
Devano kini melangkahkan kakinya saat Bian sudah melepaskan cekalan tangannya dengan tatapan tajam yang ia arahkan ke kepala sekolah tersebut. Dan baru saja sampai, Devano langsung melayangkan pukulan keras tepat di pipi kepala sekolah tersebut. Dan jika saja dirinya tidak dicegah oleh Al mungkin saat itu juga kepala sekolah tersebut nyawanya sudah melayang di tangan Devano. Tau sendiri bagaimana iblisnya Devano saat melihat keluarganya terutama anak-anak di lukai oleh orang lain, contohnya sudah ada Tiara yang menjadi korban ke iblisan Devano.
"Papa, sudah," ucap Al sembari memegang lengan Devano.
Devano kini menghela nafas berulang kali untuk mengontrol emosinya lalu setalahnya ia memutar tubuhnya kemudian memeluk Al dengan erat.
"Kita kerumah sakit sekarang ya sayang," ucap Devano saat dirinya sudah melepaskan pelukannya dan kini ia menatap pipi Al yang memar juga darah di sudut bibir Al.
Tangan Devano kini bergerak untuk mengusap darah tersebut dengan lembut. Hatinya benar-benar teriris saat melihat Al terluka seperti ini.
"Al tidak kenapa-napa Papa, Al hanya ditampar saja," ujar Al.
"Tidak. Kamu harus tetap kerumah sakit sekarang. Biar diantar Om Doni sama Om Toni," ucap Devano yang membuat Al menghela nafas pasrah. Lalu setelahnya Devano menatap kearah Doni dan Toni yang tadi juga ikut ke sekolah tersebut. Dan hanya lewat tatapan mata saja, kedua bodyguard itu sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Sehingga kini keduanya bergegas menuju kearah Al.
"Mari tuan muda, kita kerumah sakit sekarang," tutur Doni yang diangguki Al.
"Om, Yura mau ikut," ucap Yura dengan takut. Dan perkataannya tadi membuat ketiga orang tadi menghentikan langkahnya. Doni dan Toni yang tak tau harus mengiyakan atau tidak pun mereka langsung menatap kearah Bian. Bian yang paham akan tatapan keduanya pun ia menghela nafas lalu setalahnya ia kini mendekati Yura.
"Yura jangan ikut dulu ya, nak. Yura harus tetap disini buat kasih penjelasan ke kita semua tentang kejadian tadi. Yura mau kan menuruti apa yang Papa katakan?" ucap Bian dengan lembut sembari mengelus rambut Yura.
__ADS_1
"Tapi Yura khawatir sama Al, Papa," ujar Yura dengan suara lirih dan kepala yang menunduk.
"Al tidak papa, Yura. Al hanya terluka sedikit. Jadi Yura tidak perlu khawatir lagi. Iya kan Al?" timpal Devano yang kebetulan tadi sempat dengar suara lirih dari Yura tadi.
Al kini menolehkan kepalanya kearah sang ayah. Dan saat itu juga Devano mengkode agar Al mengiyakan perkataannya tadi. Al yang melihat kode itu pun memutar bola matanya malas, lalu setalahnya ia mulai angkat suara.
"Apa yang di katakan, Papa tadi benar. Aku tidak kenapa-napa, tidak perlu khawatir. Kamu tetap disini, bantu mereka untuk menceritakan dari awal masalah ini bisa terjadi," ujar Al lalu setalahnya ia kembali melangkahkan kakinya yang langsung diikuti oleh kedua bodyguardnya itu.
Yura yang melihat Al mulai menjauh darinya dan juga ia tak diberi izin untuk ikut kerumah sakit pun ia kini mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya jangan begitu. Nanti juga Yura bisa jenguk Al dirumah," ucap Bian yang sama sekali tak membuat Yura menghilangkan kerucutan di bibirnya. Bian yang melihat hal itu pun kini ia mengigit bibir bawahnya. Kalau Yura sudah mode ngambek begini, siap-siap dirinya akan di buat pusing nanti.
"Seret dia ke kantor kepala sekolah. Pastikan dia tidak kemana-mana sebelum saya masuk ke ruangan itu. Bawa sekalian anaknya juga," perintah Devano yang langsung dilakukan oleh para bodyguardnya itu.
"Ah Papa, bantu Henry melepaskan tangan orang ini dari tubuh Henry!" teriak Henry saat salah satu bodyguard tadi sudah menggendong tubuhnya. Bahkan ia terus menggerakkan tubuhnya, berusaha untuk melepaskan gendongan bodyguard tadi.
"Diam. Tubuh kamu sudah bau begini, jangan bikin orang lain susah. Cukup diam dan jangan memberontak. Kalau sampai kamu bergerak lagi, saya tidak akan segan-segan melempar kamu ke tong sampah biar tambah bau sekalian," geram bodyguard tadi yang berhasil membuat Henry tak lagi menggerakkan tubuhnya.
"Nah diam begini kan lebih memudahkan pekerjaan saya," ujar bodyguard tadi sembari menutup hidungnya dengan satu tangannya yang tak ia gunakan untuk menggendong tubuh Henry. Untung saja tubuh anak itu tidak terlalu berat, jika saja dia berat, bisa-bisa bodyguard itu pingsan karena tak kuasa menahan bau comberan dari tubuh anak itu juga tak kuat menahan beban berat badan dari Henry.
__ADS_1
Saat kepala sekolah dan Henry sudah mulai menjauh, Devano kini menatap satu-persatu guru-guru disana yang kini tengah menundukkan kepalanya. Karena mereka tau, Devano adalah bagian keluarga dari pemilik sekolah tersebut.
"Terimakasih kalian sudah membantu Al tadi. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, saya berharap untuk hari ini kegiatan belajar-mengajar diliburkan terlebih dahulu. Buat alasan yang masuk akal dan kirimkan ke para orangtua mereka agar mereka langsung menjemput anak-anak mereka yang sudah terlanjur datang ke sekolah ini," ujar Devano yang membuat semua guru disana menganggukkan kepalanya mensetujui perintah Devano tadi.
"Terimakasih atas bantuan Bapak dan Ibu sekalian. Saya pamit undur diri terlebih dahulu, selamat pagi," ucap Devano dengan senyum yang mengembang sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah diikuti oleh Bian dan Yura.
Setelah kepergian dari Devano tadi, para guru disana langsung sibuk dengan ponsel mereka masing-masing untuk segera melaksanakan apa yang Devano tadi katakan. Lalu setalahnya mereka semua bubar untuk mencari anak didik mereka masing-masing untuk menginformasikan, informasi dadakan tadi. Dan saat semua siswa-siswi di sekolah tersebut nantinya sudah pulang semua, guru-guru disana juga akan pulang. Tanpa ada yang mau ikut campur atas masalah tadi. Mereka masih sayang pekerjaan mereka, jadi agar mereka selamat dari amukan Devano yang bisa-bisa mempengaruhi hidup mereka, memang lebih baik mereka pulang saja. Tanpa memperdulikan hukuman apa yang Devano berikan ke kepala sekolah tersebut, yang jelas urusan pekerjaan, kepala sekolah itu akan turun pangkat atau malah didepak dari sekolah tersebut. Untuk lebih jelasnya, lihat saja besok.
...****************...
Devano kini membuka pintu ruangan kepala sekolah tersebut dengan sangat kasar. Dan saat dirinya sudah mulai memasuki ruangan itu, Devano langsung menatap tajam kearah kepala sekolah tadi yang juga tengah menatapnya.
"Jangan mentang-mentang anda merupakan keluarga dari pemilik sekolahan ini, jadi anda tutup mata dengan apa yang telah anak anda lakukan kepada anak saya tadi," ujar kepala sekolah tersebut.
Devano tersenyum miring saat mendengar ucapan dari kepala sekolah tadi.
"Jangan bawa-bawa keluarga saya. Walaupun saya bukan merupakan anggota keluarga dari pemilik sekolahan ini, saya juga akan melakukan tindakan yang sama karena anda telah melukai anak saya. Jika anda bilang saya tutup mata, apa pernyataan itu tidak terbalik? karena menurut saya perkataan anda tadi sangat cocok untuk diri anda sendiri. Karena andalah disini yang justru tutup mata tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi langsung bertindak sesuka hati. Mentang-mentang anda kepala sekolah disini bisa sewenang-wenang melakukan tindakan seperti tadi? Apa anda kira diri anda hebat setelah menampar anak kecil yang hanya membela kebenaran hmmm? Apa ini sosok kepala sekolah dari sekolahan yang memiliki kualitas bagus ini? Ck, sangat disayangkan sekali. Harusnya orang seperti anda ini tak pantas mendapat gelar kepala sekolah disini dan anda lebih pantas menjadi preman daripada menjadi guru. Tapi sepertinya preman juga lebih mulia dari pada anda," ujar Devano yang berhasil menampar hati kepala sekolah tersebut.
Dan saat kepala sekolah itu ingin menimpali ucapannya tadi, Devano lebih dulu angkat suara.
__ADS_1
"Anda tidak perlu menyangkal lagi, karena disini ada Yura yang bisa menjadi saksi atas kejadian tadi. Dan apa anda lupa jika disekolahan ini ada CCTVnya? Semua itu bisa dijadikan bukti yang kuat untuk memenjarakan anda nanti," ucap Devano yang justru membuat kelapa sekolah tersebut tersenyum miring kearah Devano tanpa menampilkan rasa bersalah atau takut sedikitpun. Sedangkan Devano yang melihat senyum itu, kini ia menatap curiga kearah kepala sekolah tersebut. Entah apa yang akan kepala sekolah itu rencanakan dan lakukan selanjutnya. Devano harus tetap waspada kepada laki-laki didepannya saat ini.