Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 42 Aswin Murka


__ADS_3

Setelah mendengar kabar dari Muthia, Aswin memutuskan untuk bertolak pulang malam itu juga. Berniat akan langsung menemui Sandra dan meminta penjelasannya.


Dengan kecepatan tinggi, Aswin melajukan mobilnya menembus pekatnya malam dengan perasaan tak karuan. Kecewa dan tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran istri pertamanya itu, tak bisa berubah bahkan semakin bersikap melebihi batas.


Pukul dua belas malam, Aswin sampai di kediamannya Sandra. Satpam yang berjaga langsung bergegas membukakan pintu pagar setelah tau siapa yang datang.


Aswin langsung memasuki halaman rumahnya yang luas dengan perasaan yang diliputi amarah.


Bu Siti tertegun melihat Aswin dengan wajah yang tak biasa, dingin dan terlihat matanya memerah.


Terus melangkahkan kakinya menuju kamar utama, yang ada Sandra di dalamnya.


Saat Aswin sampai ke dalam kamar, Sandra masih terjaga dengan raut yang sudah terlihat gelisah.


Sandra tau apa yang membuat Aswin pulang secara tiba tiba. Karena Mirna sudah membawa kabar buruk yang di berikan oleh Alek, bawahannya Amir.


Alek memberikan salinan Vidio tentang semua bukti kejahatan Sandra.


Sandra berpikir jika Aswin sudah mengetahui kabar itu. Makanya dia pulang dalam keadaan marah.


"Apa yang ada di pikiran kamu, Sandra?"


Dingin dan sorot matanya tajam menghujam pada wanita yang kini terlihat gelisah.


"Apa maksud ayah? Bunda gak tau!"


sahut Sandra pura pura tidak paham dengan yang dimaksud Aswin.


"Tidak usah pura pura tidak tau, keterlaluan kamu!


Apa kurangnya aku sama kamu?


Belum cukup kah semua yang aku berikan selama ini sama kamu, kehormatan, harta, dan kasih sayang. Aku menghargai kamu sebagai istriku, itulah kenapa dulu aku meminta ijinmu untuk menikahi Muthia, aku menanyakan kesiapan dan keikhlasan kamu saat itu.


Kamu bilang ridho dan tidak masalah, asal aku bisa adil pada kalian. Tapi, kamu justru yang menghancurkan semuanya. Mau kamu apa Sandra, apa?"


Suara Aswin meninggi, emosi sudah menguasai dirinya. Kecewa yang teramat besar pada Sandra yang terus berbuat semaunya.

__ADS_1


"Cukup, Mas. Cukup!


Kamu pikir, mudah menerima suamiku mencinta wanita lain, bahkan dia lebih mencinta wanita itu dari pada aku istrinya.


Kamu pikir aku sanggup melihat suamiku selalu bersikap mesra dan menatap penuh cinta pada istri keduanya yang tak pernah dia lakukan padaku?


Sakit, ya sangat sakit. Aku menahannya, aku berusaha menerimanya. Tapi ternyata aku tidak sanggup. Aku cemburu, aku tidak terima.


Paham?"


Suara Sandra juga tak kalah tinggi, tak perduli lagi dengan keadaan sekitar, emosi, kecewa dan amarah sudah menguasai keduanya.


Sehingga semua penghuni rumah saling terdiam dan gemetar mendengar pertengkaran pasangan suami istri yang dikenal adem dan tak pernah bertengkar itu.


"Lalu, kenapa kamu baru bicara semua itu sekarang?


Kenapa tidak dari dulu kamu menolak pernikahan itu, kenapa Sandra, kenapa?" Aswin masih menatap tajam pada Sandra yang tengah tersenyum sinis. Air mata nya sudah membasahi pipi mulusnya.


"Apakah itu akan berarti?


Aku tolak pun juga percuma, di hatimu hanya ada dia, dan pasti kamu akan terus berusaha untuk meraih cintamu itu. Jadi aku bisa apa? selain terpaksa mengiyakan keinginan suamiku."


Sahut Sandra dengan suara bergetar, Benci dan sakit yang selama ini ia tahan, kini dia lepaskan di depan pria yang selalu menumbuhkan luka yang sama dihatinya, selama bertahun tahun.


"Kita pisah. Aku talaq kamu Sandra Arunia Dewi. Mulai detik ini kamu sudah bukan tanggung jawabku lagi.


Akan aku urus surat gugatan cerai ke pengadilan secepatnya.


Kamu tenang saja, aku akan tetap memberikan hak kamu. Rumah ini sudah jadi milikmu, dan anak anak akan tetap mendapatkan haknya dan kasih sayang dari ku.


Silahkan lakukan apapun yang kamu mau setelah ini. Tapi ingat, jangan pernah kamu sakiti Muthia."


Aswin berlalu dengan membawa amarah yang belum juga hilang dari dirinya. Menjatuhkan talaq bukan tanpa sebab, karena Aswin sudah lama tau dengan tujuan Sandra sebenarnya. Harta dan uang, bukan cinta yang dia selalu gaungkan untuk menutupi kesalahannya.


Sandra terdiam, kebencian dan dendamnya pada Muthia semakin besar. Tidak terima Aswin meninggalkannya begitu saja.


Bahkan tujuan utamanya belum juga tercapai, menguasai seluruh harta milik Aswin.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu, Mas. Kamu lebih membela wanita itu, dan menceraikan aku dengan cara seperti ini. Aku tidak akan tinggal diam. Sebelum aku bisa membuat Muthia menderita, aku bersumpah, aku tidak akan berhenti untuk mengganggu hidup kalian, akan aku buat kalian hancur."


Sandra berteriak dan membanting apa yang ada disekitarnya, hingga suara pecahan nyaring terdengar dari luar kamarnya.


Tidak ada satupun yang berani mendekat dan menegur Sandra.


Aswin tak perduli, dia terus melangkah keluar dan menemui Bu Siti yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya anak anak.


"Bu, titip anak anak. Beri kabar pada saya apapun yang berkaitan dengan mereka. Aku masih akan tetap datang untuk menemui Zahra dan Aruna."


Aswin menatap tegas pada Bu Siti yang sedang gemetar karena takut.


"Iya, pak Aswin. Ibu pasti akan jaga kembar dengan baik. Pak Aswin tidak perlu khawatir.


Tapi, apakah harus ini keputusan yang terbaik?"


Bu Siti memberanikan diri mengeluarkan pikirannya. Karena bagaimanapun Bu Siti adalah orang yang sudah merawat Aswin sedari dia masih sekolah dasar.


Sebelum menjawab, Aswin menarik nafasnya dalam.


"Ini yang terbaik Bu, Sandra sudah melebihi batasannya. Aku menyerah dan tidak akan sanggup bertahan pada wanita yang otaknya hanya dipenuhi nafsu dunia. Dia tidak menginginkan aku, tapi menginginkan semua hartaku. Aku lelah Bu, lelah jika hanya terus diam dan pura pura tidak mengetahui niatnya itu.


Aku pikir dia akan berubah setelah aku memberikan apa yang dia mau, tapi justru itu semakin membuatnya haus dan menginginkan lebih.


Titip anak anak, gaji Bu Siti tetap saya yang bayar, jadi Bu Siti tenang saja. Saya pamit dulu, Asalamualaikum."


Aswin membalikkan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah yang ia bangun untuk Sandra dan anak anaknya dengan perasaan kecewa.


Tak ada lagi yang bisa di pertahankan dari hubungan yang memang sudah cacat dari awal.


Sekuat apapun Aswin berusaha memperbaiki, nyatanya justru Sandra semakin menginginkan lebih.


Aswin menyerah dan memberikan sebagian hartanya untuk wanita yang sudah memberikan dia Putri cantik. Harta yang di inginkan Sandra bukan cinta, sampai kapanpun Sandra tidak akan puas sebelum dia benar benar mendapatkan seluruh harta yang dimiliki Aswin.


Diam diam Aswin sudah mencium niat Sandra dari dulu, dari Sandra yang menginginkan hak kepemilikan beberapa aset miliknya. Aswin bukan orang bodoh, namun Aswin juga tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.


Hingga sampai detik ini, kesabarannya sudah benar benar di uji oleh niat jahat Sandra pada Muthia.

__ADS_1


__ADS_2