
I´ve been letting you down, down
(Aku tlah membuatmu kecewa)
Girl I know I've been such a fool
(Kasih, aku tahu betapa bodohnya diriku)
Giving in to temptation
(Menyerah pada godaan)
When I should've played it cool
(Di saat harusnya aku bersikap kalem)
The situation got out of hand
(Situasinya jadi tak terkendali)
I hope you understand
(Kuharap kau mengerti)
CHORUS
It can happen to
(Bisa terjadi pada)
Anyone of us, anyone you think of
(Siapapun di antara kita, siapa pun yang kau pikirkan)
Anyone can fall
(Siapapun bisa terjatuh)
Anyone can hurt someone they love
(Siapapun bisa lukai seseorang yang dicinta)
Hearts will break
(Hati akan hancur)
'Cause I made a stupid mistake
(Karena aku t'lah lakukan kesalahan bodoh)
It can happen to
(Bisa terjadi pada)
Anyone of us, say you will forgive me
(Siapapun dari kita, katakan kau kan memaafkanku)
Anyone can fail
(Siapapun bisa gagal)
Say you will believe me
(Katakan kau kan mempercayaiku)
I can't take my heart will break
(Aku tak tahan, hatiku akan hancur)
'Cause I made a stupid mistake
(Karena aku tlah lakukan kesalahan bodoh)
A stupid mistake
(Kesalahan bodoh)
........
Aku duduk termenung ditemani lagu yang benar-benar menggambarkan isi hati dan situasiku saat ini. Betapa menyakitkan.
Kesalahan bodoh yang telah kulakukan menghancurkan dan meruntuhkan pertahanan semangatku.
Kejadian sejam yang lalu berputar-putar di mataku.
Sejam yang lalu ....
"Ceraikan aku," pinta Riani dengan mata yang mulai sembab.
Aku menggeleng. "Tidak akan, Riani. Aku mencintaimu, Sayang. Aku mohon, maafkan aku."
Dia balas menggeleng sambil mengusap matanya yang masih saja berair akibat kebodohanku.
"Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau tak akan melakukan hal seperti ini."
"Hal seperti apa maksudmu? Sudah kukatakan kalau itu semua hanya kecelakaan. Sedikit pun aku tidak melibatkan perasaan di sana. Mengertilah, Riani. Dengarkan aku sekali ini saja. Aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya."
Dia terdiam. Seolah sedang memikirkan ucapanku.
"Aku mohon," pintaku dengan lirih sambil menghampirinya yang duduk di kasur. Aku berlutut dan meraih tangan lalu menciumnya. "Beri aku kesempatan. Aku bisa membuktikan kalau ini tidak seperti yang kau pikirkan."
Kutarik napas dan menatapnya yang masih saja diam. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Sungguh aku tidak menginginkan perceraian.
Wanita murahan itu sudah menghancurkan kehidupan kami. Aku tak ingin kehilangan Riani.
"Kau bisa bertanya kepada karyawanku di kantor. Ana yang sering mendatangiku. Dia yang selalu berusaha dekat kepadaku."
Riani menatapku dengan ragu.
__ADS_1
"Percayalah, Sayang. Dia adalah wanita penggoda. Aku mengakui kalau aku terpengaruh dalam godaannya. Tapi itu bukanlah suatu kesengajaan."
Dia tersenyum sinis dan menghempaskan tanganku.
"Kau tergoda olehnya dan kau menikmatinya, kan?"
Aku menggeleng cepat.
"Kalau tidak, bagaimana bisa kau semudah itu menjulurkan lidah di mulutnya? Menyosornya seperti pria yang kurang belaian. Ditempat terbuka dan aku ada di sana. Aku ada di sana saat kalian bercumbu, Ryan!"
"Sudah kukatakan kalau itu hanya kecelakaan. Kenapa kau sama sekali tidak mau mengerti?" Aku segera berdiri dan melotot.
Dia balas menatapku dengan tajam dan ikut berdiri. "Mengerti? Kau ingin seorang istri mengerti saat suaminya merasakan bibir wanita lain? Apa kau akan mengerti bila aku menangkap lidah pria lain di mulutku?"
Aku terdiam. Ucapannya sangat benar. Aku mengakuinya. Namun, tak adakah sedikit celah kesempatan untukku?
"Kau harus ingat, Riani. Kaulah yang menyuruhnya menemuiku." Emosiku entah kenapa mulai tersulut.
Riani mengangguk dengan senyum yang sangat mengejek. "Benar, aku yang menyuruhnya. Tapi aku tidak menyuruh kalian untuk bertukar air liur. Kalian benar-benar menjijikkan. Dan kau lelaki pengecut yang pernah kukenal. Seharusnya kau jujur bila kau muak padaku. Harusnya kau katakan kalau kau membutuhkan wanita lain. Tidak dengan cara seperti ini. Aku muak padamu, Ryan! Kau sama murahnya dengan perempuan jalang itu! Pengecut!"
Plak!
Tanganku refleks menampar pipi yang kini sudah dipegang pemiliknya. Antara sadar dan tidak, emosiku benar-benar memuncak.
"Jaga ucapanmu. Bila kaubmemang tidak percaya padaku, oke. Silakan. Sekarang katakan maumu apa?"
Kutatap dia dengan lekat. Berharap kalau dia akan gentar mendengar ucapanku. Namun ucapan selanjutnya membuatku terpaku sesaat dan emosi sudah penuh di dalam diriku.
"Aku mau kita cerai! Aku tak sudi hidup dengan pria murahan sepertimu, Ryan!"
Gigiku gemeletuk dengan tangan mengepal. Mencoba menahan diri agar tidak melayangkan tangan kembali. Wanita di hadapanku sekarang sudah sangat berubah. Entah kemana wanita feminim yang selama ini kukenal.
"Baik. Bila memang kau benar-benar ingin bercerai, aku akan mengabulkannya. Aku juga tak sudi hidup dengan wanita cacat sepertimu!"
Mata Riani membelalak mendengar ucapanku. Kenapa? Bukankah ini yang diinginkan olehnya? Kehancuran.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia meraih tasnya dan segera berlalu dari hadapanku. Aku tak berniat menyusulnya. Kubiarkan saja dia berlalu.
Kini aku di sini, sendiri, meratapi dan merenungi apa yang telah terjadi.
Menyesal? Tentu saja. Aku sangat menyesal . Sedikitpun tidak ada niatku menyakitinya seperti itu. Menyentuh luka yang dia sendiri tidak ingin ada luka itu dalam hidupnya.
Namun ucapannya dan ketidakpercayaannya padaku benar-benar menguji kesabaran. Tak tahukah dia kalau aku berusaha mati-matian menolak pengaruh Ana?
Dan kesalahan yang telah kuperbuat sama sekali tidak mendapat maaf dan kesempatan. Belum lagi ucapannya yang sangat memukul harga diriku. Egoku sudah menguasai dan kini aku tidak peduli dan pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya.
......
She was kind of exciting
(Dia sangat menggairahkan)
A little crazy I should've known
(Sedikit gila, harusnya aku tahu)
She must have altered my senses
(Dia pasti t'lah mengubah akal sehatku)
´Cause I offered to walk her home
(Karena kutawarkan diri tuk mengantarnya pulang)
The situation got out of hand
(Situasinya jadi tak terkendali)
I hope you understand
(Kuharap kau mengerti)
CHORUS
She means nothing to me
(Dia tak berarti bagiku)
Nothing to me
(Tak berarti bagiku)
I swear every word is true
(Sumpah, setiap kataku ini tulus)
Don't wanna lose you
(Aku tak ingin kehilangan dirimu)
......
__ADS_1
Sepenggal lagu yang mengalun itu membuatku kembali mengingat sosok Ana dan Riani secara bergantian.
Apa yang dilakukan Ana sekarang setelah berhasil membuatku hancur?
Apa yang dilakukan Riani? Apa dia langsung pulang ke rumah orang tuanya? Ingin rasanya menyusulnya. Namun emosiku masih belum stabil.
Pernikahanku selama empat tahun telah dihancurkan oleh Ana yang baru seminggu kukenal.
Bodohnya, wanita yang sudah bersamaku selama itu sama sekali tidak ingin memberikan kepercayaan padaku.
Persetan dengan semua itu.
Kupejamkan mata sambil merebahkan tubuh di kasur. Menenangkan syaraf yang menegang. Menikmati lagu menyakitkan yang sangat menyindirku.
Tepat pada saat itu kudengar seseorang datang dan suara pembantu yang menyambutnya.
Kulirik Rolex di lengan kiriku. Sudah pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu pada jam segini? Apa Riani kembali?
Kalau bukan Riani, siapa? Aku sedang tidak ingin menerima tamu untuk saat ini.
Kemudian kudengar pintu kamarku diketuk. Kulirik ke arah pintu. Tanpa menunggu jawabanku, pintu di buka.
Dahiku berkerut menatap dia yang sedang tersenyum kamu di pintu.
"Mau apa kau kemari? Belum puas kau melihat kondisiku?"
Ana menggeleng pelan. Dia masih berdiri di sana.
Aku bergerak duduk dan memijit kening. Kepalaku benar-benar sakit.
"Sekarang katakan, Ana. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku ingin menemuimu." Lirih. Suaranya sangat lirih.
Kulirik dia sekilas. Emosiku belum mereda. Namun emosiku kini bukan hanya tertuju padanya. Sebagian sudah menuju pada Riani.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Ana?"
Kutatap dia dengan tajam.
"Bukankah sudah kukatakan tadi. Aku menginginkanmu."
Wajahnya sangat datar. Membuatku tidak bisa menebak ekspresinya.
Aku tahu yang kulakukan ini adalah sebuah kegilaan. Namun, aku tidak peduli. Toh dia yang memintanya. Lagipula, aku sudah hancur. Pernikahanku hancur.
Kurentangkan tangan dan berkata, "kalau begitu datang ke sini dan ambil apa yang kau inginkan."
Dan apa yang di hadapanku saat ini membuatku tidak habis pikir.
Di sana, tepatnya di pintu, Ana tersenyum bahagia dan bergerak perlahan mendekatiku setelah menutup pintu.
Diulurkan tangan dan menyentuh dadaku dengan lembut.
Aku diam.
Bukankah ini yang kau katakan Riani? Sebelumya aku resah. Tapi kini akan kubuang keresahan itu. Agar ucapanmu jadi kenyataan, Riani.
Tanpa pikir panjang, kusentak tubuh langsing di dekatku dan membawanya ke peraduan.
Biarlah yang hancur semakin hancur. Aku sudah tak peduli. Berusaha untuk baik juga tidak dihargai. Sekalian saja aku jadi penjahatnya.
Setelah semua berlalu, aku masih belum bisa memejamkan mata. Di sisiku, Ana tertidur pulas sambil memelukku. Kutelisik wajahnya. Begitu damai.
Tak sadarkah dia kehancuran yang terjadi karena ulahnya? Kenapa dia begitu tenang? Sebegitu inginnya dia di sisiku? Atau ada maksud lain.
Namun aku mengakui kalau keberadaannya saat ini cukup membuatku sedikit tenang. Kubalas pelukan tangan kecil itu dan memejamkan mata.
Hari besok? Itu urusan belakangan. Aku ingin istirahat dan menenangkan pikiran.
.......
__ADS_1