
Devano kini sudah berada di sekolah Al yang merupakan sekolah milik keluarganya. Ia segera masuk kedalam area sekolah tersebut yang sudah banyak para ibu-ibu yang juga tengah menunggu kepulangan anak-anak mereka.
Tak berselang lama setelah Devano berada di lingkungan sekolah tersebut, kelas Al juga sudah mulai di bubarkan. Satu-persatu anak murid di dalam kelas berjejer untuk bersalaman dengan guru mereka.
Kini Al sudah berada di luar kelasnya setelah mendapat giliran bersalaman dengan gurunya dan kini anak tampan itu tengah celingukan mencari keberadaan orangtuannya.
"Al," panggil Devano sembari melambaikan tangannya kearah Al.
Al kini berlari menuju Devano yang sudah menyambutnya dengan kedua tangan yang terbuka.
"Gimana sekolahnya?" tanya Devano saat Al sudah di dalam gendongannya.
"Ya seperti biasanya. Tak ada perubahan sama sekali," ucap Al layaknya orang dewasa.
Devano menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kemudian ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
"Kenapa hari ini Papa yang jemput? Mama kemana? Dan Papa kenapa gak pakai pakaian yang gagah?" tanya Al cerewet saat dirinya sudah duduk di car seat di kursi belakang.
"Mama dirumah sayang. Papa hari ini libur kerja jadinya bisa jemput Al," jawab Devano yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Kenapa Mama tidak ikut jemput Al?" tanya Al lagi dengan memajukan bibirnya beberapa senti kedepan. Padahal baru tadi pagi Al berpisah dengan sang Mama tapi rasa rindunya tak pernah ada habisnya walaupun hanya beberapa jam saja terpisah.
"Mama capek sayang. Oh ya Al mau beli apa?" tanya Devano agar anaknya itu tak merajuk lagi. Belum apa-apa saja Al sudah bad mood apalagi nanti saat dirinya juga Ciara mengungkapkan ayah kandung Al. Yang pasti akan tambah runyam kalau hal itu tak diatasi terlebih dahulu oleh Devano.
Al tampak berpikir sejenak.
"Al mau burger," ucap Al. Devano mengangguk kemudian ia menjalankan mobilnya menuju ke salah satu gerai yang sangat terkenal di Indonesia dan manca negara.
Setelah membelikan makanan yang diinginkan Al, Devano langsung menjalankan kembali mobilnya menuju rumahnya.
Tak berselang lama, mobil Devano telah memasuki garasi rumahnya. Lalu ia langsung keluar dan menuju pintu disamping car seat Al.
Al kini berlari masuk kedalam rumah tersebut setelah Devano menurunkannya.
"Assalamualaikum Mama, Al pulang," teriak Al.
Ciara yang tengah duduk santai sembari menyaksikan drama Korea tak lupa juga di temani cemilan di pangkuannya kini menoleh kesumber suara dan mendapati Al tengah berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Hey anak tampan Mama udah pulang. Gimana hari ini happy atau tidak?" tanya Ciara sembari memeluk tubuh Al dan membawa tubuh itu kedalam pangkuannya.
"Al happy kalau lihat Mama. Kalau tidak ya biasa aja," jawab Al. Ciara hanya menggelengkan kepalanya dan terus memeluk tubuh Al. Hingga Devano telah bergabung dengan mereka berdua.
Ciara kini menoleh kearah Devano dengan alis yang terangkat. Memberikan kode Devano dan seolah-olah kode itu berbicara, kapan kita akan membahas tentangmu dengan Al?
Devano yang peka akan kode dari Ciara itu pun menghela nafas dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah Ciara juga Al.
"Al," panggil Devano sembari mengelus rambut sang anak yang tengah anteng dalam pelukan Ciara.
"Iya Papa," jawab Al sembari menegakkan tubuhnya dan menoleh kearah Devano.
"Papa sama Mama mau ngomong sama Al," ucap Devano.
"Bukankah Papa sama Mama selalu ngomong sama Al selama ini?" Devano dan juga Ciara saling tatap dan mereka sama-sama tersenyum atas kepolosan anaknya itu.
"Maksud Papa, Papa sama Mama mau ngomong hal yang paling serius mengenai sebuah rahasia yang Al belum sempat tau. Makanya hari ini Papa sama Mama mau bicarain tentang rahasia itu," tutur Devano.
Al tampak antusias dan ia membenarkan posisi duduknya hingga berada di tengah-tengah antara Ciara dan Devano.
"Tapi Al janji dulu gak boleh marah sama Papa ataupun Mama." Devano mengacungkan jari kelingkingnya kearah Al yang langsung disambut oleh sang empu.
"Oke Al janji."
"Apa Al ingat waktu dulu Al tanya keberadaan Papa Al saat belum ada Papa Dev disisi Al saat itu?" Al menganggukkan kepalanya.
"Al ingat bahkan sangat ingat. Dan ketika Al tanya hal itu Mama selalu bilang kalau Papa sudah berada di surga," ucap Al.
"Al, sebenarnya Papa Al yang selama ini Al cari dan tanyakan ke Mama itu adalah Papa Dev," ucap Devano.
Al tampak mengangguk menanggapi pengakuan dari Devano tadi.
"Berati Papa habis dari surga. Boleh dong Al diceritain disurga itu ada apa saja sampai-sampai Al tak di perbolehkan Mama untuk ikut Al," tutur Al sembari menatap kearah Ciara dengan mencebikkan bibirnya kemudian beralih kembali menatap Devano.
Devano dan juga Ciara yang sudah siap setengah mati jika Al merajuk nanti juga sudah menyiapkan segala alasan untuk mereka berikan ke Al kini melongo tak percaya dengan respon Al yang begitu santai.
"Papa," rengek Al saat dirinya merasa diacuhkan oleh sang Papa.
__ADS_1
"Ah iya sayang. Tadi Al tanya gimana?"
"Al tanya disurga itu bagaimana rasanya? dan ada apa aja disana?" ulang Al.
Devano mengigit bibir bawahnya, ia tak tau harus memberi jawaban apa atas pertanyaan Al yang diluar kendalinya itu. Tapi sesaat setelahnya ia berdehem kemudi ia menatap wajah Al.
"Hmmm gini sayang. Surga itu tempat paling indah yang tak pernah ada di dunia ini. Apapun ada disana. Tak ada tangis, adanya hanya kebahagiaan karena rahmat Allah," jelas Devano sekenanya saja.
Al tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa Al boleh kesana?"
"Siapapun boleh kesana termasuk Al. Asalkan Al tidak boleh melawan orang yang lebih tua juga selalu berdoa dengan Allah tak lupa untuk selalu menjaga ibadah Al dan juga berbagi dengan orang yang lebih membutuhkan. Al paham sampai disini?" Al menganggukkan kepalanya tandanya ia paham dengan ucapan Devano tersebut.
"Jadi Al gak marah kan sama Papa dan Mama?" tanya Devano memastikan.
"Kenapa Al harus marah. Al juga udah lama tau tentang ini semua," tutur Al. Lagi-lagi Ciara dan Devano saling pandang kemudian dengan bersama ia menatap kearah Al.
"Al tau dari mana?" tanya Ciara.
"Al waktu itu hanya penasaran saja Mama karena wajah Papa sangat mirip dengan Al saat kita berdua pertama kali bertemu dulu. Dan Al juga tau kalau Papa selalu memerintahkan bodyguard untuk jaga Al. Saat itu pula Al tanya ke Om bodyguard, apakah Papa Dev adalah Papa kandung Al yang selama ini Al cari. Tapi sayang Om bodyguard juga tak tau kebenarannya dan alhasil Al cari tau sendiri dengan mencari dokumen yang selalu Mama sembunyikan di dalam lemari."
"Dokumen?" tanya Ciara memutus cerita Al. Al mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bentar Al cari di kamar Al dulu." Al kini berlari ke menuju kamarnya yang terletak di lantai dua rumah tersebut meninggalkan kedua orangtuanya yang tengah melongo tak percaya.
Tak berselang lama Al telah kembali dengan membawa satu buah map dan segera menyerahkan ke Ciara.
Ciara yang penasaran dokumen apa yang membuat Al tau kebenarannya sebelum dirinya juga Devano memberitahunya dengan segera ia membuka map tersebut.
"Akta kelahiran. Pantas saja," ucap Ciara. Akta kelahiran Al memang Ciara cantumkan nama Devano sedari awal tanpa merubah sedikitpun hingga sekarang.
"Al juga tanya Om bodyguard tentang dokumen itu. Dan kata Om bodyguard kalau Al mau tau dengan pasti Al harus melakukan tes DNA," tutur Al lagi.
"Tes DNA? Al melakukan hal itu nak?" tanya Devano tak habis pikir.
"Iya. Tapi Al dibantu sama Om bodyguard karena Al tidak tau caranya buat tes DNA itu bagaimana. Alhasil Al hanya disuruh menyerahkan rambut Al juga rambut Papa. Setelah itu Al dan Om bodyguard kerumah sakit untuk menyerahkan rambut itu ke dokter. Dan setelah Al nunggu sampai beberapa hari hasilnya keluar Al baru tau jika memang benar Papa Dev adalah Papa kandung Al. Jadi saat Papa bicara tadi Al tidak marah sama sekali karena Al udah tau semuanya. Yang Al masih penasaran Papa kesurga pakai apa? pakai pesawat, perahu, kereta atau pakai mobil saja," tutur Al diakhiri dengan kepolosannya yang membuat Devano maupun Ciara menepuk jidatnya sendiri. Setidaknya secerdas-cerdasnya Al, anak itu masih saja percaya dengan kebohongan yang Ciara buat dulu.
__ADS_1