Young Mother

Young Mother
Kecemburuan Al


__ADS_3

Setelah tubuh Devano tak bisa ia lihat lagi, Ciara dan Al segera masuk kedalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan saat pintu di depan mereka terbuka, suasana tegang yang terdapat di dalam ruangan tersebut bisa Ciara rasakan.


"Aunty cantik," teriak Al saat Rahel seperti belum menyadari kehadiran mereka berdua karena si calon pengantin wanita itu sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan yang jelas ia merasakan jantungnya sekarang tengah berdebar hebat.


Rahel yang mendengar teriakkan dari Al kini menegakkan kepalanya.


"Akhirnya kalian sampai juga," ucap Rahel.


Ciara tersenyum sebelum ia menghampiri Rahel yang duduk di atas ranjang bersama Mamanya. Sedangkan Al, sekarang dia sudah berlari dan berhamburan memeluk Rahel.


"Hay Magi, apa kabar?" sapa Ciara kepada Mama sahabatnya itu yang sudah cukup lama tak bertemu dengannya. Mama Rahel yang sering dipanggil Magi, Mama Gina kini tersenyum dengan binar kebahagian yang kentara dari matanya.


"Baik sayang. Kamu kemana aja sih nak selama ini? Magi kangen kamu tau. Udah lama gak pernah main ke rumah lagi. Dan baru hari ini ketemu lagi setelah beberapa tahun gak ketemu," ucap Magi sembari melakukan cipika-cipiki dengan Ciara sebelum berakhir tubuh Ciara, dia peluk.


Ciara membalas pelukan tersebut dengan tangan yang terus mengelus punggung Magi.


"Ada kendala yang harus Cia selesaikan beberapa tahun lalu Ma. Maaf Cia gak ada kabar selama ini," tutur Ciara. Ia tambah merasa bersalah akan aksi kaburnya dulu, dan ia bisa berpikir sekarang, ternyata banyak orang yang masih peduli dengannya. Entah bagaimana paniknya mereka saat mendengar kabar dia menghilang, tak bisa Ciara bayangkan.


"Tak perlu minta maaf nak, semuanya sudah menjadi keputusan yang terbaik buat kamu. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja dan mau kembali ke pelukan kami," ucap Magi sembari melepaskan pelukannya lalu mengelus pundak Ciara. Ciara pun tersenyum untuk menanggapi ucapan dari Magi tadi.


Sedangkan Al yang juga sudah melepaskan pelukannya dengan Rahel pun kini memperlihatkan bibir manyunnya.


"Kenapa bibirnya manyun gitu sih boy? ada apa hmm?" tanya Rahel yang merasa gemas sendiri.


"Aunty jahat," jawab Al. Rahel yang di bilang jahat pun mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kok jahat? emang aunty pernah jahatin Al?" tanya Rahel lagi yang dijawab dengan anggukan oleh anak tampan itu.


"Hah kapan?"


"Saat ini. Aunty jahatin Al hari ini, detik ini, menit ini dan jam ini juga," tutur Al sembari menghentakkan kakinya. Bahkan tubuhnya kini membelakangi Rahel. Tadi saja dirinya berpelukan mesra tapi sepertinya Al baru sadar dengan aksinya untuk merajuk saat ini.


"Emangnya apa yang aunty lakukan sampai di bilang jahat gitu sama kamu?"


"Aunty gak mau nungguin Al sampai besar. Biar kita bisa nikah. Tapi aunty dengan teganya berkhianat dan tanpa meminta persetujuan Al, aunty malah menerima pinangan Uncle Zi. Padahal Uncle Zi tidak tampan. Eh tampan sih tapi tetap saja lebih tampan Al. Aunty jahat, tega sama Al." Rahel yang mendengar hal itu pun tak bisa menahan tawanya. Adanya Al ternyata bisa mengalihkan kegugupannya.


"Hahahaha Al kenapa kamu lucu sekali sih sayang hahahaha." Al memelototkan matanya bahkan badannya sekarang sudah memutar menghadap Rahel kembali.


"Siapa yang suruh ketawa aunty. Gak ada yang lucu tau," kesal Al. Rahel dengan susah payah meredam tawanya dan menahannya hingga membuat wajahnya yang dilapisi makeup tipis terlihat memerah.


"Dia anak kamu Ci?" tanya Magi dengan pandangan yang tak lepas dari Al.


"Iya Ma. Dia anak Ciara yang pertama namanya Al dan Cia minta doanya untuk dua bulan kedepan semoga persalinan Cia yang kedua lancar," ucap Ciara. Magi kini menoleh kearah Ciara dan pandangannya kini turun ke perut Ciara. Ia baru sadar ternyata teman anaknya itu tengah hamil besar sekarang.


"Ya ampun, Magi baru ngeh kalau kamu lagi hamil Ci. Astaga maaf ya nak, tadi Magi peluknya gak kekencangan kan?" tanyanya dengan panik tak lupa tangannya sekarang bertengger di perut Ciara, mengelus perut buncit tersebut.


"Enggak Ma. Tenang aja," ujar Ciara dengan senyum yang mengembang. Terdengar helaan nafas lega dari Magi.


Kini pandangan Ciara beralih ke Al yang masih diam tak menanggapi setiap celotehan Rahel.


"Al," panggil Ciara. Al menoleh dan menatap wajah Ciara.

__ADS_1


"Iya Mama?"


"Sini, kenalan dulu sama Magi, Mamanya aunty Rahel." Al kini mendekati Ciara dan juga Magi yang berdiri tak jauh dari tempatnya tadi. Setelah sampai ia langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Magi. Magi pun dengan senang hati membalas uluran tangan tersebut.


"Hay Magi. Namaku Al, anak Mama Cia yang paling cantik dan Papa Devano yang tampan tapi lebih tampan Al," ucap Al dengan percaya diri.


"Hay sayang. Magi senang bisa bertemu dengan Al," balas Magi diakhiri dengan kecupan di puncak kepala Al. Al tersenyum manis.


"Ya udah Magi tinggal ke tempat acara ya. Suami tercinta Magi dari tadi udah kelimpungan cariin Magi. Cia titip Rahel ya. Magi gak tau lagi gimana nenangin dia, dari tadi dia bilang ini lah itu lah bahkan sampai bolak balik ke kamar mandi buat buang air kecil atau air besar. Ck Ck Ck padahal Magi dulu mau nikah gugupnya gak kayak dia, malah Magi dulu senangnya setengah mati. Terlebih saat membayangkan malam pertama duhhh jiwa bar-bar Magi keluar semua. Bawaannya langsung pengen menerjang Papa Gilang setelah akad. Hihihi," ucap Magi dengan membayangkan dirinya dulu.


Ciara hanya bisa terkekeh geli mendengar cerita itu.


"Udah dulu ya. Magi tinggal bye. Tar kalau dia masih gugup bilang sama Magi, biar Magi yang gantiin dia jadi istri Zidan. Lumayan kan nikah lagi dapat berondong pula." Rahel yang mendengar hal itu pun langsung membelalakkan matanya.


"Ish Mama apaan sih. Enak aja Zidan mau Mama embat. Ingat Ma, Zidan itu calon suami anak Mama sendiri. Masak iya mau rebut Zidan dari Rahel. Sungguh teganya dirimu wahai ibu," tutur Rahel dramatis.


"Canda elah. Mama juga gak berani, tau sendiri Papa kamu gimana. Bisa-bisa sebelum Mama rebut Zidan dari kamu, Mama sudah end duluan. Dah lah, Papa kamu udah telepon lagi ini. Bye." Magi kini melenggang pergi dari ruangan tersebut.


Setelah kepergian Magi, Ciara kini mendudukkan tubuhnya disamping Rahel yang masih mencoba membujuk Al.


"Anak kamu kalau ngambek gini amat sih Ci. Berasa kayak ninggalin pacar aku yang udah menjalin hubungan bertahun-tahun dan aku tinggal nikah sama orang lain tanpa sepengetahuannya," ucap Rahel yang terlihat frustasi sendiri.


"Kan emang kamu ninggalin Al buat nikah sama Zidan. Sedangkan Al dalam posisi sedang mencintaimu sedalam-dalamnya," tutur Ciara mengarang bebas.


"Masak sih?" Ciara menggedikkan bahunya. Rahel kini merasa bersalah kemudian ia dengan susah payah berjongkok didepan Al kemudian tanpa izin dari sang empu, ia memeluk tubuh Al dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2