
Devano yang paham akan ketakutan Al pun langsung menjauhkan pistol tadi dari tangan Al. Ia benar-benar tak tega melihat buah hatinya tengah syok berat seperti saat ini ditambah wajah Al sekarang berubah menjadi pucat pasi.
"Maafin Papa, boy," ucap Devano sembari membawa tubuh Al kedalam pelukannya yang membuat Al tadinya terdiam kini mulai kembali tersadar.
"P---papa, Al takut hiks," tutur Al sembari membalas pelukan Devano dengan begitu erat.
"Maaf, boy maaf. Kita pulang sekarang ya." Al menganggukkan kepalanya setelah itu Devano menggendong tubuh Al dan melepas penutup telinga keduanya lalu melemparnya secara asal.
"Eh eh eh mau kemana kamu?" teriak Rahel dan para sahabat Devano lainnya. Tapi teriakan itu tak membuat Devano berhenti melangkah hingga saat dirinya berada di depan Ciara, ia menatap sendu kearah sang istri.
"Kita pulang sekarang," perintah Devano sembari meraih tangan Ciara dan saat ia ingin menarik tubuh Ciara untuk mengikuti langkah, Ciara tetap terdiam di tempat tak ingin bergerak sama sekali. Bahkan cekalan Devano tadi ia lepaskan begitu saja. Dan tangan Ciara kini beralih untuk mengelus pipi Devano saat sang empu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hey, tenaga lah. Kalau kamu kayak gini, Al juga gak akan nyaman dalam proses penyembuhannya. Aku tau sebelum kamu menembak peluru tadi, perasaan kamu sudah tak yakin dengan apa yang kamu lakukan. Dan itu juga mempengaruhi Al. Kamu tau sendiri kan, Al dan kamu itu punya ikatan batin yang sangat kuat. Jadi jika kamu resah dan ragu. Al juga akan seperti itu," tutur Ciara lembut. Berusaha untuk menenangkan hati suaminya itu.
"Dan jika kamu seperti ini terus kapan Al akan sembuh, sayang. Apa kamu mau lihat Al tumbuh dewasa dengan traumanya itu?" Devano terdiam sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu gak mau. Jadi, please kamu harus hilangkan keresahan dan lain sebagainya dihatimu. Tuntun Al untuk menghilangkan traumanya," sambung Ciara.
Devano tampak menghela nafas.
"Oke, tapi Al harus istirahat dulu." Ciara menganggukkan kepalanya lalu ia beralih menatap Al yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Devano.
"Al," panggil Ciara dengan lembut sembari tangannya mengelus kepala Al.
"Al mau kan berlatih pistol lagi?" Al dengan mantap menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau Al gak mau berlatih pistol, bagiamana Al nanti bisa lindungi Mama sama baby Kiya dari orang jahat?" Al tampak terdiam. Ia benar-benar selalu berpikir keras saat sesuatu menyangkut Mama dan adik kecilnya itu. Bahkan apapun akan ia lakukan untuk membahagiakan mereka berdua juga Papanya.
Dan kini perlahan wajah Al yang sedari tadi tersembunyi pun kini mulai terangkat.
"Al mau berlatih lagi Ma, hiks. Al mau lindungi Mama sama baby Kiya," tutur Al dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Ciara tersenyum sembari menghapus air mata Al.
"Sini sama Mama, kita istirahat dulu ya. Al mau apa hmm? biar Mama belikan," ujar Ciara sedikit menyogok Al agar tak menangis lagi.
Al menggelengkan kepalanya sembari melingkarkan tangannya ke leher Ciara saat gendongan Devano tadi sudah berpindah tempat.
"Yakin nih? es krim juga gak mau?" kini Devano juga ikut merayu anak laki-lakinya itu.
Saat mendengar kata es krim terlontar dari bibir Devano, Al langsung menegakkan kepalanya dan menatap Devano dengan berbinar bahkan wajah sendunya dan ketakutannya tadi dengan sekejap hilang begitu saja tergantikan dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Baiklah, Papa akan beliin Al es krim. Tapi janji nanti harus belajar menembak lagi seperti tadi dan Al juga gak boleh takut, oke boy?" Tanpa berpikir panjang Al langsung menganggukkan kepalanya begitu saja. Devano yang gemas pun mengacak-acak rambut Al sebelum dirinya pergi dari lapangan tembak tersebut untuk mencarikan kemauan Al tadi.
Sedangkan yang sebelumnya hanya menjadi seorang penonton pun kini mulai merapat kearah Al juga Ciara yang sudah duduk disalah satu kursi disana.
"Al mau lihat Uncle menembak gak?" Al menggelengkan kepalanya.
"Kenapa gak mau sih Al? padahal menembak itu seru lho," ucap Rafa.
"Al takut Uncle." Rafa menghela nafas dan berpura-pura cemberut didepan Al.
__ADS_1
"Al gak boleh takut. Kalau Al takut, Uncle jadi sedih. Jadi Al harus coba sekali lagi ya, tapi sekarang sama Uncle bukan sama Papa lagi. Biar rasa takut Al cepat hilang. Kalau gak, Uncel ajak Al buat lihat-lihat pistol-pistol didalam. Al mau?" tanya Rafa yang masih berusaha untuk ikut andil dalam penyembuhan Al.
Al tampak berpikir yang berakhir ia menerima ajakan dari Rafa.
"Al mau lihat pistol aja Uncle. Kalau latihan menembak, Al mau sama Papa aja," ujar Al.
"Siap deh, kalau gitu let's go," sorak Rafa yang membuat Al terkekeh.
Dan kini keduanya dengan saling bergandengan tangan meninggalkan segerombolan orang-orang tadi.
Saat tubuh Al juga Rafa tak terlihat lagi, Ciara mulai menatap satu-persatu kearah sahabat-sahabatnya itu.
"Thanks ya kalian udah ikut support Al," ucap Ciara.
"Gak perlu berterimakasih kali, Ci. Al itu udah kita anggap sebagai anak kita sendiri. Walaupun didalam diri Al tidak ada darah yang mengalir darah kita semua, kita bisa ngerasain bagaimana menderitanya Al melewati semua ini. Perasaan kita semua sama seperti perasaanmu maupun Devano. Jadi ini juga merupakan kewajiban kita untuk selalu mensupport Al sampai dia benar-benar sembuh. Al anak kita semua. Al sakit berarti kita juga ikut sakit, Al bahagia berarti kita juga bahagia," ujar Rahel yang mampu membuat Ciara meneteskan air matanya yang sedari tadi berusaha ia tahan.
"Uhhhh sayang kalian semua," ucap Ciara dengan memeluk keempat perempuan didepannya tersebut.
"Cuma yang berjenis kelamin perempuan nih yang diajak berteletubbies riya? kita yang punya batang boleh ikut gak. Pengen juga nih meluk bini orang," ceplos Vino yang tak sadar jika dibelakangnya ada Devano yang siap menghajarnya habis-habisan.
"Coba katakan sekali lagi!" perintah Devano yang membuat semua orang disana mengalihkan pandangan ke sumber suara.
Vino yang melihat tatapan mematikan dari Devano pun langsung mundur beberapa langkah kebelakang sembari nyengir tak berdosa.
"Canda kali Dev. Gitu aja ditanggapi serius. Tapi kalau Ciara atau Rahel mau ya ayok aja sih aku mah," ujar Vino yang lagi-lagi mendapatkan tatapan lebih tajam lagi dari dua laki-laki yang notabenenya suami dari dua wanita yang ia sebut tadi.
__ADS_1
"Sebelum lo nyentuh kulit Rahel, gue pastiin tangan lo lepas dari badan," ujar Zidan.
"Nyentuh Ciara, penggal kepala," sambung Devano yang membuat semuanya bergidik ngeri tapi setelahnya semua orang disana di buat tertawa terbahak-bahak oleh Vino yang kini telah lari terbirit-birit menjauhi mereka semua lebih tepatnya Devano dan Zidan, sang sahabat yang sangat mengerikan.