Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 58


__ADS_3

Yura yang melihat paper bag yang ia bawa tadi sudah kembali di hadapannya pun ia menjadi bingung sendiri dibuatnya.


"Lho kenapa kok di balikin ke Yura?" tanya Yura.


"Ambil saja. Aku sudah tidak butuh buku itu lagi," ucap Al.


"Tapi ini buku yang Al incar kan? Buku ini sudah tidak ada lagi lho di negara ini. Jadi ini buat Al ya, jangan di tolak kalau di tolak Yura nanti sedih," ujar Yura sembari menggeser paper bag tadi sampai di hadapan Al.


"Justru karena buku ini susah dicari dan udah sold out. Buku itu buat kamu saja." Al menggeser kembali paper bag tadi.


"Tidak. Buku ini untuk Al," ujar Yura.


"Ck, Yura!"


"Ck, Al!" balas Yura tak mau kalah. Al yang cukup lelah karena terus menggeser paper bag tadi pun dengan terpaksa ia menerima paper bag tadi.


"Oke, aku terima buku ini. Tapi kalau kamu mau buku ini lagi, bilang, biar aku balikin ke kamu," ujar Al yang membuat Yura tersenyum senang.


"Yura gak akan minta balik lagi buku itu. Jadi, Al tenang saja," tutur Yura yang hanya diangguki oleh Al lalu setalahnya Al kini beranjak dari duduknya untuk menaruh buku pemberian Yura tadi di meja belajarnya. Dan saat dirinya ingin kembali duduk di tempatnya semula, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan membuat dirinya kini bergerak untuk mencari sesuatu yang ia maksud tadi. Dan setelah ia menemukannya, Al segera mendekati Yura kembali.


"Nih," ucap Al sembari menyerahkan satu buah kotak kecil di hadapan Yura.


"Apa ini?" tanya Yura penasaran sembari tangannya kini menerima kotak tadi. Lalu karena rasa keponya yang tinggi, akhirnya Yura membuka kotak tadi.


"Eh ini kan anting Yura yang hilang," ucap Yura sembari mengambil anting tersebut dari dalam kotak tersebut.


"Itu beneran anting kamu?" tanya Al memastikan.


"Iya, ini anting kesayanganku. Aku udah cariin kemana-mana taunya kamu yang menemukannya," ujar Yura.


"Aku tidak sengaja menemukan anting itu beberapa hari yang lalu saat di kantin. Setelah kamu di dorong oleh Henry," tutur Al. Dan hal itu membuat Yura menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih Al karena sudah menemukan anting ini," ucap Yura yang hanya dijawab deheman oleh Al.

__ADS_1


Untuk beberapa saat tak ada lagi obrolan dari dua orang tersebut hingga Yura teringat sesuatu dan membuat dirinya kini angkat suara kembali.


"Oh ya Al. Yura punya satu lagi hadiah untuk Al," ucap Yura. Dan tanpa menunggu jawaban dari Al, ia kini berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Al, memaksa Al untuk segera berdiri juga dari duduknya.


"Hadiah apa? Disini saja jika mau memberi hadiah," ujar Al yang sangat malas jika harus keluar dari kamarnya.


"Ck, hadiah kali ini tidak bisa di bawa kesini Al. Tapi kita yang harus menghampiri hadiah itu. Dan kalau Al mau tau hadiah itu, kita sekarang pergi ke sana," tutur Yura.


"Ayo Al, kita pergi," paksa Yura yang masih menarik tangan Al.


"Tidak bisakah perginya besok saja? Aku lagi tidak ingin kemana-mana hari ini," ujar Al yang membuat Yura kini menghentikan aktivitasnya. Lalu setalahnya ia melepaskan genggaman tangannya tadi dari lengan Al.


"Hmmmm baiklah kalau begitu," ucap Yura dengan menundukkan kepalanya.


Al yang sifat dinginnya mulai sedikit mencair pun dengan helaan nafas, ia kini bergerak untuk mengambil jaketnya. Kemudian setelah ia memakai jaket tersebut, kini giliran dia yang menggandeng tangan Yura dan membawanya keluar dari kamar tersebut.


"Eh kita mau kemana?" tanya Yura.


"Katanya mau nyamperin kado itu. Jadi tidak?" ucap Al sembari menghentikan langkahnya dan menatap wajah Yura.


"Bukan, tapi minggu depan. Ya sekarang lah. Kamu tidak lihat kalau aku udah pakai jaket begini. Dan kalau aku sudah pakai jaket, berarti sudah siap untuk keluar rumah," ujar Al.


"Tapi kata kamu tadi. Kamu hari ini lagi malas keluar rumah," tutur Yura.


"Tidak jadi. Malasnya udah hilang. Buruan, jadi kasih tau hadiahnya ke aku tidak?" Yura kini tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya. Lalu dengan penuh antusias, Yura mulai melangkahkan kakinya tanpa melepaskan genggaman tangan Al tadi.


Hingga saat kedua orang tadi sudah sampai di lantai satu, mereka langsung menghampiri Ciara dan Devano yang kebetulan juga sudah ada di lantai tersebut dengan Kiya yang tengah sibuk dengan peliharaan barunya.


"Ma, Pa. Al izin keluar dulu sebentar sama Yura," pamit Al yang membuat kedua orangtuanya dan juga Kiya kini mengalihkan pandangannya kearah Al.


Dan tatapan kedua orangtua itu bukannya tertuju ke wajah dua anak-anak tersebut, justru tatapan mereka malah terfokus ke tangan Al dan Yura yang saling menyatu satu sama lain. Dan hal itu membuat Ciara juga Devano saling pandang lalu setelahnya mereka tersenyum.


"Ma, Pa," panggil Al saat tak ada respon sama sekali dari kedua orangtuanya itu.

__ADS_1


"Ah iya sayang. Gimana?" tanya Ciara.


"Al izin keluar sama Yura sebentar," ulang Al.


"Baiklah kalau gitu. Tapi apa Yura sudah izin sama orangtuanya kalau mau pergi sama kamu?" tanya Ciara. Dan hal itu membuat Al langsung menoleh ke arah Yura.


"Yura sudah minta izin sama Mama dan Papa kok aunty. Mereka juga ngizinin Yura buat pergi sama Al. Tapi harus diantar Om bodyguard," ujar Yura yang diangguki oleh Ciara.


"Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati, tetap waspada. Dan Al sebagai anak laki-laki harus melindungi Yura. Jangan sampai dia lecet," tutur Ciara.


"Iya Ma. Ya sudah Al pergi dulu." Al kini menyalami tangan kedua orangtuanya, begitu juga dengan Yura.


Dan baru saja mereka berdua ingin beranjak dari depan Ciara dan Devano, teriakan dari Kiya menghentikan langkah mereka berdua.


"Abang mau kemana? Kiya ikut!" teriak Kiya sembari berlari kearah Al dengan tangan yang membawa kucing barunya itu.


"Kiya tetap di rumah. Jangan ikut," ujar Al yang langsung membuat Kiya mengerucutkan bibirnya.


"Tapi Kiya mau ikut. Kiya bosan di rumah terus," tutur Kiya.


"Kalau Kiya bosan di rumah, bujuk Mama sama Papa biar ngajak Kiya keluar rumah," ucap Al.


"Tapi Kiya takut kena marah."


"Tidak akan. Udah sana, bujuk Mama sama Papa. Pokoknya jangan ikut Abang. Nanti kalau Abang pulang, Abang bawain es krim," ujar Al dengan ia mengeluarkan jurus jitunya saat Kiya tak mau ia tinggal seperti saat ini.


Kiya yang mendengar kata es krim keluar dari bibir Al pun dengan cepat ia melepaskan pelukannya dari tubuh Al. Dan anak perempuan itu kini justru mendorong tubuh Al dengan pelan.


"Sana, Abang pergi aja. Kiya gak jadi ikut. Tapi jangan lupa kalau pulang bawa es krim yang banyak. Kiya tunggu di rumah. Bye bye Abang dan Kakak. Happy happy di luar ya. Waalaikumsalam," teriak Kiya yang membuat siapa saja yang mendengarnya menggelengkan kepala mereka.


"Belum juga Abangnya ngucapin salam, udah dijawab duluan sama tuh anak. Dasar," ujar Devano dengan kekehannya.


Sedangkan Al dan Yura yang juga mendengar jawaban salam tadi pun dengan kompak mereka kini mengucapakan salam kepada mereka semua yang ada di rumah tersebut, "Assalamualaikum," pamit mereka berdua.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua dengan serempak terutama Kiya bahkan anak perempuan itu juga melambaikan kaki kucingnya kearah dua orang tadi.


__ADS_2