
"Kamu kemana aja selama ini? Hiks, main tinggalin aku sendiri disini tanpa kabar sedikit pun. Apa kamu tau Ci, saat kamu ninggalin aku, aku seperti orang bodoh yang kehilangan arah. Aku terus cari keberadaan kamu tapi usahaku terus saja tak membuahkan hasil. Kamu seperti hilang di telan bumi. Hiks," ucap Rahel dengan pipi yang sudah dipenuhi air mata bahkan bahu Ciara sudah basah karenanya.
Ciara tambah mengeratkan pelukannya.
"Maaf Hel, maaf," tutur Ciara yang tak kalah terharu dengan rasa bersalah di dirinya.
Rahel kini melepaskan pelukannya dan menatap tajam kearah Ciara dengan kedua tangannya yang memegang kedua lengan Ciara.
"Kamu sahabatku satu-satunya yang tau keadaan ku luar dan dalam. Kita udah sahabatan dari SMP, Ci. Dan kamu juga pernah bilang ke aku kalau diantara kita berdua tengah mengalami masalah sebesar apapun itu, kita akan saling bertukar cerita satu sama lain, cari jalan keluar dari masalah itu bersama. Tapi kamu gak melakukan seperti apa yang kamu ucapkan dulu ke aku. Bahkan aku tau masalah kamu ini karena aku tanya Kiara. Aku tau itu semua dari orang lain Ci, bukan dari diri kamu sendiri. Dan kamu nyimpan semua masalah kamu sendiri bahkan masalah itu cukup besar Ci. Aku jadi merasa, apakah keberadaan ku sudah tak kamu anggap sebagai sahabat? Hiks. Dan kamu tau Ci, aku benar-benar kecewa sama diriku sendiri yang gak bisa jagain sahabatku, beri kamu pelukan dan semangat saat kamu terpuruk. Aku kecewa Ci! aku kecewa sama diriku sendiri! hiks," ucap Rahel seakan-akan dirinya meluapkan keluh kesahnya selama ini ke sahabat lamanya itu.
Semua orang yang berada di ruangan yang sama dengan Ciara dan Rahel hanya bisa melihat percakapan keduanya, sesekali air mata mereka juga menetes namun langsung mereka hapus dengan cepat. Kecuali Mommy Nina dan Al yang sudah lebih dulu pergi dari gerombolan anak muda itu untuk menjauhi hal-hal yang tak diinginkan terjadi disana dan dilihat oleh cucu tampannya itu nanti.
"Hiks, ma---maaf, maafkan aku, Hel. Maaf, hiks," tutur Ciara dengan meraih telapak tangan Rahel untuk ia genggam.
"Kamu gak salah Ci, tapi aku yang salah. Aku belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Maafkan aku yang gak bisa berada disisimu saat kamu terpuruk." Ciara menggelengkan kepalanya.
"Kamu sahabat terbaik yang selama ini aku punya. Maaf aku tidak memberi tau kamu masalah itu, maaf." Rahel tambah menangis bahagia bercampur kecewa, namun ia tak akan larut dalam kekecewaan ini dan akhirnya ia memilih untuk kembali memeluk tubuh Ciara dengan menghilangkan rasa kecewa pada dirinya sendiri yang selama ini tertanam di hatinya.
"Hiks, Maaf Ci. Please jangan jauhin aku lagi. Aku seperti orang bodoh, bloon, goblok saat kamu gak ada di sekitar ku. Aku tau aku egois tapi aku butuh kamu buat sekedar dengerin ceritaku yang selalu aku ulang-ulang dan berakhir buat kamu bosan. Sekali lagi maaf Ci dan aku mohon jangan menghilang lagi," tutur Rahel.
Ciara yang sudah tak bisa berkata apapun kini hanya mengangguk sebagai jawaban dan persetujuan dari ucapan Rahel tadi. Ia tau bagaimana perasaan Rahel yang ditinggalkannya tanpa kabar. Jika ditanya apa Ciara menyesalinya? maka ia akan menjawab, sangat, ia benar-benar sangat menyesal telah pergi begitu saja dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Mereka berdua saling berpelukan melepaskan rindu yang beberapa tahun mereka simpan. Hingga pelukan itu kini terlepas saat keduanya sudah saling menenangkan hati dan pikiran mereka masing-masing.
Ciara tersenyum kearah Rahel, kemudian tangannya terulur untuk menghapus air mata yang masih berbekas di pipi mulus sang sahabat.
"Udah jangan nangis lagi ya. Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahanku dulu. Dan perlu kamu tau, kalau kamu nangis wajahmu jadi merah semua," tutur Ciara sedikit menggoda Rahel agar si empu tak cemberut lagi.
Rahel menepuk lengan Ciara pelan.
"Jangan gitu lah Ci. Aku malu banyak orang disini. Aku mau ke kamar mandi dulu ah, biar lebih fresh lagi ini muka. Btw kamu tau gak letak kamar mandinya dimana?" tanya Rahel lirih ditambah dengan ekspresi wajah yang sangat lucu bagi Ciara.
"Kamu lurus dikit belok kiri, disitu ada kamar mandi," jawab Ciara sembari menggerakkan tangannya untuk menunjuk jalan yang harus di lalui Rahel.
Rahel mengangguk sembari mengacungkan jempol setelah itu ia tanpa permisi, langsung lari menuju kamar mandi. Dan hal itu membuat seluruh orang yang tadi hanyut dalam kesedihan kini melongo menatap kepergian Rahel.
Ciara tersenyum kemudian ia duduk kembali ke sofa sebelah Devano.
"Ke kamar mandi," tutur Ciara.
"Astaga, udah susah-susah hanyut dalam kesedihan yang dia buat. Eh malah sempet-sempetnya itu orang pergi ke kamar mandi mana gak permisi dulu lagi," ujar Rafa.
Ciara hanya menggedikkan bahunya untuk menimpali ucapan dari Rafa tadi.
__ADS_1
Tak berselang lama, Rahel telah kembali dengan wajah yang sudah tak kusut lagi walaupun masih ada warna merah muda di hidung dan kedua pipinya, tapi justru hal itu membuat dirinya semakin cantik saja.
Dengan senyum manisnya ia bergabung kembali dengan mereka.
"Maaf, tadi aku main lari aja," ucap Rahel sembari mengedarkan pandangannya satu persatu ke wajah orang-orang yang berada disekitarnya. Hingga tatapnya bertemu dengan tatapan Zidan yang cukup tajam. Namun tatapan itu segera ia putus dan dengan malu ia menundukkan kepalanya.
"Duduk sini," ucap Ciara sembari menepuk sofa yang masih kosong disebelahnya.
Rahel pun mengangguk dan segera duduk di sebelah Ciara.
"Boleh aku tau sekarang siapa laki-laki bajingan itu?" tanya Rahel dengan berbisik takut jika semua orang mendengar umpatannya itu.
"Kamu yakin mau tau sekarang?" Rahel mengangguk dengan mantap.
"Iya lah, biar aku bisa cari dia dan kasih pelajaran sama dia. Berani-beraninya itu orang gak tanggungjawab sama perbuatannya. Ini salah satu definisi dari, mau enaknya saja tapi gak mau susahnya atau kalau gak habis manis sepah di buang. Bejat sekali tuh salah satu manusia laknat yang gak dosa jika di hajar sampai mati," ucap Rahel dengan mengepalkan tangannya.
"Emang kamu yakin bisa ngelawan dia?"
"Ck, yakin 100%. Buruan ih kasih tau aku, siapa laki-laki itu. Mulai dari namanya, alamat, foto, nomor ponselnya juga seluruh media sosialnya. Dan jika boleh spill nama orang tuanya juga, biar gampang kalau mau kirim santet kedia," tutur Rahel penuh semangat.
"Kamu benar-benar yakin mau tau?" tanya Ciara untuk menggoda Rahel.
__ADS_1
"Cia! Ih gak lucu tau. Aku udah nunggu bertahun-tahun lho buat tau siapa pelaku yang gak tanggungjawab itu. Laki-laki cemen, gak jentel, dan aku menganggap laki-laki itu gak ada tulen-tulennya sama sekali. Buruan kasih tau!" geram Rahel.
"Kalau kamu mau tau coba tanya Devano. Dia lebih tau dari aku soalnya," ucap Ciara sembari tersenyum. Sedangkan Rahel, ia mengerutkan keningnya dengan ekspresi kebingungan.