
Muthia mematung, berat rasanya meneruskan langkah, dari postur tubuh, warna kulit, potongan rambutnya, dan cara berpakaiannya, semua tidak asing untuk Muthia. 'mungkinkah itu dia, dan untuk apa ada ditempat ini? bukankah dia sedang berada di Kalimantan, ditugaskan disana?."
Saat pikiran Muthia diliputi berbagai pertanyaan akan sosok lelaki di hadapannya, Muthia dikagetkan dengan suara wanita di belakangnya.
"Asalamualaikum neng...
Kenapa bengong disini, mari masuk. Neng yang telepon kemarin kan, yang nanyain lahan kosong sebelah masjid al Anwar?" Sapa ibu itu ramah.
"Iyaa Bu, benar itu saya.
Ibu pemilik tanah itu?"
"Iyaa, saya pemiliknya, mari silahkan masuk kita bicara di dalam saja. Mari neng..."
Muthia mengikuti langkah wanita paruh baya yang mengaku pemilik tanah yang akan dibelinya, dan saat langkahnya akan memasuki teras rumah, kembali Muthia dibuat tak percaya dengan apa yang saat ini ada di hadapannya.
Lelaki yang dulu pernah datang melamarnya, namun Muthia menolaknya dengan alasan belum siap menikah dan masih ingin mengejar impiannya.
Lelaki dengan postur tinggi tegap, berkulit kuning Langsat, dengan lesung pipi menambah kesan keindahan parasnya, cukup tampan dan manis.
Lelaki itu tersenyum saat melihat Muthia dan itu semakin membuat Muthia serba salah, antara malu dan rasa tak enak, tak enak karena dulu pernah menolak pinangannya.
"Apa kabar Muthia? nggak nyangka ya, kita akan dipertemukan lagi, masih ingat kan dengan saya?" Lelaki itu langsung menyapa Muthia dengan ramah dan terlihat sudah akrab.
"Alhamdulillah, mas Amir juga apa kabarnya?" Balas Muthia sopan, dan wanita yang mengaku pemilik tanah, dibuat bingung dengan kedekatan mereka.
"Loh loh, kalian sudah saling kenal toh?"
"Iyaa, Muthia ini wanita yang dulu pernah Amir ceritakan ke mamah, wanita yang pernah Amir inginkan untuk jadi pendamping, tapi nyatanya Amir belum beruntung." Ternyata wanita paruh baya pemilik tanah adalah ibu dari laki laki masa lalu Muthia.
"Oh ...ini toh gadis yang dulu pernah membuat kamu gak mau keluar kamar sampai berhari hari karena patah hati, pantesan lha wong orangnya cantik kayak gini." Balas ibunya Amir ramah.
Muthia hanya diam dan tertunduk, nggak tau harus menjawab apa.
"Yasudah yuk masuk kedalam,kita lanjutin ngobrolnya di dalam saja.
Silahkan duduk, ibu masuk kedalam dulu ya."
Di ruang tamu tinggal Amir dan Muthia, saling canggung nggk tau harus memulai obrolan dari mana.
"Sekarang tinggal dimana?"
Suara pertanyaan Amir memecah keheningan diantara keduanya.
"Saya tinggal nggak jauh dari sini.
Dan mas Amir sendiri, bukankah sedang tugas di Kalimantan?"
"Saya sudah dipindah tugaskan lagi di sini dari sejak sebulan yang lalu.
Muthia nikah dengan orang sini?"
"Iya, suami saya orang sini." Balas Muthia biasa.
"Anaknya sudah berapa?" Mas Amir kembali melontarkan pertanyaan
"Baru satu." Muthia menjawab dengan senyuman dan itu membuat hati Amir terasa perih.
"Saya dengar dari mamah, Muthia nanyain lahan yang ada di dekat masjid itu ya, kalau boleh tau mau dibuat apa, usaha, rumah atau apa?"
__ADS_1
"Iya mas, rencana mau dibangun yayasan sosial untuk anak anak yatim-piatu."
"Hamdallah, saya ikut senang dan insya Alloh kalau di ijinkan, saya ingin ikut andil di dalamnya."
"Maksud mas Amir, mas Amir ingin ikut serta dalam pembangunannya, begitu?" Tanya Muthia tak percaya.
"Iya, itupun kalau Muthia mengijinkan."
"Alhamdulillah, insya Alloh mas, selama itu niatnya baik, insya Alloh ..."
"Alhamdulillah..
Kalau begitu untuk lahan tidak usah difikirkan, Alhamdulillah itu milik saya, makanya mamah kemarin kasih kabar untuk saya pulang karena ada yang nanyain, dan ternyata itu kamu, apa lagi mau dibuat untuk yayasan, jadi tak perlu untuk ada akad jual beli, saya akan hibahkan tanah itu untuk dibangun yayasan buat anak anak yang membutuhkan, nanti kita urus surat suratnya agar tidak ada masalah dikemudian hari."
"Ini beneran mas, mas Amir yakin?" Muthia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar dari laki laki di hadapannya yang masih dengan sikap tenangnya.
"Insya Alloh sangat yakin."
"Alhamdulillah ,trimakasih mas." Balas Muthia sangat bersyukur.
"Untuk pembangunannya gimana, kamu sudah ada rencana?"
"Untuk pembangunannya saya menyerahkan pada suami untuk mendesain, Alhamdulillah suami menyanggupinya."
"Baiklah, untuk urusan itu, saya percayakan sama kamu dan suamimu, untuk urusan dana, insya Alloh saya juga akan bantu.
Semoga Alloh memudahkan dan melancarkan niat baik ini."
"Aamiin, terimakasih ya mas, semoga Alloh membalas semua kebaikan mas Amir berlipat lipat."
"Aamiin." Balas mas Amir tenang dan nampak berwibawa.
"Wah sepertinya sedang asik ya ngobrolnya, lagi ngobrolin apa nih?." tiba tiba ibu nya Amir muncul dengan membawa tiga cangkir teh hangat dan berbagai cemilan serta tak lupa pisang goreng yang masih panas.
Monggo neng silahkan."
"Alhamdulillah, terimakasih ibu."
"Panggil saja dengan Bu Nilam, Nama ibu, Nilam.
Kalau boleh tau, Nama Eneng ini siapa?"
"Saya Muthia Bu."
"Nama yang indah, anggun seperti pemiliknya."
"Alhamdulillah" Muthia menanggapi dengan senyuman.
"Owh iya, gimana, masalah tanahnya sudah di obrolin?" Tanya Bu Nilam melanjutkan obrolan.
"Sudah mah, ternyata sama Muthia mau dibuat membangun yayasan untuk anak anak yatim-piatu." Amir yang bersuara untuk menjawab pertanyaan sang mama.
"Owh begitu, bagus itu.." jawab Bu Nilam dengan tatapan kagum diarahkan pada Muthia.
"Iya dan Amir ingin menghibahkannya, Amir yakin mamah juga setuju kan?"
"Waaaah, setuju banget, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah, terimakasih Bu, sekali lagi terimakasih mas." Muthia ikut menimpali obrolan ibu dan anak yang sama sama memiliki hati dan niat yang luar biasa baik.
__ADS_1
Tiba tiba ponsel Muthia berdering dan tertera nama ayah disana, dan itu artinya Aswin yang menelpon.
"Maaf, saya mau ijin angkat telepon, ada suami yang menelpon." Pamit Muthia sopan.
"Owh iya silahkan." jawab Bu Nilam ramah, sedangkan Amir hanya diam dengan wajah datarnya.
"Asalamualaikum bund..." Sapa Aswin di ujung sana.
"Waalaikumsallm.."
"Bunda, lagi dimana?"
"Bunda lagi ketempat yang punya lahan yang ayah tunjuk kemarin."
"Loh, katanya lihatnya sama ayah, kok bunda berangkat sendirian."
"Iya maaf ayah, bunda pikir ayah lagi sibuk, nggak tega kalau ayah harus bolak balik, jadi bunda putusin untuk pergi sendiri saja, maaf ya."
"Yasudah nggak papa, tapi lain kali tidak boleh lagi ya bund, harus bilang dulu sama ayah, bunda naik apa tadi?"
"Bunda naik taksi online."
"Yasudah, kalau urusannya sudah beres bunda lekas pulang ya, nanti pulang dari kantor, ayah langsung otw kesana."
"Iya, ayah, selamat bekerja yaa, jangan lupa makan."
"Iya sayang, nanti kalau sudah dirumah kabari ayah ya."
"Siap."
"Asalamualaikum.."
"Waalaikumsallm.."
"Wah sepertinya, suaminya perhatian sekali sama neng Muthia ya?" Tiba tiba suara Bu Nilam mengagetkan Muthia.
"Alhamdulillah Bu...
Kalau begitu saya mohon pamit dulu, nanti insya Alloh akan kesini lagi dengan suami untuk membicarakan hal selanjutnya."
"Boleh saya minta no telepon?"
Setelah hanya diam menyimak, Amir akhirnya bicara dan meminta kontak telepon dengan alasan rencana ke depan pembangunan yayasan.
"Kontak saya sudah ada di Bu Nilam, Mas minta saja ke ibu."
"Baiklah." Amir menjawab dengan ekspresi datar.
"Kalau begitu, saya pamit dulu.
Asalamualaikum."
"Waalaikumsallm." Bu Nilam dan Amir menjawab salam dari Muthia.
Mereka mengantar Muthia sampai depan pagar, tadinya Amir sempat menawari Muthia untuk mengantar dengan mobilnya, tapi Muthia menolaknya secara halus, karena tidak pantas seorang istri diantar lelaki lain disaat suaminya sedang tidak ada dirumah.
Amir memandangi mobil yang membawa Muthia hingga menghilang dari pandangan matanya, ada rasa nyeri yang masih sangat menyiksanya, cintanya masih utuh, masih tetap sama, seperti harapannya yang masih ingin bisa menjadi pendamping wanita pujaannya.
Namun apakah masih ada kesempatan itu? Sedangkan wanita yang ditunggu, wanita yang dicintai kini sudah bersama lelaki lain, kalau saja Muthia tau, jika sampai detik ini, tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikan kedudukannya di hati seorang Amir.
__ADS_1
"Meskipun aku tak bisa bersanding dan memilikinya, setidaknya saat ini Tuhan memberinya kesempatan untuk kembali bertemu dan membukakan jalan untuk bisa sering bertemu meskipun hanya tentang kegiatan sosial, setidaknya itu bisa mengobati sedikit rasa perih dihatinya, cukup melihat senyum dan kebahagiaan Muthia, bagi Amir sudah sangat membuatnya bersyukur dan bahagia.
Karena itulah cinta, luka pun tak lagi bisa dirasa.