Young Mother

Young Mother
Teman Laknat


__ADS_3

Kini mobil Devano telah berhenti di depan rumah mewah yang selama ini mereka tinggali dan kini ketiganya telah turun dari mobil.


"Assalamualaikum," ucap Devano, Ciara dan Al serempak saat mereka masuk kedalam rumah tersebut yang langsung membuat semua orang yang tengah berkumpul di rumah tersebut menoleh kearah pintu utama rumah tersebut.


"Waalaikumsalam," jawab mereka.


Al yang melihat Kiya tengah berada di pangkuan Rahel, ia berlari menuju sang adik tapi saat dirinya ingin memeluk tubuh mungil Kiya, Rahel lebih dulu menjauhkan tubuh Kiya dari jangkauan Al.


"Al cuci tangan dan ganti baju dulu. Baru boleh peluk baby Kiya. Kalau Al langsung peluk takut baby Kiya nanti kena debu di baju Al. Kan Al tadi baru keluar rumah dan debu di luar itu gak baik buat baby Kiya," ucap Rahel dengan sedikit memberikan penjelasan kepada Al kenapa dirinya tak memperbolehkan Al memeluk Kiya. Al yang paham pun langsung berlari menaiki tangga, menuju kamarnya. Hal itu membuat Ciara, Devano bahkan beberapa orang lebih tepatnya ketiga perempuan yang sering mendapat amanat untuk menjaga Al atau Kiya, menatap kepergian Al tadi dengan melongo.


"Hel," panggil Olive.


"Hmmm," jawab Rahel dengan deheman dan matanya terus menatap wajah menggemaskan Kiya.


"Kamu pakai pelet apa sih? ampuh banget bisa bikin Al luluh sama kamu bahkan setiap perkataan kamu dia langsung nurutin gitu aja tanpa protes dari A sampai Z," ucap Olive yang tengah terheran-heran dengan sikap Al yang sangat berbeda jika bersama dengan Rahel.


Padahal apa yang diucapkan oleh Rahel ke Al tadi sama persis dengan apa yang mereka semua katakan sebelum-sebelumnya. Tapi respon anak laki-laki itu benar-benar membuat kepala mereka sakit.


Rahel kini mengalihkan pandangannya kearah Olive.


"Enak aja nuduh pakai pelet segala. Aku ini masih murni tanpa campur tangan dunia perdukunan. Dan mungkin Al langsung nurut gitu aja karena dia lagi gak mau debat, ditambah udah kangen banget sama Kiya," ujar Rahel.


"Hmmm masuk akal juga," tutur Olive. Dan setelahnya tak ada lagi obrolan dari mereka hingga Al kembali dengan pakaian yang sudah berganti.


"Baby Kiya," teriak Al.

__ADS_1


"Jangan lari-lari Al nanti jatuh," peringat Rahel yang lagi-lagi langsung dituruti oleh Al dan anak itu kini berjalan santai kearah Rahel.


"Oke fiks, Al anak Rahel," ujar Olive yang mendapat tatapan tajam dari Devano.


"Enak aja. Yang buat kita berdua. Al juga mirip aku bukan Zidan. Dan berani-beraninya kamu ngeklaim Al anak orang lain," tutur Devano tak terima.


"Ya buktinya dia nurut banget sama Rahel. Dan kamu sebagai bapaknya, emang pernah Al nurut sama perkataan kamu?"


"Nurut lah. Kalau gak, gak aku kasih makan dia." Ciara yang mendengar hal itu pun memelototkan matanya kemudian memukul dan mencubit lengan Devano.


"Aduh sakit sayang. Cuma bercanda tadi. Maaf," ucap Devano diakhiri dengan telapak tangannya menggenggam tangan Ciara yang tadi digunakan sang empu untuk memukul dan mencubitnya.


"Maaf," ucapnya lagi sembari mengelus tangan Ciara dengan lembut.


"Wah tontonan bagus nih," sela Rafa sembari menatap kearah sepasang suami istri itu dengan cemilan di pangkuannya. Benar-benar dirinya saat ini seperti tengah menonton adegan romantis di ruang bioskop.


"Nanggung kalau cuma mukul gitu dong, Ci. Langsung bunuh aja lah. Enak kalau Dev nanti mati kamu bisa menikmati harta kekayaannya ini dan kamu juga bisa cari brondong lagi," kini Vino yang bersuara.


Devano yang mendengar ocehan para sahabatnya pun kini menggeram lalu tatapan tajamnya menghunus kearah mereka semua yang tengah menonton dirinya juga Ciara. Bukannya membantu dirinya untuk membujuk Ciara agar wanita itu tak merajuk padanya, eh teman-temannya itu malah menginginkan dirinya meregang nyawa di tangan istrinya sendiri. Sungguh laknat sekali para manusia utusan iblis itu.


"Gimana kalau kalian yang mati di tangan seorang Devano?" tawar Devano dengan ekspresi wajah yang datar. Semua orang tadi dengan susah payah menelan salivanya kemudian dengan kompak mereka membalikkan badan mereka dan berpura-pura tengah menyaksikan acara televisi yang sedari tadi menyala.


Ciara menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan orang-orang itu dan rasa dongkol akan ucapan Devano tadi telah hilang bersamaan dengan Devano tiba-tiba membisikkan sesuatu ke telinganya kemudian laki-laki itu tanpa aba-aba menggendong tubuhnya ala bridal style menuju kearah kamar mereka.


"Anjir pasti tuh pasutri mau enak-enak. Ahhhh jadi pengen. Ayang beb, kita juga enak-enak yuk!" teriak Zidan sembari beranjak dari duduknya untuk mencari keberadaan Rahel.

__ADS_1


Sedangkan orang-orang yang tersisa hanya bisa menghela nafas. Karena tidak mungkin juga mereka melakukan apa yang dua pasangan itu lakukan.


"Mak, pengen kawin!" teriak Olive.


"Yuk ah gas," ucap Vino sembari menarik tangan Olive.


"Eh eh eh mau apa kamu?" tanya Olive dengan garangnya.


"Nurutin apa yang kamu mau tadi lah," jawab Vino dengan santai.


"Emangnya apa mauku tadi?" tanya Olive. Entah pura-pura lupa atau benar-benar lupa akan ucapan yang belum ada 2 menit keluar dari bibirnya itu.


"Kamu tadi mau kawin. Ya udah aku akan jabanin sekarang juga. Yuk." Mata Olive melebar sempurna kemudian dengan satu hentakan saja cekalan tangan Vino yang berada di pergelangan tangannya terlepas.


"Bukan itu maksud aku, anjing," geram Olive.


"Lah bukannya tadi kamu minta kawin."


"Ck, maksud aku tuh nikah," tutur Olive dengan semburat merah diwajahnya. Ia benar-benar malu dan bisa-bisanya ia salah sebut tadi.


"Oh nikah to. Kirain kamu mau kawin beneran, padahal aku udah siap lho tadi tinggal tancap, gas ngengggg," ucap Vino.


"Kamu juga goblok banget sih jadi orang. Udah gede segini masih belum bisa bedain kawin sama nikah. Dan kalau kamu mau kawin harus nikah dulu, jangan main nanam benih dulu," ujar Rafa sembari menggeplak kening Olive yang membuat sang empu mengerucutkan bibirnya sembari tangannya ia gunakan untuk mengelus keningnya.


"Kamu tau sendiri kan mulutku ini kalau sekali ngomong gak bisa berdiskusi dulu sama otak," tutur Olive yang tak mau disalahkan.

__ADS_1


"Terserah kamu lah. Capek punya sepupu kayak kamu. Dan untung kamu tadi ngomong sama kita-kita. Kalau sama orang lain, malunya sampai seumur hidup," ujar Rafa yang semakin menambah kerucutan di bibir Olive.


__ADS_2