
Al yang masih gesit melawan orang-orang itu dengan sesekali menembakkan peluru kearah orang yang ingin menyakitinya pun kini perhatiannya teralihkan saat ia tak sengaja melirik kearah Yura yang masih terus menatap satu orang yang sepertinya sudah tak bernyawa itu.
Al tersenyum saat melihat raut wajah Yura yang terlihat sangat lucu hingga senyumannya itu luntur saat ia melihat satu orang kini tengah berlari kearah Yura dengan membawa samurai di tangannya.
"Yura awas di belakang!" teriak Al yang membuat Yura dengan reflek menoleh kearahnya sebelum akhirnya ia memutar tubuhnya ke lawan arah.
Yura kini hanya bisa pasrah saja karena jarak antara samurai itu sudah mendekat kearahnya dan ia hanya bisa memejamkan matanya agar ia tak merasakan sakit yang teramat dalam saat samurai itu menusuk tubuhnya, pikir Yura. Tapi matanya itu kembali terbuka saat ia mendengar suara tembakan dan ia merasakan cipratan cairan di wajahnya.
"Apakah aku sudah meninggal?" tanya Yura sembari menyentuh tubuhnya dan perlahan matanya itu kembali terbuka.
"Darah? tapi tubuhku tidak merasakan sakit sama sekali," sambungnya lalu setalahnya ia kini mengalihkan pandangannya ke depannya.
"Eh kok Om ini yang terluka," ucapnya tak paham. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Al yang masih sibuk mengurusi orang-orang tersebut.
"Al, aku sudah meninggal!" teriak Yura yang membuat Al kini mengalihkan pandangannya dan seperkian detik setelahnya Al hanya memutar bola matanya malas.
"Jangan omong kosong! Sekarang bantu aku," teriak Al.
"Bantu gimana? kan aku sudah meninggal." Al menghela nafas lelah.
"Yura!" geram Al dengan melempar tatapan tajam ke gadis kecil itu. Dan hal tersebut membuat Yura langsung mengatupkan mulutnya dan dengan cepat ia bergerak menuju kearah Al. Tapi sebelumnya, ia sudah menukar belati tadi dengan samurai, karena menurutnya belati lebih lama untuk melawan musuh dari pada saat dia memakai samurai.
"Aish ternyata senjata ini berat juga," gumam Yura tapi hal itu tak mematahkan semangatnya untuk membantu Al melawan orang-orang tersebut.
__ADS_1
"Kekuatan harimau datanglah," ucap Yura sembari menengadahkan kepalanya. Dan setalahnya ia kini menegakkan kepalanya kembali dan mulai menatap satu persatu orang-orang disana.
"Rasakan jurus harimauku. Hiyaaaaaa!" teriak Yura yang kini tanpa memberikan celah kepada lawan, ia mulai membantainya satu persatu. Dan hal itu membuat Al yang tadinya masih bergerak aktif kini dirinya dibuat mematung dengan aksi Yura tersebut.
Anak perempuan yang ia anggap selalu menyusahkan dirinya itu kini telah bertekad dan ia yakini Yura kini tengah melawan ketakutannya sendiri untuk membantu dirinya, menghabisi orang-orang yang berniat jahat kepada mereka.
Tatapan Al terus tertuju kearah Yura tanpa melihat kearah sesekalinya hingga akhirnya Yura sampai di depannya dengan membawa senyum manisnya.
"Hebat kan aku bisa membuat Om-Om ini tiduran di jalan begini. Padahal aku sudah meninggal lho," ujar Yura yang membuat Al kini mengerjabkan matanya berkali-kali dan mulai tersadar dari lamunannya tadi.
"Kamu belum meninggal," ucap Al sembari melihat ke sekelilingnya yang sudah mulai aman dan tak ada lagi yang menyerang mereka.
"Udah lho. Buktinya wajah aku ada darahnya sekarang," ujar Yura sembari menunjuk wajahnya sendiri.
Yura kini menatap kearah tangannya.
"Eh iya juga ya. Aku sekarang bisa pegang samurai dan kamu juga bisa lihat aku. Yeeeee, berarti aku belum meninggal sekarang. Yes," sorak Yura dengan melompat-lompatkan kegirangan. Sedangkan Al yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum yang sangat tipis yang terukir di bibirnya.
Tapi sepertinya saat ini belum saatnya mereka harus merasakan kebahagiaan karena tiba-tiba saja tepat di belakang Yura ada satu orang yang terkena samurai tadi kini bangkit dan mulai mengarahkan pistol kearah anak perempuan tersebut.
Al yang melihat hal itu dengan cepat ia memeluk tubuh Yura dan menjadikan dirinya sebagai tameng untuk gadis kecil tersebut jika sewaktu-waktu penjahat itu mulai menembakkan peluru kearah Yura. Dan benar saja beberapa detik setalah Al memeluk tubuh Yura, terdengar suara tembakan itu hingga membuat Al memejamkan matanya. Dan tak berselang lama Al ambruk ke jalanan tersebut.
Yura yang melihat wajah pucat dari Al pun sontak ia berteriak sangat kencang.
__ADS_1
"Al!" teriak Yura sembari berjongkok di depan Al bahkan air matanya kini sudah mulai membasahi pipinya.
Doni dan Toni yang juga menyaksikan Al tumbang pun dengan cepat ia berlari kearah tuan muda mereka.
"Apa tuan muda juga terkena tembakan?" tanya Toni saat mereka berdua telah sampai di depan Al.
Doni yang masih mengecek tubuh Al pun terdiam sesaat agar dirinya terus fokus dan tak ada satu bagian tubuh pun yang terlewat untuk ia cek.
"Tidak. Orang itu belum sempat menembak tuan muda karena lebih dulu kamu tembak tadi. Dan kemungkinan tuan muda kehabisan darah sekarang," tutur Doni sembari mengeluarkan sapu tangannya lalu dengan cepat ia membalut luka di lengan Al dengan sapu tangan tersebut untuk menghentikan darah yang terus keluar.
"Bantu aku bawa tuan muda ke rumah sakit dan juga bawa anak perempuan ini sekalian. Biar masalah disini aku yang tangani," ujar Doni. Toni yang mendapat amanat dari saudara kembarnya pun hanya bisa menganggukkam kepalanya dan dengan cepat ia membopong tubuh Al menuju ke mobilnya bersama dengan Yura yang mengikuti langkahnya.
Sedangkan Doni, ia bergegas untuk membereskan orang-orang yang sudah terkapar di bahu jalan tersebut untuk mendapatkan informasi mengenai orang-orang itu yang nantinya akan memudahkan tuan besarnya mencari tahu dalang dibalik kejadian itu.
Ia mengerutkan keningnya saat ia menemukan sebuah kartu nama seseorang yang ia temukan dibalik dompet salah satu pria disana yang ia yakini orang itu merupakan ketua gerombolan orang-orang tadi. Dan ia juga meyakini jika kartu nama yang ia dapatkan itu adalah kartu nama dari pesuruh mereka.
Setelah menemukan kartu nama tersebut, Doni beranjak untuk melihat senjata yang di pakai oleh gerombolan orang tersebut hingga ia menemukan satu simbol aneh yang kemungkin menjadi ciri khas dari komplotan itu.
Ia terus mencari bukti yang lebih banyak lagi tapi ia sama sekali tak menemukan bukti selain kartu nama dan simbol aneh yang terdapat di senjata tadi.
Ia menghela nafas sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan menyusul Toni yang sedang menuju ke rumah sakit dengan menggunakan mobil penjahat tadi yang untungnya kunci mobil tersebut masih tertancap di dalam. Hingga hal itu memudahkan dirinya untuk tak ambil pusing dengan menyabotase mobil tersebut.
Walaupun ia masih menyesal karena tadi ia belum sempat meminta bantuan kepada Devano, agar bosnya itu mengerahkan anak buahnya yang lain untuk membantu dirinya. Tapi orang-orang itu lebih dulu bermain pintar sehingga ia bisa merusak alat komunikasi yang selalu mereka pasang di telinga mereka, juga ponsel mereka berdua telah dirusak, bahkan jam tangan yang sering Al gunakan untuk selalu terkoneksi dengan Devano pun juga tak kalah dari pantauan orang-orang itu. Alhasil semua alat komunikasi yang Doni, Toni, Al bahkan Yura pun sudah hancur dan rusak karena ulah mereka. Tapi disisi lain, ia juga bersyukur karena kedua anak itu bisa saling melindungi satu sama lain saat Doni dan Toni sibuk mengalahkan lawan mereka.
__ADS_1