Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 40 Terbongkar


__ADS_3

"Maksudnya gimana ini, Mas?


orang terdekat, siapa?"


Muthia tak sabar untuk segera tahu siapa orang yang Amir maksud.


Amir terdiam, mencari kalimat yang tepat untuk menyampaikan pada Muthia, yang ia yakini akan membuat Muthia shock bahkan pasti sangat sedih. Sehingga Amir harus berhati hati dalam memilih kalimat untuk menyampaikannya.


"Mas! kok diam? Siapa?"


Muthia sudah gak sabar ingin mengetahui siapa dibalik semua teror yang ia terima, ingin tau apa yang membuat orang tersebut begitu menginginkan dia celaka. Pikirannya mulai tak tenang dan dadanya berdetak lebih cepat, Muthia sudah begitu penasaran orang dibalik ini semua.


Sebelum menjawab pertanyaan Muthia, Amir, menghembuskan nafasnya dalam, tak berani lagi menatap wajah ayu wanita dihadapannya, milih menundukkan kepala dan mengatur deru nafas yang mulai terasa sesak.


"Kemarin saat kamu menerima kiriman makanan, dan aku mengambilnya sedikit untuk di bawa ke lab, agar di cek dan kita bisa tau, apakah makanan itu berbahaya atau tidak buatmu. Dan ternyata, hasilnya tidak salah dengan dugaan ku, makanan itu sangat berbahaya untuk Kandangan kamu, karena ada semacam obat untuk meluruhkan janin di dalamnya. Orang tersebut sengaja ingin membuat kamu keguguran, Muthia." Amir memberanikan diri menatap wajah Muthia yang terlihat shock, kalau saja Amir punya kuasa dan berhak, Amir ingin sekali memeluk wanita di hadapannya yang saat ini terlihat gemetar dengan pandangan nanar.


"Apa salahku? Kenapa ada orang yang begitu tega ingin menyakiti aku dan juga bayi tak berdosa ini?


Astagfirullah, ini sulit dipercaya, Mas. Jujur aku shock banget." Muthia menanggapi penjelasan Amir nanar dengan mata yang sudah bergelayut mendung.


"Ini belum semuanya, kalau kamu mendengar siapa orang yang sudah merencanakan itu semua, aku yakin, kamu akan lebih shock dan gak percaya kalau dia orangnya. Orang yang kamu anggap baik dan percaya."


Kembali Amir membuka suara dengan wajah datarnya, menahan rasa perih yang sedari kemarin mengusik hatinya.


"Siapa, Mas? Katakanlah jangan buat aku penasaran begini." Sahut Muthia sendu, tetesan bening sudah jatuh dari kedua matanya.


Amir terpaku, tak tega namun harus diungkap, agar Muthia bisa lebih berhati hati dan bisa waspada serta menentukan apa yang terbaik untuk hidupnya setelah ini.

__ADS_1


"Kamu tau, siapa pengirim pesan dari nomor yang tidak dikenal di ponselmu? orang yang selalu mengirimkan peringatan agar kamu berhati hati, dan orang yang selalu memberi pesan setiap akan ada yang ingin mencelakaimu. Kamu mengenal orang tersebut, dan orang itu begitu menghawatirkan kamu dan mencemaskan keselamatan kamu, makanya dia menggunakan nomor tak dikenal, agar dia tidak di curigai sama atasannya dengan memberikan informasi diam diam padamu melalui pesan pesan peringatan itu." Amir menatap lekat Muthia yang terlihat tengah berpikir keras.


"Siapa Mas? jangan bikin aku makin pusing. Katakan saja!" sahut Muthia tak sabar.


"Bu Siti." Sahut Amir tegas dan serius. Membuat Muthia membelalakkan matanya tak percaya.


"Bu Siti?


Bu Siti pembantu teh Sandra?" balas Muthia memperjelas keraguannya.


"Iya, kemarin aku bertemu dengannya, dan Bu Siti juga sudah menceritakan semua yang ia tau, aku dan Bu Siti sedang bekerja sama. Alhamdulillah Bu Siti mau membantu kita, karena beliau mengaku sangat mencemaskan keselamatan kamu, dan percaya, kamu wanita yang baik, yang tak pantas diperlakukan jahat oleh Sandra, Istri pertama suami kamu."


Amir menjelaskan secara gamblang dan membuat Muthia semakin shock dan menangis tersedu. Tidak menyangka, Sandra yang dikiranya sudah berubah, justru semakin jahat dan memiliki niat yang tidak pernah Muthia duga sama sekali.


"Jadi ini semua perbuatan teh Sandra?


Alloh!"


Muthia tak percaya jika Sandra lah yang ada dibaliknya, karena selama Sandra sakit, Sandra sudah bersikap begitu baik padanya dan tidak lagi menampakkan wajah tak sukanya kepada Muthia. Ternyata itu hanya sandiwara untuk menutupi niat yang sebenarnya.


"Iya, dan satu lagi. Dengarkan ini."


Amir mengeluarkan ponsel miliknya dari saku kemejanya, lalu membuka Vidio yang menunjukan percakapan Sandra dan Mirna tentang rencana dan niat buruknya untuk Muthia.


Muthia membekap mulutnya tak percaya, air matanya terus berjatuhan membasahi pipinya yang putih tanpa ada satupun jerawat.


"Apa lagi ini ya Allah?" desah Muthia lirih, seiring rasa kecewa yang begitu dalam.

__ADS_1


"Sudah! Tenangkan dirimu, Thia! Kamu harus kuat dan bisa bersikap tegas. Sandra sangat licik dan jahat. Bukan waktunya kamu cuma diam. Bersikap tegas lah, karena ini menyangkut keselamatan kalian dan rumah tangga kamu dengan Aswin. Sandra harus diberi peringatan agar dia jera dan berpikir seribu kali untuk mencelakai kamu lagi.


Aku akan bertindak untuk hal ini, karena ini tidak sepantasnya di diamkan. Akan berakibat fatal nantinya."


Amir berusaha untuk membuat Muthia keluar dari zona merasa sungkan dan tak enaknya. Karena sikap Sandra sudah sangat keterlaluan. Jika dibiarkan akan membuat Muthia semakin tersakiti dan keselamatan nya pun juga akan terancam. Amir tidak ingin itu terjadi.


"Apa yang akan Mas, Lakukan?" sahut Sandra lirih menatap Amir begitu lekat dan membuat Amir jadi salah tingkah, karena hatinya mendadak tak karuan.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyakiti Sandra, tapi aku akan sedikit memberinya shock terapi. Dan lebih baik bicarakan ini dengan suami kamu, dia harus tau, agar bisa bersikap lebih tegas. Aku akan mengirimkan semua bukti kejahatan Sandra padamu, agar bisa kamu tunjukkan pada suami kamu nantinya.


Mulai sekarang berhati hatilah. Jaga jarak dengan Sandra dan lebih baik hindari komunikasi dengannya."


Muthia terdiam, pikirannya kacau apa lagi hatinya. Wanita yang sudah di anggap baik dan Berbah ternyata masih menyimpan dendam dengan segala rencana jahatnya untuk menyingkirkan dirinya dengan begitu licik.


Muthia membenarkan ucapan Amir, dia harus bisa tegas dan berani melawan, tidak lagi ada kata sungkan , karena itu akan membuat dirinya semakin di perlakukan buruk oleh Sandra. Sudah saatnya Muthia bersikap tega dan melindungi dirinya dari semua rencana jahatnya Sandra.


"Aku tidak lagi ingin diam, teh Sandra sudah sangat keterlaluan. Kita akan lihat siapa yang akan bertahan di pernikahan ini, jika caramu seperti ini, aku pun juga akan melindungi pernikahanku dengan caraku, jangan salahkan aku, karena teteh yang mulai duluan." Muthia bicara di dalam hatinya bersama rasa kecewa yang dalam dengan tak ingin lagi diam dengan segala tingkah Sandra yang semakin keterlaluan.


#Apa yang akan dilakukan Muthia untuk melawan Sandra. Dan apakah Muthia akan mengatakan kebusukan Sandra kada Aswin, suami mereka?


Lalu apa yang akan Aswin lakukan setelah mengetahui keburukan istri pertamanya?


Yuk tunggu episode berikutnya ya 🔥🔥


Salam cinta dari author❤️❤️


jangan lupa tinggalkan jejak like nya ya bund 🙏☺

__ADS_1


happy ending ❤️🔥☘️


__ADS_2