan, rencananya Thia akan pergi belanja buat bulanan." sambung Muthia bicara apa adanya.


"Waalaikumsallm, Iya sayang. Tapi kamu hati hati ya, jangan capek-capek. Sehat sehat dan jaga diri bunda baik baik." balas Aswin di ujung sana dengan begitu lembutnya. Padahal Aswin sedang ada meeting dengan rekan kerjanya, Dini sekertaris teman nya Aswin, terlihat memperhatikan Aswin dengan binar kagum di kedua bola matanya.

__ADS_1


Aswin memang memiliki pesona yang bisa memikat wanita dengan kharismanya yang memiliki wajah teduh dan senyuman hangat, sikap ramahnya juga cara bertuturnya yang sopan dan kalem, pasti akan membuat wanita merasa adem berada di dekatnya. Pun dengan Dini, sekertaris dari Niko temannya Aswin.


Sejak pertemuan pertama kali, dia sudah menaruh rasa pada laki laki yang beristrikan dua wanita cantik nan shaleha.


"Iya sayang, Terimakasih ya. Love you. Dan satu lagi, ayah kerja yang benar, jaga pandangan, gak boleh lirik lirik lagi, ingat ya dirumah sudah ada bunda sama teh Sandra." sambung Muthia manja dan disambut gelak tawa Aswin yang merasa gemas dengan istrinya, wanita lembut yang selalu sembunyikan rasa cemburunya, sejak hamil justru dia begitu posesif dan pencemburu, itu membuat Aswin semakin bahagia dan mencintai keunikan istrinya.


"Iya, iya! dirumah sudah ada bidadari cantik, sangat cantik malah, jadi mata juga hati seorang Aswin tidak akan bisa melirik wanita manapun. Love to sayang, hati hati ya. Ayah lanjut kerja dulu, masih ada meeting dengan Niko ini. Yuk sayang, Miss you. Asalamualaikum." Aswin menutup sambungan telponnya setelah mendengar jawaban salam dari sang istri.


Niko hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, karena bagi Niko pemandangan seperti ini sudah biasa, Aswin selalu memberi perhatian pada istrinya bahkan tidak segan mengungkapan kata kata cinta di depan orang lain buat sang istri, jujur Niko kagum dengan kesetiaan dan cinta yang besar sahabatnya itu sama istri istrinya.


"Dia lagi hamil muda, bro. Manjanya bikin kadang buat aku gemas. Kamu tau sendirikan seperti apa Muthia, tapi sejak hamil, sikapnya berubah total. Kadang aku kewalahan dengan perubahannya itu. Untung ada Sandra yang tidak pernah bosan mengingatkan aku. Mereka wanita wanita istimewa bagiku, aku merasa sangat beruntung." sambung Aswin tersenyum dengan sorot mata yang terang.

__ADS_1


"Yasudah kita lanjutkan lagi." sambungnya lagi dan di iyakan oleh Niko, sedangkan Dini semakin menyimpan kekaguman pada laki laki di hadapannya, yang bahkan melirik dirinya pun tidak.


"Aku akan berusaha untuk bisa memasuki hati pak Aswin, dia sangat menyukai perempuan berhijab panjang dan memiliki sikap lemah lembut, dan semoga kerja sama antara pak Aswin dan pak Niko berjalan sesuai rencana, karena jika mereka diel menjalankan kerja sama dalam satuan proyek, pasti aku akan sering bertemu dan berkomunikasi dengannya, dan saat itulah aku akan membuatnya jatuh hati padaku. Toh dia pelaku poligami, itu artinya tambah istri lagi tidak masalah buatnya maupun istri istrinya. Lagian aku juga tidak kalah cantik dari istrinya." Dini bergumam sendiri di dalam hatinya, dengan tatapan mata menatap kagum ke arah Aswin yang sebenarnya mengetahui dari ekor matanya. Bukannya merasa senang di perhatikan perempuan cantik, justru Aswin merasa risih dengan tatapan Dini yang dinilainya tidak sopan.


"Nik, nanti aku ingin saat kita mengadakan rapat atau kunjungan, kamu mengganti pendamping mu dengan asisten laki laki, karena aku tidak terbiasa kerja dengan lawan jenis. Takut gak bisa menjaga pandangan. Kamu tau kan maksudku?"


Aswin tanpa banyak bertele tele langsung mengungkapkan isi hatinya pada sang sahabat, yang langsung mengangguk paham. Karena Niko tau, kalau Aswin orang yang religius, bahkan para pekerjanya yang satu kantor dengannya tidak ada yang perempuan. Aswin lebih memilih karyawan laki laki.


"Apakah ini salah satu syarat darimu bro?" balas Niko bercanda dan langsung disambut kekehan kecil oleh Aswin. Tapi tidak dengan Dini yang langsung memerah wajahnya menahan kesal oleh ucapan Aswin, belum juga memulai rencananya tapi Aswin sudah lebih dulu menjauhi dirinya, Aswin dengan sengaja menutup komunikasi dengan wanita yang dirasanya tidak penting.


"Baiklah, besok aku akan mengganti asisten, biar Dini stay di kantor saja. Sebenarnya aku juga sudah memikirkan itu akhir akhir ini, ingin menjaga hati bini, meskipun aku tau, istriku tidak pernah mempermasalahkan, tapi sebagai suami yang baik, bukankah kita harus menjaga hati dan pandangan kita, dan juga berusaha menjaga hati istri kita? jujur aku kagum dengan prinsip mu itu, semoga aku juga bisa memegang prinsip yang sama denganmu." balas Niko panjang lebar, Niko bicara jujur akan niatnya itu, karena dia juga sangat mencintai istrinya yang pendiam dan begitu taat padanya. Niko ingin memperlakukan istrinya seperti Aswin memperlakukan istri istrinya, selalu berusaha menjaga hati istrinya meskipun mereka tidak berdekatan, karena Aswin tau jika wanita itu makhluk unik dan perasa.

__ADS_1


Aswin tersenyum dan mengaminkan keinginan sahabat nya itu dengan senang hati.


"Aamiin, semoga. Dan aku rasa kamu memang perlu merombak karyawan di kantor kamu, aku lihat sekarang banyak perempuan nya ketimbang yang laki-laki." sahut Aswin dengan kekehan kecilnya.


__ADS_2