
Saat Al, Yura dan Kiya sudah berangkat ke sekolah mereka masing-masing. Para orangtua kini kembali berkumpul dan segera menjalankan misi mereka yang telah mereka rencanakan kemarin.
"Dia belum ada pergerakan sama sekali?" tanya Franda yang baru selesai mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan aksinya itu.
"Belum. Dia masih ada di dalam rumahnya," ujar Bian. Dan setelah itu mereka kembali fokus dengan aktivitas mereka masing-masing. Hingga suara Devano mengalihkan perhatian mereka semua yang ada di ruangan tersebut.
"Kita bergerak sekarang, dia sudah keluar dari kamarnya," ujar Devano. Lalu tak berselang lama, dering ponsel Bian berbunyi dan tanpa menunggu lama Bian langsung membuka sebuah pesan yang masuk kedalam ponselnya itu, yang ternyata pesan tersebut dari anak buahnya yang menyelundup ke dalam rumah tersebut.
"Anak buahku juga sudah memberitahu pergerakan orang itu," tutur Bian.
Mereka kini dengan sigap langsung berdiri dari duduknya dengan membawa barang bawaan yang sekiranya mereka butuhkan nanti.
"Kamu tetap dirumah. Jangan kemana-mana dulu, istirahat yang cukup," ujar Devano diakhiri dengan ia mengecup kening Ciara. Ciara yang memang masih lemas dan badannya masih terasa pegal-pegal pun ia menganggukkan kepalanya setuju.
"Kita berangkat sekarang," ucap Devano yang ia tujukan kepada kedua orangtua Yura setelah dia mendapat persetujuan dari Ciara agar istrinya itu tetap dirumah.
Dan tanpa basa basi terlebih dahulu kepada Ciara, mereka bertiga bergegas menuju ke rumah Om Franda untuk memulai mengikuti kemana perginya orang itu nanti.
"Sudah ada pergerakan lagi?" tanya Devano tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
Bian yang kebetulan duduk disamping kemudi dan selalu menghadap ke laptop yang ia bawa pun, ia kini menjawab pertanyaan dari Devano.
__ADS_1
"Belum, dia masih makan dengan keluarganya," ujar Bian.
"Syukurlah kalau begitu. Dan aku saranin kalian sekarang pegangan dengan kuat. Aku mau nambah kecepatan soalnya," ucap Devano dan baru saja mulutnya terkatup dan kedua orang yang berada di dalam mobilnya itu belum melaksanakan apa yang dia intrupsikan tadi, Devano lebih dulu menancapkan gas mobilnya itu di kecepatan tinggi.
Dan hanya hitungan menit saja, mobil yang dikendarai oleh Devano telah sampai tak jauh dari rumah Om Franda.
"Ya ampun, aku mual banget," ucap Franda setelah mobil itu berhenti.
Bian yang masih syok dengan apa yang barusan ia alami itu pun ia kini mengerjabkan matanya lalu tanpa banyak bicara dan juga dengan tangan yang bergetar ia langsung menyodorkan air mineral kearah sang istri yang duduk di kursi bagian belakang. Franda yang mendapat sodoran air mineral pun dengan cepat ia merebut botol tersebut dan meneguk isinya. Dan baru saja ia bisa bernafas lega, Devano sudah mulai heboh lagi.
"Lihat! Itu mobil orang itu bukan?" heboh Devano.
"Bukan, itu mobil yang sering antar jemput anaknya sekolah. Dan disini dia masih asik duduk-duduk di ruang keluarga," ucap Bian yang membuat Devano berdecak.
"Iya, kita yakin dia akan pergi hari ini," timpal Franda.
"Tapi apa kalian tau jam pastinya dia keluar? Kalau masih lama kan kita bisa ngopi-ngopi dulu atau main gundu sekalian. Daripada tetap disini tanpa kepastian," ucap Devano sembari menyenderkan tubuhnya di senderan kursi kemudi.
"Kita tidak perlu melakukan itu semua Dev, karena dia sekarang sudah bergerak keluar," ujar Bian sembari memperlihatkan layar laptop tersebut.
Dan benar saja, mereka hanya perlu menunggu 5 menit saja, mobil yang Franda yakini bahwa mobil itu merupakan mobil milik orang yang mereka tunggu-tunggu pun dengan segera Devano kembali melajukan mobilnya untuk mengikuti mobil tersebut.
__ADS_1
Mereka terus mengikutinya, hingga akhirnya mobil tersebut berhenti di sebuah restoran yang sangat jauh dari rumahnya tadi.
"Kalian tetap disini. Biar aku yang masuk," ucap Franda yang diangguki oleh kedua laki-laki itu. Dan sebelum Franda keluar dari mobil tersebut, ia memastikan jika alat komunikasinya dengan sang suami sudah terkoneksi dan juga ia sudah memastikan jika penampilannya tak mencurigakan, barulah ia kini keluar dari mobil tersebut dan mulai memasukki restoran tersebut.
Saat dirinya masuk, ia langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru restoran tersebut. Tapi anehnya saat ia sudah melihat seluruh sudut restoran tersebut, ia tak menemukan keberadaan laki-laki itu.
"Ck, kemana perginya orang itu?" gumam Franda. Tapi ia tak menyerah begitu saja dan dengan ide yang ia miliki saat itu, ia kini bergerak untuk bertanya kepada para karyawan yang berkerja disana dengan memperlihatkan foto orang yang tengah ia cari tersebut.
Dan setelah beberapa kali ia bertanya, akhirnya ada salah satu karyawan di situ memberitahu keberadaan orang tersebut yang ternyata tengah berada di lantai VIP di restoran tersebut..
"Dia sekarang berada di ruang VIP. Aku gak bisa masuk kesana karena ruangan itu hanya khusus untuk orang-orang yang menjadi pengunjung tetap di restoran ini. Kalaupun kita harus merogoh biaya yang banyak untuk mendapatkan salah satu ruangan VIP di restoran ini, sepertinya akan sama saja karena disetiap ruangan aku yakin di beri fasilitas kerap suara. Jadi setiap suara yang mereka timbulkan tidak akan di dengar oleh orang lain yang berada di luar ruangan itu," ujar Franda untuk memberitahukan informasi itu kepada kedua laki-laki yang berada di mobil tadi.
"Cari cara untuk masuk ke ruangan itu. Dan setelah kamu mendapat ide itu, beritahu aku, biar aku saja yang masuk keruangan orang itu," balas Bian.
Franda kini tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya ia mendapatkan ide cemerlang setelah ia melihat ada seorang karyawan yang sepertinya baru datang masuk ke salah satu ruangan yang berada di belakang restoran tersebut dan dengan gerakan cepat ia langsung memantau para karyawan disana. Dan setelah memastikan jika para karyawan itu tengah lengah, Franda menyelusup masuk kedalam ruangan khusus untuk para karyawan disana.
Ia menoleh ke kanan dan kirinya untuk memastikan lagi jika di dalam ruangan itu benar-benar kosong.
"Aman," gumam Franda. Kemudian ia bergegas menuju ke salah satu lemari yang cukup besar di ruang tersebut. Dan entah keberuntungan atau hanya kebetulan saja, ternyata lemari itu adalah lemari khusus untuk seragam para karyawan disana.
"Tuhan lagi berpihak ke diriku hari ini," ucap Franda lirih sembari mengambil satu set seragam karyawan tersebut dan setelah ia mendapatkan seragam itu, ia langsung menuju ke ruang ganti di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Dan tak menunggu waktu lama, Franda telah keluar dari ruangan tersebut dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Tapi untuk tetap menyembunyikan wajahnya agar tidak ketahuan oleh orang yang tengah ia incar itu, ia tetap memakai topinya dan juga masker yang ia bawa tadi.
"Kalian tetap disitu. Biar aku yang masuk kedalam ruangan itu," ujar Franda untuk memberitahukan kepada kedua laki-laki itu bahwa dirinya akan memulai penyamarannya itu.