Young Mother

Young Mother
Cerita Penculikan Al


__ADS_3

Sore harinya saat ketiga kesayangan Devano tengah berkumpul di dalam kamar utama rumah tersebut, Devano baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan kegiatannya. Ia tersenyum saat melihat kehangatan dari keluarga kecilnya itu hingga ia teringat sesuatu yang membuat dirinya menghela nafas berat kemudian ia mendekati Ciara yang tengah duduk disamping Al dan juga Kiya.


Devano mengelus rambut Ciara yang membuat sang empu menengadahkan kepalanya, menatap wajah Devano yang tengah tersenyum kepadanya.


"Ada apa?" tanyanya. Devano menundukkan kepalanya hingga bibirnya kini berada di samping telinga Ciara.


"Ada sesuatu yang harus aku katakan ke kamu. Dan kita bicara di ruang kerjaku saja jangan disini," bisik Devano.


"Terus anak-anak gimana?" tanya Ciara dengan suara lirihnya agar Al tak mendengar pembicaraannya itu.


"Panggil Mbak suruh salah satu dari mereka buat jagain Al sama Kiya dulu disini," ucap Devano.


Ciara menganggukkan kepalanya karena perasaannya kini menjadi tak tenang saat mendengar bahwa Devano akan berbicara dengannya. Walaupun suaminya itu sering cerita dengan dirinya mulai dari masalah hingga happy daynya di luar rumah tapi itu dilakukan Devano saat sudah malam hari dan kedua anaknya itu telah terlelap bukan seperti saat ini yang sinar matahari saja masih malu-malu untuk meninggalkan bumi. Dan hal itu membuat hati Ciara menjadi gusar juga sekaligus khawatir.


Ciara kini beranjak dari kamar tersebut untuk menemui art rumahnya sedangkan Devano memperhatikan Al.


"Al," panggil Devano, menghentikan aksi Al yang tengah mencium gemas pipi Kiya.


"Iya Papa," jawab Al sembari menoleh kearah Papanya.


"Al bisa jagain baby Kiya sendiri kan?" tanya Devano.


"Bisa. Al kan sudah besar. Dan untuk urusan jagain baby Kiya itu masalah kecil, Papa," jawab Al dengan penuh percaya diri. Devano tersenyum kemudian mengacak rambut Al dengan gemas.


"Papa percaya sama kamu," ujar Devano.


"Memangnya Papa sama Mama mau kemana?" tanyanya penasaran.


"Mau ke ruang kerja Papa, mau bicarain soal pekerjaan. Al tetap disini oke, jangan kemana-mana. Awasi baby Kiya ya. Papa sama Mama cuma sebentar kok." Al tampak menganggukkan kepalanya.


"Ya udah kalau gitu Papa tinggal ya. Nanti ada Mbak yang bantu Al buat jagain baby Kiya," sambung Devano.


Al menjawab ucapan dari Devano dengan acungan jempol. Setelah itu Devano kini beranjak keluar dari kamar tersebut dan saat dirinya baru keluar bertepatan itu pula Ciara kembali dengan satu art di belakangnya.


"Titip mereka berdua ya Mbak. Jangan biarin Al buat nyusul kita," tutur Devano. Art tadi mengangguk.


"Baik tuan," ucapnya.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu Devano berjalan lebih dulu menuju ruangannya.


"Titip bentar ya Mbak," ucap Ciara sebelum mengikuti langkah Devano. Sedangkan art tadi lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan setelah kedua majikannya itu sudah menjauh, art tadi mulai masuk kedalam kamar utama tersebut.


Kini sepasang suami istri itu sudah berada di dalam ruangan kerja Devano.


"Duduk sini sayang," ucap Devano sembari menepuk-nepuk sofa disampingnya.


Ciara pun beranjak dan duduk disamping suaminya.


"Apa yang akan kamu bicarakan?" tanya Ciara tak sabaran.


"Sabar dulu sayang. Gak mau mesra-mesraan dulu gitu sama aku mumpung disini gak ada dua bocil," tutur Devano yang kini sudah melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan mencium pipi Ciara membabi buta.


Ciara berdecak, bisa-bisanya suaminya itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Kalau tau dia hanya seperti ini, ia akan meminta Devano berbicara di kamar saja sekalian memantau kedua anaknya.


"Buruan sih Dev kalau mau bicara," geram Ciara karena pipinya terus saja di cium Devano tanpa henti.


"Bentar dulu."


"Dev!" Devano berdecak saat suara penuh penekanan itu keluar dari bibir sang istri.


"Ini semua berkaitan dengan Al," tutur Devano yang membuat kening Ciara berkerut.


"Al kenapa?" tanyanya penasaran. Devano menghela nafas sebelum mulai angkat suara lagi.


"Saat kamu mengalami kontraksi pada waktu itu, Al sebenarnya tengah di culik," jawab Devano yang langsung membuat Ciara melebarkan matanya.


"Diculik?" Devano menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa? bodyguard yang jagain Al kemana? Kenapa bisa kecolongan begitu? Dan siapa yang nyulik Al?" cerocos Ciara.


"Satu-satu sayang kalau tanya tuh. Biar akunya gak bingung buat jawabnya," tutur Devano.


"Ck jangan protes dulu." Devano menghela nafas saat suara Ciara sudah mulai tak enak ia dengar.


"Oke-oke aku gak akan protes. Tapi kamu harus tenang dulu. Ambil nafas, buang perlahan," tutur Devano dengan suara lembut. Ciara mengikuti perintah dari Devano tadi.

__ADS_1


"Udah tenang?" Ciara menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu aku mulai jelasin ya satu persatu. Bodyguard yang jagain Al pada waktu itu tengah diserang secara mendadak oleh orang yang gak mereka kenal, bahkan guru-guru dan security di sana disekap oleh komplotan orang tak dikenal itu. Jadi hari itu hanya ada Al sendiri di area sekolah. Dan yang nyulik Al itu Tiara," ucap Devano yang langsung melihat kilatan api tajam dari mata Ciara dan hal itu baru pertama kali Devano lihat yang membuat sang empu langsung bergidik ngeri.


"Jangan gitu ih tatapannya," ujar Devano yang jadi takut sendiri bahkan ia mulai memeluk tubuh Ciara, agar istrinya itu menjadi lebih tenang lagi.


"Katakan dimana wanita sialan itu sekarang?" tanya Ciara dengan suara dinginnya. Sepertinya pelukan Devano tak mempan untuk menenangkan Ciara saat ini.


"Sayang tenang dulu, oke," tutur Devano.


"Kamu suruh aku tenang sedangkan nyawa Al hampir dalam bahaya pada saat itu dan baru hari ini kamu cerita masalah ini! kamu sengaja menyembunyikan hal ini karena gak mau kalau Tiara kenapa-napa bukan? katakan saja Dev!" Devano melepaskan pelukannya.


"Kok kamu jadi negatif thinking gini sama aku?"


"Halah katakan aja jika kamu masih punya perasaan dengan wanita sialan itu sehingga kamu gak mau dia terluka saat aku tau hal ini dan berakhir kasih pelajaran kedia!" Devano memijit ujung hidungnya. Jika ia tak ingat bahwa Ciara masih dalam mood yang naik turun setelah melahirkan, mungkin Devano akan terpancing dengan kata-kata Ciara tadi yang akan membuat mereka ribut besar nantinya. Tapi untungnya Devano masih ingat hal itu dan juga ia ingat bahwa yang ia hadapi saat ini adalah belahan jiwanya yang tak mungkin ia sakiti hati, perasaan atau raganya lagi. Sudah cukup dia memberikan luka di diri Ciara dulu dan tidak untuk sekarang.


"Baiklah aku akan kasih tau kamu dia dimana, dia sekarang ada di markasku. Dan stop untuk berpikir bahwa aku masih punya perasaan sama dia. Karena didalam hatiku bahkan seluruh hidupku hanya ada kamu, nama kamu dan dirimu tak ada orang lain yang bisa menggeser tahtamu di hidupku. Kamu harus ingat itu sayang," tutur Devano diakhiri dengan mengecup bibir Ciara singkat.


"Markas?" tanya Ciara dengan suara yang sudah mulai melembut.


"Kamu punya markas?" tanyanya lagi. Devano menghela nafas kemudian mengangguk. Niatnya tak ingin memberitahu tentang markas dan aksi kejamnya kepada siapapun terutama keluarga kecilnya tapi pada akhirnya semua itu akan segera diketahui oleh Ciara. Ya sudahlah mau bagaimana lagi Ciara juga pasangannya yang mungkin cepat atau lambat akan mengetahui sisi gelapnya itu.


"Dimana markas kamu itu? Bawa aku kesana. Aku ingin bertemu dan memberi pelajaran dengan wanita sialan itu," ucap Ciara menggebu-gebu.


"Kamu gak tanya tentang markasku itu?"


"Masalah itu nanti saja. Yang penting aku ketemu sama dia dan membalas perbuatannya," tutur Ciara.


"Kamu yakin mau ketemu dia?" Ciara menganggukkan kepalanya mantap. Devano tersenyum kemudian mengacak rambut Ciara.


"Baiklah kalau gitu besok kita akan kesana. Tapi jangan bawa anak-anak. Titipkan mereka ke Kiara atau Olive," ucap Devano yang diangguki Ciara. Untung saja besok adalah hari libur, jadi tak apa lah mereka menitipkan Al dan Kiya ke mereka karena tak mungkin juga harus menitipkan mereka ke orangtua keduanya karena mereka belum juga kembali ke tanah air sejak Kiya lahir hingga sekarang.


"Ya sudah kalau gitu kamu balik ke kamar duluan sana gih. Aku masih mau cek kerjaan dulu," tutur Devano.


Ciara pun langsung berdiri dari duduknya tapi sebelum pergi ia menyempatkan mencium pipi Devano.


"Terimakasih dan semangat bekerja," bisik Ciara dengan suara menggoda kemudian ia berlari keluar dari ruangan tersebut sebelum diterkam oleh Devano.

__ADS_1


"Awas aja kamu ya. Nanti malam setelah Al dan Kiya tidur, akan aku habisi kamu!" teriak Devano yang masih bisa didengar oleh Ciara. Tapi Ciara tak menanggapi ancaman dari suaminya itu bahkan takut saja tidak, ia kini justru terkekeh geli mendengarnya sembari kakinya terus melangkah menuju kamarnya.


__ADS_2