
Kini Ciara sudah berada di lokasi rumah sakit sesuai yang Dea katakan lewat sambungan telepon tadi dan sebelumnya ia juga telah menelfon Olive jika ia akan telat kekantor. Awalanya Olive kekeh ingin ikut datang kerumah sakit itu tapi di tolak oleh Ciara, ia tak ingin Olive bolak-balik kekantor dan kerumah sakit nantinya. Apalagi jarak rumah sakit dan kantor Olive lumayan jauh jadi, biarkan Ciara saja yang mengurusnya.
Setelah mencari kesana-kemari ruangan yang di tempati Dea, akhirnya Ciara telah menemukan ruangan tersebut. Ia pun bergegas masuk kedalam dan segera berlari kearah Dea yang tengah terduduk di salah satu brankar disana.
"Katakan mana yang sakit!" ucap Ciara saat dirinya sudah berada disamping Dea sembari mengecek dengan detail tubuh Dea. Bahkan ia juga membolak-balikkan tubuh adik angkatnya itu.
"Kak, aku gak papa kok, cuma lecet-lecet dong," tutur Dea.
"Huh syukurlah kalau gitu. Terus mana orang yang kamu tabrak?" tanya Ciara.
"Di baker sebelah," jawab Dea.
Ciara pun mengangguk dan segera membuka tirai pembatas antara banker Dea dan brankar disebelahnya. Ciara memincingkan alisnya dan kembali menghadap ke arah Dea.
"Orangnya kok gak ada?" tanya Ciara. Dea pun ikut mengintip isi brankar sebelah dan benar saja orang yang ia tabrak tak disana.
"Lah tadi ada kok beneran deh. Atau mungkin lagi ke kamar mandi kali, Kak," ucap Dea.
Sesaat setelahnya terdengar suara pintu kamar mandi terbuka yang membuat Ciara dan juga Dea mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi.
Ciara mematung saat tatapannya bertemu dengan tatapan orang yang baru keluar dari kamar mandi tadi.
"Nah itu orang yang aku tabrak tadi kak," tutur Dea.
Ciara masih terdiam, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya melangkahkan kakinya menghampiri orang yang sama-sama tertegun ditempat.
Saat Ciara telah sampai di depan orang tadi. Air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
"Ki---Kiara," ucap Ciara.
"Kak Ciara," tutur Kiara setelah itu ia langsung memeluk tubuh Ciara dan dibalas pelukan rindu oleh sang empu.
"Kamu gak kenapa-napa kan? mana yang sakit?" tanya Ciara sembari melonggarkan pelukannya dan memutar tubuh Kiara untuk memastikan jika Kiara tak mendapat luka yang serius.
Kiara tersenyum dan kembali memeluk tubuh Ciara.
"Cuma lecet aja Kak. Kakak kemana aja selama ini? Kiara rindu," ucap Kiara dengan tangis bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia kembali bertemu dengan Ciara, Kakak kandungannya.
"Kakak juga rindu sama kamu," tutur Ciara.
__ADS_1
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan menyalurkan rasa rindu yang selama ini tertahan.
"Kak, kita pulang yuk," ajak Kiara setelah melepas pelukannya dan menghapus air mata yang berada di pipi Ciara.
Ciara tampak terdiam. Rasa takut dan malu untuk bertemu dengan kedua orangtuanya selalu berada di dalam diri Ciara.
"Kak, aku mohon. Pulanglah. Mama sama Papa selalu menunggu kepulanganmu dan semenjak kamu pergi dari rumah, Mama dan Papa semakin kacau, Kak," tutur Kiara dengan menundukkan kepalanya.
Ciara menggigit bibir bawahnya.
"Kak, aku mohon."
Ciara dengan ragu akhirnya menganggukkan kepalanya. Tak dapat dipungkiri ia juga sangat rindu dengan suasana rumahnya dan yang pastinya dengan pelukan hangat kedua orangtuanya. Selama ini ia hanya bisa mendoakan keluarga yang ia tinggalkan dari kejauhan, berharap mereka semua dalam keadaan baik-baik saja dan selalu di lindungi oleh sang pencipta. Dan saat ia mendengar perkataan dari Kiara tentang keadaan kedua orangtuanya itu membuat Ciara seketika khawatir.
Sedangkan Dea, ia sedari tadi hanya melihat keakraban antara Ciara dan Kirana dari kejauhan. Dan jika di lihat-lihat wajah orang yang ia tabrak itu sekilas mirip dengan Ciara yang membuat Dea penasaran.
"Kak," panggil Dea yang mode keponya tengah aktif.
Ciara yang membelakangi Dea pun langsung menoleh ke sumber suara.
"Astaga sampai lupa," tutur Ciara sembari memukul pelan keningnya.
"Kakak kenal wanita itu?" tanya Kiara sedikit berbisik.
"De, kenalin ini Kiara, adik kandung Kakak yang sering Kakak ceritain ke kamu," ucap Ciara.
"Dan Kiara, kenalin ini Dea, adik angkat Kakak," sambungnya.
Kedua wanita itu pun tersenyum dan saling berjabat tangan.
"Senang bisa berkenalan denganmu dan maaf untuk kejadian tadi," tutur Dea yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyum manis oleh Kiara.
"Terimakasih kamu sudah menemani Kak Ciara selama berada di luar sana," ucap Kiara.
Ciara pun tersenyum melihat interaksi dari kedua adiknya itu.
"Ya sudah, kalian istirahat dulu disini. Kakak mau ngurus administrasi kalian dulu," pamit Ciara setelah mendapat persetujuan dari keduanya, Ciara pun langsung melangkahkan kaki keluar dari ruangan tadi.
...****************...
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain lebih tepatnya dikantor Rodriguez Corp, Devano tampak termenung. Bahkan semenjak ia menginjakkan kakinya diruang kerjanya tak ada satu dokumen pun yang ia kerjakan.
"Setelah dulu kamu merendahkan harga diriku dan berniat untuk membunuh janin didalam kandungan ku, apakah kamu masih pantas dipanggil dengan sebutan Papa oleh Al?"
Perkataan yang terlontar dari mulut Ciara itu terus terngiang di telinga Devano.
"Arkh!!!" erang Devano.
"Maafin aku, Ci, maafkan Papa, Al. Ya Tuhan kenapa sangat menyakiti seperti ini menjalani karma atas perbuatanku dulu," monolognya dengan sendu.
"Arkh!!!" erangnya lagi dengan membanting apa saja di depannya untuk meluapkan semua rasa sakitnya itu bahkan tinjuan kearah tembok pun ia lakukan. Begitulah Devano kalau memang tengah frustasi, ia hanya akan melampiaskan semuanya pada dirinya sendiri.
"Woy gila lo ya Dev. Stop woy. Sadar," teriak Kevin setelah memasuki ruangan Devano. Ia tadinya hanya berniat untuk mengajak sepupunya itu berkumpul dengan teman-temannya yang lain, eh sampai diruang CEO, ia malah melihat Devano terus meninju tembok dihadapannya.
Teriakan dari Kevin tadi tampaknya tak mempengaruhi diri Devano. Ia masih saja melakukan hal yang sama hingga Kevin berhasil menarik dan menjauhkan tubuh Devano dari depan tembok tersebut.
"Dev sadar, hey," tutur Kevin.
"Lepasin gue, Kev," pinta Devano dengan isak tangis yang tertahan.
"Oke gue bakal lepasin lo setelah lo cerita apa yang sebenarnya terjadi sama lo," tutur Kevin sembari menepuk-nepuk punggung Devano dan ia segera menuntun Devano ke sofa di ruangan tersebut.
Setelah didudukan tubuh Devano kesalah satu sofa tadi, mata Kevin kini beralih menatap tangan Devano yang membuat dirinya langsung meringis ngeri akan luka yang menyebabkan darah segar mengalir di tangan Devano.
"Ceritain sekarang," desak Kevin.
"Gue hamilin anak orang, Kev," ucap Devano memulai membuka ceritanya.
Kevin membelalakkan matanya kala mendengar penuturan dari sepupunya itu.
"Hah? gue gak salah dengar kan?" tanyanya memastikan.
Devano menggelengkan kepalanya.
"Lo gak salah dengar. Gue memang udah hamilin anak orang dan anak kecil yang kalian sebut mirip dengan gue itu memang anak kandung gue dan Ciara yang dimaksud Olive itu adalah wanita yang dulu satu kampus dengan kita, teman Rahel. Waktu itu entah kenapa gue gak pikir panjang saat berhubungan dengan dia bahkan gue paksa dia buat lakuin hal menjijikkan itu sama gue walaupun dia menolak, memohon dan meronta agar gue gak lakuin hal itu. Tapi hasrat gue lebih besar dari pada akal sehat gue waktu itu. Dan 2 bulan kemudian, saat dia narik tangan gue di kantin kampus dan membawa gue pergi jauh dari kalian, sebenarnya dia minta pertanggungjawaban gue karena udah ambil keperawanannya dan juga pada saat itu juga ia tengah hamil anak gue, darah daging gue yang justru gue tolak mentah-mentah bahkan gue juga udah rendahin harga dirinya dan lebih kejamnya lagi gue nyuruh dia gugurin janin di dalam perutnya," tutur Devano menceritakan semua yang telah ia pendam selama beberapa tahun ini.
...****************...
Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗
Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋