Wanita Kedua

Wanita Kedua
ketuk palu


__ADS_3

hati wanita mana yang tidak akan bahagia jika apa yang dinantikan olehnya kini terwujud....ya dila akan segera mendapatkan status pernikahannya.galang akan segera mensahkan pernikahannya setelah putusan cerai.


papa hendra menggunakan jasa pengacara ternama untuk membantu mempercepat proses perceraian Galang dan Alika.kurang dari sebulan proses itupun terjadi, karena kedua belah pihak sama-sama ingin bercerai.rumah, apartemen dan salah satu anak perusahaan milik Galang jatuh ketangan Alika.


sebenarnya Galang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang mengisi hatinya selama lebih dari 3 tahun itu harus ia lepaskan begitu saja.tapi emosinya menguasai raganya saat itu hingga kata talak pun terlontar darinya.bahkan dia tidak mau mengakui kalau menjadikan Alika wanita kedua di hidupnya membuat wanita itu tersiksa lahir dan batin.


Dila yang mendengar kabar dari pengacara suaminya pun segera mendatangi sang suami di ruang kerjanya, dilihatnya kini suaminya tengah berdiri mematung menatap jendela.dengan perlahan dila mendekati raga suaminya, dipegangnya pundak Galang dengan perlahan membuat Galang terkejut dan refleks mencengkeram tangan itu dengan kuat hingga membuat dila menjerit kesakitan


"ah.... sakit....mas sakit" pekik dila


menyadari ternyata itu istrinya dengan segera Galang melepaskan cengkraman tangannya "maaf aku kaget... kamu menggagetkanku... apa sangat sakit" ditiupnya tangan dila yang terlihat memerah itu


"ada apa kesini.... apa kamu butuh sesuatu" tanya Galang setelahnya


"eeemmmm..... sebenarnya aku mau tanya tentang perceraian kalian, kenapa bisa secepat itu dikabulkan?"


tanya itu terlontar, meskipun perceraian itu menguntungkannya tapi dia juga sebenarnya tidak ingin itu terjadi

__ADS_1


"aku tidak tahu, semua sudah diurus oleh pengacara ku dan mengenai kita,aku juga sudah memintanya untuk mengurusnya secepat mungkin" ditatapnya wajah dila setelah berucap itu


kini mereka berdua pun duduk bersebelahan di sofa, dengan manjanya dila menyandarkan kepalanya di pundak Galang dan meraih tangan Galang untuk memegang perutnya


"terimakasih mas, akhirnya kamu mau menuruti pinta ku...mas boleh aku bertanya sesuatu" dilihatnya wajah suaminya itu dan setelahnya ia melihat suaminya itu mengangguk


"mas apa kamu merindukan mbak Alika...."


"tidak... untuk apa merindukan orang yang menghianati ku" mulut boleh berucap itu tapi hatinya mengatakan sebaliknya


"mas.... tapi kamu juga menghianati nya" Galang memejamkan matanya mencoba mencerna perkataan dila dan setelahnya ia pun berujar


*


*


*

__ADS_1


*


disebuah kamar terdengar tangis pilu seorang wanita yang baru saja mendapatkan kabar tentang perceraiannya, wanita itu adalah Alika.dia ditemani bu Lastri menumpahkan segala sesaknya, dia hanya bisa menangisi jalan hidupnya menjadi janda diusia pernikahan yang belum genap setengah tahun.keputusannya untuk memberikan hak kepada calon anak suaminya yang dikandung wanita lain pun membuatnya harus mengambil keputusan besar dalam hidupnya


bu Lastri terus mengusap rambut Alika yang sudah dipotong pendek itu, bahkan bajunya pun sudah ikut basah terkena rembesan air mata Alika


"Wi.... sampai kapan kamu akan menangis, sudah cukup menangis nya sekarang ayo bangkit waktunya kamu menata hidupmu yang baru"


Alika seperti tuli,ia tidak mendengarkan perkataan siapapun.alika hanya sibuk menangis sampai tak lama kemudian suara tangisan itu berganti tarikan nafas halus dan teratur, Alika tertidur.alika mungkin kelelahan seharian menangis eh bukan seharian melainkan hampir setiap hari


bu Lastri yang menyadari Alika tertidur pun memilih untuk meninggalkan Alika sendiri di kamar.saat beliau keluar kamar tampak olehnya teguh berdiri tak jauh dari pintu kamar itu


menyadari kehadiran bu Lastri, teguh pun menghampiri nya


"bagaimana keadaannya bu...aku sangat menghawatirkan nya,aku tidak tega melihat Tiwi seperti itu" tanya teguh pada bu Lastri


"dia akan baik-baik saja, tenanglah.kamu sudah mengenalnya sejak kecil pasti kamu tau bagaimana karakternya.Guh apakah sudah ketuk palu?"

__ADS_1


"sudah bu, tadi pengacaranya sudah menghubungi ku"


"baguslah tinggal menunggu legalnya pernikahan lelaki itu dengan wanitanya"


__ADS_2