
Olive yang berada disamping Ciara pun langsung menyenggol lengan Ciara.
"Kamu dulu waktu hamil Al ngidam apaan sih Ci? Sampai-sampai pemikiran Al dewasa banget apalagi kalau di tinggal kamu kerja pasti dia pengertian banget. Ah jadi pengen punya anak," ucap Olive.
Bukannya di jawab oleh Ciara, kening Olive malah mendapat sentilan maut dari Ciara.
Pletakkk!!
"Aws. Sakit woy," ringis Olive sembari mengusap keningnya.
"Bodo amat," cuek Ciara. Olive mencebikkan bibirnya.
"Al," panggil Olive.
Al yang sedari tadi masih di dekapan Devano pun kini menolehkan kepalanya menghadap Olive.
"Al mau gak jadi anak aunty Olive. Kalau Al mau, aunty akan turutin semua keinginan Al. Beliin Al mainan dan buku yang banyak ditambah Al boleh nonton kartun sepuasnya. Gimana? Al mau kan?" tutur Olive.
"Heh enak aja. Kalau mau punya anak, buat sendiri," timpal Ciara sebelum Al menjawab tawaran dari Olive tadi yang tentunya ia akan menolak tawaran tersebut.
"Ck, aku gak lagi tanya sama kamu tapi aku tanya Al. Toh kalau Al jadi milik aku, kamu bisa bikin lagi yang baru secara kan udah ada pasangan tuh," tutur Olive dengan menunjuk Devano dengan dagunya.
Plakkk!!
Lagi-lagi Olive harus mendapatkan kekerasan dalam persahabatan yang dilakukan oleh Ciara.
"Sakit Ci, tega banget jadi orang," gerutunya.
"Kalau sama kamu emang harus tega," tutur Ciara.
"Ck, dahlah aku balik ke kamar lagi aja dari pada disini dijadiin samsak yang lama kelamaan jadi seperti tuh kuyang hidup," ucap Olive. Setelah mengucapkan kalimat itu, Olive langsung melarikan diri ke lantai atas saat mendapat tatapan tajam dari Devano tadi.
"Untung sahabat, kalau gak udah aku jadiin rengginang tuh orang," gumam Ciara.
Dea yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran dari kedua kakak angkatnya itu, kini melangkahkan kakinya mendekati Ciara.
"Kak, aku pergi ke toko dulu ya," pamit Dea.
"Hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut kalau bawa motor," ucap Ciara.
Dea pun mengangguk dan mencium telapak tangan Ciara.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab ketiga orang yang masih di ruang tamu tersebut.
Setelah hilangnya Dea di balik pintu utama. Ciara kembali terduduk di sofa depan Devano.
__ADS_1
"Al, sini nak," perintah Ciara.
"Gak mau, Al masih mau peluk Papa," tolak Al.
"Al, Papa kan masih sakit, sayang. Papa juga mau di obatin dulu biar cepat sembuh," ucap Ciara lembut.
"Aku gak papa, Ci. Luka dan lebamnya nanti juga sembuh sendiri. Kamu jangan khawatir," tutur Devano dengan senyum senang.
Sedangkan Ciara, ia malah memutar bola matanya malas.
"Siapa juga yang lagi khawatir sama kamu? Gr banget jadi orang," jawab Ciara.
"Al, turun dulu dari pangkuan Papa. Biar luka Papa bisa Mama obatin," sambungnya.
Al pun mengangguk, kemudian ia turun dari pangkuan Devano dan berpindah duduk di samping Devano.
Saat sudah dipastikan Al dalam posisi aman, Ciara juga turut berpindah tempat disamping Devano.
"Hadap sini, biar aku kompres dulu lukanya," ucap Ciara dan dengan patuh Devano memiringkan tubuhnya menghadap Ciara.
"Mama, kenapa Papa jadi membelakangi Al?" protes Al yang tadinya ingin melihat cara Mamanya mengobati Devano.
Ciara melihat Al dari balik tubuh Devano.
"Ya udah Al, pindah disofa itu," ucap Ciara sembari menunjuk sofa yang tadi ia tempati.
Ciara kini dengan telaten mengobati luka di wajah Devano dengan penuh kehati-hatian. Walaupun begitu masih terdengar ringisan yang keluar dari mulut Devano dengan mata yang menatap lekat wajah Ciara yang memang hanya berjarak beberapa jengkal saja dari wajahnya. Wajah itu masih tetap cantik sama seperti pertama ia melihatnya bahkan semakin hari kecantikan Ciara semakin bertambah dan hal itu membuat Devano di mabuk kepayang oleh paras cantik penuh kelembutan dan kesabaran yang di miliki Ciara.
Ciara yang sadar dengan tatapan Devano itu pun, ia langsung menekan luka Devano.
"Aws, sakit," ringisnya dengan manja.
"Makanya kalau punya mata tuh di jaga. Mau aku congkel?" sarkas Ciara.
"Sadis banget sih," ucap Devano.
"Biarin."
Ciara kembali mengobati luka Devano dengan serius hingga selesai.
"Di bagian wajah udah selesai. Katakan dimana lagi yang sakit?" tanya Ciara datar.
"Disini," jawab Devano dengan menunjuk bagian dadanya.
"Gak usah bercanda," ucap Ciara malas.
"Aku gak bercanda. Emang dibagian sini sakit."
__ADS_1
Ciara yang tak percaya dengan ucapan Devano pun dengan sengaja memukul dada yang ditunjuk oleh Devano tadi dengan cukup kuat.
Bugh!!
"Aw," ringis Devano sembari memegangi dadanya tadi.
"Eh, dada kamu beneran sakit?" tanya Ciara yang menganggap ucapan Devano tadi hanya gurauan semata. Tak tau saja dia, bahwa luka itu mamang ada dan Devano dapatkan dari bapak negara yang kemarin sangat murka kepadanya.
"Aku kan udah bilang tadi Ci," jawab Devano masih meringis menahan sakit.
"Maaf, kirain cuma bercanda aja. Coba sini, biar aku lihat lukanya," tutur Ciara.
Tangan Devano kini bergerak untuk membuka kancing kemejanya.
"Eh eh eh kamu ngapain? jangan macam-macam ya kamu," panik Ciara sembari menutup kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya.
Devano terkekeh gemas dan tangannya kini ia arahkan ke kepala Ciara untuk mengacak rambut indah milik sang empu.
"Katanya tadi mau lihat lukanya," tutur Devano.
"Ah iya, aku lupa, maaf," ucap Ciara dan dengan perlahan ia menjauhkan tangannya dan membuka matanya.
"Jangan gugup sayang, kan kamu udah pernah lihat," goda Devano yang membuat semburat merah di kedua pipi Ciara.
Ciara mendengus kesal.
"Buruan!" perintahnya dengan datar.
"Sabar dong, aku kan juga baru buka kancingnya. Atau kamu mau bantu aku buka kancingnya biar cepat," ucap Devano yang masih saja dalam mode jahilnya.
"Jangan banyak bicara," geram Ciara. Sebenarnya ia sekarang tengah gugup dengan debaran jantungnya yang memacu sangat kencang ditambah dengan rasa panas di kedua pipinya.
Kancing kemeja Devano kini telah terbuka semua dan betapa kagetnya Ciara saat melihat luka yang cukup parah di dada Devano.
"Sakit ya?" tanyanya dengan tangan yang sudah terulur untuk mengobati dada Devano.
Pertanyaan dari Ciara tadi hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Devano.
"Kamu tuh ngapain sih sampai babak-belur kayak gini? luka dan lebam dimana-mana. Mau uji kekuatan tubuh kamu atau gimana? Mau jadi sok hebat kamu? Kenapa gak sekalian aja kamu lubangin perut kamu dan keluarin semua organ-organ dalam di tubuh kamu itu?" cerocos Ciara.
Bukannya takut dengan omelan Ciara tadi, Devano justru terkekeh kecil dan memajukan wajahnya hingga berada tepat di samping kuping Ciara.
"Kamu kalau ngomel gemesin, jadi pengen gigit," bisik Devano.
Plakkk!!
Lagi-lagi tangan ringan Ciara melayang indah mengenai lengan Devano.
__ADS_1