
Ciara mendudukkan tubuhnya di sofa rumahnya. Ia benar-benar lelah setelah seharian mengurusi paspor Al dan juga Dea. Mereka berencana akan pindah kembali ke Indonesia setelah Olive memberitahu masalah kantor di tanah kelahiran Ciara semakin tak bisa dikendalikan oleh orang kepercayaan Olive, dan kantor tersebut kini harus secepatnya di selamatkan oleh sang pemenang saham terbesar disana.
Sebenarnya ia tak menginginkan untuk kembali di tanah kelahirannya tapi ya sudahlah. Mungkin sudah waktunya ia kembali dan beberapa bulan yang lalu di negara yang saat ini Ciara tempati, baginya sudah tak aman lagi karena sebelum ia pindah ke rumah barunya yang sekarang, rumah yang dulu sudah banyak mata-mata yang tengah memperhatikan rumahnya bahkan ia sempat menyembunyikan Al dan Dea supaya tak keluar rumah sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pindah rumah yang lumayan jauh dari rumah lamanya.
Kini Ciara memejamkan matanya guna untuk menghilangkan sedikit rasa lelahnya. Saat dirinya baru beberapa menit memejamkan mata, suara cempreng milik Al terdengar.
"Mama!" teriak Al yang baru bangun dari tidur sorenya karena Al tadi tidur saat jam menunjukkan pukul 2 sore dan kini ia baru bangun pukul 5 sore.
Ciara membuka kembali matanya dan menatap Al yang semakin hari semakin tumbuh besar. Bahkan ia terkadang tak percaya dengan pertumbuhan Al yang dulunya sering ia gendong kesana kemarin dan kini anak semata wayangnya itu sudah berumur 4 tahun. Dengan badan yang sehat dan aktif, pintar bahkan rasa ingin tahunya sangat tinggi yang kadangkala membuat Ciara harus berpikir keras mencari alasan dan juga jawaban untuk ia berikan ke Al.
Bayi yang dulunya tak diinginkan oleh siapapun kecuali Ciara kini menjadi sosok anak kecil yang selalu mengerti keadaan sang Mama dan ia tak pernah sama sekali merengek untuk di belikan mainan atau es krim dan semacamnya yang biasanya anak-anak sukai. Dan ketika ditanya oleh Ciara, kenapa Al tak pernah meminta dibelikan apapun olehnya ketika di mall atau supermarket? Al pasti akan menjawab bahwa dia sudah menjuluki dirinya bukan lagi anak kecil melainkan sudah menjadi pria dewasa yang tak menginginkan mainan apapun walaupun sebenarnya didalam hatinya tak bisa berbohong tapi dalam pikirannya memilih untuk tak menyusahkan Ciara dan membebani Mamanya itu.
Al bahkan cenderung memiliki sifat yang tertutup, pendiam dan juga selalu waspada dengan orang baru disekitarnya. Ia hanya akan percaya dengan orang terdekatnya terutama sang Mama. Dan semakin lama Al terlihat semakin mirip bahkan bisa dikatakan duplikat sang Papanya yang memiliki tatapan tajam dan mengintimidasi lawan bicaranya.
Dan setelah pertemuan yang tak disengaja dengan Devano beberapa tahun yang lalu di mall, Ciara sudah tak lagi menemukan keberadaan pria yang sudah ia cap sebagai laki-laki brengsek tersebut di negara Malaysia itu.
"Eh anak Mama, baru bangun bobok ya," ujar Ciara sembari membawa Al kedalam pangkuannya.
Al mengangguk dan menatap wajah Ciara dengan uluran tangan yang ia arahkan ke pipi Ciara untuk mengelus pipi Mamanya itu.
"Mama pasti capek ya?" tanya Al penuh perhatian.
Ciara tersenyum sembari mengecup pipi Al dengan gemas.
"Mama gak capek kok sayang. Cuma tadi ketiduran aja," jawab Ciara berbohong.
"Al udah mandi?" tanya Ciara untuk mengalihkan perhatian dari Al.
"Belum," jawabnya.
"Pantesan Al bau kecut," goda Ciara yang membuat Al langsung mengendus bajunya.
__ADS_1
"Masih wangi, Mama," ujar Al.
"Itu kan cuma baju kamu Al yang wangi kalau kulit Al udah gak wangi lagi."
"Masak sih?" tanya Al dengan polosnya.
"Iya tau. Ya udah kalau gitu Al mandi dulu sana. Mama mau nyiapin makanan untuk nanti malam. Al mau request apa?"
"Hmmm Al mau omlet," ucapnya.
"Siap bos."
"Thank you Mama," ujar Al sembari mencium pipi Ciara sebelum turun dari pangkuan sang Mama.
"You're welcome." Al kini sudah kembali ke kamar Ciara untuk segera melaksanakan ritual mandinya. Jangan heran Al sudah sering bahkan setiap hari Al akan mandi dan berganti baju sendiri tanpa bantuan dari siapapun terkecuali ketika ada yang benar-benar sulit baginya.
Sedangkan Ciara sudah mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.
"Mama belum selesai?" tanya Al. Ciara mengalihkan pandangannya kearah Al sembari tersenyum.
"Bentar lagi sayang," ucap Ciara lembut.
Al mengangguk tapi beberapa saat setelah itu, ia merasa ada yang kurang dirumah tersebut dan ia tersadar jika sang aunty tak di rumah.
"Mama!" panggil Al.
"Iya sayang."
"Aunty Dea kemana?" tanyanya.
"Owh aunty Dea lagi keluar belanja sayuran sama aunty Olive." Al mengangguk sembari membeo.
__ADS_1
Tak berselang lama Dea dan juga Ciara telah tiba kembali dirumah bertepatan dengan masakan Ciara matang.
"Assalamualaikum!" teriak Olive seperti biasanya.
"Waalaikumsalam," jawab Al dan juga Ciara berbarengan.
"Wah wangi sekali. Perutku sudah tak kuat menahan nafsu makan," ujar Ciara heboh kala menatap satu persatu hidangan di meja makan tersebut yang membuat Al memutar bola matanya malas.
"Ck aunty lebay sekali," ujar Al.
Mata Olive yang tadinya menatap makanan kini beralih kearah Al. Ia mencebikkan bibirnya.
"Heh aunty tuh gak lebay tau Al. Aunty hanya excited aja," ujar Olive.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Gak baik bertengkar di depan makanan seperti ini," lerai Ciara. Jika mereka berdua tak segera ia lerai sudah dipastikan bahwa nanti akan ada perang diantara keduanya.
Ya, begitulah ketika Al bertemu dengan Olive. Mereka akan bertengkar satu sama lain. Olive yang sering menggoda Al dan Al yang sangat suka jahil dengan Olive membuat keduanya terlihat seperti kartun Tom and Jerry.
"Aunty Olive duluan Ma yang ngajak berantem," tutur Al tak mau disalahkan.
"Lah kok aunty. Padahal Al dulu lho yang ngatain aunty lebay," ucap Olive.
Mereka berdua kini saling menatap tajam yang membuat Ciara menggelengkan kepalanya.
"Kalau kalian masih mau bertengkar. Jangan disini dan jangan harap kalian bisa mencicipi masakan ini," ujar Ciara.
Mereka berdua pun memutuskan kontak mata masing-masing dan langsung terdiam setelah mendengar ancaman dari Ciara tadi.
"Nah gini kan enak. Dari tadi kek," tutur Dea yang baru saja selesai menata barang belanjaannya tadi didalam lemari pendingin.
"Biasa lah De. Tom and Jerry kalau gak diancam dulu gak mau diam," ujar Ciara sembari mengambilkan nasi beserta omlet ke piring Al. Setelah itu baru ia dan juga yang lainnya mengambil makanan tersebut dan segera menyantapnya tanpa berbicara sedikit pun yang ada hanya bunyi piring dan sendok yang saling bertabrakan.
__ADS_1