Wanita Kedua

Wanita Kedua
Ketahuan


__ADS_3

......



"Mau apa kau menyusulku kemari?" tanyaku kepada Ana yang melangkah pelan mendekatiku.



Wanita itu terkekeh. "Menyusulmu? Jangan besar kepala Ryan."



Aku melengos. Tak ingin menatapnya berlama-lama. Namun kurasakan gerakan di sebelahku. Dia duduk sambil menarik rokok yang ada di genggamanku.



Kutatap tingkahnya dengan dahi berkerut. "Kau perokok juga?"



Dia hanya menggeleng. "Hanya ketika aku sedang rapuh dan suntuk, aku akan menyentuh barang ini." Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menarik rokok yang terselip di bibirku dan membakar miliknya.



Setelah dia mengepulkan asap pertamanya, aku berkata, "Sebenarnya apa tujuanmu kemari?"



Dia menoleh dan tersenyum. "Istrimu minta tolong padaku untuk mengatakan padamu agar kau segera kembali ke dalam. Kebetulan aku memang ingin pulang."



Aku mengangguk mengerti. Segera saja aku beranjak meninggalkan tempat itu, setelah sebelumnya membuang sisa puntung rokok.



Namun baru beberapa langkah aku menjauh, suara Ana kembali memanggil.



"Ryan."



Aku berhenti tanpa menoleh. Entah kenapa, wanita yang kini mendekatiku dari arah belakang itu memiliki daya tarik yang luar biasa. Namun aku masih bisa menahan diri. Aku tidak akan jatuh seperti tadi siang. Apalagi ada Riani di sini.



Kurasakan sentuhan di bahu yang membuat darahku berdesir. Sentuhan menggoda yang merambat menuruni punggun dan akhirnya merangkulku dari belakang.



Aku terkesiap. Refleks tangan ini menahan tangan Ana yang akan menautkan kedua tangannya di perutku. Mataku menoleh ke sana kemari, mencari siapa saja yang sudah melihat hal ini.



Namun tempat temaram ini tidak diperhatikan beberapa pasang orang yang menikmati makan malamnya di luar gedung utama rumah makan ini.



Mataku beralih pada pintu masuk rumah makan, dimana Riani sedang sendirian menungguku.



Teringat akan Riani, kucengkeram kuat tangan Ana yang masih memelukku dan melepaskannya. Namun sebelum tubuhku menjauh, lagi-lagi tangan lentik itu menarik kemejaku.



"Ada apalagi, Ana? Kumohon, jangan melakukan hal seperti ini. Kau tahu betul kalau aku sudah memiliki Riani. Tidak pantas bagiku, bagi kita untuk menghapus jarak seperti ini."



"Benarkah?" Suaranya terdengar lirih. "Benarkah ini tidak pantas,Ryan? Bukankah kita memang sudah menghapus jarak itu? Bukankah kita sudah meruntuhkan pagar pembatas itu?"



Aku terdiam sesaat. Menyesali kejadian tadi siang meski tak bisa kupungkiri kalau aku menikmatinya.



"Sejak tadi siang aku tak bisa melupakan apa yang telah terjadi. Apa aku salah, Ryan? Bayanganmu selalu mengikutiku."


__ADS_1


Aku berdecih sinis. "Bukannya kau yang selalu mengekoriku bahkan membuntuti kemana pun aku pergi? Seperti anjing yang membuntuti pemiliknya."



Kata-kataku pasti terdengar kasar. Aku tak peduli. Kalau kekasaran membuatnya pergi dariku, akan kulakukan setiap saat. Aku tak ingin terjerat lebih dalam lagi. Sudah cukup pengkhianatan yang masih abu-abu ini. Aku tak ingin mengubahnya menjadi berwarna hijau.



Kurasakan Ana bersandar di punggung. Keringat dingin semakin membanjiri tubuh saat mendapat perlakuan seperti ini. Di dalam diriku, hati dan pikiran sedang berdebat. Hati yang memang memihak dan memilih Riani membentak pikiran di otakku. Otak yang dipenuhi Bayang-bayang Ana. Namun, otak juga memiliki naluri lelaki yang sudah mendarah daging. Tak akan disia-siakan wanita seksi sepeti Ana.



Kutarik napas dengan berat sambil mendesah lirih, "apa yang sebenarnya kau inginkan Ana?"



"Aku menginginkanmu," bisik Ana tepat di telingaku sambil mengecup pipiku sekilas.



Tubuhku menegang. Perdebatan hati dan pikiran sudah menemukan keputusan bahwa pikiranlah yang menang.



Kuputar tubuh dan menangkap tubuh mungil yang jelas-jelas menyerahkan diri padaku.



Kuraup wajahnya dan menenggelamkan wajahku di sana. Kembali mengecap penyatuan yang teeasa berdebat dan hangat.



Membuatku lupa pada segalanya. Lupa pada posisi kami yang berada di luar. Lupa pada statusku yang sudah beristri. Juga lupa pada Riani yang masih menungguku di dalam.



Namun sebuah bentakan membuatku tersadar dan kembali teringat pada isteriku itu.



Aku menoleh ke arah Riani yang berdiri lima meter dari tempatku. Menatap nyalang ke arah kami yang sudah berada dalam penjara setan.



Airmata sudah membanjiri wajahnya. Hatiku mencelos. Isteriku menangis tanpa suara karena kebodohanku. Kelemahan yang memuakkan ini membuatku harus terpaku pada kenyataan dan waktu yang tak akan berhenti berjalan.




Aku bergerak perlahan menjauhi Ana dan berlari mendekati Riani yang sialnya sudah berlari menjauhiku.



Kususul dia. Kuperhatikan arahnya berlari yang menuju tempat parkir. Setelah sampai di sana, dia bersandar di kap depan mobil sambil menangis. Kali ini suara tangisannya terdengar dan semakin mematikan kata-kataku.



Kudekati dia dan mengulurkan tangan hendak menyentuhnya.



Tanganku segera ditepis dan tanpa kusadari, tangan yang menepis tadi sudah mendarat di pipiku. Anehnya, aku tak merasakan sakit sedikitpun. Barangkali tubuhku sudah menyadari kalau luka yang kuberikan padanya lebih sakit dari luka apapun.



"Sayang," bisikku sambil kembali meraih tubuhnya. Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Bahkan keberadaan Ana tidak kuketahui lagi. Aku tak ingin peduli lagi pada ular betina itu.



Pernikahanku diambang kehancuran karena kehadirannya. Sangat kusesali pertemuan kami. Meski aku sadar kalau dia tak sepenuhnya bersalah. Pada kejadian hari ini, akulah yang paling bersalah.



Aku tak bisa menjaga pikiran dan tubuhku dari Ana. Aku begitu lemah dan pengecut. Meski mulut dan hatiku berteriak kalau aku tidak menginginkan skandal ini, tapi tubuh dan pikiran malah mengkhianatiku.



Tubuhku kembali didorong.



"Bajingan kau, Ryan! Dasar biadab!"

__ADS_1



Riani histeris dan memukuliku dengan tangannya. Aku membiarkannya melakukan apa yang diinginkan. Namun saat melihat beberapa pasang mata melihat kami, segera kutarik dengan paksa tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.



Setelah di dalam mobil dia menjadi lebih tenang. Segera kujalankan mobil menjauhi tempat itu.



"Aku menunggumu," isaknya dengan pedih. "Aku menunggumu di dalam seperti orang bodoh!"



Aku hanya diam. Yang penting saat ini kami harus segera sampai di rumah.



"Sejak awal kemunculannya aku sudah curiga kalau hubungan kalian bukan hanya sekadar berteman. Pengkhianat kau, Ryan. Biadab!"



Tangannya menuding ke arahku.



"Harusnya aku tahu. Harusnya aku sadar. Aku adalah perempuan yang tidak utuh."



"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Apa yang kau lihat hari ini hanya kesalahpahaman. Aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucapku tepat di saat mobil memasuki halaman rumah.



Setelah mobil berhenti, tanpa menungguku, Riani berlari masuk ke dalam. Segera kususul dan menemukannya terduduk di kasur sambil menangis.



Aku berdiri terpaku di hadapannya. Lalu berjongkok dan meraih tangannya. Kali ini dia tak menolak.



"Aku mohon, dengarkan penjelasanku dulu."



Dia mendongak dan tersenyum dengan menyakitkan. "Penjelasan apa yang harus kudengarkan, Ryan? Aku cukup tahu diri dengan kondisiku. Harusnya kau katakan terus terang kalau kau ingin memiliki anak dari perempuan itu. Aku tidak akan menghalangi. Aku sadar dengan situasi ini. Tapi bukan begini caranya."



Dia kembali terisak. Menarik tangan dan menutup wajah sambil sesenggukan.



"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak menjalin hubungan apapun dengan Ana. Dia yang selalu mendatangiku. Dia yang selalu menggodaku."



"Tapi kau membuka pintu untuknya, kan? Kau mempersilakannya masuk." Riani menatapku dengan sinis. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Ryan? Apa aku tidak bisa memuaskanmu?"



Aku menggeleng. "Percayalah padaku, Sayang. Aku minta maaf untuk semuanya. Tapi aku bisa pastikan kalau aku tidak memiliki perasaan apapun. Itu semua hanya kecelakaan. Aku mohon maafkan aku. Aku akan lakukan apapun agar kau memaafkanku. Aku sangat mencintaimu, Riani."



Isakan Riani mereda. Dia menatapku dengan lekat. Membuatku seperti dihakimi.



"Sungguh? Kau akan melakukan apapun?"



Aku mengangguk pasti dan menggenggam tangannya.



Dia menarik napas dan memejamkan mata. "Kalau begitu ceraikan aku."



........

__ADS_1




__ADS_2