Young Mother

Young Mother
Apa Dia Kabur?


__ADS_3

Kini Devano sudah kembali kedalam kamarnya dan seketika ia mengerutkan keningnya saat tak melihat Al dan baby Kiya didalam kamar tersebut. Ah mungkin, anak-anaknya itu sudah di bawa ke bawah duluan oleh Ciara karena di atas ranjang sudah tersedia baju kantornya yang sudah pasti disiapkan oleh Ciara tentunya.


Dan setelah itu Devano langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja akhirnya Devano sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit bagian pusar kebawah saja dan bagian atas ia biarkan terbuka begitu saja.


Saat ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, terdengar suara pintu terbuka yang membuat Devano langsung menoleh kearah sumber suara. Senyumannya langsung terukir saat melihat Ciara tengah menggendong baby Kiya yang berada di balik pintu tersebut dan kini keduanya sudah masuk kedalam kamar tersebut.


"Kerjaan kamu sudah selesai?" tanya Ciara sembari membaringkan tubuh baby Kiya diatas ranjang.


"Sudah. Kamu darimana?" tanya Devano.


"Habis berjemur sama Kiya," tutur Ciara sembari mendekati suaminya untuk membantu laki-laki itu mengeringkan rambutnya setelah memastikan baby Kiya aman dalam ranjang tersebut.


Devano menganggukkan kepalanya dan tanpa diminta ia sudah duduk lebih dahulu di kursi rias milik Ciara sedangkan istrinya kini sudah meraih hairdryer dan mengarahkan alat tersebut keatas kepalanya.


"Al dimana?" tanya Devano disela-sela kegiatan mereka.


"Dia lagi bersiap buat kesekolah," jawab Ciara.


"Apa anak itu benar-benar sudah sembuh?"


"Katanya tubuhnya sudah jauh lebih enakan dari kemarin. Dan dia juga udah merengek buat ke sekolah. Kamu sendiri juga tau kalau Al sudah menginginkan suatu hal jika kita cegah anak itu akan merajuk sampai berhari-hari dengan bujukan apapun dia tak mau mengehentikan aksi merajuknya itu," ucap Ciara sembari mengembalikan hairdryer yang sudah tak lagi ia pakai ke tempat semula.

__ADS_1


Devano mengangguk kemudian dia bangkit dari duduknya dan memulai untuk memakai bajunya. Dan setelah selesai dengan sigap Ciara langsung meraih dasi lalu membantu Devano memakainya.


"Selesai," ucapnya.


"Terimakasih," tutur Devano sembari mencium kening Ciara.


Ciara membalasnya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Hal itu membuat hati Devano yang tadinya sudah mulai terbakar emosi kini dengan senyuman bahkan melihat wajah istrinya saja emosinya itu bisa mereda dengan secepat kilat.


"Kamu turun duluan aku mau mandiin Kiya dulu. Atau setidaknya kamu ke kamar Al dulu, lihat anak itu sudah selesai apa belum," tutur Ciara dengan melepas satu-persatu pakaian baby Kiya.


Devano pun mengangguk kemudian ia mulai beranjak dari kamar tersebut menuju ke kamar Al. Saat dirinya sudah di depan kamar anaknya, Devano mengetuk terlebih dahulu pintu tersebut.


"Siapa?" tanya Al dengan teriak.


"Masuk saja Papa," jawab Al. Dan Devano dengan segera membuka pintu tersebut. Ia tersenyum saat Al tengah sibuk menyisir rambutnya. Menggemaskan sekali anak laki-lakinya itu.


Devano melangkahkan kakinya lebih dalam lagi dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang milik Al.


"Apa Al yakin ingin sekolah saat ini juga?" Tanpa menoleh kearah Devano, Al menjawab ucapan Papanya itu dengan anggukan kepala saja.


"Memangnya Al sudah sembuh?" Al yang sudah selesai dengan kegiatannya pun segera menoleh kearah Devano dan berjalan dari tempat sebelumnya menuju sang Papa.

__ADS_1


Setelah sampai di depan Devano, Al langsung meraih tangan Devano dan menuntun tangan tersebut kearah keningnya.


"Sudah tidak panas kan? berati Al sudah tidak merasa sakit, Papa," tutur Al.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi jika Al nanti merasa pusing. Al langsung telepon Papa, pinjam ponsel Bu guru nanti, oke." Al menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu kita ke bawah yuk. Mama nanti akan nyusul setelah selesai memandikan baby Kiya," tutur Devano sembari menyambar tas Al untuk ia bawa sedangkan tas kerjanya sendiri sudah di taruh dikursi makan oleh Ciara.


Kini sepasang anak dan ayah pun menuruni anak tangga dengan saling bergandengan tangan.


Setelah mereka sampai di ruang makan dan setelah menunggu beberapa menit akhirnya Ciara sudah bergabung dengan mereka berdua dengan baby Kiya yang berada di gendongannya dan sebelum ia duduk, ia lebih dulu menaruh baby Kiya didalam stroller yang memang selalu disediakan disana karena Ciara tak mungkin tega meninggalkan baby Kiya sendiri di dalam kamar.


Lalu kini keluarga kecil tersebut mulai menyantap sarapan mereka tanpa berbicara sedikitpun hingga selesai.


...****************...


Kini Devano kembali melajukan mobilnya saat dirinya sudah mengantar Al kesekolah. Dan saat ini juga tiba-tiba saja emosinya kembali berkobar saat banyangan akan rekaman CCTV yang di kirim oleh Nando itu berputar di dalam kepalanya. Bahkan mobil yang ia kendarai kini tengah melaju sesuai batas maksimal dalam kendaraan tersebut. Ia tak peduli setiap umpatan yang ia dapatkan dari pengendara lainnya karena yang ia pikirkan sekarang adalah sampai di kantor dan langsung mencari keberadaan Lidya yang ia yakini wanita itu sudah sampai di kantor miliknya. Dan untungnya pada pagi ini tak ada polisi yang akan menghentikan aksi ugal-ugalannya itu.


Dan hanya butuh waktu 15 menit akhirnya Devano sampai di kantor tersebut. Tanpa mengulur waktu lagi, ia segera turun dari mobilnya. Setiap sapaan dari karyawannya yang biasa Devano balas dengan senyuman kini hanya ia abaikan saja dan hal itu membuat para karyawan tersebut mulai ketar-ketir. Mereka takut jika sang bos akan berubah kembali seperti dulu sebelum kenal dengan istrinya. Jika sampai berubah lagi, duh bisa-bisa batin mereka kembali goyah lagi karena sering di marahi oleh Devano walaupun mereka hanya melakukan kesalahan sekecil apapun bahkan Devano tak segan-segan memecat orang tersebut. Arkhhh meraka benar-benar merasa takut sekarang dan berharap jika apa yang mereka takutkan tak menjadi kenyataan.


Devano kini sudah mulai masuk kedalam lift khusus untuk dirinya tapi bukan langsung menuju ke ruangannya melainkan ia menekan ke nomor lantai dimana lantai tersebut merupakan tempat kerja Lidya.

__ADS_1


Dan setelah lift tadi terbuka, Devano melangkahkan kakinya menuju ke ruangan sang sahabat yang juga menjadi tangan kanannya. Tapi sayang saat dirinya berada di depan ruangan khusus sekertaris, Devano tak melihat Lidya didalam ruangan tersebut.


Devano menggeram sembari mengepalkan tangannya. Jangan sampai wanita itu melarikan diri dari dirinya. Kalau sampai dia berani melarikan diri, berarti tanpa mengintrogasinya terlebih dahulu Devano sudah bisa menyimpulkan jika wanita itu memang ada sangkut pautnya dengan Tiara dan juga kasus penculikan Al. Dan sampai hal itu terjadi maka Devano tak akan membiarkan dia hidup dengan tenang. Ia akan mencari wanita itu sampai dapat dan akan ia pastikan jika wanita itu sudah berada ditangannya, maka hidup dari wanita itu sudah berada di ujung maut. Tak ada lagi kata ampun baginya yang ada hanya pasrah untuk menyerahkan nyawanya.


__ADS_2