
beberapa saat Dila masih menangis sesenggukan di samping Mala setelahnya ia pun mulai tampak tenang
"maaf ya mbak Mala,baju mbak mala jadi basah karena saya...."
"santai aja kali mbak.... justru mbak Dila itu yang sekarang kenapa napa....ceritalah mbak mungkin dengan mbak Dila mau bercerita beban di pundak mbak Dila nanti bisa sedikit berkurang "
Dila menghembuskan nafas dalam....selang beberapa saat ia pun mengarahkan pandangannya lurus ke depan dengan beberapa kali berucap istighfar
"aku lelah mbak, pengabdian ku selama lima tahun ternyata tak berarti untuk mas Galang.nama mbak Alika masih terpatri di hatinya...aku tak pernah minta dinikahi olehnya tapi saat pernikahan itu terjadi maka aku hanya mencoba mempertahankan apa yang ada. Tak ingin lagi hidup sebagai janda yang hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang makanya aku dengan ikhlas menerima jika ada wanita lain dihati suamiku "
"tapi wanita itu lebih dulu hadir di kehidupannya dibandingkan kamu mbak, hanya saja tanpa sepengetahuannya kamu lebih dulu menjadi istrinya " sela Mala
"ya ....aku hanya wanita yang terpaksa dinikahinya, tapi aku tetaplah istrinya mbak tanpa ada niat sedikitpun untuk mengeser mbak Alika dari status istri mas Galang waktu itu, mbak Alika sendiri yang memutuskan untuk mundur " sejenak Dila menoleh pada Mala yang terlihat tersenyum sinis terhadapnya
"aku seorang istri sekaligus seorang ibu untuk anak-anak ku mbak,aku ingin yang terbaik untuk mereka...."lanjut Dila
"meskipun harus mengorbankan hatimu, begitu mbak Dila?" Mala menatap Dila dengan tatapan menyelidik
"apa aku ini bodoh mbak?" tanya Dila ambigu
"ya.... kamu tidak bahagia kan atas pernikahan kalian, kamu bertahan karena albi dan thalia kan..... kamu cantik mbak, kamu masih muda... masih banyak cara agar kamu bisa bahagia... setidaknya berfikir lah mbak Dila, hidup itu bukan hanya tentang anak anak tapi juga kamu.... kamu berhak bahagia, percayalah mbak tanpa Galang kamu bisa meraih semuanya "
"aku sudah meminta perpisahan dengan mas Galang tapi dia menolak,"
"Karena kamu tidak tegas.... belajarlah membahagiakan diri sendiri baru orang lain, cinta yang bertepuk sebelah tangan hanya akan menyakiti hatimu mbak.... Galang bukan lelaki yang pantas untuk di pertahankan, nyatanya lihat Tiwi dia memilih caranya sendiri untuk bahagia meskipun Galang cinta pertamanya karena dia tau dengan Galang dia tidak akan bahagia "
__ADS_1
"tapi sekarang mbk Alika tengah berbahagia dengan suamiku mbak...."
"apa kamu yakin mbak, apa kamu pernah melihatnya sendiri.... justru Galang sekarang menyusahkan sahabat ku...."
"Alika Pratiwi tengah berduka mbak Dila bahkan belum genap empat puluh hari kematian kak Teguh tapi dia sudah direpotkan dengan kehadiran Galang.... dia masih berduka bahkan saking shock nya justru kini berimbas ke Anaya putrinya, Anaya yang harusnya masih full ASI pun terpaksa di selingi dengan sufor karena ibunya terlalu stress.... sahabat ku itu belum bisa menerima sepenuhnya kematian suaminya tapi lelaki tak tau malu itu malah makin merepotkan nya " lanjut Mala
"kukira justru mbak Alika sekarang sedang bahagia karena perhatian mas Galang?"
"bahagia..... andai sahabat ku saat ini sedang bahagia pasti aku juga turut bahagia" mala berdecih mengingat Galang "entah di mana otak dan hati Galang berada mbak.... tapi satu yang pasti Galang bukan lelaki setia yang akan bertahan dengan satu wanita"
"aku lelah mbak Mala.... lelah, mungkin cukup disini batas ku"
"ikuti kata hatimu mbak.... bertahan ataupun berpisahnya mbak Dila dengan Galang nanti tidak akan membuat Tiwi kembali padanya....."
"bunda....." teriak albi dengan senangnya
"hei kalian dari mana....lho ini banyak sekali makanannya?" Albi dan thalia pun cengengesan mendengar tanya bundanya lalu ditatapnya pria berkaos biru di belakang mereka yang tak lain adalah Dani
*
*
berkali kali dicoba untuk memejamkan matanya tapi Dila tak mampu untuk terpejam,anggannya melayang jauh entah kemana. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi sang suami tak jua pulang....
Ingin sekali rasanya Dila menghubungi nomor ponsel Galang tapi ia gengsi.... perkataan Mala masih terngiang di telinganya, benarkah mantan madunya itu sudah tak menginginkan untuk bersanding kembali dengan suaminya
__ADS_1
Perlahan Dila pun turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum.samar samar terdengar suara orang berbincang di ruang kerja mertuanya
Rasa penasaran yang tinggi membuat Dila nekat mendekati ruangan yang tak sepenuhnya tertutup itu
"sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini...kamu punya istri dan anak yang butuh perhatian kamu" Dila mengenali suara itu, itu suara papa mertuanya lalu dengan siapa dia berbicara
"aku masih mencintainya pa....aku ingin dia kembali menjadi istriku" deg... jantung Dila seperti berpacu mendengar jawaban itu karena dia tau suara siapa itu, ya itu suara Galang ternyata dia sudah pulang
Braaakkkk
terdengar suara meja yang digebrak dengan sangat keras di ruangan itu
"kamu memang bodoh... lihat wanita yang kini masih ada bersama mu itu, dia sudah mengabdi menjadi istri yang terbaik untukmu tapi ini balasan mu.... apa kamu pikir Alika akan mau menerima mu lagi meski kini dia sudah jadi janda heh...." suara lantang pak Hendra terdengar jelas di telinga Dila yang berada di luar ruangan itu
"aku tau pa...tapi aku masih mencintai Alika, papa kan tau sendiri sudah sejak masih sekolah dulu aku mencintai Alika,kini teguh sudah meninggal jadi aku punya kesempatan untuk kembali bersamanya"
"lalu mau kamu kemanakan Dila.... Galang papa ini sudah sangat lelah dengan tingkah kamu dan Giany"
"Galang tidak akan meninggalkan Dila pa, biar bagaimanapun Dila tidak akan bisa hidup tanpa aku karena dia sangat mencintai ku juga dia hanya ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan kecuali dariku.... Dila akan tetap bersama ku pa" Dila yang mendengar itu pun mengelengkan kepala seraya tersenyum sinis.ternyata sebegitu rendahnya dia dimata suaminya sendiri
"kamu memalukan Galang, lebih baik papa tidak punya anak dari pada punya anak gila seperti kamu" perlahan pak Hendra berjalan keluar, saat dia sudah berada diambang pintu seketika netra Dila dan pak Hendra beradu.terlihat jelas oleh pak Hendra derai air mata yang membasahi pipi menantunya itu
tanpa berucap kata, Dila pun segera berlalu dari hadapan mertuanya itu tanpa permisi ,ia berlalu menuju kamar thalia
Hatinya hancur mendengar perkataan Galang, ditutupnya pintu kamar olehnya lalu ia pun luruh di lantai ia menangis meluapkan luka yang baru saja ditorehkan oleh suaminya itu
__ADS_1