Wanita Kedua

Wanita Kedua
Sekretarisku


__ADS_3

Hari ini adalah empat bulan sejak Riani menjalani pasca operasi. Wanitaku itu kembali dengan kesibukannya di butik miliknya yang terletak di pusat Kota Pematangsiantar.



Aku sama sekali tidak menyangka bisa jatuh cinta pada Riani yang pada masa gadisnya bekerja di toko bangunan milik papa.



Pertemuan dan obrolan yang terjadi saat aku berkunjung ke toko milik papa, entah kenapa berhasil menimbulkan sebuah kecambah di hatiku. Hingga suatu saat aku memberanikan diri mengajaknya kencan.



Luar biasa untukku karena dia menerima ajakanku. Pertemuan rutin yang kami lakukan setiap minggu berhasil menumbuhkan kecambah cinta di hatiku menjadi sepucuk tunas yang hingga detik ini sudah merambat diseluruh tubuh dan hidupku.



Lamunanku terpecah saat kudengar langkah kaki berirama yang sangat kukenal baik.



Tepat di pintu besar yang ada di hadapanku, tampak istriku melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki gedung yang kutempati saat ini.



Bisa kulihat Para karyawan menyapa Riani dengan ramah. Riani hanya mengangguk dan tersenyum manis.



Posisiku yang memang sedang duduk santai di sofa tamu bisa melihat tindak tanduk istriku yang gemulai.



Akhirnya langkah kakinya sampai di sofa tempatku duduk. Pada saat yang bersamaan, Susan, sekretaris pribadiku menghampiri dan duduk begitu saja di sampingku.



Beberapa penjelasan yang diberikan hanya bisa kuangguki. Karena jujur saja, saat ini perhatianku terpecah. Bisa kupastikan kalau wajah Riani pasti sudah melambangkan kibaran bendera perang.



Aku sendiri bingung dan mau tak mau mengabaikannya sejenak demi mengurus pekerjaan. Harusnya dia maklum bukan?



Beberapa menit berlalu dan Suzan masih belum selesai memberikan laporan.



Hingga sebuah deheman yang cukup mengagetkan yang berasal dari bibir seksi Riani membuat Susan mendongak.



Begitu juga denganku.



Kucoba mencairkan suasana yang tiba-tiba beli karena tatapan Riani yang, ah, aku tak bisa menggambarkannya, dengan melempar senyum manis pada Riani. "Sayang, kemarilah."



Riani hanya diam. Terlihat jelas kalau Hatinya panas dan kesal melihat seseorang yang sedang duduk di sampingku ini.



Susan segera pamit dan undur diri saat dirinya menyadari tatapan tajam dari istri bosnya. Ha ha ha.



Aku sedikit bersyukur kalau Susan memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi. Dia menyadari tatapan cemburu yang dilayangkan Riani. Meski seharusnya hal itu tidak perlu dilakukan oleh istriku tercinta. Toh, kami hanya melakukan pekerjaan yang biasa kami lakukan sehari-hari.



Setelah sekretarisku menjauh, Riani mencibir pelan dan memandang Susan dengan sinis.


__ADS_1


Kuakui, Semenjak operasi pengangkatan rahimnya dilakukan, Riani berubah menjadi sosok yang lebih sensitif. Dia merasa takut kalau posisinya akan tergeser oleh wanita yang lebih sempurna. Tak jarang kami akan bertengkar hanya karena masalah sepele.



Setelah Susan menghilang di balik pintu yang menutup,tepatnya ke dalam ruanganku, kugerakkan jari telunjuk dengan kerlingan menggoda, mengisyaratkan agar Riani datang mendekat.



"Jangan bilang kalau kau mencemburui Susan, Ria?" Kutatap Riani dengan senyum menggoda.



"Apa aku salah bila mencemburuinya?" Riani balik bertanya. Posisinya masih berada di tempatnya semula.



Aku terkekeh. "Tentu saja kau tidak salah bila merasa cemburu. Itu tandanya kau sangat mencintaiku. Terima kasih, Sayang." Sambil mengucapkan itu kuhampiri dia lalu duduk di sebelahnya. Kukecup lembut dahi Riani. "Tapi kau tidak bisa mencemburui seseorang tanpa alasan. Apalagi mencemburui orang-orang yang bekerja denganku."



"Tapi aku tidak suka kau berdekatan dengan dia. Kalian bisa bekerja tanpa harus duduk berdampingan seperti tadi. Bahkan dia sengaja menyingkapkan roknya agar kau bisa melihat pahanya dengan jelas."



Wanitaku itu mengungkapkan isi hatinya dengan wajah ditekuk.



Aku mengerutkan dahi, sedikit heran dengan ucapannya. "Benarkah? Aku sama sekali tidak memperhatikan hal itu."



Riani mendengus kesal. "Tidak usah berpura-pura. Kau pasti merasa puas menatap paha wanita itu."



Aku mengusap wajah dengan pelan sambil terkekeh. "Aku mohon, Ria. Jangan membuat keributan lagi. Aku lelah dan sedang tidak ingin meladeni kecemburuanmu yang tidak pada tempatnya. Kami hanya bekerja, Ria. Bekerja. Dan apa bila kau tidak menyukai apa yang kulakukan, itu sama saja kau menginginkan kehancuran perusahaan kita ini."



Kuraih tangannya, mencoba mengalirkan ketenangan yang kumiliki. Sungguh aku memaklumi kegelisahannya. Tapi bila terus berlarut-larut dalam suasana seperti ini juga bisa membuatku stres.




Kutatap Riani dengan heran. "Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?"



"Kau tidak pernah memikirkan aku, Ryan. Aku seorang wanita yang sudah tidak memiliki rahim lagi. Aku tidak akan pernah bisa memiliki anak. Aku tidak akan pernah memberikanmu keturunan. Wajar kalau aku takut bila kau berdekatan dengan wanita lain yang lebih sempurna. Karena apabila kau sudah mendapatkan wanita yang bisa memberikanmu seorang anak, kau dan keluargamu akan mencampakkan aku dengan segera."



Aku melongo mendengar ucapan Riani. Sedetik kemudian aku terkekeh. Begitu jauh pemikiran istriku yang labil ini.



Hingga rasanya aku tidak sedang menghadapi seorang wanita yang berstatus sebagai istri, tapi aku merasa seperti menghadapi sifat kekanakan yang dimiliki adik perempuanku.



Aku lalu menarik wajah cantik yang sangat kucintai itu dan mengelus lembut rambutnya yang tergerai.



Riani yang tidak menyangka kalau aku akan memeluknya sedikit kaget dan tubuhnya hampir terjungkal ke belakang bila saja aku tidak menahannya.



"Lepaskan, Ryan. Gak malu dilihatin karyawanmu?" Bisiknya dengan suara lirih yang sangat seksi saat sampai di gendang telingaku.



Sambil terkekeh kulepaskan pelukanku dan menempelkan dahiku pada dahi Riani. "Kalau kau malu aku memelukmu seperti tadi, seharusnya kau juga malu bila perdebatan seperti tadi juga didengar oleh mereka. Dan lagi, Kau tidak perlu merisaukan apa yang sedang kau pikirkan sekarang. Karena apa pun yang terjadi, bagaimana pun kondisimu, aku tetap mencintaimu. Jadi, buang semua pikiran burukmu. Hal seperti itu tidak akan terjadi."

__ADS_1



Ucapanku sepertinya berhasil menenangkan Riani. Meski rasa ragu masih terlihat dari wajahnya, Riani mengangguki ucapanku.



"Oh, ya. Nanti malam kau tidak perlu menungguku untuk makan malam. Aku harus rapat di Siantar Hotel. Investor dari Jakarta datang berkunjung."



Riani mengangguk pelan.



Aku melihat keraguan di sorot mata Riani. "Atau kau mau ikut menghadiri pertemuan itu?"



Riani mengangkat wajahnya dan menatap mataku dengan sendu. Sesaat kemudian kepalanya menggeleng. "Aku juga ingin bertemu dengan temanku nanti malam. Suntuk rasanya bila di rumah sendirian"



Aku mengangguk cepat. Memaklumi rasa kesepian yang melanda dalam rumah tangga kami. "Baiklah. Jangan terlalu larut di luar, ya. Dan aku punya satu permintaan padamu."



"Apa?"



"Tersenyumlah, Sayang."



Mau tak mau Riani tersenyum dan itu membuatku terpesona. Dengan cepat kutarik tangan istriku itu dan menyeretnya ke dalam ruangan pribadiku.



Sesampainya di sana, kuberi isyarat pada Susan agar segera keluar dari ruangan tersebut.



Riani yang pasti mengetahui apa yang akan kulakukan, kulihat hanya bisa menggigit bibirnya dan mengikuti kemauanku.



"Aku selalu tidak tahan melihat senyummu yang menggoda itu. Kuharap kau tidak memberikan senyuman seperti itu pada pria lain." Aku menggerutu sambil menarik wajah pengisi hatiku.



Riani yang terduduk di atas sebuah sofa yang ada di dalam ruangan itu hanya terkekeh mendengar ocehanku.



Salahkah bila kucumbu istriku di sini?



Tidak.



Ini kantorku, perusahaanku.



Dan Riani, adalah milikku.



••••••••••



Kira-kira, siapa #wanitakedua ya?

__ADS_1




__ADS_2