
"hai.... calon istri tua" ucap giany dengan menyeringai melihat kearah Alika
Alika sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh giany, gadis itu lebih terlihat seperti gadis yang tengah dalam gangguan mental
"wah... calon maduku datang kesini, ada gerangan apa hingga janda yang ditinggal pergi oleh suaminya ini datang kesini... " ucap giany dengan pandangan yang tak bersahabat
Alika yang terpaku melihat tingkah giany pun kini mulai kembali menatap kearah bu ratna
"ma.... aku ingin mama mengijinkan dila untuk menemui anaknya, lihatlah ma... kasihan cucu mama itu menangis terus memanggil bundanya" ucap Alika setelahnya
"siapa yang menyuruh mu menemui mama... apa wanita yang tidak becus mengurus anak itu. ingat Alika karena dia kamu dan Galang berpisah.... biarkan dia juga merasakan kehilangan seperti yang dulu kamu rasakan" ujar bu ratna lalu berbalik dan berjalan menuju jendela yang tertutup gorden warna coklat itu
"mungkin mama bisa membenci ibunya tapi lihatlah ma, gadis kecil itu tak bersalah... apa mama tak kasihan melihat tangisnya" Alika mulai berjalan kearah thalia yang sedang menangis itu
"bun.... bunda.... Lia kangen...." gadis kecil itu terus mencari keberadaan bundanya, matanya tak henti mengeluarkan bulir bening
Alika mendekati raga kecil didepannya itu lalu diusapnya lembut pucuk kepalanya, ada desir yang ia rasakan. dulu karena kehadirannya Alika merasa tak dihiraukan, dan kini gadis kecil itu seperti mengetuk pintu hatinya. kasihan, itulah yang ada dalam pikirannya. mata thalia sembab, bahkan pipinya basah terkena rembesan air matanya
"tan-te.... Lia kenal tan-te.... tan-te temannya bunda kan...." ucap thalia terbata, Alika mengangguk.gadis kecil itu kini meraih jemari tangan Alika dan setelahnya kembali berucap "Tante, Lia pernah liat foto tante di laci meja.... kata bunda, Tante itu orang baik... tan-te tolong bilangin bunda kalau Lia disini nungguin bunda"
"bunda... bunda terus, bunda mu itu tidak akan pernah datang kesini.... disini cuma ada Oma dan aunty Gi" teriak bu Ratna
thalia menangis kejer mendengar bu ratna berteriak kepadanya. ia langsung memeluk tubuh Alika yang berada dekat dengan tubuh mungilnya. Alika pun refleks membalas pelukan gadis kecil itu.
dengan penuh kasih, Alika mengusap punggung thalia yang berada di dekapannya.
__ADS_1
"ma... tolong jaga bicara mama, dia hanya anak kecil.... tidak pantas mama bersikap seperti itu" Alika pun bicara dengan nada sedikit meninggi, dia tidak habis pikir mengapa kini mantan mertuanya itu bisa bersikap sekasar ini pada cucunya sendiri
"Lia.... kamu mau ketemu sama bunda?" giany mendekati raga thalia yang masih menempel di tubuh Alika, senyum menyeringai nya membuat Alika memeluk tubuh thalia dengan sangat erat.
thalia pun mengangguk
"kalau begitu Lia harus minta sama Tante Alika itu untuk mengijinkan aunty Gi menginap di rumahnya selama sebulan" ucap giany dengan tersenyum puas kearah Alika.
Alika menggeleng, permintaan bodoh yang tak mungkin disetujui olehnya. mana mungkin dia membiarkan benalu dalam rumah tangganya tidur di rumahnya. teguh pasti akan marah besar kepadanya jika itu benar terjadi
"tan-te.... Lia kangen bunda, lia mau ketemu bunda dan ayah" wajah itu memelas menatap wajah Alika. tangisnya pun kembali pecah dipelukan Alika
"maaf sayang, rumah Tante tidak cukup untuk aunty Gi.... Tante tidak punya kamar untuk aunty Gi tidur" Alika berbicara dengan lembut kepada thalia, bukannya berhenti menangis justru thalia semakin menjadi jadi tangisnya
"ma... tolong kasih pengertian kepada Gi kalau apa yang dikatakan Gi itu tak pantas, dia masih gadis tak sepantasnya dia berusaha merebut suami orang" Alika pun berbicara dengan berapi-api, kenapa mantan mertuanya itu hanya diam
"mama turuti semua keinginan Gi, jika kamu ingin thalia kembali pada Dila maka kamu harus mau menyetujui permintaan Gi... tidak sulit hanya kamu tinggal menyiapkan kamar untuk Gi tidur di rumahmu" jawab bu ratna
"tan-te.... " ucap bocah kecil itu mengiba, gurat kesedihan terlihat jelas membingkai wajahnya
"huuuffff.... baik hanya seminggu tidak sebulan, jika kamu tidak mau ya sudah toh aku tidak rugi apapun karena dia bukan putriku'' Alika pun akhirnya menyetujui permintaan gila giany dan Bu Ratna. dia tidak tega melihat keadaan Thalia, toh dia percaya suaminya itu sangat mencintainya jadi tidak mungkin teguh akan tertarik dengan mantan iparnya itu. ada senyum yang terbingkai di wajah giany, gadis itu setuju meskipun hanya seminggu setidaknya dia punya kesempatan untuk mendekati raga teguh dengan leluasa
Alika pun keluar dari kamar inap thalia dengan senyum di wajah cantiknya, ditatapnya kini dua raga yang tengah mondar-mandir di depan kamar itu
"mbak bagaimana thalia, apa dia baik... aku dengar dia menangis tadi,ada apa mbak" cecar Dila saat mendekati raga Alika yang masih berdiri di ambang pintu
__ADS_1
"putrimu baik, masuklah mama mengijinkan mu menjaga putrimu" ucap Alika setelahnya
"benarkah...!!!, terimakasih mbak, aku tau mama pasti tidak akan menolak mu.... terimakasih sekali lagi aku ucapkan terimakasih" Dila lantas memeluk tubuh Alika beberapa saat lalu kembali melepaskannya dan kemudian berjalan tergesa-gesa menemui Putri kecilnya
teguh bersendekap dada tak jauh dari raga istrinya itu, dia yakin ada transaksi antara istrinya dengan keluarga Hendriansyah. Alika berjalan kearah suaminya itu lalu bergelayut manja di lengan teguh.
"ayo kita pulang kak, tugasku disini sudah selesai" Alika pun menarik raga teguh tapi suaminya itu bergeming,
"kak, ayo...." ucap Alika lagi
"apa yang kamu tukar untuk transaksi ini" ucap teguh dengan nada tegas
"tidak ada, kak ayo... aku lapar, kalau kamu masih betah berdiri di sini bisa bisa aku dan anak kita akan kelaparan" ucap Alika manja. teguh pun lalu menatap istrinya itu lalu setelahnya ia pun tersenyum dan mengangguk. ia senang istrinya itu kini mulai memperhatikan dirinya dan calon anaknya
"ayo..." mereka berdua pun akhirnya berjalan keluar dari rumah sakit itu. tanpa ada rasa malu Alika bergelayut di lengan kanan teguh, teguh pun tersenyum melihat tingkah istrinya itu. setiap orang yang melihat tingkah mereka berdua pun tersenyum melihatnya, seolah dunia hanya milik berdua
sepasang mata juga melihat keromantisan dua sejoli itu, dia menghentakkan kakinya ke lantai. dia kesal melihat Alika bertingkah seperti itu kepada lelaki yang dikaguminya. ingin rasanya dia menjambak rambut panjang Alika agar menjauh dari raga teguh
kini Alika dan teguh sudah berada di parkiran rumah sakit, dilepaskannya lengan suaminya itu lalu ia pun duduk disisi kemudi sedangkan teguh duduk di kursi kemudi.
"mau makan apa Wi, nanti kita sekalian mampir ya" ucap teguh menghadap wajah istrinya itu
"eeemmm.... ingin makan kamu" Alika langsung menautkan bibirnya dengan bibir teguh. ia sesap lalu ia ***** bibir bawah suaminya itu. teguh masih diam sejenak karena dia sangat kaget dengan kelakuan istrinya itu. kini dimainkan lidahnya dengan lidah suaminya itu hingga beberapa saat lalu disesapnya kembali bibir teguh
teguh kini sedikit mendorong tubuh Alika agar melepaskan tautan bibir keduanya, dia sadar ini bukan tempat yang tepat untuk melakukannya
__ADS_1