Young Mother

Young Mother
Al Salting


__ADS_3

Saat mobil yang di tumpangi oleh Al sudah berhenti tepat di area rumah keluarga Devano, Al buru-buru untuk keluar dari mobil tersebut. Setelah berhasil keluar, Al langsung berlari masuk kedalam rumah tersebut.


"Mama!" teriak Al menggema memenuhi rumah tersebut.


Ciara yang baru menonton televisi di ruang keluarga pun terperanjat kaget dan segera membalas teriakan Al.


"Mama di sini sayang! di ruang keluarga!" teriak Ciara. Al yang awalnya ingin ke lantai atas pun mengurungkan niatnya saat mendengar suara teriakan Ciara dan kini ia berbelok arah menuju ke sumber suara.


Saat dirinya sudah masuk kedalam ruang keluarga, mata Al bisa menangkap sosok Ciara yang tengah duduk di atas sofa dengan cemilan di pangkuannya. Al kembali berlari.


"Mama!" teriak Al yang mampu membuat Ciara mengalihkan pandangannya dan menatap Al yang sebentar lagi sampai di hadapannya.


"Jangan lari-lari sayang," ucap Ciara lembut sembari menyingkirkan cemilannya tadi dan berusaha untuk duduk dilantai, menyambut pelukan Al.


HAP, Al sekarang berada di pelukan Ciara.


"Gimana sekolahnya hari ini sayang?" tanya Ciara sembari mengelus rambut Al.


Al melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ciara dengan cemberut.


"Hey kenapa kok wajah Al di tekuk gitu?" tanya Ciara. Tak ada jawaban dari sang empu, Al masih diam bahkan kedua tangannya kini sudah terlipat di depan dadanya.


Ciara yang paham jika anaknya itu tengah merajuk pun ia segera melancarkan aksinya dengan menciumi seluruh wajah Al agar anaknya itu kegelian dan tak merajuk lagi dengannya.

__ADS_1


Dan benar saja saat Ciara melancarkan aksinya, Al terus cekikikan karena ulah Ciara.


"Hahahaha geli Mama hahaha," ucap Al di sela tawanya.


"Rasain nih, siapa suruh Al gak mau jawab ucapan Mama. Nih biar Mama tambah lagi." Ciara menambah kecepatan mencium wajah Al dan berhasil membuat Al semakin tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahahaha stop hahahaha ampun Mama!"


"Gak mau. Mama akan terus cium Al sebelum Al berjanji buat menjawab pertanyaan Mama tadi dan berjanji gak ngambek sama Mama lagi." Setelah mengucapkan hal itu, Ciara kembali menciumi Al hingga sang empu menyerah dan mensetujui ucapan Ciara tadi.


"Hahahaha oke hahaha Al janji Mama. Stop hahahaha." Ciara tersenyum kemudian ia menghentikan aksinya. Ia menatap wajah Al yang memerah karena kebanyakan tertawa yang malah membuat Al semakin menggemaskan saja bagi Ciara.


"Hufttt, akhirnya," ucap Al sembari menangkup pipinya sendiri.


"Sekarang katakan bagaimana di sekolah hari ini?" tanya Ciara kembali.


"Seperti biasanya Ma. Al hanya berharap agar Al bisa cepat lulus dari taman kanak-kanak dan pindah ke sekolah dasar," ucap Al.


Ciara mengacak gemas rambut Al.


"Kenapa Al mau sekali beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi lagi daripada taman kanak-kanak?" tanya Ciara heran. Biasanya anak-anak seusia Al akan memilih berada di taman kanak-kanak selama mungkin tapi Al, ia sudah tak sabar untuk keluar dari sana.


"Al sudah bosan. Pelajarannya hanya itu-itu saja. Cuma menyanyi, menari, mewarnai, mengenal tulisan, mengeja bacaan, belajar menulis, dan masih banyak lagi pelajaran yang membosankan. Padahal Al sudah bisa semuanya. Al sudah bisa menulis dan membaca dengan lancar, hafal dengan lirik lagu yang sering sekali di nyanyikan disekolah dan Al juga sudah bisa mewarnai tanpa keluar garis. Sangat membosankan kalau belajar yang sudah kita bisa," adu Al. Ciara terkekeh mendengar curhatan anaknya itu. Dia sudah tak heran lagi dengan ucapan Al karena apa yang di sebutkan oleh Al tadi memang benar adanya. Dibandingkan dengan anak lainnya yang seusianya, Ciara mengakui jika kepintaran Al di atas mereka. Dia sudah bisa menulis dengan lancar bahkan tulisannya lumayan rapi, membaca dengan lancar tanpa mengeja lagi dan kepintaran yang lainnya yang membuat Ciara berdecak kagum saat mengajari anaknya belajar dirumah.

__ADS_1


Bahkan teori yang dia sendiri dapatkan di bangku SMP, Al sudah tau teori tersebut dan jika Ciara bertanya kepada Al kenapa anaknya bisa tau? Dia akan menjawab jika dia mendapatkan ilmu tersebut karena sebelum dirinya pulang biasanya dia meminta sopir dan bodyguard pribadinya untuk mampir ke sebuah perpustakaan daerah yang tak jauh dari sekolahnya dan saat dirinya berada di perpustakaan itu dia akan membaca buku-buku pelajaran yang tingkat kesulitan pelajaran tersebut jauh di atas kemampuan otak anak pada umumnya.


Bahkan para bodyguard yang selalu menempel dengan Al sempat terkejut saat mereka pertama kali menemani anak majikan mereka pergi ke perpustakaan dan mereka tambah terkejut lagi saat mereka sudah berada di perpustakaan, saat sang empu menuju ke deretan buku pelajaran di banding dengan buku yang berbau komik dan cerita anak. Ciara juga mewanti-wanti pada bodyguard Al, supaya mencegah Al jika sang empu ingin membaca buku yang berisi tentang alat reproduksi dan berbau-bau 18+ karena ia takut Al akan dewasa sebelum waktunya. Dan bodyguard mengiyakan apa yang di perintah oleh Ciara. Hingga sampai saat ini Al tak pernah membaca buku yang bertema 18+ itu.


"Al sabar ya, bentar lagi juga Al akan lulus dari taman kanak-kanak dan berpindah ke tingkatan lebih tinggi lagi," ucap Ciara.


"Hufttt Al sudah bosan tau Ma belajar disana."


"Iya sayang, Mama tau. Tapi setidaknya Al harus bersabar sebenar oke." Al tampak menghela nafas.


"Baiklah Al akan mencoba bersabar," ucap Al akhirnya. Ciara tersenyum kemudian mencium pipi Al dengan gemas.


"Oh iya bagaimana dengan dedek bayi di dalam perut Mama? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Al sembari mengelus perut Ciara yang sudah membesar karena usia kandungan Ciara saat ini sudah menginjak bulan ke tujuh.


"Tentu dong, dedek bayi dalam keadaan baik-baik saja. Dia sudah tak sabar mau ketemu Abang Al," ucap Ciara sembari mencolek dagu Al sekaligus menggoda anak pertamanya itu.


Al kini tersipu malu saat Ciara memangilnya dengan sebutan Abang.


"Ih, muka kamu kenapa merah gitu," goda Ciara yang tak ada habisnya dengan menahan tawanya.


"Ck, Mama ih. Dahlah Al mau ke kamar dulu. Dedek bayi Abang ke kamar dulu ya baik-baik di dalam," ucap Al sembari mengelus perut Ciara kemudian mencium perut tersebut sebelum akhirnya berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua tak lupa kedua tangannya memegang pipinya yang terasa panas akibat salah tingkah dengan ucapannya sendiri tadi.


Ciara yang melihat tingkah anaknya pun kini tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ya ampun gemes banget sih hahaha," ucap Ciara dalam tawanya sembari berusaha kembali duduk di atas sofa di ruangan tersebut.


__ADS_2