Young Mother

Young Mother
Keberangkatan dan Perpisahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Ciara, Al, Dea dan juga Olive berangkat menuju negara Indonesia. Negara yang selama hampir 5 tahun Ciara hindari dan kini ia hanya bisa berpasrah diri, semoga kejadian di masa lalu tak terulang lagi. Jujur dari lubuk hati Ciara paling dalam, sebenarnya ia sangat rindu dengan tanah kelahirannya itu namun rasa trauma lebih menguasai dirinya.


"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Olive yang membuat Ciara tersadar dari lamunannya tadi.


"Hah, kamu tadi ngomong gimana Liv?" tanya Ciara.


"Ck mangkanya jangan ngalamun mulu. Aku tadi tanya, gak ada yang ketinggalan kan?" ucap Olive mengulangi pertanyaannya tadi.


"Sepertinya gak ada. Semua yang penting udah didalam sini dan untuk toko ini udah diserahkan ke karyawan baru yang akan menempati rumah ini juga, jadi selama aku di Indonesia, rumah ini gak akan kosong yang akan jadi rumah hantu nantinya," ujar Ciara.


"Bagus lah kalau gitu. Oh ya dimana Al sama Dea?" tanya Olive yang sedari tadi tak menemukan keberadaan dari dua manusia itu.


"Kalau Al tadi minta jajan sama Dafit di supermarket, mungkin sebentar lagi mereka berdua pulang. Kalau Dea, sepertinya itu anak baru mandi," jawab Ciara.


"Hah baru mandi? Kita udah mau berangkat lho ini, Astaga."


"Ck, take off pesawat 3 jam lagi kali Liv. Masih lama itu," ujar Ciara.


"Walaupun gitu, kita harus segera berangkat ke bandara sekarang," ucap Olive.


"Astaga, gila kamu ya Liv. Take off masih lama dan perjalanan dari rumah ini ke bandara cuma menghabiskan 30 menit. Dua setengah jam kamu mau ngapain di bandara? Gak bosen apa nunggu kelamaan disana, kalau aku sih yang pasti bosen banget," tutur Ciara.


"Tapi kan---"


"Tapi apa lagi? kalau kamu mau kesana duluan ya udah aku gak akan ngelarang kamu. Kalau aku mau berangkat 1 jam sebelum take off. Toh jalanan disini juga gak ada yang namanya macet berkepanjangan seperti di Jakarta," potong Ciara.


Olive menghela nafas sembari mencebikkan bibirnya. Dan pada akhirnya ia memilih untuk pergi ke bandara bersamaan dengan Ciara dan kedua orang lainnya.


Tak berselang lama, Al dan juga Dafit telah kembali dari acara berbelanja mereka.


"Assalamualaikum," salam mereka berdua sembari mengetuk pintu utama rumah Ciara.


"Waalaikumsalam," jawab Ciara dan juga Olive di dalam rumah tersebut. Dengan segera, Ciara membukakan pintu untuk kedua laki-laki beda usia itu.


"Mama!" teriak Al saat Ciara sudah membuka pintu tersebut. Ia langsung menghambur, memeluk kaki Ciara yang tengah berdiri di ambang pintu.


Ciara mengerutkan keningnya dan ia menatap Al yang tengah membenamkan wajahnya di kaki Ciara, kemudian tatapannya ia alihkan ke Dafit yang juga tengah menatapnya.


"Ini anak kenapa?" tanya Ciara dengan pelan.


"Aku juga gak tau. Padahal tadi dia baik-baik aja," jawab Dafit. Kini ia menjongkokan tubuhnya di samping Al yang masih setia memeluk kaki Ciara.


Dafit mengelus kepala Al dengan lembut.


"Hey boy, ada apa?" tanya Dafit. Al hanya menjawab dengan gelengan kepala dengan tangis yang sebisa mungkin ia tahan.


"Apa Uncle tadi jahat sama Al?" tanya Ciara. Lagi-lagi Al menggelengkan kepalanya.


"Apa ada sesuatu yang Al inginkan dan Uncle tadi gak beliin buat Al?" kini Dafit kembali bertanya. Dan lagi-lagi Al hanya menjawab pertanyaan dari dua orang dewasa tersebut dengan gelengan kepala.


"Terus kenapa Al jadi sedih gini?"


Al terdiam. Ia tak berniat menjawab ucapan sang Mama. Dafit yang juga tengah bingung dengan sikap Al yang tiba-tiba seperti itu pun akhirnya ia mendangakan kepalanya guna menatap wajah Ciara yang tengah menunduk sembari mengelus kepala Al.


Ciara yang peka dengan tatapan bertanya dari Dafit pun hanya menggedikkan bahunya.


Dafit menghela nafas sebelum tangannya ia gunakan untuk membalikan badan Al. Namun rupanya pelukan Al sangat kuat sehingga Dafit memutuskan untuk tak memaksa Al melepaskan pelukan tersebut.


"Al, lihat Uncle sebentar ya," minta Dafit dengan sabar.


Al masih saja bergeming, ia tak mengindahkan ucapan dari Dafit.


"Ya udah deh kalau Al gak mau lihat Uncle, Uncle pulang aja." Al yang mendengar ucapan dari Dafit pun akhirnya melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya namun dengan wajah yang ia tundukkan.


Dafit tersenyum gemas dengan tingkah Al tersebut.


"Kok masih nunduk sih. Lihat Unclenya dong Al," ucap Ciara.


Dengan terpaksa Al menegakkan kepalanya kembali hingga matanya yang sudah memerah bisa melihat wajah Dafit yang masih saja tersenyum kepadanya.


"Coba Al bicara sama Uncle. Al mau apa hmm?" tanya Dafit sembari menatap wajah Al.


"Al, Al mau Uncle ikut ke Indonesia." Akhirnya Al memberanikan dirinya untuk berbicara apa yang mengganjal dihatinya sedari tadi.

__ADS_1


Dafit mengacak rambut Al.


"Uncle gak bisa ikut Al ke Indonesia untuk sekarang karena Uncle kan harus kerja dan kerjaan Uncle gak bisa ditinggal begitu saja," ucap Dafit mencoba memberi pengertian kepada Al.


Al kembali menundukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Dafit yang memahami kesedihan dari Al pun ia segera menangkup pipi Al dengan kedua tangannya dan menuntun wajah Al untuk tak tertunduk lagi.


"Tapi Uncle janji. Kalau kerjaan Uncle gak terlalu sibuk dan banyak, Uncle akan pergi ke Indonesia dan bertemu dengan Al," tutur Dafit meyakinkan Al yang sudah meneteskan air matanya.


"Hey kenapa nangis? Uncle kan udah janji kalau kerjaan Uncle udah gak banyak lagi, Uncle akan datang nemuin Al di Indonesia," ujar Dafit sembari mengusap air mata Al.


Al tak menjawab ucapan dari Dafit melainkan ia langsung memeluk tubuh Dafit dengan tangisan yang kembali pecah namun tak mengeluarkan suara.


Dafit mengelus punggung Al guna untuk menenangkannya.


"Hiks Uncle janji hiks harus ditepati hiks," tutur Al disela tangisnya.


"Emang Uncle pernah mengingkari janji Uncle sama Al?" tanya Dafit. Al menggelengkan kepalanya.


"Nah Al aja tau kalau Uncle udah janji berarti Uncle akan tepatin janji itu. Sekarang Al jangan nangis lagi ya. Masak anak laki-laki cengeng sih," sambung Dafit sembari membawa tubuh Al kedalam gendongannya.


"Iya ih. Malu tau Al kalau dilihat cicak," goda Ciara.


Al yang tadi menenggelamkan wajahnya di leher Dafit pun segera memperlihatkan wajah merahnya itu dan dengan segera ia mengusap air matanya.


"Al hiks gak nangis kok hiks," ujar Al dengan sesegukan.


"Gak nangis kok keluar air mata," ucap Ciara sembari mencebikkan bibirnya untuk meledek sang anak.


"Ih Mama, Al tadi kan sedih," tutur Al dengan mengerucutkan bibirnya.


Saat Ciara ingin membalas ucapan dari anaknya, Dafit lebih dulu melerai keduanya.


"Sudah-sudah. Jangan bertengkar."


"Mama duluan yang ngajak Al buat bertengkar Uncle," ujar Al dengan wajah yang ingin dibela oleh Dafit.


"Mana ada. Mama kan tadi bicara apa adanya," tutur Ciara tak mau kalah.


...*****...


Kini waktu tak terasa cepat berlalu dan kini keempat manusia ditambah dengan Dafit tengah berada di bandara.


"Uncle janji harus ditepati," ujar Al mengingatkan akan janji yang di berikan Dafit tadi.


Dafit menatap wajah Al yang berada di gendongannya.


"Pasti boy. Tapi Al juga harus janji sama Uncle kalau Al gak boleh nakal disana oke. Jagain Mama dan juga Al harus jaga diri Al sendiri dari orang-orang jahat. Gak boleh buat Mama Cia nangis. Kalau Uncle tau Al buat Mama nangis, Uncle gak mau lagi ketemu sama Al dan juga Al harus jadi anak baik," pesan Dafit kepada Al.


"Al kan emang anak baik Uncle dari dulu malahan," jawab Al dengan PDnya.


"Iya-iya deh Uncle percaya sama Al," tutur Dafit.


Tak berselang lama suara boarding pun terdengar yang mengharuskan ke empat orang tersebut segera menuju ke dalam pesawat.


Dafit menurunkan tubuh Al.


"Kak, aku pamit dulu ya," ucap Dea sembari menjabat tangan Dafit. Dafit yang sudah akrab dan menganggap Dea sebagai adiknya sendiri pun mengusap kepala Dea dengan lembut.


"Hati-hati disana dan jangan lupa jaga diri kamu baik-baik. Makan sayur yang banyak jangan sampai jatuh sakit lagi karena telat makan," tutur Dafit yang membuat Dea mencebikkan bibirnya.


"Iya-iya," jawabannya. Setelah itu giliran Olive yang berpamitan dengan Dafit.


"Kak, aku juga mau pamit nih. Jangan galau ya karena ditinggal Ciara untuk sementara waktu," bisik Olive yang mendapat gelengan kepala dari Dafit.


"Kamu tuh ngomong apaan sih Liv. Sudah-sudah pergi sana." Berbeda dari Dea tadi yang mendapat pesan dari Dafit, Olive justu diusir oleh laki-laki tersebut.


Kini giliran Ciara yang berpamitan ke laki-laki yang sangat baik kepadanya dan juga keluarganya itu.


"Aku pulang ke Indonesia dulu," pamit Ciara.


Dafit pun tersenyum.

__ADS_1


"Hati-hati. Jaga diri baik-baik dan kalau ada kesempatan kamu jangan lupa mengunjungi orangtuamu disana. Aku pasti akan sangat merindukan kalian," ucap Dafit.


"Aku gak janji untuk mengunjungi keluargaku disana tapi aku janji akan menjaga diri dengan baik," tutur Ciara dengan senyum terbaiknya.


Dafit yang merasa gemas dengan Ciara pun mengacak rambut wanita tersebut.


"Kak, kita jalan duluan ya," ujar Dea karena ia tak mau jadi pengganggu diantara kedua orang tersebut dan diangguki oleh Ciara.


Dea pun segera meninggalkan tempat itu disusul dengan Olive yang juga ikut pergi dengan alasan menemani Dea nanti.


"Jangan lupa Al juga disekolahin disana," ucap Dafit.


"Iya-iya, aku gak akan lupa dengan hal itu." Lagi-lagi Dafit hanya bisa tersenyum.


"Cia!" panggilnya.


"Iya?"


"Aku boleh minta satu permintaan gak?"


Ciara mengerutkan keningnya tak paham.


"Permintaan apa?" tanyanya.


"Boleh gak aku meluk kamu sebentar aja. Sebagai salam perpisahan," jawab Dafit.


Ciara pun terkekeh dan ia merentangkan kedua tangannya. Namun Dafit malah mengabaikan rentangan tangan tersebut yang membuat Ciara berdecak.


"Ck jadi peluk gak? Kalau gak, aku sama Al mau langsung ke pesawat ini," ujar Ciara.


"Eh jadi kamu merentangkan tangan tadi mengisyaratkan jawaban kamu? yang ternyata aku diperbolehkan buat meluk kamu?" tanya Dafit memastikan.


Ciara menghela nafas sebal.


"Enggak," jawab Ciara. Namun sesaat setelahnya mulut Ciara kembali bersuara.


"Haish buruan!" Dafit tersenyum dan ia pun segera memeluk tubuh Ciara yang hanya sebatas dadanya saja. Bahkan mungkin Ciara sekarang bisa mendengar detak jantungnya.


Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan sebelum suara Al memisahkan pelukan tersebut.


"Mama sama Uncle pelukan tapi Al gak diajak," gerutu Al yang membuat dua orang dewasa tersebut tertawa.


"Ya udah sini, kita pelukan bersama-sama." Al pun segera menghampiri mereka berdua, lalu ia mengalungkan kedua tangannya di leher Ciara dan Dafit yang kebetulan mereka berdua telah berjongkok.


"Nah gini kan adil," tutur Al.


"Astaga anak ini," ucap Ciara dan juga Dafit berbarengan.


Kini acara berpelukan mereka bertiga harus terpaksa terlepas kala suara boarding kembali terdengar.


"Kita berangkat dulu. Semangat kerjanya, fighting!" ucap Ciara sembari mengepalkan tangannya untuk memberikan semangat untuk Dafit.


"Kamu juga. Fighting!" ujar Dafit. Ciara kembali terkekeh sembari melambaikan tangannya.


"Udah dulu ya. Assalamualaikum, sampai ketemu dilain waktu," pamit Ciara.


"Hati-hati. Waalaikumsalam."


Ciara dan juga Al kini semakin lama semakin menjauh dari hadapan Dafit.


"Bye bye Uncle. Al tunggu Uncle di Indonesia dan Uncle jangan pernah lupa sama janji Uncle!" teriak Al sembari melambaikan tangan kearah Dafit yang terus memandangi kepergiannya.


"Bye bye boy. Uncle gak akan ingkar!" balas Dafit juga dengan teriakan.


Kini kedua orang tersebut benar-benar sudah tak bisa ia lihat lagi. Dafit menghela nafas beratnya. Sebenarnya ia tak real jika harus berjauhan dengan keempat manusia itu terlebih dengan Al yang selalu menghibur dia disaat ia tengah banyak pikiran akan kerjaan dan masalah hidup yang ia jalani. Tapi ia juga tak mau egois untuk menahan mereka tetap tinggal di Malaysia. Dan ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keempatnya.


...*****...


Hey hey sayang-sayangku semua. Apa kabar? semoga baik-baik saja ya. Jaga kesehatan dan pola makan kalian ya di masa pandemi ini.


Btw eps kali ini panjang banget lho. Kalau likenya gak sampai 300 like mengsedih sih author pastinya huhuhu😢 Jangan lupa juga buat Vote, kasih hadiah dan juga komen ya, author insyaallah akan balas komen kalian satu persatu 🤗 Share ke teman kalian juga boleh pastinya dan author ucapkan banyak-banyak terimakasih ke kalian😘


Dan kalau mau follow Instagram author juga boleh. Usernamenya dibawah ini :

__ADS_1


@yeni_erlinawa08


Biar kita bisa semakin akrab satu sama lain. Karena di author pakai aplikasi ini versi entah yang berapa jadi gak ada grup chatnya. Mengsedih sekali memang... Udah dulu ya bye bye See you next eps 👋


__ADS_2