
Anaya terus menangis di gendongan Mala, segala cara telah dia coba untuk menenangkan bayi perempuan Alika itu tapi dia tetap menangis sedari tadi
Mbok sum pun bergantian dengan Mala mengendong Anaya... saat Anaya berada di gendongan mbok sum, Mala pun berusaha menghubungi Alika tapi sedari tadi tak ada jawaban dari sana padahal panggilan pun tersambung
"gimana mbak Mala, apa mamanya sudah bisa dihubungi...."
Mala menggeleng pelan "gak mbok.... gak diangkat padahal berdering lho tapi gak diangkat, kemana sih Alika ini.... apa dia gak kepikiran sama Anaya" Mala terus bergumam seraya terus berusaha menghubungi nomor Alika
Dani masuk ke dalam ruangan Mala dengan tergesa-gesa, membuat Mala seketika mengalihkan pandangannya pada suaminya itu
"mas... kamu sudah datang, mas lihat Anaya rewel sedari tadi nangis terus...ini juga Alika gak bisa di hubungi, aku bingung mas" keluh mala pada Dani lalu ia pun menjatuhkan bobot tubuhnya pada sofa panjang yang berada di ruangannya itu
Dani segera mendekati mbok sum yang sedang mencoba menenangkan Anaya lalu meminta Anaya untuk digendongnya. Mbok sum pun memberikan Anaya pada Dani
Dani terus menimang Anaya dengan telaten juga penuh kasih sayang tak lama bayi perempuan itupun terlelap di gendongan Dani, tak lama setelah Anaya terlelap dani pun meminta salah satu pegawainya untuk mengendong Anaya terlebih dulu karena dia ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Mala juga mbok sum
beberapa saat setelahnya kini tinggal Dani, Mala juga mbok sum di ruangan Mala tersebut
"ada yang ingin aku sampaikan sama kamu dan mbok sum" ucap Dani lalu menatap Mala dan mbok sum bergantian. Mala dan mbok sum pun mendengarkan ucapan dani dengan seksama
"Alika diculik" bola mata Mala dan mbok sum membola bersamaan saat mendengar ucapan Dani, mereka tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dani barusan
"jangan bercanda mas gak lucu....!"
"iya mas Dani ini jangan bercanda deh gak lucu" sahut mbok sum
"aku gak bercanda.... kamu ingat saat kita habis dikuntit waktu itu....pas di rumah ternyata jarwo mengabari jika salah satu anak buah Galang waktu itu adalah keponakannya jadi aku minta jarwo untuk bersekongkol dengan keponakannya itu untuk mengawasi gerakan Galang dan tadi dia di kabari jika Galang menculik seorang wanita bernama Alika.... siapa lagi kalau bukan Alika kita yang dimaksud itu" Dani menjelaskan dengan detail apa yang diketahuinya kepada Mala juga mbok sum
"ya Allah....tega sekali mas Galang itu.... terus gimana ini mas Dani," ucap mbok sum dengan tangis yang mulai keluar dari mata juga bibirnya
__ADS_1
"mas lakukan sesuatu.... jangan sampai terjadi sesuatu sama Alika kasian nanti sama Anaya" mala terus menggoyangkan tubuh Dani mengharapkan jawaban kepastian dari suaminya itu
Dani memeluk tubuh Mala yang mulai menangis itu, ia mencoba menenangkan istri tercintanya itu
"sementara kita hanya bisa menunggu kabar dari sana.... sekarang yang lebih penting bagaimana dengan Anaya, secara dia kan masih minum asi"
"kalau ASI masih ada mas, mbak Alika men-stok ASI lumayan banyak, cukup untuk beberapa hari...."
"syukurlah kalau begitu mbok...."
"mas apa gak kita laporkan saja ke polisi....ini kan kasus penculikan" usul Mala lalu mendapat anggukan kepala dari mbok Sum
"gak semudah itu sayang.... kita gak bisa gegabah, takutnya malah Alika di bawa Galang ke tempat yang lebih jauh karena keponakannya jarwo sudah bilang kalau Galang bisa saja melakukan sesuatu tanpa memberitahu anak buahnya, mbok sum ada yang ingin saya tanyakan"
Dani pun mengorek informasi dari mbok sum tentang alasan kedatangan Alika ke sini juga siapa saja yang dekat dengannya beberapa hari ini. Setelah mendapat informasi yang dia inginkan dani pun segera pergi menemui jarwo untuk mendiskusikan masalah ini sedangkan Mala juga mbok sum diminta untuk menjaga Anaya
*****
Galang menyiapkan beberapa menu makanan di meja makan, ia pun menyalakan banyak lilin di sana untuk membuat kesan romantis untuk acara makan malamnya bersama Alika
Galang menghampiri Alika yang masih tersedu di sisi ranjang
Alika menatap sinis pada mantan suami pertamanya itu
"sayang....aku sudah siapkan makan malam untuk kita, kamu pasti lapar kan...ayo kita makan" Galang mengulurkan tangannya kearah Alika tapi segera di tepis oleh Alika dengan kasar
"aku tidak sudi makan denganmu...."
Galang membuang nafas kasar lalu ia pun kembali berjongkok di depan Alika
__ADS_1
"kamu harus makan sayang..... bukankah kamu masih ingin bertemu dengan Anaya"
Alika segera menatap wajah Galang saat mendengar nama Anaya di sebut
"jangan sebut nama anakku dengan mulut kotormu itu mas"
"Anaya.... Anaya..... Anaya.... Anaya...."
Plaaakkk....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Galang
kemarahan Alika memuncak saat Galang dengan sengaja mempermainkan nama Anaya di depannya
"sudah ku bilang jangan sebut nama anakku dengan mulut kotormu itu...."
Galang yang mendapat tamparan keras dari Alika pun kini menatap tajam ke arah wanitanya itu lalu dengan kasar ia mencengkram rahang Alika hingga membuat wanita itu meringis menahan sakit
"aku sudah memperlakukan mu dengan sangat baik jangan buat aku harus melakukan kekerasan terhadap mu sayang" ucap Galang lalu melepaskan cengkraman tangannya dari rahang Alika lalu mengusap lembut bekas cengkraman tangannya itu hingga membuat Alika merasa ketakutan
"kita makan ya sayang.... ingat jika kamu masih ingin melihat Anaya maka kamu harus tetap hidup untuk itu kita makan malam bersama ya sayang, sudah bertahun-tahun kita tidak makan malam bersama"
Alika memundurkan tubuhnya dengan terus mengelengkan kepalanya tapi tarikan kuat dari tangan Galang juga tatapan mata Galang yang menakutkan membuat ibu satu anak itu ciut nyali. Dengan terpaksa Alika menuruti perintah Galang
Mereka berdua berjalan beriringan dengan Galang memegang kuat tangan Alika
Memasuki ruang makan, Alika pun di buat terkesima dengan apa yang dilihatnya kini. Lampu sengaja dimatikan oleh Galang tinggal cahaya lilin yang menerangi setiap langkah Alika juga Galang
Disepanjang jalan menuju meja makan tepatnya mulai depan pintu kamar.... lilin sengaja dibuat oleh Galang berjejer hingga menuju meja makan juga rangkaian lilin yang berbentuk hati dengan taburan kelopak mawar merah berhamburan di sana dengan tulisan di tengahnya "I love you"
__ADS_1
Andai semua ini dilakukan oleh Galang dulu sebelum Alika sakit hati pasti dengan senang hati ia akan berbahagia tapi sayang kini hatinya telah tertutup untuk Galang juga perbuatan Galang dengan menculiknya membuat Alika merasa tak aman jika berada di dekatnya
Galang tersenyum senang saat berjalan beriringan dengan Alika, ia berharap jika nanti wanitanya itu akan menerimanya kembali menjadi suaminya