
Devano kini telah sampai di perkumpulan para anak buahnya yang lebih dulu ia kerahkan untuk mencari Al dan mengikuti jejak dari sinyal yang terpancar dari jam tangan Al.
Devano kini turun dari mobil yang ia tumpangi dan salah satu anak buahnya kini menghadapnya.
"Tuan, saya rasa tuan muda tengah diculik dan di bawa kedalam hutan. Karena sinyal itu kini mengarah ke hutan," ucap anak buah Devano yang tak lain adalah Nando.
Devano kembali mengecek ponselnya yang terus menampilkan titik lokasi dimana Al berada saat ini.
"Kita kesana sekarang," ucap Devano dan segera kembali masuk kedalam mobil, di mana didalam mobil itu masih ada Daddynya dan juga mertuanya.
"Anak buah kamu sudah menemukan Al?" tanya Daddy Tian yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Devano.
"Belum Dad. Dan kita sekarang berniat buat masuk kedalam hutan dan menghampiri titik lokasi Al sekarang berada," ucap Devano dengan bersiap untuk melajukan mobilnya.
Daddy Tian yang tau perasaan anak satu-satunya itu, tangannya kini bergerak dan menepuk-nepuk pundak Devano.
"Yakinlah Dev, Al tidak akan kenapa-napa. Anak buah kita berdua juga sudah menuju kesini," ucap Daddy Tian menenangkan Devano. Devano pun memaksakan senyumannya.
"Terimakasih Dad, Pa atas bantuannya," jawab Devano. Kedua laki-laki paruh baya itu membalas ucapan Devano dengan senyuman.
Kini mobil yang di kendarai oleh Devano bergerak menuju ke suatu titik yang tak berpindah-pindah lagi seperti sebelumnya dan Devano yakin jika di titik itulah Al sekarang berada. Tak lupa para anak buah Devano juga turut mengikuti laju mobilnya dari belakang.
Sedangkan disisi lain, Al mengerjabkan matanya setelah obat bius yang di berikannya tadi hilang dan untungnya Al tadi hanya menghirup sedikit, alhasil ia cepat sadar dari biusan tadi. Dan saat matanya terbuka lebar Al menyipitkan matanya saat ia melihat hanya ada secelah cahaya yang masuk didalam ruangan yang sangat gelap dan pengap itu.
"Al sekarang ada dimana?" tanya Al pada dirinya sendiri.
"Ruangannya sangat gelap sekali," gumamnya lagi.
__ADS_1
"Awwww, dan ini kenapa Al bisa diikat seperti ini," geram Al saat ia merasakan kedua tangannya diikat erat oleh tali begitu juga dengan kakinya.
"Ah iya Al baru ingat kalau Al kan diculik tadi. Ck, Al juga bisa-bisanya lalai jadinya kan berakhir di ruangan ini. Huh Tante badut jahat," gerutu Al sembari menggoyang-goyangkan tangannya, mencoba untuk melepaskan ikatan itu tapi sayang usahanya sia-sia. Tali itu tak terlepas dan semakin lama ia menggerakkan tangan maka semakin terasa sakit.
"Kalau hanya seperti ini terus tak akan bisa lepas. Al harus punya benda tajam supaya talinya nanti bisa lepas dari tangan Al," ucap Al sembari mengedarkan pandangannya dan hanya warna hitam gelap yang ia lihat.
"Tapi Al harus cari dimana sedangkan disini gelap semua. Al gak bisa lihat," sambungnya dengan suara sedih.
Saat dirinya tengah tertunduk, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka lebar dan tak berselang lama lampu dari ruangan itu menyala sehingga membuat ruangan yang tadinya gelap gulita kini berubah menjadi terang benderang.
Al kini menolehkan wajahnya kearah orang yang tadi telah membuka pintu ruangan tersebut dan menyalakan lampunya. Awalnya ia tersenyum karena ia pikir yang datang adalah Papanya tapi setelah melihat orang yang sangat muak ia lihat pun senyuman itu hilang dan terganti dengan wajah yang datar.
Orang yang tak lain adalah Tiara dan sekitar 10 bodyguard masuk keruangan tersebut. 8 dari bodyguard tadi langsung menyebar keseluruhan ruangan tadi sedangkan dua yang lainnya mengikuti Tiara untuk mendekat kearah Al.
Dengan tangan yang terlipat di depan dadanya Tiara berdiri di depan Al. Kemudian Tiara kini mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah Al.
Al masih terdiam tak ingin menjawab ucapan dari Tiara tadi.
"Oh ya aunty mau kasih tau kamu kalau sebentar lagi aunty akan jadi Mommy tiri kamu. Jadi aunty harap kamu jangan bandel ya dan harus nurut sama aunty karena setelah ini mungkin Mama kamu yang murahan itu akan di tendang oleh Papa kamu," sambung Tiara.
Al yang mendengar Mamanya di rendahkan oleh Tiara pun kini mengepalkan tangannya. Ia tak akan membiarkan siapapun untuk merendahkan Mamanya yang sudah merawat dan membesarkan dirinya dari kecil. Mau orang itu anak kecil, orang dewasa atau sudah tua bangka sekalipun ia akan melawan orang itu demi melindungi harga diri Mamanya. Ia tak peduli jika keselamatan dan tenaganya jauh dari lawannya.
"Ih kenapa mata kamu melotot gitu hmm? mau marah sama aunty, mau mukul aunty. Iya? eh tapi kan kamu gak bisa mukul aunty, ah aunty lupa, maaf ya. Tapi apa yang aunty ucapkan tadi memang benar adanya lho Al. Mama kamu itu memang murahan, gak tau malu. Hanya ngemis sama Papa kamu supaya dapat hartanya saja. Dan setelah Papa kamu bangkrut, Mama kamu itu akan ninggalin Papa kamu sendirian. Ck kasihan sekali ya Papa kamu itu sudah memilih wanita yang salah, ditambah murahan pula," tutur Tiara diakhiri dengan senyum miringnya. Ia berniat meracuni otak Al agar Al nanti membenci Ciara atau Devano dan berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Dan jika nanti Al memihak Ciara maka akan sangat mudah bagi Tiara untuk kembali mendekati Devano tanpa halangan lagi. Tapi jika Al berpihak kepada Devano maka ia akan menjaga sikapnya dan bermain trik supaya terlihat menyayangi Al dihadapan Devano dan setelah ia berhasil mendapatkan hati Devano dan menikah dengan laki-laki pujaannya itu maka langkah selanjutnya ia akan membunuh, melenyapkan Al dari dunia ini supaya tak menghalangi kehidupannya dengan Devano nantinya. Ck Ck Ck dasar licik dan berotak iblis wanita satu ini.
Al yang melihat seringai dari Tiara pun tanpa pikir panjang ia meludahi wajah Tiara.
__ADS_1
"Kurang ajar!" geram Tiara sembari mengusap kasar wajahnya yang terkena ludah Al tadi.
"Kenapa? apa anda tak terima muka tebal dan sok narsis anda saya ludahi? Oh ya apa anda juga tak punya kaca sehingga anda merendahkan Mama saya tanpa melihat diri anda sendiri sebelum berucap? Bahkan jika saya lihat-lihat andalah yang sebenarnya wanita murahan itu. Menghalalkan segala cara agar bisa membuat Papa saya menerima cinta anda. Jadi kita sudah tau yang sebenarnya murahan itu adalah anda bukan Mama saya," tutur Al. Entah dari mana tindakan dan cara bicaranya itu ia dapatkan. Mungkin ia mendapatkan pengalaman saat dirinya dulu di bully sebelum bertemu Devano dulu. Alhasil dirinya menerapkan pengalamannya itu di hadapan Tiara saat ini. Jadi Al tak salah bukan dalam mempraktekkan pengalamannya?
"Sialan. Anak haram, berani-beraninya ya kamu!" Tiara kini mencengkeram kuat rahang Al hingga membuat Al meringis kesakitan.
"Aunty tadinya hanya ingin berbicara dan memperlakukan kamu secara baik tapi setelah aunty lihat reaksi kamu, sepertinya aunty berubah pikiran dan lebih baik kamu lenyap di dunia ini selamanya, dasar anak haram." Tiara semakin mengeratkan cengkramannya.
"Dan setelah kamu mati, giliran Mama kamu yang bakalan Aunty lenyapkan dan menyusul kamu ke neraka. Setelah itu Papa kamu akan sangat mudah aunty dapatkan hahahaha," sambungnya diakhiri dengan tawa yang menggelegar memenuhi ruangan tersebut dan tangan yang digunakan untuk mencengkeram rahang Al kini sudah terlepas.
Al menatap tajam kearah Tiara yang masih saja tertawa cukup keras.
"In your dreams! Sampai kapan pun Papa tidak akan pernah tertarik dengan anda bahkan jika saya dan Mama mati sekalipun!" teriak Al yang mampu menghentikan tawa gila dari Tiara tadi.
Dan kini mata kedua orang berbeda usia itu saling beradu satu sama lain dengan tatapan yang penuh dengan kobaran kebencian.
"Bunuh dia sekarang juga!" perintah Tiara yang sudah sangat geram dengan Al, kepada kedua bodyguard yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Kedua bodyguard tadi menganggukkan kepalanya dan segera maju kedepan, berhadapan langsung dengan Al yang tengah menatap mereka berdua secara bergantian.
"Mari bersenang-senang terlebih dahulu adik kecil sebelum kamu nanti kehilangan nyawa," ucap salah satu bodyguard tadi dengan mengelus rambut Al lebih tepatnya menjambak.
Al meringis saat kepalanya mengikuti arah jambakan dari bodyguard tadi. Ia hanya bisa pasrah saja untuk kali ini toh kalau ia melawan juga tak bisa.
Hingga akhirnya bodyguard tadi sepertinya puas bermain-main dengan rambut Al hingga tangan yang tadinya di rambut kini terangkat keatas dan bersedia untuk menampar pipi Al. Al yang tau akan hal apa yang selanjutnya terjadi pun kini memejamkan matanya bersiap menerima tamparan yang ia yakini rasanya pasti sangat sakit.
Tapi saat dirinya sudah menutup mata dengan erat, bukannya bunyi tamparan yang mendarat di pipinya yang ia dengar melainkan bunyi tembakan yang nyaring masuk kedalam indra pendengarannya.
__ADS_1