Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 81


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Al sudah turun kelantai bawah dengan tampilan yang sudah sangat rapi, dan dengan senyum lebarnya ia menyapa setiap orang yang ia lewati.


"Pagi, Ma," sapa Al saat dirinya sudah berada di dapur.


Ciara yang tengah sibuk dengan urusan memasaknya pun kini ia menolehkan kepalanya kearah meja makan, dimana Al sekarang berada.


"Selamat pagi, sayang. Lho mau kemana nih, kok rapi banget dandanan kamu?" tanya Ciara penasaran sembari ia kembali fokus dengan masakan di depannya saat ini.


Al yang mendapat pertanyaan pun tersenyum sebelum ia menjawab.


"Al mau bertemu seseorang, Ma," jawab Al.


"Seseorang? Siapa? Memangnya orang yang akan kamu temui itu sudah bangun di pagi buta seperti ini? Mama yakin dia masih tidur, sayang," ucap Ciara dengan melirik sekilas kearah Al, lalu setelahnya ia terkekehan kecil saat melihat wajah antusias Al tadi kini berubah menjadi masam.


"Masak dia masih tidur, Ma?" tanya Al.


"Kemungkinan sih iya. Karena sekarang tuh masih jam 5 pagi, dimana di jam-jam segini tuh orang-orang malah tidur dengan sangat nyenyak," jawab Ciara.


"Yahhhh kalau gitu Al harus menunggu berapa jam lagi dong biar bisa ketemu sama dia?" tanya Al lagi yang kini sudah merebahkan kepalanya di atas meja makan tersebut dengan kerucutan di bibirnya.


"Hmmmm sekitar 1 jam atau lebih. Tapi Mama pikir Al harus menunggu biar bisa bertemu dengan dia, saat Al nanti sudah berubah menjadi tua," tutur Ciara yang sengaja menggoda Al.


Al yang digoda itu pun ia semakin mengerucutkan bibirnya.


"Ish Mama mah. Al tanya beneran lho," tutur Al.


"Puftt, hahahaha," tawa Ciara kini tak bisa ia tahan lagi. Karena ia merasa lucu saat melihat Al pertama kali merajuk seperti ini setelah bertahun-tahun lamanya.


"Ck, Mama! Ini tidak lucu dan tidak ada yang perlu di tertawakan," geram Al.


"Hahahaha maaf sayang, Mama kelepasan tertawa," ujar Ciara dengan menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. Dan setelah ia selesai dengan acara dapurnya, Ciara kini mendekati Al dan langsung duduk di kursi samping anaknya itu.

__ADS_1


Al yang merasa sebal dengan Ciara pun ia kini membalikan badannya hingga ia membelakangi Ciara, dengan kepala yang masih senderan di meja makan tersebut.


Ciara yang benar-benar merasa gemas akan tingkah Al itu, sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tak mencubit pipi anak laki-lakinya itu jika ia tak mau melihat Al semakin badmood nanti. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengelus kepala Al dengan lembut.


"Maaf sayang, Mama tadi hanya bercanda," ucap Ciara.


"Bercandanya Mama tidak lucu sama sekali. Masak Al harus menunggu tua dulu baru bisa bertemu dengan dia. Kan jatuhnya jadi kelamaan kalau begitu caranya," protes Al.


"Baiklah, Mama mengaku salah dan tidak akan mengulangi bercandaan Mama yang tadi. Al bisa bertemu dengan semua orang yang Al mau temui kapan pun Al mau," ujar Ciara yang berhasil membuat Al memutar tubuhnya kembali menghadap kearah Ciara.


"Mama janji," ucap Al sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji? Buat apa?" tanya Ciara tak paham.


"Ish, janji kalau Mama tidak mengulangi bercandaan Mama tadi. Karena perlu Mama tau, ucapan Mama itu bisa jadi kenyataan lho dan Al tidak mau ucapan Mama itu terkabul. Al tidak bisa menunggu lama untuk bertemu dengannya," ujar Al.


"Baiklah-baiklah Mama janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Ciara dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Al.


"Al mau bertemu Yura," jawab Al dengan suara lirihnya sampai-sampai Ciara tak bisa mendengar ucapannya tadi.


"Ck, Mama sepertinya harus periksa telinga Mama deh Al," ujar Ciara tiba-tiba yang membuat Al kini menatap Ciara dengan bingung.


"Telinga Mama sakit?" tanya Al dengan nada khawatir.


"Tidak. Telinga Mama tidak sakit, tapi tadi saat kamu jawab pertanyaan dari Mama, Mama tidak bisa mendengar suara kamu," ujar Ciara yang membuat Al kini menghela nafas lega.


"Baiklah, kalau Mama tadi tidak bisa mendengar jawaban dari Al tadi, biar Al ulangi sekali lagi. Al itu hari ini akan bertemu dengan Yura. Al rindu dengan anak yang selalu merepotkan itu," ucap Al sembari menerawang kedalam masa lalunya saat Yura terus saja mendapat masalah dan disaat itu pula dia kebetulan berada di tempat yang sama dengan anak perempuan tersebut.


Dan saat Al tengah mengenang masa lalunya itu dengan senyum yang mengembang, berbeda dengan Ciara yang kini hanya terdiam saja tanpa bisa membalas ucapan dari Al tadi. Dia bingung apakah hari ini adalah hari yang tepat untuk Al mengetahui semuanya? Atau justru sebaliknya? Arkhhhh Ciara benar-benar bingung saat ini.


"Ma, Mama," panggil Al sembari melambaikan tangannya didepan Ciara.

__ADS_1


"Eh ya sayang kenapa?" tanya Ciara yang baru tersadar dari lamunannya itu.


"Ck, Mama kenapa bengong sih? Al tidak suka melihat Mama bengong seperti tadi," ucap Al.


"Maaf sayang," ucap Ciara.


"Baiklah, Al memaafkan Mama. Tapi lain kali Mama tidak boleh mengulanginya lagi ya. Dan Al sekarang mau pergi dulu, siapa tau Yura sudah bangun dari tidurnya. Bye Ma," tutur Al dengan memberikan sebuah kecupan di pipi Ciara sebelum dirinya beranjak dari ruangan tersebut.


"Tapi pagi ini kamu harus diperiksa oleh dokter!" teriak Ciara yang tak ikhlas melihat Al keluar dari rumahnya.


"Dokter akan cek kondisi Al pukul 7 pagi, Ma. Dan jam 7 tuh masih lama," jawab Al tanpa menghentikan langkahnya.


"Tapi nak!" ucapan Ciara tadi terhenti saat ia melihat Al sudah keluar dari rumah tersebut. Dan hal itu membuat Ciara panik seketika.


"Aduh gimana ini," gumam Ciara.


"Aku butuh Devano untuk membantu menjelaskan semuanya ini ke Al saat anak itu nanti pulang dengan pertanyaan yang harus kita jawab. Ya aku harus bangunin Dev sekarang," tutur Ciara dan bergegas menuju ke lantai atas untuk segera membangunkan suaminya tersebut.


Sedangkan Al yang kini sudah sampai ditempat tujuan pun ia kini menatap kearah gerbang yang menjulang tinggi dihadapannya tersebut.


Al tersenyum sebelum dirinya kini menekan bel di rumah tersebut.


Sekali, dua kali hingga berkali-kali, ia sudah menekan bel tersebut tapi tak ada satupun orang di rumah tersebut yang membuka gerbang itu untuknya.


"Ish kok gak di bukain sih," ucap Al yang mulai jenuh berdiri di depan gerbang tersebut.


Dan karena ia sudah tak sabar lagi, akhirnya ia coba mengintip di sekitar rumah tersebut.


"Kok kelihatannya sepi banget. Pak satpam yang biasanya jaga di pos depan rumah ini juga gak ada. Apa jangan-jangan yang dikatakan Mama tadi benar lagi, kalau orang-orang di rumah ini masih tidur nyenyak. Haish kalau begitu biar Al tunggu disini 5 menit lagi. Jika masih tidak ada tanda-tanda orang yang bangun, Al akan pulang dulu," tutur Al. Dan untuk tempat menunggunya, Al memilih untuk duduk di pinggir pos satpam di depan rumah tersebut.


Dan tanpa Al sadari, semua yang ia lakukan itu tak luput dari pantauan kedua bodyguard Al yang sedari tadi mengikuti setiap langkah Al tanpa sepengetahuan anak laki-laki tersebut. Dan saat keduanya melihat Al yang tengah menunggu pintu gerbang rumah tersebut terbuka, mereka langsung menghela nafas berat. Mereka juga merasa kasihan kepada Al yang seakan-akan telah di bodohi dan di bohongi oleh orang-orang sekitarnya, termasuk mereka berdua. Dan sekarang kedua bodyguard Al tersebut hanya bisa berharap jika suatu saat nanti Al tau, Al tidak marah kepada mereka dan mau memaafkan kesalahan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2