
Dengan cepat Rafa kini berjalan menuju pintu utama kamar Kiya lalu setelahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dirinya langsung membuka pintu tersebut begitu saja.
Rafa mengedarkan pandangannya saat dirinya sudah berada di dalam kamar Kiya, tapi pengelihatannya itu tak menemukan Kiya sama sekali.
"Kiya, kamu dimana sayang?" terika Rafa sembari menajamkan pendengarannya dan mengikuti suara tangisan tersebut yang mengarah ke kamar mandi.
Tok tok tok!!!
Rafa segera mengetuk pintu kamar mandi tersebut saat dirinya sudah berada di depan pintu itu.
"Kiya? Apa kamu didalam sayang?" tanya Rafa yang akhirnya mendapatkan jawaban.
"Iya, Kiya ada didalam. Tolongin Kiya keluar dari sini. Tapi sebentar, kamu siapa?" tanya Kiya dengan sesegukan.
"Ini Uncle Rafa," ujar Rafa.
"Hiks Uncle, tolongin Kiya keluar dari sini!"
"Iya-iya sayang. Uncel akan bantu Kiya keluar dari kamar mandi," ucap Rafa sembari mencoba menekan knop pintu tersebut tapi sayangnya saat dirinya sudah menekan berkali-kali, pintu tersebut masih saja tak bisa terbuka.
"Pintunya kekunci Kiya," tutur Rafa yang membuat Kiya yang berada didalam kamar mandi menghentak-hentakkan kakinya sebal.
"Kiya juga tau kalau pintunya kekunci, Uncel. Makanya Kiya minta tolong buat bantuin Kiya keluar dari sini. Kalau pintunya gak kekunci, Kiya juga bisa keluar sendiri tanpa minta bantuan orang lain!" teriak Kiya dengan geram.
Rafa yang masih berdiri di luar kamar mandi pun tampak nyengir kuda.
"Iya juga ya," gumamnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Uncle, jangan kebanyakan mikirin hal-hal yang gak penting. Karena yang lebih penting sekarang adalah keselamatan Kiya di sini!" teriak Kiya saat Rafa tak kunjung mencoba untuk membuka pintu tersebut.
Rafa yang tadinya tengah terbengong pun kini ia mengerjabkan matanya berkali-kali.
"Ah, iya-iya sayang," ujar Rafa.
"Tapi Uncle tanya sama Kiya. Apa pintu ini terkunci dari dalam?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Tidak Uncle. Disini gak ada kunci sama sekali dan kunci manual juga udah Kiya buka. Kiya rasa saat Kiya masuk ke kamar mandi ada seseorang yang masuk kedalam kamar Kiya dan sengaja mengunci Kiya dari luar," jawab Kiya.
Rafa kini tampak berpikir, dirumah sebesar ini dengan penjagaan yang sangat ketat, masak iya ada orang yang berani ingin mencelakai Kiya? Jika benar, maka keberanian orang tersebut dapat diacungi jempol.
Tapi setalah di pikir-pikir lagi juga setelah melihat kondisi dan situasi saat ini, apa mungkin Kiya dengan sengaja memang di kurung di kamar mandi karena ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang rumah tersebut agar Kiya tidak mengetahui hal tersebut. Jika memang begitu, berarti sesuatu itu merupakan hal yang sangat penting di hidup Kiya. Dan hal itu membuat pikiran negatif Rafa kembali lagi.
"Uncel!" teriak Kiya sembari menendang pintu kamar mandi tersebut karena ia sudah sangat sebal dan bosan berada di dalam kamar mandi itu sejak 1 jam yang lalu.
Rafa yang mendengar tendangan pintu tersebut tampak terkejut. Lalu setelahnya ia kembali fokus untuk menyelamatkan Kiya terlebih dahulu. Jika pikiran negatifnya itu benar-benar terjadi saat ini maka Rafa dengan berlapang dada akan menggantikan peran orangtua untuk kedua anak Devano dan Ciara. Jika benar-benar kedua orang itu telah tiada.
"Kiya mundur dan menjauh dari pintu, karena Uncle mau dobrak pintu ini," ucap Rafa yang langsung di lakukan oleh Kiya.
"Apa Kiya sudah menjauh sekarang?" tanya Rafa.
"Iya. Kiya sekarang udah menjauh dari pintu," jawab Kiya.
Rafa kini menghela nafas sembari mengambil ancang-ancang. Dan setelah memastikan dirinya siap, Rafa berlari sekencang-kencangnya lalu dengan sekali dobrakan, pintu kamar mandi Kiya terbuka lebar.
Rafa yang merasakan nyeri di lengannya pun sempat merintis kesakitan.
Rafa kini menundukkan kepalanya lalu setelahnya ia tersenyum dan tangannya kini bergerak untuk mengelus kepala Kiya.
Kiya yang merasakan sentuhan lembut itu pun langsung menengadahkan wajahnya.
"Terimakasih Uncle," ucapnya.
Rafa kini melepaskan pelukan Kiya tadi dan setelahnya ia menjongkokan tubuhnya untuk menyamakan tinggi Kiya.
"Sama-sama sayang. Tapi lengan Uncle sakit nih gara-gara dobrak pintu itu tadi. Dan biar lengan Uncle sembuh obatnya satu yaitu Kiya harus cium Uncle," tutur Rafa sembari menunjuk pipinya.
"Apakah ini merupakan bayaran untuk Uncle yang udah nolong Kiya tadi?" tanya Kiya.
Rafa tampak berpikir sekilas lalu setelahnya ia tersenyum manis kearah Kiya sembari menggelengkan kepalanya.
"Huh, sudah bisa Kiya tebak. Mau apa? Coklat Kiya lagi?" tanya Kiya sembari kedua tangannya terlipat di depan dadanya.
__ADS_1
"Hmmm Uncel akan kasih tau Kiya tentang imbalan yang harus Kiya berikan ke Uncle nanti setelah Kiya cium pipi Uncle." Kiya kini berdecak dan dengan terpaksa, juga karena ia merasa kasihan kepada Rafa yang sudah mengorbankan lengannya itu untuk menolongnya, ia kini segera mencium pipi Rafa sekilas.
"Udah. Sekarang kasih tau Kiya. Bayaran apa yang harus Kiya berikan ke Uncle?" tanya Kiya.
"Hmmmm nanti aja deh. Kita keluar aja yuk dari sini," ucap Rafa sembari bangkit dari jongkoknya. Dan saat dirinya mulai melangkahkan kakinya, kemejanya di tarik oleh Kiya dan hal itu membuat dirinya menghentikkan langkahnya. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Kiya dengan salah satu alisnya terangkat.
"Ada apa?" tanya Rafa.
"Hmmmm, apa Uncle mau dengar cerita Kiya?" bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Rafa tadi, Kiya justru bertanya balik.
"Cerita apa?" tanyanya.
"Kiya akan cerita setelah kita keluar dari kamar ini. Dan Uncel," ucap Kiya sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya yang membuat Rafa mengerutkan keningnya.
"Kenapa lagi?"
"Gendong," tutur Kiya sembari mengulurkan kedua tangannya.
Rafa kini menghela nafas panjang, lalu setalahnya ia membungkukkan badannya kemudian menggendong tubuh Kiya ala koala.
Dan setelahnya mereka berdua kini benar-benar keluar dari kamar milik Kiya.
"Kiya," panggil Rafa saat mereka berdua tengah menuruni anak tangga rumah tersebut.
Kiya yang sedari tadi tengah memainkan kancing kemeja Rafa pun kini ia menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah sang Uncle.
"Kenapa Uncle?" tanya Kiya.
"Itu, Uncle mau tanya. Kenapa di rumah ini banyak sekali warga yang datang kesini?" tanya Rafa.
Kiya kini mengalihkan pandangannya kearah samping kanan dan kirinya.
"Hmmm kata Papa sama Mama tadi siang, hari ini akan diadakan pengajian untuk mengusir para hantu-hantu dirumah ini," ujar Kiya yang sudah kembali memainkan kancing kemeja milik Rafa itu.
"Pengajian buat ngusir hantu?" tanya Rafa yang dijawab anggukan oleh Kiya.
__ADS_1
"Oh astaga. Kirain tadi Papa atau Mama kamu udah lenyap dari dunia ini," ujar Rafa yang tak habis pikir dengan otak negatifnya itu dan rasa parnonya yang keterlaluan itu. Hingga tadi sempat beranggapan jika kedua atau salah satu dari sahabatnya itu sudah meninggalkan dunia ini.