
Al kini menghela nafas dengan otak yang terus berpikir, apakah dirinya harus cari tahu masalah anting itu punya siapa atau tidak? Tapi sepertinya ia tak akan mencari tahu siapa pemilik asli anting tersebut setelah ia berpikir berkali-kali. Dan ia akan mengembalikan barang tersebut jika ada seseorang yang mencarinya. Jika tidak mungkin ia akan menyimpannya sendiri.
Dan kini tangannya bergerak untuk memasukkan kembali anting tadi kedalam tasnya, lalu setelahnya ia berniat untuk keluar dari kamarnya guna mencari cemilan untuk menemani dirinya nanti.
Tapi baru saja ia ingin turun dari anak tangga, keningnya berkerut saat melihat para aunty dan Unclenya yang sudah lama tak bertemu kini tengah menaiki tangga tersebut.
"Ponakan aunty Liv," teriak Olive saat ia melihat Al yang masih berada di posisinya tadi. Sedangkan Al yang sedari kecil hingga sampai saat ini tidak pernah akur dengan Olive pun kini ia menghela nafasnya.
Dan dengan cepat ia mengurungkan niatnya tadi dan sebisa mungkin ia akan menghindari Olive. Tapi saat dirinya baru melangkahkan kakinya ingin kembali ke kamarnya, ia kalah cepat dengan Olive karena perempuan itu sekarang tengah menghadang jalan Al.
"Mau kemana kamu hmmm? Auntynya datang gak disambut dengan pelukan malah mau menghindar. Dasar keponakan laknat," ucap Olive yang membuat Al memutar bola matanya malas.
Dan dengan cepat Al mendekati Olive, lalu dengan segera ia memeluk tubuh Olive hanya beberapa detik saja dan setelahnya ia melepaskan kembali pelukannya. Dan hal itu membuat Olive yang tadinya tersenyum lebar kini senyuman itu luntur.
"Jangan protes," ucap Al saat mulut Olive sudah terbuka dan siap protes kepada Al.
"Ck, kenapa kamu tambah gede tambah nyebelin sih Al. Padahal saat kamu kecil, kamu tuh sama aunty terus bahkan gak bisa jauh dari aunty," ujar Olive.
"Pembohongan besar," ucap Al.
"Apanya yang pembohongan besar sih? Orang aunty ngomong apa adanya bahkan sesuai fakta," tutur Olive.
"Iyain aja biar cepat," ujar Al.
"Tuh kan nyebelin," protes Olive yang kini hanya diabaikan begitu saja oleh Al bahkan anak itu kini sudah melenggang pergi dari hadapan Olive.
__ADS_1
"Al!" teriak Olive yang benar-benar sebal dengan sifat dingin Al itu.
"Anak itu nanti kalau dewasa bisa-bisa gak punya pacar. Siapa juga yang mau deketin dia kalau sifatnya aja kayak Kutub Utara ditambah Kutub Selatan masih ditambah lagi sama es batu. Dingin, cuek, ditambah hampir gak pernah senyum kayaknya tuh anak. Tuh anak juga mirip siapa sih, ya ampun. Kalau mirip bapaknya harusnya gak terlalu dingin begitu kalau sama cewek, ya kali mantan biawak dingin sama cewek. Gak ada sejarahnya," gerutu Olive yang membuat teman-temannya terkekeh kecil.
Lalu mereka semua kini mendekati Olive yang masih saja menggerutu tak jelas.
"Udahlah Kak. Sifat Al dari kecil kan emang gitu," ucap Dea sembari mengelus lengan Olive.
"Tapi dia sekarang lebih dingin De. Mana tambah menyebalkan juga lagi. Huh," tutur Olive.
"Harusnya kita bersyukur tau, dengan sifat Al yang dingin begitu sama orang lain," timpal Kiara yang membuat semua orang kini mengalihkan pandangannya kearah Kiara.
"Ya kalau dia punya sifat dingin begini, berarti apa yang dulu Kak Dev lakuin gak akan pernah Al lakuin dong," sambung Kiara saat melihat tatapan orang-orang disekelilingnya yang seakan-akan meminta penjelasan dirinya.
Dan perkataannya itu membuat semua orang tampak berpikir sejenak, kemudian beberapa saat setelahnya mereka menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Kiara tadi.
"Memang punya sifat kayak Al atau sifat yang kita miliki sendiri tuh ada baik dan buruknya. Dan itu semua hanya kita sendiri yang bisa mengontrolnya dan mengubahnya. Walaupun orang lain contohnya Kak Olive yang selalu protes sama Al, kenapa dia begini, begitu dan lain sebagainya bahkan Kak Olive meminta untuk mengubah sifatnya itu. Jika Al tidak menginginkannya maka perubahan sifat itu tidak akan pernah terjadi, walaupun Kak Dev atau Kak Cia yang menyuruhnya sekalipun. Dia tetap tak peduli dan tak akan mengubahnya. Karena tubuhnya sudah lebih nyaman dengan sifat yang ia tanam sejak ia kecil dulu," ucap Kiara panjang lebar.
"Udah-udah gak usah bahas Al lagi. Takutnya dia nanti dengar dan merasa gak nyaman dengan kita di kemudian hari. Dan biarkan saja dirinya begitu karena itu yang paling nyaman untuknya," ujar Vino yang membaut Olive menghela nafas.
Dan mereka semua kini kembali melangkahkan kakinya menuju ke salah satu ruangan yang sering mereka gunakan untuk berkumpul ketika tengah bertamu di rumah keluarga kecil Devano. Yang kebetulan ruangan itu ada di lantai dua rumah tersebut.
Sedangkan disisi lain, Rafa dan Kiya masih sibuk dengan box mainan tersebut.
"Uncle, Kiya gak bisa buka," ucap Kiya dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Kita bukanya di dalam aja ya. Kalau disini nanti di minta sama orang-orang," ujar Rafa yang membuat Kiya kini mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang sudah lumayan sepi itu.
"Ya udah, Uncle angkat box ini masuk kedalam," ucap Kiya dan setalahnya ia melenggang pergi begitu saja. Rafa yang sudah tak heran lagi dengan kelakuan anak-anak sahabatnya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu setelahnya ia mengangkat box tadi masuk kedalam rumah tersebut dan mengikuti langkah Kiya yang tampaknya tengah menuju lantai dua.
Dan saat dirinya sudah berada di lantai dua, ia langsung melangkahkan kakinya hingga sampai didepan pintu kamarnya. Dan setalah pintu kamar itu terbuka, mata kita langsung terbelalak sempurna.
"Aaaaaaaa baby Apas!" teriak Kiya kegirangan saat ia melihat bayi gembul yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya ditemani oleh sang papa, siapa lagi kalau bukan Zidan.
Zidan yang tadinya sudah mulai tenang karena baby Avas baru saja tertidur pun kini ia memelototkan matanya saat teriakan Kiya memenuhi pendengarannya.
Tapi untungnya, anaknya itu tidak terbangun setelah mendengar teriakan cempreng itu. Jika saja sampai baby Avas bangun, mungkin Zidan akan memakan Kiya mentah-mentah saat itu juga.
Sedangkan Kiya yang sudah sangat excited pun dengan segera ia berlari menuju kearah ranjang di kamar tersebut. Dan saat dirinya sudah berada disamping tubuh baby Avas, tangannya bergerak ingin menyentuh pipi gembul bayi mungil tersebut. Tapi sayangannya sebelum jari-jarinya itu mendarat di pipi bayi tersebut, Zidan dengan gesit menghentikan niat Kiya tadi.
"Eits mau apa kamu?" ucap Zidan.
"Kiya cuma mau colek pipinya aja."
"Gak boleh," tutur Zidan.
"Kenapa gak boleh? Kiya gak akan nyakitin baby Apas, Uncle. Jadi tenang aja," ujar Kiya.
"Apas Apas oh Apas. Avas, Kiya, nama baby tuh Avas bukan Apas," ucap Zidan.
"Uncel juga tau kalau kamu gak akan nyakitin baby Avas tapi kalau kamu colek-colek pipi baby sekarang yang ada babynya bangun dari tidurnya," sambung Zidan yang membuat Kiya kini menatap kembali wajah baby Avas.
__ADS_1
"Hmmmm oke deh. Kiya gak akan colek-colek baby Apas saat dia tidur," ujar Kiya.
"Apas lagi, Apas lagi. Ya Tuhan," tutur Zidan frustasi karena dari pertama anaknya lahir hingga saat ini, Kiya terus saja memanggil nama anaknya itu dengan nama Apas bukan Avas. Mungkin karena Kiya masih sulit mengucapkan huruf V jadi ia ganti dengan huruf P saja yang sangat mudah ia ucapkan.