Young Mother

Young Mother
Dimulai


__ADS_3

Kini usia kandungan Ciara sudah memasuki 9 bulan, tinggal menunggu beberapa hari lagi keluarga Rodriguez akan bertambah anggota dengan kehadiran baby girl di tengah-tengah keluarga itu.


Awalnya Al merajuk karena ia menginginkan seorang adik yang berjenis kelamin laki-laki, katanya kalau mempunyai adik perempuan, ia tak bisa mengajaknya bermain. Walaupun bisa paling-paling dirinya di paksa untuk memainkan boneka yang sangat ia benci yaitu boneka Barbie. Tapi berkat kesabaran dan kata-kata lembut dari orangtuanya untuk menjelaskan kepada Al, akhirnya anak laki-laki itu menerima takdir sang adik. Bahkan dia berjanji akan terus melindungi adiknya itu walaupun nyawa sebagai taruhannya. Al masih kecil tapi pemikirannya sangat sadis. Entah sifat dari mana yang Al dapat. Dari Ciara sudah dipastikan tidak mungkin, kalau dari Devano hmmm bisa jadi.


Dan kini anak laki-laki pertama pasangan Devano dan Ciara tengah berdiri tegap di depan gerbang sekolah, menunggu para om bodyguard menjemputnya karena para om itu entah kemana menghilangkan, sama seperti dulu. Ketika hilang tiba-tiba dan muncul di hadapan Al penuh dengan lebam. Tapi anehnya sekarang para satpam yang menunggu sekolah pun juga tak terlihat, para guru yang biasanya masih seliweran pun terasa sepi padahal baru beberapa menit para anak murid sekolah tersebut berhamburan pulang. Dan sekarang hanya ada suasana sepi yang menemani Al.


Disaat dirinya bersantai sembari menyenderkan tubuhnya di gerbang sekolah tersebut, tiba-tiba saja ada wanita dengan pakaian seksi mendekatinya.


Al memincingkan matanya dengan wajah datar tanpa senyum ramah di bibirnya di tambah tatapan tajam ia arahkan ke wanita yang sudah berada di depannya.


Wanita itu sempat menelan salivanya dengan susah payah saat melihat tatapan Al yang seakan menghunus dirinya. Dengan susah payah ia menormalkan kembali detak jantungnya yang hampir meledak hanya karena tatapan itu. Kemudian ia merubah mimik wajahnya yang tadinya angkuh menjadi senyum lebar.


"Hay nama kamu Al kan?" tanyanya. Al menatap wanita di depannya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki lalu senyum miring tercetak di bibirnya. Ia menengadahkan kepalanya agar bisa bertatapan langsung dengan mata wanita itu.


"To the point please!" perintah Al penuh dengan penekanan, sama persis seperti Devano saat memerintah anak buahnya.


Wanita itu tertegun dengan tangan yang terkepal erat saat melihat senyum miring dan tatapan meremehkan yang terpancar di wajah Al.


Al yang terus menunggu jawaban dari wanita tersebut kini mulai jengah karena wanita itu tak kunjung menjawab tujuannya menghampiri Al, bahkan tau namanya walaupun baru pertama bertemu.


"Jika tidak ada yang ingin di bicarakan. Saya harap anda pergi dari hadapan saya. Saya sudah terlalu muak melihat wajah anda yang bergitu menjijikkan," tutur Al tanpa rasa takut dan bersalah telah mengucapkan hal itu. Bahkan ia sudah tak peduli dengan sopan santun yang diajarkan oleh kedua orangtuanya. Karena menurut dirinya, orang yang sedang berhadapan dengannya itu memancarkan aura jahat di sekitarnya. Jadi tak salah bukan kalau Al mengucap hal yang menohok seperti itu, karena firasatnya juga mengatakan akan ada sesuatu yang tak beres yang akan ia alami nanti.

__ADS_1


Wanita itu tambah geram, ia ingin sekali menghajar Al saat ini juga, memberikan pelajaran yang setimpal untuk anak yang sangat kurang ajar itu. Tapi ia masih ingat misinya alhasil sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Dan kini wajah yang sangat muram itu dengan terpaksa harus menampilkan senyum semanis. Hal itu membuat Al mual seketika.


"Al tidak boleh berucap seperti itu sama Aunty. Itu gak baik tau Al. Oh ya, aunty kesini karena disuruh Papa kamu buat jemput Al," ucap wanita tersebut.


Al memincingkan alisnya, ia tak akan mudah percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu.


"Kenapa harus anda? kemana para om bodyguard?" tanya Al penuh selidik.


Wanita itu tampak gelagapan tapi wajahnya masih bisa ia kondisikan sehingga kegugupannya tak terlihat oleh Al.


"Om bodyguard lagi ada tugas lain dari Papa kamu. Makanya aunty sekarang yang jemput Al," jawabnya tanpa ragu sedikitpun.


"Anda punya ponsel?" tanya Al tiba-tiba.


"Punya."


"Coba sini. Saya mau memastikan apa Papa saya benar-benar menyuruh anda untuk menjemput saya." Al menengadahkan telapak tangannya sembari jari-jari kecil di tangannya ia gerakkan guna mengisyaratkan wanita itu untuk segera memberikan ponselnya ke tangan Al.


Wanita itu membelalakkan matanya, tak menyangka bahwa Al sangat sulit untuk ia kelabuhi.


"Aunty gak punya pulsa Al. Tapi aunty punya bukti pesan dari Papa kamu yang udah nyuruh aunty." Wanita itu kini mencari ponselnya didalam tas kecil yang ia bawa tadi dan setelah mendapatkannya ia langsung mengotak-atik ponselnya sebentar untuk mencari sebuah teks pesan didalam ponselnya.

__ADS_1


Saat ia sudah menemukan pesan yang ia maksud, wanita itu langsung menunjukkan layar ponselnya yang tertera sebuah teks tadi kehadapan Al.


Al dengan cepat membaca teks tersebut dan kepalanya mengangguk-angguk setelah selesai membaca pesan tersebut.


"Oke saya percaya dengan anda," tutur Al final. Wanita itu menarik kembali ponselnya dan menaruhnya lagi didalam tas itu.


"Kan aunty udah bilang dari tadi. Al aja yang sulit percaya sama aunty. Ya udah sekarang Al ikut aunty yuk," ajaknya sembari mencoba memegang tangan Al tapi dengan secepat kilat Al menghindar.


Al paling anti disentuh oleh orang lain selain orangtuanya juga orang-orang yang benar-benar ia kenal saja. Selain itu jangan harap orang lain bisa menyentuh Al walaupun seujung kuku pun Al tak akan biarkan.


"Tak perlu sentuh saya. Cukup antar saya sampai kendaraan yang anda tumpangi untuk kesini dan mengantar saya sampai rumah dengan selamat," ucap Al penuh penekanan.


Wanita itu tampak memutar bola matanya malas.


"Cih, bocil aja sok keras. Bentar lagi juga mati," batinnya.


Al yang tadinya membuang muka dan menatap kearah lain, kini matanya kembali menatap wanita yang berada disampingnya yang tengah komat-kamit tak jelas.


"Jika anda terus komat-kamit seperti itu saya akan telat sampai dirumah. Dan apakah anda kesini membawa mobil? karena saya tidak mau kalau harus panas-panas dijalan menggunakan motor," ucap Al berbohong. Pasalnya motor adalah kendaraan favoritnya.


"Tenang aja Al, aunty kesini pakai mobil. Bukan pakai motor, sepeda, bajai ataupun becak. Jadi Al bakal aman sejahtera," tuturnya dengan emosi yang sudah tertahan.

__ADS_1


"Bagus. Buruan jalan duluan! saya akan mengikuti anda di belakang," perintah Al. Wanita itu mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya ia di perintah oleh anak bau kencur seperti Al ini. Tapi tak hayal, ia segera berjalan mendahului Al yang perlahan mengekor di belakangnya.


Namun tanpa wanita itu ketahui, Al memencet tombol rahasia di dalam jam tangan yang ia kenakan saat ini. Jam tangan khusus yang Devano ciptakan untuk keamanan Al. Dan tombol itu nantinya akan mengirim sinyal bahaya ke Devano dan juga secara bersamaan jam itu akan memudahkan Devano untuk menemukan lokasi Al nanti.


__ADS_2