
Al yang baru saja sampai di salah satu toko buku pun ia langsung berlari masuk kedalam, setelah mobil yang ia tumpangi telah berhenti tepat di depan toko tersebut. Dan terlebih malam ini tengah hujan lebat yang tak pernah Al duga-duga sebelumnya.
Sedangkan kedua bodyguardnya yang melihat Al sudah ngacir duluan sebelum mereka keluar untuk memberikan payung, kini keduanya hanya bisa menghela nafas. Kalau sang tuan muda mereka sudah bersikap seperti itu maka artinya kehadiran kedua bodyguard tadi tak diinginkan oleh Al. Jadi daripada tuan muda mereka marah, alhasil keduanya hanya bisa memantau dari kejauhan saja.
Al kini mengacak-acak pelan rambutnya yang terlihat basah itu.
"Kalau tau mau hujan gini, aku tadi pakai jaket. Huh," gumam Al sembari menatap kearah luar toko tersebut sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi untuk segera mencari buku incarannya.
Ia tersenyum saat melihat buku yang ia mau. Tapi saat dirinya ingin mengambil buku itu, tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang juga memegangi buku incaran Al tersebut.
Dan hal itu membuat Al kini menolehkan kepalanya kearah si pemilik tangan tersebut yang langsung membuat alis Al memincing.
"Eh kamu juga ada disini ternyata. Mau beli buku ini ya?" tanya orang tersebut yang tak mendapat jawaban apapun dari Al. Bahkan tangannya yang tadi sudah memegangi buku yang sayangnya hanya tinggal satu, kini tangan itu terlepas. Lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya menjauh dari orang tersebut.
"Al!" teriak orang tersebut yang membuat Al menghentikan langkahnya. Sedangkan orang tersebut kini tersenyum lalu setalahnya ia berlari menuju kearah Al sembari membawa buku tadi.
"Kenapa?" tanya Al to the point.
Orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Yura, kini menyodorkan buku yang berada ditangannya tadi kearah Al.
"Ini buat kamu aja," ucap Yura.
"Gak usah," ujar Al sembari mendorong buku tadi.
__ADS_1
"Tapi ini cuma tinggal satu lho Al. Aku gak papa kok kalau kamu mau buku ini. Toh tadi kamu kan yang lihat buku ini duluan. Jadi ini buat kamu aja," tutur Yura yang kembali menyodorkan buku tadi.
Al tampak terdiam sembari berpikir, apakah ia harus mengambil buku itu atau tidak? Kalau ia tak mengambilnya berarti ia tak akan pernah mendapatkan buku limited edition tersebut karena tak semua toko buku menyediakan buku tersebut. Tapi kalau ia mengambilnya, takutnya Yura akan menangis saat sampai di rumah nanti.
"Al," panggil Yura sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Al.
Al yang tadi sempat terdiam kini matanya mengerjab beberapa kali hingga ia tersadar kembali.
"Ini buat kamu aja. Biar aku cari di toko lain," ucap Yura.
"Di toko lain belum tentu ada. Itu buat kamu. Aku pergi," ujar Al dengan ekspresi wajah yang begitu datar dan setelah mengucapkan hal tersebut ia kembali melangkahkan kakinya menjauh dari Yura.
"Eh tapi Al!" teriak Yura yang hanya diabaikan begitu saja oleh Al. Bahkan anak laki-laki itu kini sudah keluar dari toko buku tersebut.
Dan saat Yura menyusulnya, Al sudah tak terlihat lagi.
Sedangkan disisi lain, Al kini tengah termenung dengan tatapan yang mengarah ke samping jalan.
"Tuan muda, kita sekarang mau kemana?" tanya Doni.
"Langsung pulang aja," jawab Al.
"Eh tapi buku yang tuan inginkan belum kebeli. Katakan saja tuan, toko buku mana lagi selain di sana tadi yang menjual buku incaran tuan itu?" ucap Doni.
__ADS_1
"Selain disana tidak ada lagi yang jual. Udah lah, kita pulang aja," ujar Al.
"Tapi---"
"Om!" ucap Al memotong ucapan dari Doni itu sembari tatapan matanya kini menatap tajam kearah bodyguardnya tersebut.
"Oh oke oke. Kita pulang," ujar Doni pada akhirnya. Lalu setelahnya ia menepuk lengan kembaran yang tengah asik makan.
"Apaan sih pakai mukul-mukul segala. Kalau kamu mau ya beli sendiri lah enak aja mau minta," tutur Toni yang sepertinya tengah salah paham atas tepukan di lengannya tadi.
Doni yang geram dengan saudara kembarnya itu pun dengan ringan tangan ia memukul keras kepala Toni hingga membuat sang empu mengaduh kesakitan. Untung saja dia tak tersedak tulang ayam goreng yang tengah ia gigit itu.
"Jalan bego!" perintahnya dengan suara lirih tapi penuh penekanan sembari matanya mengkode Toni untuk melihat jika tuan muda mereka sudah berada di dalam mobil dan menunggu mobil itu dijalankan.
"Lho tuan muda sejak kapan udah masuk mobil lagi? Perasaan baru beberapa menit dia masuk ke toko buku itu. Cepat amat belanjanya," tutur Toni yang sepertinya baru menyadari jika bos kecilnya itu telah kembali.
"Jangan banyak tanya dulu. Buruan jalan, sebelum dia ngamuk nanti," ujar Doni yang langsung membuat Toni menganggukkan kepalanya. Dan setalah itu ia memindahkan makanan tadi ke pangkuan Doni.
Dan saat dirinya ingin menyentuh stir mobil tersebut, ia menatap tangannya yang penuh dengan minyak yang membuat dirinya kini berdecak karena di mobil itu kebetulan tisunya tengah habis. Dan entah karena jahil atau yang lainnya, Toni dengan sengaja menjadikan baju yang digunakan oleh Doni sebagai lap tangannya.
"Astaga! Jorok!" geram Doni.
"Disini gak ada tisu hehehe," ujar Toni dengan cengiran tak berdosanya itu. Sedangkan Doni, ia sekarang hanya bisa menggeram kesal. Jika saja di mobil itu hanya ada dirinya dan Toni, sudah bisa ia pastikan bahwa saudara kembarnya itu akan habis ditangannya. Tapi sayangnya ia sekarang tak berani melakukan hal tersebut karena ada tuan mudanya yang harus ia pentingkan terlebih dahulu. Tapi lihat saja nanti setelah tuan mudanya itu tak ada disekitar mereka, Toni pasti akan ia pukul sampai pingsan nanti.
__ADS_1
"Buruan jalan!" perintah Doni yang langsung membuat Toni kini mulai menjalankan mobil tersebut membelah jalanan yang teramat ramai walaupun tengah hujan seperti saat ini.
Sedangkan Al yang sebenarnya dengar semua pembicaraan kedua bodyguardnya tadi, ia hanya bisa menghela nafas dengan gelengan kepalanya. Entah kenapa dari sekian banyak bodyguard yang berada di rumahnya dan juga ratusan bodyguard yang dimiliki sang ayah, justru kedua bodyguard yang sering melakukan hal-hal diluar pikiran Al atau bisa dibilang bodyguard eror itu yang di pilih kedua orangtuanya untuk mengawasi, menjaga dan melindungi dirinya. Entahlah Al juga tak tau maksud dan tujuan orangtuanya itu memberikan bodyguard seperti mereka berdua.