
Sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran Al kemarin, ia kini berniat untuk pergi mencari keberadaan rumah lama Yura. Kebetulan di hari itu juga kedua orangtuanya tengah keluar untuk mengurus sekolahnya yang beberapa bulan terabaikan sekaligus untuk menemui klien Devano. Dan hal itu membuat Al merasa bebas kemana saja tanpa seizin mereka berdua. Dan dengan senyum mengembang, Al kini turun ke lantai satu rumahnya. Saat ia sudah sampai, Kiya yang kebetulan tengah bermain di ruang tamu, menatap Al dengan kerutan di keningnya.
"Abang!" teriak Kiya saat Al sama sekali tidak menyapanya dan hanya melewati dirinya begitu saja.
Al yang mendengar teriakkan dari Kiya pun ia kini berhenti kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kearah Kiya berada.
Kiya yang melihat hal itu pun, ia bergegas berlari menuju kearah Al. Dan setelah ia sampai di hadapan Al, ia menatap tampil abangnya itu dari atas sampai bawah.
"Abang mau kemana, kok pakai pakaian bagus begini?" tanya Kiya dengan kepo.
"Abang mau keluar sebentar," jawab Al tanpa melunturkan senyumannya tadi.
"Iya Kiya juga tau Abang mau keluar, tapi Abang mau keluarnya kemana? Dan Abang harus ingat kalau sampai pak dokter tau, Abang nanti kena marah lo. Karena Abang kan belum boleh pergi kemana-mana dulu sebelum Abang sembuh total," tutur Kiya mengingatkan.
Al yang merasa dirinya diperhatikan oleh sang adik pun tangannya kini bergerak untuk mencubit pelan pipi Kiya yang sangat menggemaskan itu.
"Pak dokter tidak akan marah, Kiya. Kan Abang sudah sembuh, ya walaupun masih ada sisa pusing sedikit tapi tak apa lah. Abang juga keluarnya cuma sebentar dan Abang tidak keluar sendiri melainkan Abang keluarnya sama Om Doni dan Om Toni," ujar Al.
"Ish kalau Abang masih pusing sama saja Abang belum sembuh. Dan Kiya tidak mengizinkan Abang untuk keluar dari rumah ini walaupun sejengkal saja," ucap Kiya yang merubah posisi berdirinya menjadi berada di belakang Al yang merupakan jalan untuk menuju ke pintu utama rumah tersebut, lalu setelahnya ia merentangkan kedua tangannya dengan tujuan agar Al tidak bisa berjalan menuju pintu tersebut.
Al yang melihat sang adik mulai posesif pun ia kini menggelengkan kepalanya. Tapi setelahnya ia menangkup kedua pipi Kiya hingga membuat bibir mungil Kiya mengerucut gemas.
"Kiya dengar Abang. Abang sudah tidak apa-apa, kondisi Abang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan Abang juga keluarnya dengan tujuan yang sangat penting bukan hanya sekedar keluar buat refreshing saja," ucap Al sembari melepas tangannya dari pipi Kiya.
"Tujuan yang Abang maksud itu sepenting apa sih sampai Abang mengabaikan kondisi Abang saat ini?" tanya Kiya.
"Tujuan Abang sangat-sangat penting dari apapun. Jadi Kiya sekarang minggir dulu ya," ujar Al.
"Tidak, Kiya tidak mau minggir sebelum Kiya tau tujuan Abang keluar rumah tuh buat apa," ucap Kiya dengan kekeuh. Dan setelah mengatakan hal tersebut, Kiya kini berancang-ancang untuk berteriak memanggil para bodyguard di rumah tersebut.
"Om bodyguard! bantu Kiya!" teriak Kiya dengan suara yang melengking memenuhi rumah tersebut. Dan tak berselang lama setelah ia berteriak, semua bodyguard yang ada di rumah tersebut berbondong-bondong masuk dan menghampiri Kiya.
__ADS_1
"Kiya, kenapa teriak-teriak sih?" tanya Doni yang ikut bergabung dengan para bodyguard lainnya.
"Ck, Om Doni jangan banyak tanya dulu. Karena ada hal yang lebih penting dari pertanyaan Om Doni tadi," ujar Kiya yang membuat Doni menghela nafas.
"Dan Kiya minta tolong untuk para Om-om sekalian, agar segera membuat lingkaran untuk menghadang jalan Abang, supaya dia tidak pergi kemana-mana. Dan cepat lakukan sekarang!" perintah Kiya tanpa bantahan. Dan hal tersebut langsung membuat para bodyguard tadi bergerak membuat lingkaran dimana di tengahnya hanya terdapat Al, Kiya, Toni dan Doni saja.
Sedangkan Al yang sedari tadi berdiri didepan Kiya sembari menatap semua aksi yang Kiya lakukan itu, ia kini memutar bola matanya malas.
"Dah aman. Sekarang Abang tidak bisa pergi kemana-mana lagi," ujar Kiya.
"Lho lah memangnya tuan muda hari ini mau pergi?" tanya Toni penasaran.
"Om belum tau?" tanya Kiya yang dijawab gelengan kepala oleh Toni dan Doni.
"Lah padahal Abang tadi bilang kalau mau keluar sama Om Toni dan Om Doni," tutur Kiya.
"Iya kah? kita saja baru taunya gara-gara ucapan kamu tadi. Padahal jika tuan muda mau pergi dengan kita, pasti satu hari sebelumnya kita bertiga membuat janji dulu. Tapi sekarang kok dadakan bergini," ujar Toni yang mendapat gedikkan bahu Kiya sebagai tanggapan atas ucapannya tadi. Dan setelahnya Toni kini mengalihkan tatapannya kearah Al.
"Memangnya tuan muda mau kemana?" tanya Toni.
"Al mau mencari rumah Yura yang lama," tutur Al yang membuat Doni dan Toni langsung mengatupkan bibir mereka. Dan tak berniat untuk bertanya lebih lanjut tujuan Al mencari rumah itu karena sudah bisa mereka berdua pastikan jika tujuan utama Al adalah untuk mencari Yura di rumah tersebut.
"Apa Om tau dimana rumah itu berada?" tanya Al dengan tatapan berbinar, berharap salah satu diantara kedua bodyguardnya itu tau lokasi rumah Yura yang ia maksud tadi.
Tapi sayangnya harapannya itu sirna seketika saat ia melihat gelengan kepala dari kedua bodyguardnya tersebut. Dan hal tersebut membuat Al kini tertunduk lesu.
"Ish, memangnya Abang mau kerumah kak Yura yang lama mau ngapain?" tanya Kiya dengan geram karena abangnya itu tidak langsung menuruti apa yang ia katakan sebelumnya, untuk tetap tinggal dirumah sebelum sembuh total.
"Mau bertemu dengan Yura. Abang mau lihat keadaan dia sekarang bagaimana," ujar Al.
"Kalau Abang mau lihat keadaan kak Yura, bukan di rumah lama kak Yura karena Abang tidak akan pernah menemukan keberadaan kak Yura disana. Melainkan Abang harus ke makam karena disitu adalah rumah kak Yura sekarang!" ucap Kiya dengan lantang.
__ADS_1
"Kiya!" teriak Doni dan Toni secara bersamaan saat mereka turut mendengar penuturan dari Kiya tadi yang sebenarnya belum boleh Kiya sebutkan.
Kiya yang menyadari jika ucapannya tadi adalah sebuah kesalahan pun ia melebarkan matanya.
"Upsss keceplosan," gumam Kiya diakhiri dengan ia menutup mulut embernya itu menggunakan kedua tangannya.
Sedangkan Al yang tadi menundukkan kepalanya kini ia menegakan kepalanya itu kembali saat ia mendengar penuturan dari Kiya tadi, dengan tatapan mata yang langsung terarah ke Kiya di depannya.
"Maksud dari ucap kamu tadi apa?" tanya Al memastikan.
Kiya yang mendapat pertanyaan itu pun ia kini menggelengkan kepalanya tanpa melepas bungkaman di bibirnya sendiri.
"Kiya, Abang tanya sekali lagi dan Kiya harus jawab pertanyaan dari Abang ini. Tapi jika Kiya tidak menjawab berarti Kiya akan mendapatkan dosa," ucap Al dengan perasaan yang sudah mulai tak tenang.
"Apa maksud dari ucapan Kiya tadi hmmm? Kenapa Kiya berbicara kalau rumah Yura sekarang ada di makam dan bukan di rumah lama?" ulang Al.
Kiya lagi-lagi menggelengkan kepalanya, tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Al tadi. Bahkan ia kini melirik kearah Toni dan Doni untuk meminta bantuan ke mereka berdua.
Kedua bodyguard itu yang tau kode dari tatapan mata Kiya pun mereka sekarang mendekati kedua anak tersebut.
"Tuan muda lebih baik sekarang tuan muda istirahat aja yuk. Gak baik lho kalau badan belum sembuh sempurna dipaksa harus keluar dari kamar. Takutnya nanti kondisi tubuh tuan muda akan kembali down lagi," ucap Doni dengan suara yang lembut.
Dan saat ia ingin meraih lengan Al untuk membantu anak itu pergi ke kamarnya, Al langsung menampik tangan tersebut.
"Kiya, jawab pertanyaan dari Abang tadi!" perintah Al dengan suara rendahnya. Bahkan ucapan dari Doni tadi ia anggap sebagai angin lalu saja.
"Tuan muda---"
"Diam dulu Om!" bentak Al yang sudah berada di ambang kesabarannya.
"Kiya, jawab!" kini bentakan yang selama ini tak pernah Al lakukan kepada orang-orang disekitarnya terutama ke pada Kiya pun hari itu juga ia perlihatkan. Dan hal tersebut membuat Kiya tersentak kaget.
__ADS_1
"Jawab!" bentak Al lagi. Dan bentakannya kali ini membuat Kiya melepaskan tangannya dari bibirnya dan dengan tubuh yang bergetar Kiya mulai menjawab pertanyaan dari Al tadi.
"Ma---Maksud dari ucapan Kiya tadi adalah Kak Yura sudah tiada di dunia ini. Kak Yura sudah ada di surga. Kak Yura sudah meninggal," ucap Kiya dengan air mata yang membasahi pipinya.