Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 29


__ADS_3

Ucapan dari Rafa tadi sebenarnya didengar oleh Devano karena laki-laki itu kini berdiri tegap di belakang Rafa tanpa sepengetahuan dari sang empu.


"Ehemmm," dehem Devano yang hanya diabaikan oleh Rafa bahkan orang itu kini kembali melangkahkan kakinya menuju luar rumah bersama Kiya yang sekarang tengah bersender manja di bahu Rafa.


"Ehemmm!" Devano yang mengikuti langkah dari Rafa itu, kembali berdehem. Dan dehemannya kali ini berhasil membuat Rafa menghentikkan langkahnya.


"Kamu dengar gak tadi ada orang yang berdehem?" tanya Rafa sembari menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Kiya yang tampaknya terlalu nyaman bersender di bahu laki-laki itu.


Kiya dengan malas menganggukkan kepalanya, bertanda dirinya juga mendengar deheman tersebut.


"Mungkin deheman itu dari salah satu tamu disini, Uncle. Udah ah lanjut jalannya," ucap Kiya yang sepertinya anak itu tak terlalu suka dengan kerumunan orang-orang di rumahnya itu.


Rafa pun menoleh ke kanan dan kiri sebelum dirinya kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu.


Sedangkan Devano yang ingin kembali mengikuti langkah mereka sekaligus memberikan pelajaran kepada Rafa yang sudah salah menduga tadi, tiba-tiba tangannya dicekal seseorang dari belakang. Dan hal itu mau tak mau membuat Devano harus menghentikkan langkahnya dan dengan cepat ia menoleh kearah orang yang sudah berani-beraninya menghentikan langkahnya itu dengan memperlihatkan ekspresi wajah garangnya. Lihat saja dia pasti akan memarahi orang yang sudah mencegahnya itu.


Tapi sayangnya saat dirinya menoleh yang ia dapati justru wajah Ciara. Devano yang tadinya menampilkan ekspresi wajah garang kini kembali melembut saat melihat Ciara lah yang menghentikkan langkahnya tadi. Dan niatnya tadi sepertinya tak bakal ia lakukan.


"Ada apa sayang?" tanya Devano dengan lembut sembari tangannya mengelus tangan Ciara yang menggenggam lengannya itu.


"Kamu mau kemana?" bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Devano tadi, Ciara justru bertanya balik.

__ADS_1


"Itu aku tadi mau ngikutin Rafa yang bawa Kiya keluar dari rumah ini. Dan itu orang entah mau bawa Kiya kemana. Mana gak izin dulu sama kita lagi, main ambil anak orang gitu aja," cerocos Devano.


"Lah Rafa udah kesini?" Devano menganggukkan kepalanya.


"Tapi sekarang dia culik Kiya," ucap Devano yang merasa khawatir dengan Kiya yang jauh dari pantauannya.


"Tenang aja kali sayang. Paling Rafa ajak Kiya jalan-jalan doang kayak biasanya. Atau mungkin dia ajak Kiya keluar cuma buat ambil makeup yang kamu maksud tadi pagi," ujar Ciara yang mencoba untuk menenangkan Devano.


Devano yang baru sadar jika kedatangan sahabatnya itu untuk mengantarkan barang pesanannya pun kini ia menganggukkan kepalanya dan mungkin apa yang dikatakan oleh Ciara tadi ada benarnya juga. Mungkin Rafa membawa Kiya cuma untuk mengambil barang pesanannya itu.


"Udah-udah, urusan kita masih banyak. Dan harusnya kita bersyukur setidaknya ada baby sitter dadakan yang jagain Kiya saat semua orang di rumah ini sibuk semua. Jadi gak usah khawatir lagi, Rafa juga teman kamu mana mungkin dia berani buat Kiya celaka. Dan bisa dilihat dari perlakuan dia ke Kiya tuh sepertinya dia udah menganggap Kiya seperti anaknya sendiri. Ya walaupun anaknya rada-rada somplak tapi dari tatapan dia, dia orang yang sangat-sangat baik dan tulus. Jadi gak perlu khawatir lagi oke, sekarang kita lanjutin acara kita supaya para hantu-hantu dirumah ini hilang secepatnya," ujar Ciara. Devano yang sedari tadi menatap kearah pintu utama rumah tersebut kini mengalihkan tatapannya kearah Ciara dengan senyum manisnya.


Ciara yang mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba pun dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah Devano.


"Jangan gini ih, malu di lihat orang-orang," ucap Ciara dengan lirih yang ia pastikan hanya bisa di dengar oleh Devano dan dirinya saja.


Devano kini mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Mereka semua lagi sibuk sama kegiatan mereka masing-masing. Toh kalau mereka lihat, bagus dong. Mereka jadi bisa mencontoh sama pasangan mereka nanti saat sudah ada di rumah masing-masing," tutur Devano sembari mencolek hidung Ciara.


"Ck, tapi aku malu sayang," ujar Ciara.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Kamu cantik, istri dan ibu yang baik juga punya suami taman seperti aku ini. Apa lagi yang buat kamu malu hmm?" tanya Devano.


"Ck, bukan masalah itu. Aku tuh malu kalau kita begini, nanti jadi buah bibir semua orang yang ada disini."


"Ya biarin aja. Kan mereka punya mulut. Tapi kalau sampai mereka membicarakan kamu dengan perkataan yang tidak benar, simpel aja, culik orang itu, suruh buka mulut dan kita bom mulutnya. Aku jamin setelah itu dia gak bakal berani membicarakan kamu lagi," ujar Devano yang membuat Ciara berdecak.


"Ck, ya kalau di bom mah bukan dia gak berani bicara lagi, tapi dianya udah mati. Ya otomatis gak bakalan bisa bicara lagi lah sayang, ih gimana sih," tutur Ciara.


"Memang. Tapi setidaknya dia gak bisa ganggu kesayanganku ini lagi," ucap Devano sembari mengelus pipi Ciara.


Ciara yang diperlakukan sweet seperti itu tampak tersipu malu dan dengan segera ia melangkahkan kakinya meninggalkan Devano yang justru kini tengah terkekeh melihat wajah lucu dari sang istri itu. Lalu ia kini juga melangkahkan kakinya mengikuti langkah Ciara yang tengah menuju ke rumah para art dirumah tersebut.


Disisi lain, Al yang masih terlalu menutup dirinya dari orang-orang pun kini ia hanya berdiam diri didalam kamarnya dengan berbagai buku bacaan yang baru ia beli beberapa hari yang lalu tanpa berniat untuk keluar dari kamarnya walaupun sebentar saja.


Dan disaat dirinya tengah fokus dengan buku-bukunya itu, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Alhasil ia menghentikkan aktivitas itu dan kini ia bergerak menuju ke tas sekolahnya tadi untuk mengambil sesuatu.


Al kini mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa di kamarnya itu. Lalu dengan cepat ia membuka tas sekolah tersebut kemudian mengambil satu barang yang ia temukan di sekolah tadi.


Ia mengangkat barang tersebut dan ia perhatikan secara detail setiap sisinya.


"Apakah ini anting dia yang tidak sengaja jatuh saat dia tadi didorong sama anak-anak itu?" tanya Al pada dirinya sendiri sembari terus menatap ke satu anting di tangannya yang ia rasa anting itu sangat familiar di matanya. Tapi ia juga tidak bisa memastikan jika anting itu benar-benar milik gadis kecil itu. Bisa jadi kan anting tersebut milik orang lain yang kebetulan memiliki anting yang sama persis dengan anting yang dipakai oleh gadis kecil yang ia maksud tadi.

__ADS_1


__ADS_2