
Setalah meyakinkan Kiya untuk tidak membeli boneka menyeramkan itu, Devano dan Ciara kini kembali kedalam kamar mereka setelah Kiya sudah mulai bermain di ruangan khusus untuknya.
"Apakah kamu percaya sama cerita Kiya tadi?" tanya Ciara yang masih kepikiran dengan cerita horor dari sang anak tadi.
Devano yang sudah mendudukkan dirinya di salah satu sofa di kamar tersebut dengan laptop di hadapannya pun kini mengalihkan pandangan ke arah sang istri.
"Entahlah. Mau percaya tapi biasanya anak-anak itu suka mengarang cerita. Tapi dilihat dari mata Kiya tadi tidak ada kebohongan disana," tutur Devano.
Ciara kini mendekati sang suami lalu duduk disampingnya.
"Menurutku apa yang diceritakan Kiya tadi benar adanya deh. Tapi aku juga kurang yakin. Masak iya anak kecil seumuran Kiya berani dengan hal semacam itu. Apa kita tanya mbak yang ikut nyari lego? siapa tau salah satu dari mereka juga ada yang lihat apa yang Kiya lihat atau malah yang Kiya lihat itu sebenarnya salah satu dari mereka?," usul Ciara.
"Lebih baik tanya mbak aja deh biar kita gak nebak-nebak gini," ucap Devano sembari berdiri dari duduknya diikuti oleh Ciara. Lalu sepasang suami istri itu kini kembali turun dari lantai dua dan kini mereka langsung menuju kearah halaman belakang.
"Kalau pagi menjelang siang begini gak ada hantu kan?" tanya Ciara saat dirinya juga sang suami sudah mulai memasuki halaman belakang bahkan saking takutnya Ciara memeluk lengan Devano dengan erat dengan kepala yang hanya menunduk ke bawah, tak berani melihat ke sekelilingnya.
Devano yang melihat sang istri tengah ketakutan pun sebisa mungkin ia menahan tawanya jika ia tak mau tubuhnya kena amukan singa betina itu.
"Tenang aja sayang. Kan ada aku di samping kamu. Toh hantu juga tidak akan pernah muncul saat matahari bersinar," tutur Devano menenangkan sembari mengelus kepala Ciara dengan gemas.
"Masak sih. Tapi kalau tiba-tiba muncul gimana?"
"Gak akan sayang. Udah ah, ini jadi gak kita cari mbak disini?"
"Jadi lah. Kamu buruan jalan gih," ujar Ciara.
__ADS_1
Devano hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian ia melanjutkan langkahnya dengan Ciara yang masih menggelayuti lengannya.
Dan Kini keduanya telah sampai tepat di depan rumah untuk para art di rumah utama dan dengan memberanikan diri Devano membuka pintu rumah tersebut dan pada saat pintu itu terbuka, para art yang tengah beristirahat pun langsung berdiri untuk memberikan hormat ke kedua majikannya.
"Ada yang bisa kita bantu tuan?" tanya salah satu art tersebut dengan pikiran penuh dengan tanda tanya. Pasalnya kedua majikannya itu tak pernah menginjakkan kaki mereka ke rumah itu karena bagi mereka berdua itu merupakan sebuah privasi untuk para art yang bekerja bersamanya. Tapi kali ini apa yang membuat kedua majikannya itu dengan susah payah harus ke rumah tersebut? Padahal jika ingin meminta bantuan, mereka bisa menghubungi para art melalui sambungan khusus.
"Tidak ada. Kalian duduk dan istirahat kembali kita disini hanya ingin bertanya, apakah salah satu atau beberapa dari kalian pernah membantu Kiya mencari lego dia yang hilang dimalam hari?" tanya Devano.
Para art tersebut tampak saling pandang satu sama lain hingga beberapa orang menganggukkan kepalanya.
"Benar tuan. Pada malam disaat tuan dan nyonya pergi keluar bukan?"
"Benar. Nah kita mau tanya apa salah satu dari kalian ada yang mengikuti Kiya mencari lego di halaman belakang?" tanyanya lagi dan beberapa saat setalahnya ada seorang art mengangkat tangannya.
"Saya tuan. Tapi pada saat itu saya hanya mengikuti langkah nona muda dari belakang karena nona muda awalnya mencegah siapapun untuk mengikutinya," jawab art tersebut.
"Apakah pada saat itu kamu memakai baju putih?" tanya Devano.
Art tadi kini menegakkan kepalanya lalu menggeleng.
"Seingat saya. Saya memakai pakaian berwarna biru," ujar art tersebut.
"Yang lainnya, apakah pada saat malam itu ada salah satu dari kalian yang pakai baju atau dress, daster dan semacamnya yang berwana putih?" tanya Devano lagi. Tapi para art disana menggelengkan kepala mereka.
Devano kini menoleh kearah Ciara yang masih saja menunduk ketakutan.
__ADS_1
"Sepertinya yang di ceritakan Kiya benar adanya," ucap Devano dengan suara lirih dan hal itu membuat Ciara semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalau memang benar, kita harus pergi dari sini secepatnya," tutur Ciara dengan menggoyang-goyangkan lengan Devano.
"Iya-iya, sebentar kita pamit dulu kali sama mereka. Gak enak udah bertamu tanpa di undang malah seenaknya main keluar begitu aja," ucap Devano dan kini tatapan matanya kembali mengarah ke art-art disana.
"Baiklah kalau tidak ada. Saya kesini tadi hanya ingin bertanya itu saja dan silahkan dilanjutkan istirahat kalian. Kita berdua kembali dulu," ujar Devano dengan senyum yang mengembang.
Para art tadi hanya menganggukkan kepalanya dengan hati yang semakin penasaran tapi mereka juga tak enak jika harus bertanya tujuan sebenarnya kedua majikannya itu bertanya masalah pakaian di malam itu. Jadi biarkan saja mereka semua selalu bertanya-tanya toh pada akhirnya mereka juga akan mengetahuinya nanti.
Devano dan Ciara kini sudah keluar dari rumah tersebut.
"Sayang," panggil Devano yang hanya dibalas dengan deheman oleh sang empu.
"Ganti posisi yuk. Kamu jangan meluk lenganku dulu tapi genggam tanganku," tutur Devano.
"Gak mau. Aku takut sayang. Ini masih didepan rumah yang ada dicerita Kiya lho," tolak Ciara.
"Iya sayang, aku juga tau. Tapi buruan genggaman tanganku sekarang."
"Gak mau ih. Buruan jalan lah," ucap Ciara yang sudah tak mau berlama-lama di tempat tersebut.
"Ya udah kalau gitu---" tutur Devano menggantung karena beberapa saat setalahnya ia membopong tubuh Ciara ala bridal style.
"Gini aja sekalian. Lebih cepat untuk bergerak," sambung Devano.
__ADS_1
"Pegang yang kuat sayang. Kita akan lari sekarang juga," ucap Devano dan beberapa detik kemudian ia berlari kencang menuju pintu belakang rumah utamanya.
Sebenarnya bukan hanya Ciara yang takut melainkan ia sendiri juga takut, tapi gengsi dong kalau harus mengungkapkannya kepada Ciara. Yang ada istrinya itu nanti akan mengejeknya habis-habisan atau lebih parahnya lagi malah menakut-nakutinya. Kan bisa hancur reputasinya sebagai cowok cool, tegas, berwibawa, suami siaga, dan hot Daddynya. Ditambah dirinya tadi merasakan aura yang sudah tak mengenakan di rumah tersebut, alhasil membuat bulu kuduknya berdiri semua. Maka dari itu ia meminta Ciara tadi berganti posisi bukan karena ia sulit bergerak melainkan ia hanya ingin mengajak sang istri berlari meninggalkan depan rumah tersebut agar segara sampai dan lolos dari aura menakutkan tadi.