Wanita Kedua

Wanita Kedua
pergi yang jauh


__ADS_3

Sekuat kuatnya seorang wanita ia akan lemah juga saat hatinya terluka, terlebih luka itu sangat dalam dan ditorehkan oleh orang yang sama


hangatnya sinar mentari pagi menghangatkan bumi di pagi itu.tapi tidak dengan hati Dila


disandarkan kepalanya di kaca mobil yang ditumpanginya,air matanya jatuh bercucuran tanpa mampu ditahan


"bunda kenapa nangis...." tanya albi yang kini tangannya mengusap lembut air mata bundanya


"gak papa nak, bunda cuma capek...." kilah Dila


"bunda bertengkar ya sama ayah.... bunda jangan nangis lagi ya,Albi dan thalia janji gak nakal lagi ya kan Lia" thalia menoleh ke arah kakaknya lalu setelahnya ia pun mengangguk


Dila tak mampu menjawab,ia hanya mampu mengusap lembut pucuk kepala kedua anaknya secara bergantian


Sementara itu di kediaman Hendriansyah


Dengan tergopoh-gopoh Tami menemui bu Ratna dan pak Hendra yang tengah menikmati teh hangat di pagi hari itu


"ada apa tam kok kamu panik gitu...." tanya bu Ratna


"ini Nya...." tami menyerahkan sebuah surat kepada majikannya tersebut "itu mungkin dari mbak Dila Nya tadi saya nemu itu di kamar non thalia.... saya permisi ke dapur dulu" Tami pun segera berlalu dari hadapan kedua majikannya tersebut


*Assalamualaikum


Maaf saat kalian membaca surat ini mungkin saya dan anak anak sudah pergi jauh dari rumah ini

__ADS_1


Teruntuk mas Galang


terimakasih atas luka ini mas,aku tidak akan pernah melupakannya.jika kamu pikir aku tidak bisa hidup tanpa kamu maka kamu salah mas...


Wanita bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak anaknya tapi lelaki seribu banding satu yang bisa menjalani kedua peran itu secara bersamaan


Aku sudah mendengar semuanya semalam.aku mundur mas, biarkan aku bahagia bersama anak anak tolong jangan ganggu kami lagi


Untuk Mama maaf aku tidak bisa menjadi mbak Alika karena aku bukan dia.... Mama bisa bertemu dengan cucu mama kapan pun asal tolong jangan pisahkan aku dan putriku.


Dan untuk papa terimakasih sudah mau menerima saya dengan sangat baik selama saya berada di rumah anda, maafkan saya jika saya punya salah selama tinggal di rumah anda


dan untuk terakhir kalinya mas Galang tolong secepatnya urus perceraian kita agar kamu bisa leluasa untuk mendekati wanita manapun


Nadila Fitria*


"apa maksudnya ini.... Dila pergi... kapan... kenapa bisa tidak ada yang tau " murka bu Ratna


"biarkan.... kasian dia, biarkan dia bahagia " tukas pak Hendra


"ya gak bisa gitu dong pa ...dia bawa cucu kita lho "


"sudahlah ma.... dia tidak bahagia disini,kamu dan Galang hanya melukai perasaannya saja " pak Hendra meletakkan cangkir teh yang dipegangnya dengan sedikit keras "untuk apa dia tetap disini kalau kalian masih belum bisa move on dari Alika...."


Bu Ratna mendengus kesal,ia marah karena cucu nya dibawa pergi menantu yang tak pernah dianggapnya tersebut

__ADS_1


tadi pagi pagi sekali sebelum subuh Dila sudah membangunkan kedua anaknya untuk diajak pergi dari rumah itu.di jam segitu diyakininya bahwa seluruh penghuni rumah masih tertidur, dengan membawa dua koper besar Dila berjalan perlahan.sedangkan Albi mengandeng Thalia


"mbak Dila mau kemana?" Dila spontan menoleh ke belakang ke arah sumber suara, ternyata tami memergokinya


"Ta-mi....." ucapnya terbata


"mbak mau kemana jam segini sama anak anak.... apa nyonya dan tuan tau mbak?"


Dila mengeleng,lalu kemudian ia meraih jemari Tami


"tolong bantu aku keluar tam....aku lelah tam"


Tami menatap wajah Dila dengan seksama, tampak kantung mata Dila yang sembab,sontak hati tami ikut terenyuh melihatnya....tak menunggu lama tami pun mengangguk lalu membantu Dila membawa barang bawaannya


Sampai di pos jaga, tami pun meminta satpam membuka gerbang dengan jaminan kalau tami yang bertanggung jawab jika nanti majikannya memarahinya


Lalu dengan segera tami memesan taxi online.beberapa menit setelahnya sebuah mobil sedan berhenti di depan mereka lalu tami dibantu oleh driver memasukkan barang bawaan Dila


"terimakasih ya tam...aku hutang budi sama kamu"


"gak usah dipikirin mbak.... semalam bukan cuma mbak Dila yang menguping pembicaraan tuan Hendra dan pak Galang tapi saya juga mendengarnya... kalau saya jadi mbak Dila pasti saya akan melakukan hal sama seperti mbak lakukan sekarang.... sekarang mbak cepat pergi, pergi yang jauh mbak...."


Tak menunggu lama Dila pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Hendriansyah itu dengan membawa luka yang mungkin akan mengering dengan berjalannya waktu


Berbekal tabungan yang lumayan besar Dila bertekad untuk pergi jauh dari bayangan mantan suaminya itu

__ADS_1


__ADS_2