Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 52


__ADS_3

"Arkhhhh!" ringis Henry saat peluru menembus kulit lengannya. Dan hal itu membuat dirinya melepaskan Yura dari kunciannya.


Yura yang sudah terbebas pun dengan cepat ia berlari di belakang tubuh sang ayah. Sedangkan Devano dan Bian yang masih syok akan apa yang ia lihat karena mereka benar-benar tak ada niatan untuk melukai anak laki-laki tersebut, kini keterbengongan mereka sudah mulai tersadar kembali saat suara tembakan kembali terdengar.


Dan seketika kedua laki-laki dewasa itu langsung menolehkan kepalanya kearah pintu masuk ruangan tersebut. Dan saat mereka tau siapa orang yang telah menembak Henry tadi, lagi-lagi mereka di buat syok.


"Oh astaga, Al stop!" teriak Devano saat Al ingin kembali menembak tubuh Henry yang telah terkulai lemas di atas lantai.


Al yang mendengar teriakan dari Devano dengan seketika ia menurunkan pistolnya dan mengurungkan niatnya untuk terus menembakan peluru hingga Henry terbunuh di tangannya.


"Apa yang kamu lakukan, nak?" ucap Devano sembari ia memeluk tubuh Al saat dirinya sudah mendekati anak pertamanya itu.


"Maaf Papa. Al kehilangan kontrol," ujar Al.


"Lain kali jangan begitu lagi ya sayang. Semua permasalahan bisa diselesaikan baik-baik," tutur Devano yang sudah melepaskan pelukannya. Dan hal itu hanya di jawab anggukan kepala oleh Al.


Devano yang melihat hal itu pun tersenyum sembari tangannya mengacak rambut Al. Lalu setalahnya ia menatap kearah Doni dan Toni yang sedari tadi hanya menyaksikan semua aksi Al tadi tanpa berniat mencegah tuan mudanya itu.


Doni dan Toni yang sadar akan tatapan dari Devano pun mereka berdua seketika langsung nyengir kuda kearah tuan besar mereka.


"Apa yang di lakukan tuan muda memang sudah sepantasnya, tuan," ujar Doni dengan santainya.


"Benar apa yang dikatakan Doni, tuan. Dan harusnya tuan tadi tidak mencegah tuan muda buat membunuh anak laki-laki nakal itu. Karena percuma saja dia hidup di dunia ini, tidak ada manfaatnya sama sekali," ucap Toni.


Devano yang mendengar setiap alasan dari dua bodyguard anaknya itu pun, ia hanya bisa pasrah saja lalu setalahnya ia mulai melangkahkan kakinya menuju kearah Henry.


Dan saat dirinya sudah sampai didepan tubuh Henry, Devano langsung menjongkokan tubuhnya dan memeriksa denyut nadi anak tersebut.


"Aman, dia masih hidup. Kalian berdua cepat kesini dan bawa dia kerumah sakit," perintah Devano yang langsung mendapat gelengan kepala oleh Doni maupun Toni.


"Tidak, saya tidak mau membawa anak itu kerumah sakit," tolak Doni.


"Saya juga tidak mau. Biarkan saja sih tuan dia mati sekalian. Dia hidup juga menyusahkan banyak orang," ujar Toni.


Devano yang sudah tak tahan dengan tingkah dua bodyguard Al itu pun dengan seketika ia menatap tajam kearah keduanya.

__ADS_1


"Bawa anak ini kerumah sakit sekarang atau detik ini juga nyawa kalian yang melayang," ancam Devano yang langsung membuat Doni dan Toni membelalakkan matanya sembari menggelengkan kepalanya, lalu setelahnya mereka dengan patuh mendekati tubuh Henry dan membawa tubuh yang penuh dengan darah itu menuju ke rumah sakit terdekat. Saat kedua bodyguard Al sudah hilang dari balik pintu ruangan tersebut, Devano kini langsung mendekati Bian yang tengah memeluk tubuh Yura dengan sangat erat.


"Yura, kamu baik-baik saja?" tanya Devano sembari mengelus kepala Yura. Yura yang tadi membalas pelukan dari sang ayah pun, pelukan tersebut kini ia lepaskan dan setalahnya ia menolehkan kepalanya kearah Devano.


"Yura tidak apa-apa Uncle, terimakasih karena sudah membantu Yura menyelesaikan masalah ini," ujar Yura yang diangguki oleh Devano.


"Ya sudah kalau gitu, kita susul mereka kerumah sakit yuk," ajak Devano yang langsung disetujui oleh semua orang disana. Dan setelahnya mereka semua yang tertinggal di ruang kepala sekolah tersebut kini mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan menyusul Toni dan Doni ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama, mereka semua kini telah sampai di salah satu rumah sakit di kota tersebut. Dan sesampainya mereka, Henry langsung mendapat penanganan dari dokter bedah untuk segera mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan anak laki-laki tersebut.


Saat mereka semua tengah harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan dari Henry, tiba-tiba saja ada suara gaduh dari kejauhan dan sumber dari suara gaduh itu siapa lagi kalau bukan dari emak-emak rempong alias Ciara dan Franda.


"Al!" teriak Ciara.


"Yura!" teriak Franda.


Kedua emak-emak itu kini tengah berlari kearah anak-anak mereka yang kini hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Huwaaaaa anak Mama gak kenapa-napa kan?" tanya Franda sembari memutar tubuh Yura berkali-kali putaran hingga membuat Yura kini pusing seketika.


"Maaf-maaf sayang. Mama khawatir tau, takut di tubuh kamu ada luka," ucap Franda.


"Mama tenang aja. Yura tidak terluka sedikitpun. Yang justru terluka itu adalah Al. Al tadi kena tamparan sama kepala sekolah," ujar Yura sembari menatap kearah Al.


Al yang sedari tadi berusaha untuk menyembunyikan wajahnya agar sang Mama tak melihat lebam di pipinya pun kini ia berdecak saat Yura lah yang justru membocorkan jika dirinya tengah terluka saat ini.


Sedangkan Ciara yang sedari tadi berusaha untuk melihat wajah Al, tapi berulang kali Al menyembunyikan wajahnya itu pun seketika apa yang dikatakan oleh Yura tadi membuat Ciara langsung membelalakkan matanya.


"Al, lihat Mama," perintah Ciara.


Al yang sudah tidak bisa mengelak lagi, pun ia kini perlahan menjauhkan tangannya dari wajahnya.


"Oh astaga. Al, siapa yang ngelukain kamu? katakan!" ucap Ciara.


"Yura tadi sudah memberitahu siapa yang melukai Al, Mama," ujar Al.

__ADS_1


"Iya kah? Kok Mama gak denger," tutur Ciara yang membuat Al memutar bola matanya malas.


Sedangkan Ciara, ia kini mengalihkan pandangan kearah Yura.


"Yura, Aunty mau tanya. Siapa yang melukai Al tadi?" tanya Ciara.


"Yang melukai Al tadi itu kepala sekolah Tante. Beliau tadi nampar Al kenceng banget. Sampai di bibir Al tadi mengeluarkan darah," tutur Yura.


"Sialan," gumam Ciara.


"Al katakan dimana orang itu sekarang berada!" ucap Ciara yang sudah siap untuk melabrak kepala sekolah tersebut.


"Ada di sel tahanan," jawab Al dengan santai.


"Sel tahanan, baiklah. Kamu tunggu disini, Mama mau nyamperin tuh orang dan kasih pelajaran ke dia," ujar Ciara dengan menggebu-gebu dan saat dirinya sudah memutar tubuhnya, lengannya langsung dicekal oleh Devano sebelum sang empu mulai melangkahkan kakinya. Dan hal itu membuat Ciara segera menolehkan kepalanya kearah Devano.


"Lepasin tangan kamu," ucap Ciara.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Devano.


"Mau nyamperin orang yang udah ngelukain Al lah. Mau bikin perhitungan ke dia," ujar Ciara menggebu-gebu.


"Yakin kamu mau bikin perhitungan sama dia?" Tanpa keraguan sama sekali, Ciara menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Memangnya kamu mau nyamperin dia kemana?"


"Ke sel ta--- eh sel tahanan kan berarti penjara ya?" tutur Ciara seperti orang bodoh.


"Iya lah. Emang menurut kamu sel tahanan tuh apa? Makanya aku tadi cegah kamu supaya gak cari gara-gara lagi sama dia karena dia sudah masuk penjara. Dan doakan saja, hukuman yang dia dapatkan setimpal dengan apa yang telah ia lakukan selama ini," ujar Devano.


Ciara kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu setalahnya, ia kini mendudukkan tubuhnya di samping Devano.


"Gak jadi kasih pelajaran ke dia?" tanya Devano mengejek.


"Gak lah. Gila kali kalau aku sampai nyamperin dia ke kantor polisi. Yang ada aku nanti juga ikut dipenjara saat aku kasih dia pelajaran," ujar Ciara dengan kerucutan di bibirnya. Sedangkan Devano yang melihat wajah cemberut dari sang istri pun ia kini terkekeh kecil lalu setalahnya ia memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat, mengabaikan orang-orang disana yang tengah melihat keromantisan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2