
"Dari tadi selama perjalanan kenapa kamu hanya diam saja? Bermuka kaku tanpa senyuman, apa lagi melihatku, melirikpun tidak kamu lakukan. Apa menurutmu ini semua salahku?." Melepaskan semua pertanyaan yang sejak tadi tertahan, entahlah, kenapa hati ini tiba tiba membeku dari rasa cinta yang begitu besar untuknya. Mungkin rasa sakit yang bernamakan cemburu telah menguasai diri ini, hingga rasa segan dan penurutku hilang padanya, benci dan kecewa akan lelaki yang sudah membersamai hariku selama ini. Aku terus melangkah dengan tak memperdulikan ekspresinya yang shock dengan perubahan sikapku, iya ku akui, baru pertama kali ini, aku bicara kasar dan angkuh padanya, selama ini aku hanya diam dan takut untuk menyinggungnya, mungkin sudah saatnya, aku menjadi diriku sendiri, toh dia juga sudah mengetahui ketidak sukaanku pada istri keduanya, entahlah kudapatkan dari mana kekuatan ini, hingga aku berani memilih untuk menunjukkan siapa aku yang sebenarnya.
Aku melangkah dengan cepat menuju kamar anak anak, ku dapati mereka sudah terlelap dengan berbalut selimut masing masing, meskipun mereka satu kamar, namun mereka memiliki ranjang masing masing.
Setelah mencium satu persatu para gadis kecilku, mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur, aku berjalan keluar dan menutup pintu, lalu meneruskan langkah masuk ke kamar pribadiku dengan kang Aswin. Saat aku membuka pintu, sudah kulihat kang Aswin duduk ditepi ranjang sambil melepas kancing kemejanya, sorot matanya menatapku penuh selidik, namun bibirnya tetap terkunci tanpa satu patah katapun, aku tau kalau sudah begitu, itu artinya dia sedang menahan amarah dan entah aku tak perduli, tak sedikitpun ada rasa takut tentang kemarahannya, justru aku sudah sangat siap menghadapinya.
Kang Aswin beranjak dan masuk ke kamar mandi, aku menyiapkan baju ganti, dan menaruhnya di atas ranjang, sambil menunggunya selesai mandi, aku membersihkan sisa sisa make up yang menempel, sebelum membersihkan diri dikamar mandi.
Tak lama terdengar pintu kamar mandi dibuka, sosok tampan dengan rambut basahnya keluar dengan balutan handuk yang di ikatkan dipinggang. Tak di pungkiri ada desiran halus dalam diri, namun kucoba untuk menepis, sebelum aku lupa diri dengan langkah cepat aku masuk ke dalam kamar mandi, guyuran air hangat yang keluar dari shower sedikit menyegarkan tubuh ini, membuat emosi dan sesak sedikit berkurang.
Sejenak ingin kunikmati setiap tetesan air yang berjatuhan beriringan dengan buliran buliran bening dari mata ini, aaah kenapa harus menyesakkan seperti ini, bukankah dari dulu aku tau, jika aku bukanlah cinta utamanya, bukankah aku tak perduli dicintai atau tidak olehnya, bukankah aku hanya ingin hidup mewah darinya, tapi kenapa aku tersiksa dengan perasaan sakit ini, cukup lama aku menghabiskan waktu di bawah guyuran air, melepaskan tangis dan rasa sesak. Setelah puas mengeluarkan semua kesakitan ini, aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh dibalut piama warna merah dengan handuk yang membungkus kepala, kulirik suamiku tengah bersender diatas bantal yang ditumpuk, ia menoleh menatapku dengan pandangan yang aku sendiri tak mampu mengartikan.
"Bund." akhirnya dia bersuara meski dengan wajah datarnya.
"Hmmmmm" balasku acuh.
"Kenapa kamu bicara seperti tadi padaku?
__ADS_1
Apakah kamu sudah tidak lagi menghormatiku sebagai suamimu?
Jujur aku tidak suka, kamu bersikap demikian." Ternyata dia ingin membahas sikapku yang mungkin melukai egonya.
"Lalu?
Apa yang harus aku lakukan?" Sekali lagi, aku masih dengan sikap biasa saja, bahkan terkesan acuh menanggapi ketidaksukaannya, entahlah rasa sakit di hati ini sulit untuk aku tepis hingga aku tak lagi bisa mengendalikan amarah.
"Maksudmu bund?
Kenapa kamu jadi kasar begini?" Kang Aswin menatapku tajam, terlihat rahangnya mengeras, dia jarang sekali marah dan selalu bisa menahan amarahnya, tapi saat ini sepertinya itu tidak berlaku.
Bukan diriku yang menjadi tempat utama tujuanmu pulang, tapi dia.
Jadi, mulai sekarang biarkan aku menjadi diriku sendiri, tanpa harus berpura pura lagi, jujur aku lelah." Tak ada gunanya lagi aku bertahan dengan keterpaksaan, lebih baik aku mengutarakan semua yang selama ini hanya bisa kupendam.
"Pura pura?
__ADS_1
Kenapa kamu bilang kalau selama ini sikapmu hanyalah berpura pura? tolong jangan bikin aku makin hilang respect dengan sikapmu yang seperti ini." Kang Aswin nampak mulai terpancing emosi dengan sikapku yang tak biasa, karena lelaki itu tidak pernah suka dengan sikap kasar.
"Aku pikir, dengan bersikap lembut dan patuh pada suami, aku akan menjadi wanita yang tulus dicintai, memiliki hati suamiku seutuhnya, namun ternyata semua itu hanya hayalan semata, suamiku mencintai wanita dimasa lalu nya, suamiku menyimpan rapat hatinya untuk wanita lain, lalu kamu pikir hatiku tidak sakit dengan semua itu?
Apa kamu pikir, aku tidak lelah jika selalu bersikap baik baik saja, meskipun kenyataannya hatiku terluka?
Cukup, cukup sampai disini saja, aku sudah tak mampu lagi untuk membuat semuanya baik baik saja, aku lelah, sangat lelah." Kembali dengan dada penuh emosi meluapkan semua amarah dan kecewa di hati ini, biarlah sudah saatnya aku menjadi diriku sendiri.
Lelakiku hanya diam, tanpa menjawab, entahlah apa yang ada di pikirannya saat ini, dia malah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan memposisikan diri tidur dengan membelakangiku.
Bukan, bukan ini yang aku inginkan, mendapatkan sikap dingin seoalah tak perduli dengan apa yang aku rasakan, jika saja bukan ingin menjaga mental anak anakku, ingin rasanya aku meneriakinya dengan segala macam cacian, tapi aku tak mau merendahkan diriku sendiri, ya Tuhan kenapa harus sesakit ini mencintainya, mencintai lelaki yang hatinya sudah dimiliki oleh wanita lain.
Lebih baik aku tidur dikamar tamu, untuk apa berada dalam satu ranjang, tapi tidur saling membelakangi, aku tak mau membuat hati ini makin tersiksa.
Kita lihat, seberapa jauh aku mampu bertahan, atau kamu yang akan pergi meninggalkanku?
Akan aku pastikan, tak ada lagi air mata apa lagi rasa sakit ketika saat itu tiba, selamat memilih, dia atau aku?
__ADS_1
Tak lagi ada yang perlu dipertahankan, jika yang ada hanyalah sebuah kesakitan. Aku sudah sangat lelah dan mungkin sudah pasrah. Jika pernikahan ini hanya sampai disini, aku akan berusaha iklas dan tidak lagi ingin memohon, berbagi hati dan raga tidaklah semudah kata, ada hati yang setiap saat teriris, ada jiwa yang setiap kali tersiksa. Tidak, aku tidak ingin lagi tersiksa. Meskipun nanti aku sudah bukan istrinya, aku yakin, kang Aswin tidak akan menelantarkan kami begitu saja. Dia orang yang paham agama dan selalu bersikap adil, bahkan sangat menyayangi si kembar. Ya, aku menyerah.