Wanita Kedua

Wanita Kedua
bukan menghina


__ADS_3

Alika dan leo pun dipersilahkan untuk masuk dan duduk di kursi yang berada di ruang tamu itu sedangkan pak adji memanggil Dila untuk keluar menemui tamunya


"siapa pak...." tanya Dila saat pak adji menyuruhnya untuk ke ruang tamu


"keluar dulu... nanti kamu akan tau siapa yang datang" perintahnya pada Dila. Dila pun lekas mencuci tangannya yang penuh dengan tepung lalu melangkah menuju ruang tamu rumahnya


"buk buatkan minum ada dua orang didepan" perintah pak adji pada istrinya lalu dibalas lirikan oleh bu rini


"siapa pak tamunya...."


"buatkan minum dulu.... setelah itu ibu bisa gabung disana "


"jangan buat aku penasaran pak.... tinggal jawab siapa tamunya " sewot bu Rini


"Alika..." pak adji berucap tepat di samping telinga istrinya secara pelan


"mantan istrinya Galang.... ngapain dia kesini?" tanyanya pada suaminya


"cepat buatkan minum dulu biar ibu bisa tau kenapa dia sampai ke sini...." usai menjawab tanya istrinya,pak adji pun segera bergabung di ruang tamu bersama mereka bertiga


Dila terpaku saat melihat Alika duduk di kursi ruang tamunya bersama lelaki yang mengantarkannya kemarin, perlahan ia mendekati dua raga yang juga tengah melihatnya itu


"apa kabar mbak...." sapa alika pada Dila yang seolah tak ingin menemuinya itu


"baik....." jawabnya singkat


Dila pun duduk berseberangan dengannya, tak lama pak adji pun ikut bergabung di sana, ia duduk di sebelah kiri Dila

__ADS_1


"mbak kenapa tadi tidak nunggu aku pulang...." tanya Alika memecah keheningan antara dirinya dengan Dila


"tidak apa mbak...."


Setelahnya bu Rini datang dengan membawa lima gelas teh manis hangat untuk mereka semua lalu meletakkan satu persatu ke depan mereka mereka yang duduk di sana setelahnya ia pun ikut duduk di samping Dila


"kalau boleh tau ada kepentingan apa sampai mbak Alika datang kemari.... apa Dila melakukan sesuatu yang membuat mbak Alika tidak nyaman?" tanya pak adji karena mereka hanya diam saja sedari tadi


Alika justru tersenyum mendengar perkataan pak adji


"sebenarnya tadi pagi saya sudah pesan ke mbak Dila supaya mengambil sepedanya itu sore saja pak.... karena ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengannya" jawab Alika setenang mungkin


"soal uang itu aku sudah menerimanya mbak Alika.... tadi sudah sempat mau ku kembalikan tapi mbok sum...." ucapnya menggantung


"syukurlah kalau akhirnya mbak Dila mau menerimanya....aku lega mbak" ucapnya sambil mengurut dadanya dengan sebelah tangannya


"lalu apa lagi yang perlu kita bicarakan...."


"apa ini mbak Alika?"


"ini uang dua ratus lima puluh juta untuk mbak Dila...." senyum tulus ia sunggingkan kepadanya


"maksudnya apa ini.... kami memang tidak sekaya anda tapi kami juga tidak mau dihina seperti ini...." teriak bu Rini saat mendengar ucapan Alika padahal Alika belum selesai bicara


"gila.... uang sebanyak itu kamu buat nimpuk aku tadi.... makanya sakit Al... kebangetan kamu Al,tau gitu tadi aku ambil dah uangnya" ucap leo sambil geleng-geleng kepala saat melihat uang dalam paper bag yang sedari tadi di bawa oleh Alika. Alika yang metasa tingkah leo sedikit konyol itupun mendelik padanya


"maaf bu... siapa yang bilang saya sedang menghina keluarga mbak Dila .... saya hanya ingin membantu mbak Dila tanpa ada niat buruk sedikitpun " melihat wajah tak bersahabat dari bu Rini pun membuat Alika harus menjawab ucapnya

__ADS_1


"bawa kembali uangmu mbak.... menerima yang dua juta saja aku merasa sungkan apalagi sebanyak ini.... mbak Alika bekerja keras untuk mengumpulkan uang demi kelangsungan hidup mbak Alika bukan!!!! lalu mengapa harus aku yang menikmati uangmu mbak " tolak Dila


"tidak perlu aku sebutkan dari mana asalnya uang ini mbak.... yang jelas anggap saja ini rejekinya anak anak mbak Dila...."


"tetap aku tidak bisa menerimanya mbak...."


"terimalah mbak.... bukankah kemarin aku juga sudah bilang anggap kita berteman seperti pertama kalinya kita bertemu dan sesama teman bukankah harus saling membantu....."


"aku masih bisa mencari uang sendiri mbak.... tidak perlu kamu bantu seperti ini...."


"huuffh.... apakah jika aku mengatakan kalau uang ini ada sebagian kecil dari haknya thalia mbak Dila mau menerimanya


"mbak memintakan aku uang dari mas Galang.... dengan kata lain mbak Alika bilang tentang kehidupan kami yang serba kekurangan disini pada mas Galang....apa maksudmu mbak....!!!" ucap Dila dengan nada yang meninggi


"jangan salah paham dulu mbak...."


"apanya yang salah paham....aku sudah bilang kan kemarin kalau aku bisa hidup tanpa bantuannya, tapi apa yang kamu lakukan mbak...." mata Dila melotot sempurna pada Alika


"cukup ya mbak Dila.... jangan selalu menyalah artikan pemberian dari orang.....aku kesini dengan niat baik ingin membantu kamu dan keluarga mu.... agar kamu tidak harus kepanasan berkeliling jualan kue di tengah teriknya matahari.... aku hanya ingin membantu kamu, mungkin dengan uang ini kamu bisa membuat toko di depan rumahmu atau kamu mau sewa kios di pasar atau dimana pun asal kamu tidak bermandikan keringat setiap hari....aku hanya ingin membantu, dan uang itu.... kamu mau tau itu uang dari siapa....itu uangku.... pemberian Papa sebagai harta gono-gini setelah perceraian ku dengan mas Galang waktu itu.... sebelum aku pindah ke sini beliau memberikan uang ini kepadaku.... dan aku sudah menolaknya tapi kamu tau apa yang papa katakan...jika suatu saat ada dari keturunannya yang membutuhkan maka aku bisa memberikan berapapun jumlahnya yang aku mau.... dan disini ada thalia... cucunya yang kurasa dia berhak untuk menerimanya..." Alika yang tersulut emosi pun berucap dengan nada tinggi pula lalu berdiri dan segera mengajak leo untuk meninggalkan rumah Dila


Kata setiap kata yang terucap dari mulut Alika dicerna oleh ketiga raga yang duduk di depan Alika tadi,


Pak adji yang merasa tak enak hati pun menyusul Alika yang sudah bersiap masuk ke mobil yang akan dikemudikan oleh Leo


"mbak.... kita bicara dulu di dalam.... maafkan sikap anak dan istri saya "ucapnya


"maaf pak.... tolong nasehati saja anak bapak untuk tidak selalu berburuk sangka sama orang.... dan uang itu bapak bisa simpan untuk thalia....tapi alangkah baiknya jika uang itu dimanfaatkan.... saya permisi "

__ADS_1


Tak menunggu jawaban dari pak adji, Alika segera masuk ke mobil dan leo pun segera mengemudikannya


ia sandarkan kepalanya di bangku mobil itu lalu memejamkan matanya mencoba menetralisir sesak yang memenuhi dadanya


__ADS_2