Young Mother

Young Mother
Titik Terang


__ADS_3

Zidan terus melangkah meninggalkan Rahel yang menatap kepergiannya dengan tangis yang semakin lama semakin menjadi. Hingga saat tubuh Zidan ingin masuk kedalam rumah keluarga Rodriguez, tak ia sangka langkahnya harus terhenti ketika ada sebuah tangan yang melingkar indah di pinggangnya, memeluknya dari belakang.


"Maaf hiks," ucap Rahel. Yap orang yang memeluk Zidan adalah Rahel. Entah apa yang membuat wanita itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. Ia tak berani bertanya maupun membalikan badannya. Suaranya terasa tertahan di tenggorokan tak bisa keluar sedangkan tubuhnya terasa membeku tak bisa bergerak sedikitpun.


"Zi, maafin aku," tuturnya kembali. Kini Zidan menghela nafas menetralkan semua kekacauan di dalam dirinya saat ini sebelum akhirnya ia melepaskan tangan Rahel yang melingkar di perut sixpacknya kemudian ia memutar menghadap Rahel. Menatap wajah cantik itu yang sudah tampak berantakan.


"Sudah Hel. Jangan minta maaf, kamu gak salah. Mungkin ini semua sudah takdir kita untuk tak saling bersama. Udah ya jangan nangis lagi, walaupun aku sekarang ingin menjauh dari kamu tapi aku gak mau lihat air mata kamu jatuh seperti ini," ucap Zidan sembari menghapus air mata Rahel.


"Stop Zi stop." Zidan menghentikan aktivitasnya dan menjauhkan tangannya dari pipi Rahel.


"Maaf udah lancang," tutur Zidan.


"Zi," panggil Rahel dengan menatap wajah Zidan yang terlihat sangat sedih walaupun sang empu terus tersenyum kepadanya.


"Hmm?"


"Aku minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan ke kamu," tutur Rahel sembari menundukkan wajahnya kembali.


"Sudah tak apa Hel. Aku tadi kan udah bilang kalau kamu gak salah sama sekali. Akunya saja yang tak tau diri."


"Please Zi jangan bicara seperti itu."


"Baiklah aku gak akan bilang seperti itu lagi. Tapi please berhenti nangisnya ya. Hapus air mata kamu dan kamu sebelum ketemu sama mereka cuci muka dulu oke biar lebih fresh dikit. Aku masuk duluan takut yang lain curiga. Dan masalah perjodohan kita biar aku yang selesain nanti. Kamu tak perlu khawatir dan aku pastikan perjodohan itu batal. Jangan nangis lagi ya, aku benar-benar gak suka lihat kamu nangis Hel. Atau Kamu duluan saja ya yang masuk biar aku belakangan," tutur Zidan dengan suara serak seperti menahan tangisnya.


Rahel menggelengkan kepalanya.


"Kita hiks masuknya bersama. Aku gak mau sendiri Zi," tutur Rahel.

__ADS_1


"Hel, kalau kita berdua masuk kedalam secara bersamaan mereka akan curiga ke kita dan kamu gak mau kan kalau mereka tau permasalahan kita? ya sudah kalau kamu gak mau masuk, biar aku yang masuk dulu." Zidan memutar tubuhnya dan baru melangkahkan kakinya satu langkah, lengannya dicekal oleh Rahel.


"Zi, aku mau kita masuk bareng! biarkan mereka curiga sama kita, dan aku mohon jangan batalkan perjodohan itu." Zidan menoleh kearah Rahel sembari mengerutkan keningnya.


"Kalau aku gak bertindak untuk mencegah perjodohan ini, orangtua kita masih akan mendesak kamu buat nerima ini semua. Aku gak mau karena masalah ini, kamu merasa tambah terbebani. Aku akan tetap mem---"


"Stop Zi. Perjodohan ini akan tetap berlangsung. Aku akan menerima perjodohan ini," ucap Rahel. Zidan melongo tak percaya dengan ucapan Rahel. Tadi saja wanita itu menolak mati-matian tapi sekarang kenapa berubah pikiran?


"Hel, jangan paksakan diri kamu buat nerima perjodohan ini. Toh aku juga akan berusaha untuk menerima semua keputusan kamu dan aku akan berusaha untuk melupakan kamu," tutur Zidan.


Rahel menengadahkan kepalanya dan setelah itu ia berhamburan ke pelukan Zidan.


"Please Zi jangan lupain aku. Biarkan perjodohan ini terus berlanjut. Sebenarnya aku tak keberatan dengan perjodohan ini dan saat Mama bilang pertama kali tentang perjodohan kita, aku sempat memikirkan hal ini karena ternyata ada rasa nyaman, sayang dan cinta di hatiku untuk kamu. Tapi karena pada malam itu aku lihat kamu bersama dengan wanita lain, bahkan tanpa bertanya lebih dahulu ke kamu, aku langsung menolak perjodohan ini. Karena aku pikir kamu udah punya wanita yang kamu suka. Maaf atas keegoisanku Zi, maaf," tutur Rahel yang membuat Zidan tersenyum lebar.


"Apa kamu yakin 100% dengan keputusan untuk melanjutkan perjodohan ini?" tanya Zidan. Rahel menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Zidan tadi.


"Aku gak akan menyesal. Karena ini sudah aku pikirkan secara matang-matang. Atau malah kamu sekarang yang mulai ragu dengan perjodohan ini? Kalau kamu masih mau membatalkan perjodohan ini ya sudah," ucap Rahel sembari melepaskan pelukannya tak lupa bibirnya maju beberapa senti kedepan. Bahkan raut wajahnya terlihat begitu menyedihkan.


Zidan terkekeh kecil, lalu ia pun membawa tubuh Rahel kembali kedalam pelukannya. Bahkan pelukan itu sangat erat, takut jika wanitanya itu akan pergi darinya lagi.


"Terimakasih karena sudah berubah pikiran. Aku harap kamu gak akan menyesali keputusan kamu ini. Maaf karena aku terlambat menjelaskan kesalahanpahaman ini ke kamu. Aku benar-benar sayang kamu Hel. I love you," tutur Zidan.


"Menggelikan sekali. Tapi, I love you too," balas Rahel dengan senyum bahagia yang sudah menggantikan kesediaannya tadi. Ia benar-benar lega sekarang dan semoga apa yang di katakan oleh Zidan tadi tak akan terjadi di dirinya. Semoga dirinya tak akan pernah menyesali keputusannya itu di masa depan.


Zidan kini melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Rahel.


"Make up kamu luntur Hel," tutur Zidan yang langsung membuat sang empu mengambil kaca kecil di saku celananya. Lalu ia menyingkirkan tangan Zidan dan menatap wajahnya dari pantulan kaca tersebut.

__ADS_1


"Astaga. Hehehe maaf. Aku ke kamar mandi dulu bye. Awas jangan sampai membatalkan perjodohan kita," ucap Rahel dengan menatap garang kearah Zidan.


"Gak akan sayang. Udah sana ke kamar mandi. Aku duluan nyamperin mereka oke." Rahel tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Baiklah. Aku pergi sekarang." Rahel kini berlari menuju kamar mandi di dalam rumah tersebut.


Sedangkan Zidan, ia menatap kepergian Rahel dengan senyum yang mengembang.


"Dasar calon bini," gumamnya, setelah itu ia menuju ke ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, semua orang yang sudah selesai menyelesaikan makan siangnya menatap ke arahnya.


"Lo tadi pup ya. Ke kamar mandi aja sampai lama banget," tutur Vino.


"Kepo lo, kayak Dora," ucap Zidan sembari duduk di kursinya tadi.


Tak berselang lama Rahel bergabung dengan mereka semua. Dan tatapan semua orang yang sebelumnya mereka tujukan ke Zidan kini beralih ke Rahel yang hanya bisa nyengir membalas tatapan semua orang kemudian ia duduk di samping Al.


"Aunty kenapa lama sekali sih?" tanya Al sembari mengerucutkan bibirnya.


"Maaf boy. Tadi aunty ada masalah sedikit yang harus aunty selesaikan. Oh ya, Al sudah selesai makannya?" tanya Rahel dengan lembut.


"Al gak mau makan kalau gak di suapin kamu, Hel," bukan Al yang menjawab melainkan Ciara yang menimpali ucapannya tadi.


"Ya sudah sini biar aunty yang suapi Al lagi." Rahel mengambil makanan Al dan dengan telaten ia kembali menyuapi sang keponakan tampannya itu. Setiap gerakannya tak luput dari pandangan Zidan yang terus menatapnya tanpa berkedip bahkan sesekali senyumnya terukir di bibirnya.


"Wanjir, nih orang gila atau gimana sih? tadi aja saat mau keluar dari ruang makan, mukanya kayak singa yang kebakaran jenggot tapi sekarang malah senyum-senyum sendiri gak jelas," bisik Vino ke Kevin.

__ADS_1


"Berisik!" Ucap Zidan yang mendengar bisikan dari Vino tadi tanpa melepaskan pandangannya dari calon istrinya itu.


__ADS_2