Wanita Kedua

Wanita Kedua
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Beberapa pria eksekutif yang tengah melangkah menjauhi ruang rapat menjadi sorotan para karyawati Pratama Company.



Tampan atau pun tidak, mereka tetap menjadi idola karyawati yang bekerja di perusahaanku. Isi kantong yang tebal cukup membuat kriteria pria idaman yang lain menjadi tersingkir.



Aku berada di antara pria-pria yang baru saja selesai rapat bersamaku. Sesekali aku melirik Piaget yang melingkar di pergelangan tangan kiri.



"Tepat jam makan siang," gumamku pelan. Segera kulambaikan tangan pada kolega yang kini sedang memasuki lift. Setelah pintu lift tertutup  kuputar langkah menuju ruangan pribadiku.



Saat berada di depan ruangan mata coklat legam mililku menangkap sosok wanita cantik yang kukenal kemarin malam.



Wanita itu tampak sedang duduk santai sambil membaca sebuah majalah di sofa tamu.



Dengan rasa heran dan penasaran, aku melangkah mendekati Ana yang sibuk dengan dunianya sendiri.



Mau apa perempuan ini kemari?



Saat mendengar suara langkah kaki mendekatinya, Ana mendongakkan wajahnya dan tersenyum manis.



"Hai, selamat siang, Tuan Ryan," sapa wanita itu dengan senyum yang manis menghiasi wajahnya.



"Maaf, Pak. Saya sudah memberitahukan pada Nona ini kalau Anda sedang rapat. Tapi Nona ini bersikeras untuk menunggu Anda." Susan melapor kepadaku sambil menunduk.



Aku mengangkat tangan  memberi isyarat agar gadis itu menyudahi ucapannya. Lalu pandangan mataku beralih pada An yang hanya duduk diam dengan gayanya yang elegan. Dengan mata yang menatap lekat ke arahku.



"Ada apa, Nona Ana? Apa yang menbuat langkahmu sampai di sini?"



Pertanyaanku yang bernada datar dan terkesan tidak senang itu ditanggapi Ana dengan senyum manis seperti biasa. Dia lalu beranjak dari sofa yang didudukinya.



Dan melangkah mendekatiku.



"Maaf bila kedatanganku membuat Anda terkejut, Tuan Ryan. Tapi aku kemari karena ingin mengajakmu makan siang bersama."



Aku mengerutkan dahi. Aku merasa sangat risih dengan kehadiran Ana di sini. Mataku segera melirik Susan yang sekali-sekali curi pandang ke arahku. Aku yakin kalau Susan sedang menyimak pembicaraanku dengan Ana.



Untuk menghindari kesalahpahaman apabila ada perbincangan yang tidak sesuai, aku mengajak Ana memasuki ruanganku.


__ADS_1


"Mari kita bicara di dalam." Aku melangkah mendahului Ana memasuki ruangan. Ana mengikuti langkahku dengan senyum bahagia yang tercetak jelas di wajahnya.



Perempuan aneh.



Susan yang juga melihat hal itu terlihat hanya menarik napas.



"Bukankah Anda mengatakan kalau Anda tidak ingin makan siang bersama sebagai ucapan terima kasihku?" Tanpa basa-basi apa lagi menyuruh Ana duduk, aku langsung mencetuskan pertanyaan yang mengganjal di lidahku sejak tadi.



Ana sepertinya tidak memperdulikan sikap angkuh dan acuhku. Terbukti dari sikap dan pergerakannya uang langsung melangkah menuju sofa puturh yang terdapat di sana dan langsung mendudukkan dirinya.



"Aku mengajakmu makan siang bersama bukan karena untuk menagih ungkapan rasa terima kasihmu."



"Lalu apa tujuan Anda kemari dan mengajakku untuk makan siang bersama?"



Ana menggigit bibir bawahnya. Rasa gugup tiba-tiba terlihat dari gerak tubuhnya.



Melihat sikapku yang dingin dan masih saja berdiri menatapnya bukan ikut duduk di sofa seperti dirinya, pasti membuat Ana sedikit grogi.



Bahkan aku masih berbicara dengan bahas formal meski Ana sudah berusaha mencoba bersikap akrab.




Aku hanya diam. Ucapan perempuan ini semakin tidak terarah.



Lalu kulihat Ana beranjak dari sofa yang didudukinya lalu melangkah mendekatiku dengan gerakan tubuh yang gemulai.



"Maaf. Tapi aku tidak bisa memenuhinya. Aku-" Aku mulai gelisah dihadapkan pada situasi seperti ini.



"Oh, ayolah, Ryan. Kau tidak mungkin setega itu menolak permintaanku. Aku telah menunggumu selama dua jam dan kau menolak ajakanku?" Ana memotong ucapanku dan seketika membuatku pusing.



"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menungguku selama dua jam. Itu adalah tindakanmu sendiri dan aku tidak bertanggung jawab atas waktumu yang telah kau korbankan." Aku tidak lagi menggunakan bahasa formal. Karena kenyataannya aku semakin risih dengan kehadiran Ana.



Mendengar ucapanku seketika wajah Ana menjadi sedikit murung. "Aku tidak menyangka bahwa di balik wajah tampanmu itu tersimpan sebuah kesombongan. Dan kini aku sadar. Kalau keramahanmu semalam pasti karena adanya kedua temanmu itu." Lalu dia menarik nafas panjang. "Kalau begitu, aku permisi, Tuan Ryan. Maaf sudah menyita waktu Anda."



Aku hanya diam mendengar ucapannya. Aku menelaah diriku sendiri. Apa aku sudah bersikap sangat buruk? Sesombong itukah aku?



Saat kulirik ke arahnya, Ana sedang melangkahkan kakinya menuju pintu. Ketika ia hampir sampai, segera kuhampiri dan menarik tangannya. Aku benar-benar tidak sadar dengan tindakanku. Yang terbayang hanya wajah kecewa perempuan di hadapanku ini. Dan aku merasa kalau akulah penyebabnya.

__ADS_1



"Maaf. Bukan maksudku untuk menbuatmu sakit hati. Tapi aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman. Ketahuilah, Nona Ana. Aku sudah memiliki seorang isteri. Dan aku tidak ingin ada kesalahpahaman apa bila aku menerima tawaran makan siang bersama darimu."



Ana hanya mengangguk dengan sikap dingin. "Aku mengerti. Permisi." Dilepaskannya genggaman tanganku.



"Maaf," ucapku kembali.



Ana hanya berlalu dan segera keluar dari ruangan ini.



Sementara aku yang masih berada di dalam ruangan hanya menunduk sambil berpikir keras. Bukannya aku tidak melihat raut wajah kecewa Ana. Hanya saja, aku tipe orang yang lebih baik menghindari masalah.



Namun aku benar-benar merasa bersalah melihat ekspresi wajah Ana. kugelengkan kepala lalu melangkah cepat keluar dari ruangan.



"Ana!" Teriakanku membuat beberapa karyawan menoleh.



Ana yang sedang memasuki lift segera menoleh saat mendengar namanya kupanggil. Aku melangkah dengan cepat dan ikut masuk ke dalam lift.



"Baiklah, mari kita makan siang bersama." Aku menjilat bibirku yang tiba-tiba terasa kering. Apa yang sudah kulakukan? Tiba-tiba saja aku menyesal melakukan ini.



Lain hal dengan perempuan bergaun biru di sebelahku ini. Mendengar ucapanku tadi, Ana segera mengangguk dengan gaya yang menggoda. Senyum simpul terbit di wajahnya. Lalu dengan berani tangannya merapikan dasiku yang sedikit miring. Menambah kegelisahan dan penyesalanku.



"Tidak baik bila seorang CEO tampak berantakan di depan karyawannya," ucap Ana ketika ia melihat mulutku sedikit terbuka, ingin protes atas timdakannya.



Mendengar ucapannya, aku mengurungkan ucapan protes yang siap-siap meluncur. Lalu mataku menatap lekat ke arah mata coklat milik Ana yang juga menatap mataku dengan berani.



Matanya sama dengan warna mataku. Hanya saja milikku lebih kelam dan mata Ana lebih mendekati coklat muda dan sangat bening. Seperti mata kucing.



Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan matanya. Indah tapi menjerumuskan. Kurasakan daya tarik yang kuat dari tatapan yang menantang dan berani itu.



"Jangan terlalu lama menatap mataku, Tuan Ryan. Aku takut kau akan tenggelam di sana." Ana tersenyum manis.



Aku menggeragap sebentar. Sadar akan tingkahku barusan. Sedetik kemudian aku terkekeh dan menggelengkan kepala. Ucapan wanita itu ada benarnya. Hampir saja aku terpesona pada tatapan mata yang menantang itu.



*****



__ADS_1


__ADS_2