
Hari hari tanpa hadirnya sang suami pun kini mulai menyambutnya, mau tak mau Alika harus menjalani takdirnya kini.
karena masih dalam masa nifas akhirnya ia pendam keinginan untuk berkunjung ke makam sang suami, rindu itu ia pendam, mencoba terlihat kuat menjalani takdirnya
tapi orang orang disekelilingnya juga menjadi penguat untuknya menjalani kerasnya kehidupan
"tolong mas berhenti kesini setiap hari.... Jaga perasaan wanita mu, aku mohon!!!" seru Alika pada Galang yang setiap malam selalu mendatangi rumahnya
Risih itu yang dirasakan Alika. Bagaimana tidak karena setiap hari Galang pasti akan datang ke rumahnya sekedar untuk bisa bertemu dengan dirinya
Pernah suatu ketika mbok sum dilarang membukakan pintu untuk Galang tapi justru Galang membuat gaduh di luar rumah Alika hingga membuat beberapa tetangga datang dan membuat Alika merasa sungkan dengan tetangganya
*
*
*
__ADS_1
Malam semakin larut, tapi sepasang suami istri masih betah dengan keheningannya.
"apakah kamu ingin kembali bersama mbak Alika mas," sentak Dila
Galang hanya mematung mendengar tanya istrinya, tak ingin dia menjawab karena lagi lagi hatinya bimbang menentukan sikap
"kenapa selalu diam saat aku tanya mas.... Kamu pikir aku gak tau kalau setiap hari kamu ke tempat mbak Alika, ceraikan aku mas dan kamu bebas melakukan apapun setelahnya " ucap Dila dengan suara bergetar
Galang mendongak mendengar ucapan istrinya itu, wanita yang selalu berucap lembut kepadanya berani meminta cerai, ah sebuah hal yang tidak mungkin dipenuhinya
"bohong.... jangan jadikan anak anak sebagai alasan penyiksaan mu padaku.... Rasanya sudah cukup aku bersabar selama ini entah apa yang kurang padaku ataukah memang aku yang salah telah menerima mu menjadi suamiku, tapi rasanya ini sudah cukup mas.... Aku menyerah " bulir bening yang sedari tadi ia tahan itu pun akhirnya tumpah juga.
Galang pun mendekati raga istrinya itu perlahan tapi Dila enggan untuk didekati suaminya itu, perlahan ia pun mundur saat Galang berjalan kearahnya
"aku tidak akan menceraikan mu Nadila Fitria" ucap Galang lantang
"lalu kamu mau menyiksaku begitu.... Kamu fikir aku ini apa, bonekamu begitu.... yang hatinya bisa kamu permainan seenaknya begitu, iya mas... Kukira kemarin hatimu telah utuh untukku tapi aku salah mas.... Nyatanya aku tak punya tempat dihatimu, hanya dia wanita yang kamu cintai bukan aku..... Bukan aku.... bukan aku!!!" tangis Dila mengungkapkan rasa hatinya
__ADS_1
"bunda.... bunda......" teriak thalia di depan pintu kamar orang tuanya hingga menghentikan perdebatan sepasang suami istri itu
Diusapnya kedua netranya yang sedari tadi menangis, gegas ia berjalan ke arah pintu kamarnya untuk melihat sang putri yang entah kenapa tengah malam seperti ini mencari dirinya
Klek.... Bugh
Pintu kamar terbuka dan seketika itu pula tubuh thalia yang bersandar di pintu ikut roboh, reflek Dila segera mengendong tubuh thalia
"astaghfirullah Lia.... Kenapa nak?" tanya Dila panik, Galang yang berada di belakang Dila masih setia mengawasi interaksi ibu dan anak itu
"kepala Lia pusing Bun.... Lia mau tidur sama bunda ya!!"
"iya sayang.... Lia tidur sama bunda ya malam ini, lia mau minum susu gak kalau iya kita bikin ya?"
"mau..."
"kamu temani Lia saja, biar aku yang buatkan susu untuk Lia "
__ADS_1