Young Mother

Young Mother
Khawatir


__ADS_3

Ciara dan juga Devano sama-sama berlari dari arah berbeda menuju ke arah Al yang sudah mendarat di lantai rumah tersebut.


"Huwaaaaa, sakit," tangis Al pecah sembari memegangi kepalanya yang tadi lebih dulu mendarat dari tangga tersebut.


"Mana yang sakit?" tanya Devano sembari menggendong tubuh Al.


"Kepala Al sakit Papa hiks," keluh Al.


"Coba sini Papa lihat," tutur Devano sembari menyingkirkan tangan Al dari keningnya.


"Astaga," kaget Devano saat melihat memar di dahi Al.


"Al, maafin Mama hiks," ucap Ciara yang merasa bersalah atas kelalaiannya menjaga Al.


"Kita kerumah sakit," tutur Devano yang juga khawatir jika Al mendapat luka dalam di kepalanya dan akan berakibat fatal. Ciara mengangguk setelah itu mereka bergegas keluar rumah menuju rumah sakit.


Tak berselang lama mereka telah sampai di rumah sakit dan dengan segera Devano membawa Al ke salah satu dokter yang biasanya mengurus kesehatan keluarga besarnya.


Saat sudah berada di depan ruangan dokter yang ia tuju, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Devano langsung nyelonong masuk begitu saja.


"Astagfirullah," kaget dokter tersebut dan menatap Devano, Al dan juga Ciara secara bergantian.


"Kamu ini bisa bilang permisi gak sih?" omel dokter tersebut.


"Bukan saatnya kamu ngomel-ngomel, sekarang periksa keadaan anakku!" perintah Devano sembari membaringkan Al di atas banker ruangan tersebut.


Dokter tersebut nampak terkesiap kaget saat mendengar kata anak terselip di ucapan Devano.


"Hah? gimana? kamu tadi bilang anak?" tanyanya.


Devano menghela nafas.


"Jangan banyak tanya Rendi!" geram Devano.


Dokter yang bernama Rendi tersebut sekarang tampak mengatupkan bibirnya tak berani lagi berbicara saat Devano menatap dirinya dengan tatapan membunuh. Ia pun memilih langsung menangani Al yang masih menangis dan terus memegangi tangan Devano, tak ingin jika Devano meninggalkan dirinya di ruangan periksa sendirian.


"Al, tenang oke. Uncle dokter gak jahat kok," tutur Devano menenangkan.

__ADS_1


"Mana yang sakit tampan?" tanya Rendi yang sudah siap memeriksa kondisi Al.


Al yang merasa pertanyaan itu untuk dirinya, kini dengan memberanikan diri ia menoleh kearah Rendi yang membuat sang empu nampak melongo dan menatap wajah Al kemudian wajah Devano terus menerus.


"Astaga, ternyata memang benar anak Devano. Mukanya saja mirip kayak gini. Huh dasar anak muda jaman sekarang gak ada yang benar, kecuali aku yang masih polos gini, punya pacar aja kagak ya kali udah punya anak," batin dokter Rendi.


"Uncle dokter, kepala Al sakit, hiks," ucap Al masih dengan sesegukan.


"Coba uncle dokter lihat dulu ya," tutur dokter Rendi dan dengan perlahan ia memeriksa kondisi Al dengan teliti.


Saat Al di periksa, Ciara tak bisa tenang rasa salah itu terus berada di hatinya. Devano yang melihat keresahan Ciara pun langsung memeluk tubuh Ciara dari samping dengan menggunakan satu tangannya.


"Tenang lah dan jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri," ucap Devano.


"Tapi Al jatuh gara-gara aku. Aku gak bisa jagain dia Dev," tutur Ciara.


"Gak, ini bukan salah kamu. Udah ya kamu tenang dulu dan jangan nangis lagi. Kalau kamu nangis gini, Al nanti gak mau diperiksa lagi," tutur Devano, kemudian ia membawa tubuh Ciara kedalam pelukannya untuk menyalurkan ketenangan.


Hanya butuh beberapa menit saja dokter Rendi telah selesai memeriksa seluruh tubuh Al karena ia tadi sempat bertanya kepada Al kenapa dahinya bisa memar seperti itu dan dengan polosnya Al menjawab kalau ia terjatuh dari tangga rumahnya maka dari itu dokter Rendi memeriksa bagian tubuh yang lain tanpa terlewat sedikitpun.


"Memar di dahi Al tak parah hanya perlu di kompres pakai es saja. Atau mau di lakukan rontgen saja biar tau lebih detailnya," tutur dokter Rendi karena ia juga tak terlalu yakin dengan prediksinya.


"Baiklah, kita sekarang ke ruang rontgen." Ketiga orang dewasa ditambah Al yang berada di gendongan Devano itu bergegas keruangan yang disebutkan dokter Rendi tadi.


Saat sudah berada diruangan tersebut, dokter Rendi segera menyiapkan segala alat yang akan ia gunakan nanti.


"Ganti pakaian Al dengan baju ini!" perintah dokter Rendi sembari memberikan baju rumah sakit kepada Devano.


Devano pun mengangguk dan mendudukkan tubuhnya Al yang sudah mulai tenang di kursi ruang tersebut.


"Al ganti pakai ini dulu ya sayang," ucap Devano dengan lembut.


"Gak mau. Al gak mau pakai baju itu Papa. Al takut," berontak Al.


Devano menatap wajah Ciara yang juga sudah berhenti menangis. Ciara yang mengerti dengan tatapan Devano itu pun mengangguk dan segera memberikan pengertian kepada Al.


"Al, ganti baju dulu ya sayang. Nanti kalau Al sudah selesai di periksa Mama janji akan beliin Al es krim yang banyak," rayu Ciara.

__ADS_1


"Tapi Al takut Mama."


"Bukankah Mama pernah bilang sama Al, kalau anak laki-laki itu gak boleh takut dengan apapun. Apa Al ingat itu?" Al tampak mengangguk.


"Jadi sekarang Al ganti baju dulu ya," sambung Ciara sembari perlahan ia membuka kancing baju Al. Dan dengan ragu Al mengangguk.


Ciara tersenyum dan dengan cepat ia mengganti baju Al, saat sudah selesai, dokter Rendi menghampiri mereka.


"Al sudah siap?" tanya dokter Rendi.


"Al sudah siap uncle, tapi Al juga takut sama alat itu," tunjuk Al pada salah satu alat di ruang tersebut.


"Alat itu gak bisa gigit kok Al, jadi Al gak perlu takut lagi. Kalau alat-alat disini jahat sama Al nanti uncle akan marahin mereka," tutur dokter Rendi.


"Al ikut sama uncel dulu ya," sambungnya dan dijawab anggukan oleh Al kemudian ia segera menggendong tubuh Al masuk kedalam ruangan ronsen meninggalkan Ciara dan juga Devano di tempat tadi.


25 menit telah berlalu tapi nampaknya Al maupun dokter Rendi belum keluar juga dari ruangan rontgen tadi dan hal itu membuat Ciara semakin merasakan kekhawatiran yang teramat besar.


Saat Devano ingin berdiri dari duduknya dan menghampiri Ciara, ponsel yang berada disaku celananya berdering dan mengharuskan dirinya untuk melihat siapa orang yang meneleponnya.


"Assalamualaikum, kenapa Mom?" tanya Devano setah sambungan telepon dari Mommy Nina terhubung.


📞 : "Waalaikumsalam. Dev, nanti bawa Al dan Ciara ke rumah ya setelah kalian selesai jalan-jalan. Mom udah gak sabar ini lihat mereka berdua."


Devano tampak menghela nafas.


"Dev gak jadi jalan-jalan Mom."


📞 : "Kok gak jadi sih?"


"Al tadi jatuh dari tangga Mom dan sekarang Dev baru dirumah sakit."


📞 : "Hah? Al jatuh dari tangga? Kok bisa? terus sekarang dia gimana? Ada luka yang parah gak? Katakan kalian di rumah sakit mana!" tanya Mommy Nina beruntun.


"Dev juga gak tau Mom, sekarang Al baru di rontgen. Mom gak perlu khawatir."


📞 : "Gak khawatir gimana kalau cucu Mommy satu-satunya terluka. Cepat beritahu Mom kalian dimana sekarang!"

__ADS_1


"Mom, tenanglah. Mom juga tidak perlu kesini. Nanti Dev kabarin lagi ya kalau Al sudah selesai diperiksa," tutur Devano setelah itu ia mematikan sambungan telepon tersebut sebelum Mommy Nina mengomel dan membuat dirinya semakin pusing saja.


__ADS_2