Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 24 Akur


__ADS_3

Berlahan Sandra membuka matanya, dan orang pertama yang dia lihat adalah sosok yang selalu ia rindukan, Aswin suaminya.


Sandra pun menoleh ke arah samping, dilihatnya Muthia sedang khusyu membaca ayat ayat suci Alquran.


Tak dipungkiri, hati Sandra menghangat melihat pemandangan Kala ia tersadar dari celaka.


Menyadari istrinya sudah sadarkan diri, Aswin tak henti hentinya mengucap syukur.


"Alhamdulillah, bunda sudah sadar, Masya Alloh ,trimakasih ya Alloh.


Jangan banyak gerak dulu ya bund, karena luka yang bunda alami cukup serius, bunda yang kuat yaa."


"Teh Sandra sudah sadar, Alhamdulillah ."


Muthia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Sandra, berdiri di tepi ranjang, digenggamnya lembut tangan sang kakak madu.


"Teteh, apa yang saat ini teteh rasakan, jangan banyak bergerak dulu ya, kalau butuh apa apa teteh bilang saja, nanti biar Muthia bantu."


"Aaaaah." Sandra meringis kesakitan, serasa seluruh tubuhnya ngilu tak bertenaga, kepalanya berdenyut nyeri.


"Kenapa tanganku tak bisa digerakkan, dan tubuhku rasanya sakit semua, aaah rasanya sakit sekali." Jerit Sandra kesakitan.


"Bunda yang sabar ya, insya Alloh akan segera kembali sehat, kita berdoa sama sama ya." Hibur Aswin lembut.


Sandra hanya mengangguk pasrah, tubuhnya terasa sangatlah lemah, apa lagi rasa pusing yang luar biasa.


"Teteh mau minum?"


Tawar Muthia, dan dijawab dengan anggukan oleh Sandra.


Dengan cekatan Muthia mengambil gelas yang ada di atas nakas, diambilnya sedotan dan disodorkannya ke mulut Sandra. "Terimakasih Muthia, maaf sudah membuatmu repot mengurusi aku yang tak berdaya ini." ucap Sandra lemah dan ada titik bening yang mulai berjatuhan dari kelopak matanya. "Teteh gak boleh bilang gitu, insyaallah Muthia iklas, dan senang bisa membantu teteh, cepet sehat ya, jangan mikir macam macam. Ini sudah jadi kewajiban Muthia." Muthia tersenyum lembut dan mengusap lengan Sandra penuh kasih sayang, tidak ada sedikitpun keraguan untuknya membantu merawat Sandra. Semua dilakukan semata memang Muthia merasa itu kewajibannya sebagai adik dan keluarga.

__ADS_1


Muthia begitu telaten merawat dan menjaga Sandra selama di rumah sakit, sudah empat hari Sandra dirawat, namun masih belum sepenuhnya pulih, saat pagi hingga sore, Muthia yang menjaga dan merawatnya, dan ketika Aswin pulang dari kantor, Aswin yang gantian berjaga menemani Sandra di rumah sakit hingga pagi.


Selama empat hari, Sandra menyadari betapa suami dan Muthia begitu hawatir dan tulus, merawatnya penuh dengan cinta.


'Tak seharusnya, aku terus membenci dan menyakiti Muthia, dia wanita baik dan meskipun berkali kali aku sakiti, dia tetap iklas merawatku bahkan tidak sedikitpun jijik membersihkan tubuhku, saat aku tak bisa apa apa begini.


Maafkan aku Muthia, aku janji, setelah ini kita akan menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.' batin Sandra sendu.


Sandra menatap Muthia tanpa kedip, saat Muthia sedang mengupaskannya buah apel.


Sadar diperhatikan oleh kakak madunya, Muthia mengerutkan kening.


"Teteh mau sesuatu?


Apa teteh ingin di bantu untuk duduk?"


"Nggak, nggak papa." Sandra menjawabnya gugup.


"Iyaa." Muthia mengerjap memperhatikan Sandra dan menghentikan kegiatannya mengupas.


"Maafin aku yaa, maaf kalau selama ini sudah bersikap tidak baik padamu." Isak Sandra menyesali sikapnya selama ini.


Muthia tersenyum, di genggamnya tangan Sandra.


"Aku selalu maafin teh Sandra dari sebelum teteh minta maaf, sudah yaa jangan dipikirin sesuatu yang tidak harus dipikirin, untuk saat ini teteh fokus aja dengan kesehatan teteh, biar kita bisa kumpul lagi sama sama dirumah, kasihan si kembar, udah kangen banget dengan mamanya." Muthia menatap lekat wanita yang masih terlihat sedikit pucat, namun kini matanya sudah memancarkan kedamaian, tak ada lagi benci seperti biasanya. "Alhamdulillah." batin Muthia penuh syukur.


"Makasih yaa." sandra juga meletakkan tangannya diatas genggaman tangan Muthia, saling melempar senyum, dan ada rasa hangat yang menjalar di hati masing masing kedua wanita cantik itu.


Tak terasa, Muthia meneteskan air mata, pun dengan Sandra, saat menyadari sama sama menangis, keduanya justru tertawa, tawa bahagia yang selama ini selalu mereka rindukan.


"Udah aah acara nangis nangisnya, nanti apelnya ngambek, karena nggak dimakan makan.

__ADS_1


Mau disuapin atau gimana ini teteh nya?" Hibur Muthia sambil mengusap air matanya.


"Bawa sini Deket teteh, biar teteh makan sendiri, sambil melatih tangan biar nggak kaku."


Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang memperhatikan keakuran keduanya.


Aswin tersenyum dan ada perasaan bahagia melihat kedua istrinya akur.


"Alhamdulillah. Semoga saja mereka akan terus seperti ini. Melihatnya saja hati ini begitu bahagia, terimakasih Tuhan, mungkin ini jawaban atas dia yang selalu aku panjatkan, dan mungkin buah dari kesabaran dan ketulusan Muthia dalam menerima perlakuan tak adil dari Sandra. Dan kecelakaan yang menimpa Sandra adalah hikmah bersatunya mereka. Terimakasih, Alhamdulillah." Aswin tersenyum dan tak henti melafazkan kalimat syukur dari bibirnya.


💓💓💓💓💓💓


Pesan Cinta author


#Cinta dan Pernikahan


"Peliharalah Cinta dan Jangan biarkan memudar"


Cinta menurut Erick Fromm dalam “the Art of Love” merupakan “tindakan keyakinan, dan siapa pun yang kecil keyakinannya, maka kecil juga cintanya”. Misalnya, sebesar apa keyakinan seseorang kepada Dzat Maha Pemberi Keberkahan maka sebesar itulah cintanya kepada Alloh.


Karena cinta berkaitan dengan keyakinan maka “besar atau kecilnya” akan tergantung kepada persepsi orangnya. Baginda Rasulullah telah menegaskan bahwa, “Sesungguhnya Allah berkata: "Aku sesuai prasangka hambaKU pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku" (HR Muslim). Hal inipun tentu akan berdampak kepada keberkahan hidup yang hakikatnya dianugerahkan oleh Alloh kepada orang tersebut. Kalau dugaan seseorang itu meragukan terhadap Maha Rahman dan Rahimnya Alloh sebagai sumber pemberi keberkahan kepada manusia maka kerugian lah yang akan didapatkan. Dalam hal ini, alquran telah menyebutkan: “Dan itulah dugaan mu yang telah kamu sangkakan terhadap Rabb mu (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi (q.s. Fushshilat: 23)".


Lantas dalam kehidupan rumah tangga, "seberapa besar persepsi suami terhadap pasangannya atau sebaliknya istri terhadap pasangannya, maka sebesar itulah cinta yang akan dilahirkan dalam kehidupan keluarga." Jika persepsinya kecil dan selalu negatif maka yang lahir adalah hubungan tanpa cinta, yang tidak akan melahirkan keberkahan dan kebaikan sesama anggota keluarga. Hubungan yang lahir penuh prasangka satu sama lain, saling tidak percaya satu sama lain, saling mencurigai satu sama lain, saling mengumpat satu sama lain, komunikasi yang tak beradab satu sama lain, dan interaksi yang hambar satu sama lain. Dan bahkan bisa jadi kehidupan dalam keluarga menjadi sangat mekanik, kaku, rigid, seperti atas-bawahan, majikan-pembantu dan tuan-hamba sahaya dalam sistem feodal.


Hilang kemana ucapan manis dan mesra saat pertama niat berumah tangga. Dimana tradisi saling mendo’akan, dimana tradisi saling bercumbu rayu, dimana tradisi saling menghormati, dimana tradisi saling merangkul, dimana tradisi saling melindungi, dimana tradisi saling memberikan kecupan manis, dimana tradisi saling memberi hadiah yang membahagiakan, dimana tradisi saling memaafkan, dimana tradisi saling merindukan, dimana tradisi saling memahami, dan dimana tradisi saling melembutkan hati karena ibadah kepada Alloh dalam peradaban rumah tangga. Semuanya raib dan terkubur dalam keluarga, bersama hilangnya praktek-praktek cinta dan kasih sayang antar suami istri. Tradisi-tradisi pemelihara keberkahan dan kebahagiaan dalam pernikahan tersebut hanya menjadi sejarah usang yang pernah terjadi saat awal bertemu dan meniti rumah tangga. Tak berjangka waktu lama dan abadi, terkalahkan oleh keputusasaan dan kebosanan saat menghadapi dinamika remeh tameh yang pasti akan datang pada setiap mahligai rumah tangga.


Entah dikubur dimana wujud cinta dan kasih sayang yang semestinya harus tetap lestari dalam mengarungi rumah tangga agar tetap sakinah, mawadah dan rahmat. Ya, banyak pasangan suami-istri yang mengalami amnesia atas sejarah awal pertemuan yang dipenuhi perasaan cinta dan kebahagiaan. Sehingga mereka lupa bersyukur atas anugerah terbaik atas diberikan kemudahan jodoh oleh Alloh. Anugerah jodoh yang semestinya selalu disyukuri dengan penuh cinta dan kasih sayang agar semakin bertambah keberkahan dalam rumah tangga.


Cinta dan kasih sayang yang tak pernah berakhir merupakan keunggulan seseorang dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Amy Ress Anderson dalam, “What Awesome Looks Like: How to Excel In Business And Life” menyebutkan jika ingin disebut manusia unggul, maka jadikan “Family where life begins and love never ends”. Artinya, salah satu rumus unggul seseorang (suami atau istri) dalam menjalani kehidupan adalah “love never ends." Rumus yang menjadi salah satu kunci penting bisa bersatunya suami istri dalam rumah tangga penuh keberkahan.


John R. Wooden dalam “The Pyramid of Success: Championship Philosophies and Techniques on Winning", telah berpandangan bahwa jika seseorang berharap menjadi pemenang dalam kehidupan di dunia dan keluarga maka pegang lah semboyan “The most important thing in the world is family and love”. Bahkan kegelapan hidup rumah tangga hanya bisa dirubah menjadi cahaya hidup jika "each other means feeling cared for, included, accepted, and loved", begitulah kata Richard O'Keef dalam “Step Parenting: How to Replace Misbehavior with Cooperation"

__ADS_1


__ADS_2