
Pagi ini Devano sudah diperbolehkan untuk pulang setelah 1 minggu pemulihan di rumah sakit. Dan kini ia tengah bersiap dibantu dengan Ciara yang selama ia di rumah sakit selalu berada di sampingnya, walaupun ia sibuk kerja tapi setelah pulang kerja ia akan menjenguk Devano bersama dengan Al yang biasanya sudah lebih dahulu bersama Devano karena sejak Devano di rumah sakit Al selalu di pantau oleh bodyguard khusus yang Devano siapkan untuk Al agar Ciara tak terlalu khawatir dengan anak mereka.
"Ada yang ketinggalan lagi gak?" tanya Ciara setelah selesai memasukkan semua barang milik Devano di dalam tas.
"Udah gak ada," jawab Devano.
"Administrasinya udah kan?" tanyanya lagi.
"Semuanya sudah beres sayang tinggal pulang saja." Ciara mengangguk kemudian menyerahkan tas tadi ke bodyguard Devano.
Setelah itu ia menghampiri Devano dan juga Al yang masih saja sibuk bermain di ruangan tersebut.
"Mainnya nanti lagi Al. Sekarang kita pulang dulu," ucap Ciara sembari membereskan mainan Al yang berserakan di lantai kamar inap tersebut.
"Al gak mau pulang." Ciara mengerutkan keningnya.
"Lah kok gak mau pulang?"
"Maksud Al, Al gak mau pulang kerumah, Mama. Tapi Al mau pulang kerumah Papa," ucap Al.
Devano kini menggendong tubuh Al.
"Let's go boy," ucap Devano sembari beranjak keluar dari kamar tersebut.
"Heh bantu beresin ini dulu. Kalian habis main, berantakan kayak gini terus hanya di tinggal kayak gitu aja. Putar balik gak!" tutur Ciara dengan keras kearah dua laki-laki tadi.
"Mama hitung dari 3 kalau kalian gak balik kesini, mainan ini Mama tinggal disini," teriak Ciara yang berhasil membuat sepasang anak dan ayah itu kini berhenti dan hanya menoleh kearah Ciara saja.
"Aku bisa beli mainan itu yang baru lagi sayang," jawab Devano.
__ADS_1
"Iya Mama. Tinggalin aja, siapa tau nanti Papa bobok disini lagi, kan Al gak perlu repot-repot bawa mainan dari rumah." Ciara memelototkan matanya kala mendengar ucapan sang anak.
"Astagfirullah gak boleh bicara seperti itu nak, gak baik," ucap Ciara sembari membereskan mainan-mainan tadi.
"Apa Al tadi salah bicara Papa?" tanya Al. Devano meringis sembari mengangguk. Mengerikan juga kalau ucapan Al tadi menjadi kenyataan padahal hari ini ia berharap hari terakhir dan selamanya ia bermalam dirumah sakit dimana saja.
"Al gak boleh bicara seperti itu lagi ya," tutur Devano.
"Hehehe siap Papa. Maaf untuk kesalahan Al." Devano tersenyum. Selalu saja Al meminta maaf walaupun dia memiliki kesalahan sedikitpun. Ia sangat kagum dengan Ciara yang berhasil mendidik Al dengan sopan santun yang tinggi. Bersyukur sekali dirinya.
"Ya sudah. Tak apa sayang yang penting tak diulangi lagi ya." Al mengangguk.
Sesaat setelah itu, Ciara telah selesai membereskan kekacauan tadi dan menghampiri Al juga Devano yang masih berdiri di ambang pintu.
"Lain kali kalau selesai main harus dibereskan. Dan kamu, Dev, jangan dukung Al menyepelekan tanggungjawabnya. Paham!" Al dan juga Devano saling pandang kemudian mereka berdua mengangguk.
"Maafin kita Mama," ucap Devano dan Al serempak.
Saat mereka bertiga telah siap didalam mobil yang sama, sopir Devano kini perlahan menjalankan mobil tersebut ke kediaman keluarga Devano.
Tak berselang lama mobil tersebut berhenti di rumah mewah tadi dan satu persatu dari mereka bertiga keluar dari mobil tersebut, lalu bergegas masuk kedalam rumah tadi karena cuaca di pagi hari ini sangat tak mendukung.
"Assalamualaikum," salam Ciara dan Devano.
"Waalaikumsalam. Aaaaa cucu Mai kesini," teriak Mommy Nina sembari merentangkan kedua tangannya menghampiri Al. Padahal jika dipikir-pikir Devano yang harusnya di sambut hangat oleh keluarganya tapi ini justru mereka malah menyambut kedatangan cucu tampannya. Ahhh memang saingan Devano cukup berat sekarang.
"Uhhhh Mai kangen sama Al," ucap Mommy Nina sembari memeluk tubuh Al.
"Al juga kangen sama Mai," balas Al.
__ADS_1
"Oh ya Mai punya mainan baru buat Al." Al kini melepaskan pelukan Mommy Nina dan menatap wajah neneknya itu dengan berbinar.
"Benarkah?" Mommy Nina menganggukkan kepalanya kemudian ia bangkit dari jongkoknya lalu menggandeng tangan Al menuju ruang keluarga.
"Ci, Kamu ganti baju dulu kalau basah. Dikamar Dev ada baju baru khusus untuk kamu dan jangan lupa makan. Mom tau kamu belum sarapan. Mom gak bisa temenin kamu makan karena Al harus dalam pantauan Mom," teriak Mommy Nina dari arah ruang keluarga.
Ciara yang mendengar ucapan itu pun segera beranjak dari tempat tadi, menghampiri Mommy Nina.
"Baik Mom. Sebelumnya terimakasih," ucap Ciara setelah sampai di ruangan tersebut.
Mommy Nina yang mendengar suara Ciara cukup lirih pun kini menoleh ke belakangnya.
"Ya ampun kirain makhluk gaib yang cosplay suara kamu, Ci. Ya udah kalau gitu kamu ganti baju dulu. Basah kan baju kamu?" Ciara memegang dressnya yang ternyata memang basah walaupun tak banyak karena ia tadi sempat mampir ke supermarket sebelum menjemput Devano tadi.
"Cia titip Al dulu ya Mom." Mommy Nina tersenyum sembari mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Mommy Nina tadi, Ciara kini beranjak menuju kamar Devano yang berada di lantai atas.
Saat dirinya sudah sampai di depan pintu tersebut, ia mengetuk terlebih dahulu.
Tok tok tok!!
"Dev, aku boleh masuk gak. Mau ambil baju sebentar," teriak Ciara tapi sayang sang empu tak menjawab ucapan tadi hingga Ciara mengetuk kembali pintu tersebut sampai beberapa kali.
"Haish tuh orang udah di dalam apa belum sih? kalau udah kenapa gak bukain pintu kamarnya coba. Ck, atau jangan-jangan malah dia belum masuk lagi. Ah elah sia-sia sudah suara dan tenaga aku tadi. Dah lah langsung buka aja," gerutu Ciara. Dan kini ia membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tak terkunci. Setelah itu ia masuk kedalam yang ternyata tak ada orang sama sekali.
"Huh aman," ucap Ciara. Ia kini mencari keberadaan baju yang diberikan Mommy Nina tadi.
"Akhirnya ketemu," tuturnya sembari mengamati isi paper bag tadi.
"Apa aku sekalian ganti disini aja ya? Toh Dev juga belum kesini, paling dia lagi makan. Sedangkan kalau dia makan lama banget. Sudahlah pinjam kamar ini bentar juga gak akan marah dia," gumamnya kemudian ia berlari kecil kearah pintu kamar lalu mengunci pintu tersebut supaya kalau Devano ingin masuk kesana sebelum dirinya selesai berganti pakaian akan aman nantinya.
__ADS_1
Setelah dipastikan pintu itu terkunci, Ciara bergegas untuk mengganti pakaiannya. Tapi baru saja ia melepaskan pakaian yang ia pakai tadi dan menyisakan pakaian dalamnya saja, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Ciara kini menoleh kearah kamar mandi dan betapa kagetnya dia saat melihat Devano baru keluar dari kamar mandi tersebut hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya ke bawah, menutup aset berharganya saja. Sedangkan bagian badannya, ia biarkan terbuka dan menampakkan perut six packnya. Ditambah di bagian tubuh tersebut masih tersisa titik-titik air disana dan juga rambut Devano yang masih basah membuat dirinya terlihat semakin menggoda.