Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 28 kepulangan Muthia


__ADS_3

Setelah kejadian waktu itu, Muthia selalu berusaha menjaga sikapnya, lebih berhati hati kalau sedang berdua sama Aswin, karena tak ingin membuat hati Sandra sakit lantaran cemburu.


Satu bulan berada di rumahnya Sandra, membuat Muthia semakin terlatih kesabaran dan keikhlasannya. Hari ini Muthia harus kembali kerumahnya sendiri, karena dia akan mulai aktif mengurusi urusan yayasan yang sudah hampir selesai pembangunannya. Aswin juga ikut turun tangan dalam pembangunan yayasan, segala urusan pembangunan Aswin yang menangani. Hanya tinggal sepuluh persen lagi, pembangunan sudah selesai. Dan Muthia harus mulai menerapkan konsep demi berjalannya yayasan sosial yang menjadi impiannya.


"Kamu yakin akan balik hari ini, Muthia?" Tanya Sandra saat memasuki kamar Muthia dan terlihat Muthia sedang berkemas memasukkan bajunya ke dalam koper.


"Iya, teh. Ada yang harus di urus di sana, pembangunan yayasan sudah hampir beres, dan aku harus menyiapkan segala keperluannya untuk peresmiannya nanti." sahut Muthia lembut dan tersenyum ke arah Sandra yang juga tengah tersenyum menatapnya.


"Seringlah datang kemari menjengukku, setelah ini pasti aku akan kesepian karena tidak punya teman ngobrol lagi." balas Sandra memasang mimik sedih.


"Kan masih ada Mirna juga ada bi siti dan anak anak yang temani teteh disini. Insyaallah aku akan sering main ke sini nantinya." jawab Muthia dengan sikap lembutnya, wanita berhijab hitam yang selalu tak pernah pelit senyum dan ramah pada semua orang, pasti akan selalu dirindukan oleh orang orang yang ada dirumah Sandra, pun dengan Sandra sendiri. Semenjak Sandra belajar membuka hati menerima kehadiran Muthia sebagai istri kedua suaminya, sejak saat itu Sandra mulai merasa nyaman hidup berdampingan dengan Muthia yang sedikitpun tidak pernah bersikap egois.


"Iya, tapi beda. Dengan mereka aku tidak bisa cemburu dan berebut kang Aswin seperti denganmu." balas Sandra sambil tertawa pun juga dengan Muthia yang langsung tertawa mendengar jawaban ngaco Sandra.


"Insyaallah, teteh akan segera sembuh dan bisa berjalan lagi, nanti kita jalan jalan bareng ya, liburan ke luar negri bertiga saja, kita berebut kang Aswin di capodacia, oke?" Sandra langsung melebarkan matanya mendengar celoteh Muthia yang membuat dirinya tak percaya.


"Kamu serius, Thia?" sahut Sandra yang mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Iya, aku serius, makanya teteh harus segera sembuh. Nanti kita akan menghabiskan waktu bertiga disana." Muthia kembali mempertegas ucapannya, karena saat saat seperti itu pernah terlintas di pikiran Muthia, dan ingin melakukannya.


"Kaki teh Sandra sudah mulai bisa digerakkan kan? dan terapinya juga sudah mulai bisa berjalan selangkah demi selangkah. Insyaallah semua akan kembali seperti dulu, teteh hanya butuh bersabar sedikit lagi, dan berusaha lebih keras lagi. Muthia percaya teteh perempuan yang kuat juga tangguh. Semangat!" Muthia memberi semangat pada Sandra dengan gayanya yang membuat Sandra selalu bahagia, merasa diperlakukan seperti anak kecil yang dituntun orang tuanya, Muthia selalu bisa menempatkan dirinya sebagai apapun, sehingga orang yang berada didekatnya pasti akan merasa nyaman.


"Nanti mau berangkat jam berapa?" sambung Sandra dan fokus menatap Muthia yang kembali melakukan aktifitasnya, memasukkan baju bajunya ke dalam koper.


"Tunggu kang Aswin pulang, gak dibolehin nyetir sendiri, lagian nanti juga riweuh ada Yusuf kalau nyetir sendiri." sahut Muthia yang menghentikan sejenak kegiatannya dan menatap manik bening kakak madunya.


"Kalau kamu sibuk di yayasan, bagaimana dengan Yusuf?" tanya Sandra serius.


"Yasudah, aku yakin kamu pasti tau mana yang terbaik dan yang lebih penting. Aku cuma bisa berdoa s moga semua berjalan dengan lancar ya, sekali lagi selamat, karena apa yang menjadi impian kamu selama ini segera terwujud. Aku ikut senang." sahut Sandra dengan pandangan lurus ke depan, menatap Muthia yang sesekali sibuk membereskan barang barangnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul tiga sore, Muthia pulang dengan diantar Aswin, Sandra melepas kepergian Muthia dengan tatapan sendu, bagaimanapun Muthia lah yang selama ini ikut merawat dirinya hingga hampir sembuh seperti sekarang. Meskipun masih ada sedikit rasa cemburu kala melihat Muthia sedang bersama Aswin, tapi dengan sekuat hati Sandra menepisnya.


"Rumah ini jadi sepi ya Bu, tidak ada Bu Muthia dan Yusuf." Mirna mengutarakan pikirannya saat setelah Muthia sudah hilang dari pandangan, mobil yang membawanya sudah melaju menjauh dari rumah mewah yang ditempati Sandra dan anak anaknya.

__ADS_1


"Iya, dan sekarang cuma ada kita dirumah ini. Mir, aku juga titip si kembar ya, bantu awasi mereka, kasihan Bu Siti, karena harus urus rumah juga." sahut Sandra sambil menatap kedua anaknya yang sedang bermain boneka di ruang keluarga yang ditemani Bu Siti.


"Iya, Bu. Si kembar anaknya gak rewel, pintar dan penurut." balas Mirna jujur.


"Antar aku ke kamar, Mir. Aku istirahat sebentar, habis minum obat tadi, sekarang mata jadi ngantuk, nanti setelah mengantarkan aku ke kamar, gantiin Bu Siti menemani si kembar, biar Bu Siti bisa melanjutkan pekerjaannya membersihkan rumah." Sandra memberi perintah pada Mirna yang langsung mengiyakan ucapannya.


Setelah mengantar Sandra ke kamar dan membantu pindah ke kasur, Mirna langsung menuju dimana Zahra dan Aruna berada, menggantikan Bu Siti menemani si kembar bermain, dah meminta Bu siti kembali melanjutkan pekerjaannya.


💓💓💓💓💓💓💓


"Assalamualaikum." Sebelum memasuki rumahnya, Muthia terlebih dahulu mengucapkan salam dan memencet bel. Tak lama kemudian suara mbok Narti terdengar membalas salamnya dan membukakan pintu. Senyum bahagia langsung terukir di wajahnya yang mulai tumbuh keriput.


"Waalaikumsallm, aduh ibu sama den bagus sudah kembali, Alhamdulillah. Mari mari Bu Muthia, biar tasnya mbok yang bawa." sambut mbok Narti senang, dan langsung menggandeng Yusuf juga mengambil tas yang dibawa Muthia.


Melihat keakraban istri dan pembantunya membuat Aswin tersenyum. Karena Muthia selalu membuat orang lain merasa dihargai dan nyaman saat bersama dirinya. Tidak pernah menilai dan memandang seseorang dari harta.


#Tidak ada yang tak bisa di luluhkan oleh sebuah ketulusan, cinta dan keikhlasan. Bersikap lemah lembut akan membawa kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain, karena sejatinya kita hidup di dunia hanyalah sekedar menumpang jadi tidak ada yang perlu di sombong kan.

__ADS_1


__ADS_2