
Al dan Kiya yang baru selesai membersihkan tubuh mereka pun kini kedua orang tersebut berniat untuk turun kebawah menemui kedua orangtua mereka. Saat keduanya baru menginjakkan kaki mereka di lantai bawah rumah tersebut, Al maupun Kiya mengerutkan keningnya saat melihat beberapa art yang tengah sibuk keluar masuk ke rumah tersebut sembari membawa beberapa barang di tangan mereka.
"Apa kita mau pindah rumah?" tanya Kiya sembari menatap wajah Al yang masih melihat orang-orang yang tengah mondar-mandir itu.
"Entahlah Abang juga gak tau. Tapi sepertinya kita tidak akan pindah rumah dan mungkin Papa atau Mama hanya mau merubah tatanan rumah ini," ujar Al yang hanya asal menebak saja.
Kiya kini mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti akan ucapan dari Al tadi.
"Sudahlah jangan di pikiran. Itu masalah orang dewasa, kita tidak perlu ikut campur. Jadi sekarang kita fokus saja ke tujuan utama kita tadi untuk mencari keberadaan Mama sama Papa," tutur Al lalu setelahnya mereka berdua melangkahkan kakinya sembari bergandeng tangan.
Mereka terus saja mencari keberadaan Ciara dan juga Devano, tapi sayangnya kedua orang itu tak bisa menemukan orang yang mereka cari. Bahkan keduanya sudah mencari keberadaan orangtua mereka ke seluruh penjuru rumah tersebut namun hasilnya tetap saja nihil.
"Ish, Mama sama Papa kemana sih? Dicariin dari tadi kok gak ketemu. Bahkan mbak sama om bodyguard juga tidak ada yang tau mereka dimana. Ish menyebalkan, Kiya capek ihhh," geram Kiya dengan menghempaskan tubuhnya diatas sofa di ruang tamu.
Al yang tak kalah lelah dari Kiya pun, ia turut duduk disamping sang adik.
"Udah lah kita tunggu mereka disini saja. Siapa tau mereka baru keluar dan tidak sempat kasih tau ke kita berdua tadi," ujar Al yang membuat Kiya mendengus kesal.
Al dan Kiya kini hanya bisa duduk manis di tempat tersebut sembari melihat orang-orang yang masih saja berlalu lalang, hingga akhirnya orang yang mereka cari kini muncul juga.
"Nah itu orangnya," tutur Kiya lalu setalahnya ia beranjak dari duduknya kemudian ia menghampiri Ciara dan Devano diikuti oleh Al di belakangnya.
"Mama sama Papa kemana aja?" tanya Kiya dengan tatapan mengintimidasi.
"Mama sama Papa tadi keluar sebentar sayang. Maaf tadi tidak sempat bilang ke kalian berdua," ujar Ciara diakhiri dengan senyum manisnya.
"Iya, Kiya juga tau Mama sama Papa tadi keluar. Tapi Kiya tanyanya, kemana Mama sama Papa pergi?" tanya ulang Kiya.
"Hmmmm Mama sama Papa tadi ke supermarket," jawab Ciara.
"Supermarket? Mama beli apa di supermarket? Apa beli coklat sama es krim untuk Kiya?" tanya Kiya penuh dengan antusias bahkan matanya kini berbinar bahagia.
"Bukan. Mama tadi beli beberapa cemilan dan sembako untuk dibagikan nanti," ujar Ciara.
"Apa dirumah ini nanti akan diadakan acara?" kini giliran Al yang bertanya. Ciara dan Devano kini saling pandang satu sama lain kemudian mereka berdua menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Al tadi.
__ADS_1
"Acara apa memang? kok sepertinya dadakan banget."
"Hmmm gini aja, Mama sama Papa akan cerita kalau kita duduk dulu ya. Pegel juga lama-lama berdiri seperti ini," ucap Ciara yang membuat kedua anaknya yang sudah kepo maksimal itu berdecak, tapi setelahnya mereka bergerak menuju sofa yang mereka tempati tadi.
Dan setelah mereka semua duduk di sofa tadi, Ciara menghela nafas sesaat, sebelum mulai angkat bicara.
"Jadi gini. Mama sama Papa nanti akan mengadakan pengajian di dua tempat. Yang pertama di rumah ini dan yang kedua di rumah para mbak. Dan untuk besok Mama sama Papa juga sudah mengundang pengusir hantu yang paling terkenal. Lalu hari berikutnya diadakan pengajian lagi," jelas Ciara yang membuat Al mengerutkan keningnya.
"Pengusir hantu?" tanya Al.
"Iya Al. Karena Mama rasa apa yang diceritakan oleh Kiya itu memang benar adanya," ujar Ciara.
Al kini menolehkan kepalanya kearah Kiya yang sedari tadi hanya terdiam sembari menyimak percakapan tersebut.
"Apa yang telah Kiya ceritakan ke Mama sama Papa hmm sampai-sampai membuat mereka mendatangkan pengusir hantu segala?" tanya Al dengan tegas.
Kiya kini menatap wajah Al tanpa rasa takut sedikitpun karena memang dirinya tak merasa salah sedikitpun. Beda lagi kalau dirinya sudah salah, pasti sudah menduduk takut dengan tatapan Al seperti saat ini.
"Kiya sebenarnya tidak yakin jika yang Kiya lihat waktu itu hantu. Dan Kiya pada waktu itu hanya menjawab pertanyaan dari Papa sama Mama waktu mereka bertanya, apa Kiya pernah lihat hantu? Kiya memang jawab, iya, Kiya pernah melihatnya bahkan berulang kali dan Kiya juga bercerita kalau Kiya pernah lihat ada perempuan yang berdiri di depan pintu rumah mbak di malam hari dan saat Kiya perlihatkan lagi, perempuan itu tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Tapi sekali lagi Kiya tidak menganggap perempuan itu hantu, kan bisa saja itu salah satu mbak yang saat Kiya berkedip dia sudah masuk kedalam rumah," jelas Kiya.
Al kini tengah berpikir keras dengan apa yang telah Kiya tadi ceritakan.
Hingga beberapa menit setelahnya akhirnya Al kini kembali angkat suara.
"Kiya, Abang mau tanya sama kamu," ucap Al.
"Tanya apa?"
"Apa Kiya tau apa itu hantu?" tanya Al.
"Tau. Kan Kiya sering lihat," jawab Kiya.
"Benarkah? Jika Kiya sering lihat, boleh Abang tanya dimana saja Kiya pernah lihat hantu itu?" Kiya tampak berpikir dengan jari telunjuk yang ia letakkan di dagunya.
"Di berbagai tempat. Kiya tidak bisa nyebutin satu-satu. Tapi ada satu tempat dimana hantu itu yang paling menyeramkan saat Kiya lihat," ujar Kiya.
__ADS_1
"Katakan dimana?" tanya Al.
"Di kamar mandi sekolah Kiya," ujar Kiya.
"Kamar mandi sebelah mana?" tanya Al semakin penasaran.
"Hmmm kamar mandi yang harus melewati lorong itu lho bang. Abang pasti tau lah dimana kamar mandi yang Kiya maksud itu kan dulu sekolah itu juga sekolah Abang," ujar Kiya yang membuat Al menganggukkan kepala. Bahkan dia sudah paham dan tak heran lagi jika Kiya melihat hantu di tempat tersebut pasalnya Al dulu juga sering melihatnya saat masih sekolah di tempat tersebut tapi sayangnya dia dulu tak berani bercerita kepada orangtuanya.
"Dan hantu itu setiap hari Kiya lihat," tambah Kiya yang membuat Al menghela nafas.
"Apa Kiya terganggu dengan hantu itu?" tanya Al yang dijawab dengan gelengan oleh Kiya.
"Awalnya Kiya memang takut tapi lama kelamaan, biasa aja. Asalkan dia tidak muncul secara mendadak di depan Kiya," ujar Kiya yang membuat Al mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah Al selesai bertanya kepada sang Adik, pandangannya kini beralih ke arah kedua orangtuanya yang tampak ketakutan itu.
"Ma, Pa. Al setuju akan apa yang Mama sama Papa lakukan tiga hari kedepan tapi Al sarankan jangan mengundang pengusir hantu, undang saja ustadz untuk mendoakan rumah ini sekaligus membersihkan dari hal-hal gaib yang tidak semestinya disini," ujar Al yang langsung mendapat anggukan oleh kedua orangtuanya.
"Kalau begitu Al ke atas dulu. Dan satu lagi, kemungkinan apa yang dilihat Kiya waktu itu memang hantu dan apa yang di dengar oleh Kiya tadi saat di kamar Mama itu suara makhluk tak kasat mata yang menirukan suara Mama," ujar Al sembari berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju lantai atas rumah tersebut.
"Kan benar kan. Yang Kiya lihat itu hantu. Duh mana dikamar kita juga ada lagi. Arkhhhh meresahkan sekali sih umat hantu ini," gerutu Ciara.
"Sudah-sudah kamu tenang saja. Setelah kita mengadakan pengajian hantu-hantu dirumah ini akan hilang. Tapi kita tetap harus waspada karena Kiya ternyata seorang Indihome," ujar Devano yang mendapat pukulan di lengannya oleh Ciara.
"Indihome apaan deh. Ngaco banget, padahal yang benar tuh Indomie," timpal Ciara.
"Indomie gak tuh. Kamu kira anak kita mie instan dengan slogan Indomie seleraku," tutur Devano.
"Ya terus apa dong sebutan buat orang yang bisa lihat hantu tuh?" tanya Ciara.
"Maaf tuan dan nyonya. Hanya untuk meluruskan dan membenarkan saja. Jika orang yang memiliki keistimewaan atau indra keenam itu namanya indigo. Dan untuk memastikannya silahkan tuan dan nyonya melihatnya di pencarian sejuta umat," timpal salah satu art yang tadi sempat mendengar perbincangan kedua majikannya itu saat dirinya berjalan melewati mereka.
Ciara dan Devano kini menoleh kearah art tadi lalu setalahnya mereka tersenyum malu.
"Hehehe terimakasih sudah membenarkan," ucap Ciara yang dibalas anggukan oleh art tadi sembari tersenyum tentunya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nyonya," ucapnya yang diangguki oleh kedua majikannya itu.
Dan setelah art tadi menjauh, Ciara maupun Devano saling bertatapan lalu setelahnya mereka berdua menutup wajah mereka menggunakan telapak tangan mereka masing-masing.