
Baru pukul 3 pagi, tiba-tiba saja kamar Devano dan Ciara terdengar suara tangisan. Bukan, bukan tangisan baby Kiya tapi tangisan anak kecil. Ciara yang mendengar hal itu pun mengerjabkan matanya dan menajamkan pendengarannya.
Ia melirik keseluruhan sudut ruangan disana tapi tak menemukan adanya orang lain disekitar kamar tersebut.
Tiba-tiba saja bulu kuduk Ciara berdiri dan ia bergidik. Ia pun kini menoleh dan mendapati Devano yang masih nyenyak tertidur begitu pula dengan baby Kiya yang entah sejak kapan bayi mungil itu ikut tidur di ranjang mereka. Mungkin Devano yang memindahkannya karena ia tak ingin bolak-balik turun ranjang ketika baby Kiya menangis nantinya.
Ciara kini mendudukkan tubuhnya saat suara itu semakin lama semakin terdengar jelas di telinganya. Ingin sekali ia membangunkan Devano agar suaminya itu menemani dirinya atau sekedar mengecek sumber dari suara itu dimana. Tapi jika melihat wajah Devano yang seperti belum lama tertidur pulas karena sibuk menemani baby Kiya begadang membuat dirinya mengurungkan niatnya itu. Dan walaupun dirinya takut ia akan berusaha untuk memberanikan dirinya mencari sumber suara itu dari mana asalnya.
Sebelum beranjak dari ranjang, Ciara mengikat rambutnya asal dan setelahnya baru ia menuruni ranjang tersebut.
"Hiks hiks hiks," suaranya kembali terdengar saat Ciara mulai melangkahkan kakinya menuju kearah sofa di kamar tersebut.
"Astaga, kenapa aku jadi takut gini sih? ah ayolah Cia. Hilangkan rasa takutmu itu," batin Ciara untuk menenangkan dirinya sendiri.
Hingga kini tinggal selangkah lagi dirinya sampai di sofa itu suara tangisannya semakin terdengar nyaring ditelinga hingga ia memberanikan dirinya menuju ke sudut ruangan yang terhalang sofa-sofa itu dan betapa terkejut dirinya saat melihat ada anak kecil yang terduduk dilantai dan bersender di samping sofa dengan kaki dan tangan yang ia tekuk, wajahnya pun ia tenggelamkan di balik tangan itu.
"Al," panggil Ciara lirih. Ia sebenarnya takut jika anak kecil itu bukanlah Al melainkan makhluk yang hanya menampakkan dirinya saja. Tapi setelah wajah itu menengadah menatap dirinya. Ciara baru bisa bernafas lega karena yang didepannya itu benar-benar Al dan dengan cepat ia langsung menjongkokan tubuhnya lalu memeluk tubuh Al yang masih bergetar karena menangis.
Dengan lembut, Ciara mengelus rambut Al.
"Al kenapa nangis hmm? dan kenapa Al kesini gak bangunin Mama?" tanya Ciara.
"Hiks. Al hiks takut Ma. Hiks Al takut Mama sama Papa tinggalin Al sendirian. Al gak mau pisah sama Mama dan Papa," ucap Al terbata. Ciara semakin mengeratkan pelukannya.
"Al tadi kesini untuk memastikan kalau Mama sama Papa masih ada di sekitar Al. Al gak mau ganggu tidur Mama. Hiks Al takut Ma, Al sangat takut," sambung Al.
"Al, Mama sama Papa gak akan pernah ninggalin Al sendirian. Mama sama Papa akan terus bersama Al dan baby Kiya sampai kapanpun. Jadi Al tenang ya, jangan nangis lagi," tutur Ciara.
Tak ada jawaban dari Al, ia terus menangis dalam pelukan Ciara. Dan Ciara yang mulai pegal karena terlalu lama berjongkok pun akhirnya perlahan menggendong tubuh Al dan ia mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa sedangkan Al berada di pangkuannya tak lupa anak laki-lakinya itu terus memeluknya.
"Apa Al tadi mimpi buruk?" tanya Ciara sembari mengamati wajah Al yang bersender di dadanya.
__ADS_1
Al tampak menganggukkan kepalanya.
"Coba Al cerita sama Mama. Al tadi mimip apa?"
"Al hiks tadi mimpi kalau Mama sama Papa ninggalin Al sendiri di suatu tempat yang gak ada cahaya sama sekali. Tempat itu benar-benar gelap dan pengap, Ma. Bahkan Al sampai sulit untuk bernafas. Al takut Ma, Al takut hiks," ucap Al.
Ciara mengelus punggung anak laki-lakinya itu dengan sayang.
"Sayang dengerin Mama ya. Itu semua hanya mimpi. Dan mimpi itu hanya sebuah cerita yang tak akan pernah terjadi. Mama dan Papa sangat sayang sama Al jadi gak mungkin kita melakukan hal itu sayang. Al gak perlu takut lagi ya. Mama sama Papa sampai kapanpun gak akan pernah ninggalin Al. Al akan terus menjadi anak kebanggaan Mama dan Papa," tutur Ciara mencoba untuk terus menenangkan Al.
Sedangkan Devano yang seperti mendengar samar-samar suara seseorang pun mulai membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat hanyalah baby Kiya di kasur yang sama dengannya dan Ciara? kemana istrinya itu berada?
Devano langsung mendudukkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan dan sesaat matanya kini menangkap dua orang yang saling berpelukan.
Devano pun kini perlahan turun dari ranjang tapi sebelumnya ia sudah memasang satu guling dan bantal di samping kanan dan kiri baby Kiya. Lalu ia baru bisa mendekati dua orang tadi setelah baby Kiya, ia pastikan aman.
Saat sudah sampai ia kemudian duduk disamping sang istri.
"Mimpi buruk," jawab Ciara yang masih setia mengelus punggung Al walaupun Al sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Devano pun menganggukkan kepalanya dan tangannya pun terulur untuk mengelus rambut Al.
"Al apapun yang ada di mimpi Al tadi tak akan pernah terjadi. Jadi Al tidak perlu takut lagi oke. Dan sekarang Al harus tidur lagi, ini masih jam 3 pagi. Besok Al harus sekolah bukan?" Al tampak menatap sang Papa kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Al gak mau tidur Papa. Al takut saat Al nanti tidur Papa sama Mama akan ninggalin Al sendirian di tempat gelap itu," tutur Al.
Devano mengerutkan keningnya. Tempat gelap? apakah mimpi Al itu ada kaitannya dengan kejadian itu? atau sisa bayang-bayang saat dirinya di culik waktu itu masih membekas di pikirannya? Jika memang benar berarti Al mengalami trauma saat ini.
Devano kini mengepalkan tangannya. Ia tidak akan pernah memberi ampun kepada Tiara jika Al mengalami trauma seperti yang ada didalam pikirannya saat ini.
"Dev, kenapa?" tanya Ciara saat melihat perubahan ekspresi wajah dari Devano tadi.
__ADS_1
Devano kini tampak memejamkan matanya sekilas kemudian tersenyum kearah Ciara.
"Gak papa sayang. Sini biar aku aja yang nenangin Al sampai dia tidur lagi," ucap Devano.
"Sini Al sama Papa," sambungnya sembari mengambil alih tubuh Al dari pangkuan Ciara.
Dan baru saja Al berpindah tempat, suara tangisan baby Kiya terdengar nyaring memenuhi ruangan tersebut. Ciara pun dengan sigap menghampiri baby Kiya dan segera memberikan ASI kepada anak bayi itu agar menjadi tenang.
"Al lihat sendiri kan. Kalau Al sedih, baby Kiya juga akan sedih," tutur Devano yang sedang memeluk tubuh Al.
Al tampak menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Devano.
"Maafin Al, Papa. Al gak akan sedih lagi. Tapi Al masih takut," ucap Al dengan jujur.
Devano tersenyum kemudian mencium puncak kepala Al.
"Papa janji Papa gak akan pernah membiarkan Al mengalami hal yang sama dengan mimpi Al. Papa akan selalu berada di sisi Al begitu pula dengan Mama dan baby Kiya. Kita akan terus bersama-sama selamanya," tutur Devano.
Al masih kembali menatap Devano dan tiba-tiba saja Al langsung mengacungkan jari kelingkingnya.
"Papa janji?" Devano menganggukkan kepalanya dan kemudian jari kelingkingnya kini melingkar di jari kelingking Al.
"Papa janji boy," jawab Devano. Al pun tersenyum kemudian memeluk tubuh Devano dengan erat.
"Al mau tidur sama Papa, Mama dan baby Kiya malam ini. Apa boleh Pa?"
"Tentu saja, boy. Apa sih yang gak buat anak Papa yang paling tampan ini," jawab Devano dengan mencubit gemas hidung Al yang masih memerah karena kebanyakan menangis. Al pun tersenyum lebar.
"Terimakasih Papa."
"Sama-sama sayang," jawab Devano dengan tangan yang mulai menepuk-nepuk bokong Al pelan agar anaknya itu mulai memejamkan matanya. Walaupun begitu pikirannya terus menerka-nerka tentang mimpi Al itu. Dan mungkin ia akan konsultasi ke psikolog nantinya sebagai jaga-jaga saja karena ia tak ingin anak pertamanya itu memiliki trauma atau ketakutan yang nantinya akan membuat Al menderita. Dan Devano tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi sampai kapanpun.
__ADS_1